21 Mei 2013

Road To School: Mansur dan Kegigihan Bersekolah
(bag. 2)

"Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan"
UUD 45 Pasal 31 Ayat 1

 


Bocah itu bernama Mansur. Usianya baru 8 atau 9 tahun, kelas 3 SD. Setiap hari dia berjalan kaki -- sering tanpa sepatu -- sejauh 5 kilometer untuk bisa sampai di sekolah. Bukan melalui jalan rata apalagi beraspal, tetapi jalur rumpil setapak, mendaki dan menuruni bukit. Setiap kali menerabas semak-semak, embun pagi yang menggigilkan di lembah yang terkenal sangat dingin itu selalu membuat celana dan baju seragamnya basah. Sekalipun begitu, semangatnya tak pernah surut. Karena keteguhannya inilah maka para offroader mengabadikan namanya untuk sebuah tanjakan dan tikungan paling berhaya di desa itu, Tanjakan Mansur.



Di tengah-tengah rimba belantara, setelah mengalami perjalanan sulit di jalan rintisan berlumpur, anda akan menemukan perkampungan. Rumah-rumahnya nyaris tak ada yang permanen, kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu. Jarak antar rumah juga jauh. Inilah Desa Cisaranten, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur. Tetapi sekalipun masuk administrasi Cianjur, lokasi ini justru lebih "mudah" dicapai melalui ujung tenggara Kabupaten Bandung, yakni Kecamatan Ciwidey, melewati Perkebunan Teh Rancabali dan Bukit Sumbul. Saya sebenarnya tidak pantas menyebut "mudah" untuk mencapai lokasi ini. Sebab, wilayah ini hanya bisa disambangi dengan kendaraan gardan dua dan harus dikendarai oleh seorang offroader berpengalaman. Untuk mencapainya, kami memerlukan 18 jam dari Bandung pulang pergi, padahal jaraknya hanya 60 kilometer dari pusat metropolitan Bandung (silakan baca tulisan saya sebelumnya http://www.goeska.com/2013/05/road-to-school-meretas-jalan-ke-sekolah.html ). Karena dilingkupi pegunungan, hutan, dan jeram, maka daerah ini menjadi sangat terpencil. Begitu anda keluar dari jalan beraspal yang menghubungkan Kec. Ciwidey (Kab. Bandung) dan Kec. Cidaun (Kab. Cianjur), lalu memasuki jalan tanah ke desa ini, anda seolah-olah sedang memasuki gerbang kesunyian. Seperti sebuah dunia lain. Tak ada angkutan, tak ada transportasi. Lengang.


Di tengah perkampungan, di sebuah tanah datar terdapat bangunan mirip sekali dengan kandang hewan. Luasnya kira-kira 60 m2. Cukup kokoh sebenarnya. Tiang-tiangnya dari kayu hutan. Dinding dalamnya dari kayu sisa penggergajian, dan dinding luarnya dari bambu. Tetapi dinding itu tidak menutupi seluruh bangunan. Bagian yang agak tinggi dibiarkan terbuka. Terus terang kami awalnya mengira bangunan itu kandang ayam atau sapi. Walaupun agak mengherankan, mengapa begitu besar? Nyatanya memang bukan. Bangunan itu bukan kandang, tetapi sebuah sekolah. Ya, sekolah! Inilah SDN Giriasih, tempat Mansur kecil menuntut ilmu sepanjang pagi.

SD ini sebenarnya hanyalah "cabang" dari sekolah lain, yakni SDN Girimekar, yang jaraknya 10 kilometer dari lokasi. Konon, awalnya warga desa merasa khawatir putra-putri mungilnya setiap hari harus mengukur jalan, merambah medan yang sulit dan jauh untuk bisa sekolah. Lalu mereka pun berswadaya membangun sekolah seadanya, memanfaatkan lahan desa yang kosong. Secara administratif SD ini masih menginduk pada SD yang lama. Diampu oleh 3 orang guru, SD ini kini memiliki 84 siswa. Kelas satu 33, kelas dua 17, kelas tiga 13, dan kelas empat 21 siswa. Hanya terdapat 3 ruang kelas. Ujung kanan, kiri, dan tengah. Kelas 4 bergantian dengan kelas dua.



Desa ini dihuni sekitar 135 KK. Umumnya mereka hidup sebagai peladang atau peternak. "Sulit hidup didesa ini jika tak punya tanah untuk bertani. Beberapa orang akhirnya merantau sebagai TKI," kata seorang warga desa. Ketika kami mengunjungi desa ini, beberapa rekan mengungkapkan keheranan yang mirip, "Mengapa penduduk mau tinggal di daerah sunyi seperti ini?" Jawabannya kami peroleh dari para offroader, "Alamnya sungguh indah. Masih perawan, tak terpapar polusi. Lihatlah ladang, sawah, sungai, dan hutan itu, suatu berkah surgawi." Mungkin begitu. Tetapi angka statistik berbicara lain. Dalam lingkup Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Cianjur memiliki angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) paling rendah. Dan Cianjur Selatan adalah "penyumbang" terbesar terhadap jebloknya angka statistik itu. Mereka tak punya kemewahan seperti kita, yang mudah protes jika menemukan aspal berlubang. Tetapi Mereka, bahkan jalan tanah yang layak pun tak punya. Buruknya transportasi ini, menurut saya, pangkal persoalannya. Tak ada distribusi komoditi masuk atau keluar. Tak ada angkutan, mobil niaga, atau truk yang bisa mengalirkan barang, kecuali sesaat di musim kemarau ketika jalan benar-benar kering. "Kami mendapatkan keperluan barang rumah tangga dari pedagang yang sesekali datang pakai sepeda motor, atau menitip ke warga desa yang sedang keluar kampung," ungkap seorang warga. Kami menyaksikan sendiri bagaimana para pengendara sepeda motor terbanting-banting meniti turunan, tanjakan, dan tikungan maut yang super licin. Diperlukan kepiawaian sekelas offroader untuk bisa melintasinya.

Hujan, Sepatu Basah, dan Kontra Pedagogi

Sekolah yang tidak layak tentu saja menyimpan beragam penderitaan. Salah satunya kenyamanan. Karena dindingnya tak rapat, kedua ruang kelas di ujung bangunan sering kehujanan. Parahnya, saat ini curah hujan justru sedang sangat tinggi. Yang relatif aman hanyalah ruang kelas bagian tengah. Jika hujan tiba, para murid akan dikumpulkan jadi satu di ruang kelas tengah itu, berhimpit-hicmpitan. Dan karena bangku dan mejanya dipaku mati dengan tanah, maka sebagian besar murid itu belajar sambil berdiri. Anda bisa membayangkan, betapa sumpek dan hingar-bingarnya ketika sekitar 60 anak dikumpulkan dalam satu ruangan berukuran 4x5 meter.

Kita tentu saja tak pantas menanyakan fasilitas belajar-mengajar dalam kondisi seperti ini. Anda sudah bisa menduga seperti apa keadaannya. Tak ada kantor guru. Tak ada lemari. Tak ada buku-buku pelajaran, apalagi perpustakaan. Pun tak tersedia fasilitas kesehatan. Lantai bangunan ini juga masih tanah. Bukan ubin atau keramik, dan tentu saja sering becek. Jika hujan, kelas akan semakin kotor dan lembab. Seperti sebutannya di awal, mirip kandang ayam.

Kepala Desa Cisaranten, Kamal, menuturkan harapannya, seperti dikutip oleh koran Pikiran Rakyat Online, "Keberadaan sekolah baru di Kampung Giriasih memang sudah selayaknya.  Dinas Pendidikan Kab. Cianjur diharapkan bisa segera merealisasikan pembangunan sekolah permanen karena jumlah muridnya sudah cukup banyak. Selama ini, 'kelas jauh' di SDN Giriasih tidak kondusif untuk proses belajar mengajar. Jika hujan, banyak anak ke sekolah tak bersepatu karena becek. Dalam berbagai rapat desa, guru-guru di Giriasih sudah mengeluhkan hal tersebut."

Disini toilet adalah kemewahan, karena sekolah ini tak memilikinya. Jika guru dan para siswa terpaksa buat hajat, yang tersedia hanyalah sebuah tempat yang agak tersembunyi di belakang sekolah, tersamar oleh semak-semak. Kakus itu bahkan tak berpenutup atau berdinding. Juga tak tersedia air untuk sanitasi. 

Rosa, salah satu keluarga offroader, bercerita, "Manyedihkan sekali anak-anak itu. Sebagian besar mereka ke sekolah memakai sandal jepit. Jika ada yang pakai sepatu, biasanya sudah rusak dan basah di perjalanan. Seragamnya kumal dan banyak yang sudah kekecilan. Mereka tak memiliki tas sekolah atau alat tulis yang memadai." Memang, pada taraf subsisten, mana mungkin mereka sempat memikirkan sepatu, seragam, atau tas. Semua yang selama ini kita anggap kebutuhan dasar, disini menjadi barang mewah. Bahkan bersedia sekolah pun itu sudah sebuah berkah.

Jika akhir-akhir ini pendidikan nasional kita sedang diharu-biru oleh isu-isu ujian nasional atau kurikulum 2013, di sekolah ini semua itu menjadi absurd. Di tempat ini kita tak pantas menanyakan tentang efektifitas proses belajar-mengajar. Jangankan berbicara tentang kualitas pengajaran, ketersediaan guru saja tak tercukupi. Guru mengajar rangkap. Bukan hanya rangkap kelas, tetapi juga rangkap mata pelajaran. Kondisi sekolah yang tak nyaman dan sempit juga tak memungkinkan tercapainya proses belajar-mengajar yang efektif.

Seperti halnya Mansur, semangat siswa desa terpencil ini patut diacungi jempol. Seperti lazimnya anak-anak, mereka senantiasa bersukacita -- seperti dapat anda saksikan dalam beberapa foto di bawah. Demikian juga para guru. Dedikasinya layak diapresiasi. Mereka seolah tak menghiraukan keterbatasan dan minimnya fasilitas. Motif apalagi yang mendasari keteguhan seperti ini selain kecintaan pada profesinya? Di tempat lain, seorang guru mungkin memiliki kendaraan bermotor, entah itu roda dua bahkan roda empat. Di tempat ini, sekalipun mereka punya, piranti itu tetap saja tak bisa digunakan. 

Penderitaan ini tak lama lagi akan semakin membuat miris. Bergantinya tahun ajaran baru berarti pula bertambahnya jumlah siswa. Mereka bukan hanya berasal dari desa setempat, konon sekolah ini juga menampung anak-anak dari desa sekitarnya. Bila kondisi ini tak segera ditanggulangi oleh Dinas Pendidikan dan pihak-pihak lainnya, niscaya sekolah ini akan lebih parah dari sekedar kandang ayam.

Master Plan

Adalah H. Ajat Sudrajat, pegawai Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, yang "menemukan" desa ini dalam sebuah perjalanan dinas. Karena Pak Ajat juga seorang ketua kelompok offroader yang menamakan diri MTC (Manglayang Tracker Community 4x4 Bandung), dia lalu mengajak bersafari kelompok offroadnya setiap akhir pekan ke daerah ini. Mereka bahu-membahu dengan kelompok offroader lain di sekitar Bandung, seperti AOF dan lainnya. Kelompok-kelompok offroader ini kemudian mengumpulkan sumbangan dari masyarakat untuk membantu masyarakat Desa Cisaranten dan sekolahnya, baik berupa uang, piranti sekolah, buku pelajaran, dan lainnya. Ini seperti bunyi pepatah, sekali mendayung tiga pulau terlampui. Mereka menemukan lahan asyik untuk menyalurkan hobinya menggaruk lumpur, sekaligus pada saat yang sama melakukan kegiatan amal.

Rupanya kelompok-kelompok offroad ini bergerak lebih jauh. Mereka juga menghubungi media, sehingga sekolah di daerah terpencil ini akhirnya terpublikasikan ke berbagai media nasiona. Koran dan tivi lalu memberitakannya secara maraton. Tetapi pemberitaan yang masif ini belum banyak berpengaruh pada keadaan sekolah. Tak ada upaya nyata dari Pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan sekolah yang lebih permanen.

MTC pun kemudian berinsisiatif membuat proposal kepada siapa saja untuk membantu pembangunan sekolah. Proposal ini juga dilengkapi dengan master plan pembangunan gedung sekolah seluas 160 m2 di atas tanah desa seluas 300 m2. Rancang bangun gedung ini cukup representatif dan indah, dan sudah dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti toilet, taman, dan lapangan olah raga.

Foto-foto dibawah ini rasanya lebih bisa berbicara banyak. Foto-foto ini saya ambil dari dokumentasi proposal milik MTC, dan khusus gedung sekolah saya ambil dari koleksi pribadi teman kami, Ratih Sawitrijati.

Bagi anda yang bermaksud menyumbang, baik dana, atau piranti sekolah, baru atau bekas -- seperti Sepatu, baju seragam, tas, atau buku-buku pelajaran dan bacaan, silakan menghubungi sekretariat MTC, JL. Tanjakan Sari, No. 76 Cileunyi, Bandung. PIC: H. Ajat Sudrajat/M. Lufti Oktaribi.

Tulisan ini adalah catatan ekspedisi kecil-kecilan dari Paguyuban ITB 89, bersama tim offroader AOF dan MTC.[]

8 Mei 2013

Road to School: Meretas Jalan ke Sekolah (Bagian 1)


Apalah artinya sebuah cerita. Tetapi tanpa cerita, tak ada yang bisa kita ketahui, bukan? Tulisan ini memang sekedar cerita tentang upaya kami menemukan sebuah sekolah yang pernah diberitakan oleh TV nasional dan media massa lainnya yang konon mirip kandang ayam. Tentu sudah sering kita dengar tentang sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Masalahnya, sekolah yang kami cari ini hanya berjarak 60 km dari kota Bandung. Judul tulisan ini bermakna ganda. Pertama, menggambarkan sulitnya usaha kami untuk mencapai lokasi. Kedua, sulitnya anak-anak warga setempat untuk bisa bersekolah secara layak. Saya akan menceritakan satu demi satu, dan mohon simpan dulu isu-isu tentang Ujian Nasional atau Kurikulum 2013. Cerita ini bakal lebih getir ketimbang isu-isu itu.

 
Rubicon, Lumpur, dan Lintah

Saya sebenarnya tidak asing terhadap daerah Cianjur Selatan. Hampir sebulan sekali saya mengajak keluarga berakhir pekan ke daerah ini. Melalui Perkebunan Rancabali, kami biasanya naik ke Gunung Sumbul melalui jalan yang berkelok-kelok. Pemandangannya sungguh menawan, menyisiri permadani hijau kebun teh, yang dibelakangnya dibentengi oleh hutan lebat yang kian langka. Kadang-kadang kabut turun menutupi perbukitan, membuat kita seolah tercerabut dari alam nyata dan terjebak di dunia lain. Seperti dunia para dewa atau kahyangan yang diceritakan dalam film Sun Go Kong atau mitologi Yunani. Jika kabut menghilang, dari puncak Gunung Sumbul itu kita bisa melihat horison
putih bergerak-gerak di kejauhan, melayang diantara perbukitan kelabu nan jauh. "Yang putih itu Pantai Jayanti Cidaun, Pak" kata pemilik warung satu-satunya di Puncak Sumbul. Anak saya, yang menggemari film The Lord of The Rings, menggelari Puncak Sumbul ini sebagai Shire, negeri indah para Hobbit.


Jalan yang saya lalui selama ini selalu beraspal mulus. Tetapi memang sempit. Jika berpapasan dengan kendaraan lain, kita harus sedikit menepi. Kanan-kirinya minim sekali perkampungan. Hanya ada satu-dua yang dihuni oleh warga perkebunan. Rumah-rumahnya biasanya dicat dengan warna khas putih-biru. Perkampungan ini juga sudah dilengkapi dengan sekolah yang bangunannya sangat baik dan kokoh. Bangunan sekolah itu terlihat jelas dari jalan raya. Tetapi.. tiba-tiba teman kami, Maman Tirta Rukmana, mengabarkan bahwa di sekitar rute main-main saya itu terdapat desa yang tak bisa dilalui kendaraan, dan memiliki sekolah yang mirip kandang ayam. Desa dan sekolah ini bahkan sudah diberitakan oleh salah satu stasiun tivi nasional. Terus terang saya bingung, yang mana sih? Setahu saya seluruh perkampungan disini sudah dilalui jalan beraspal. Bahkan juga sudah dilalui angkutan antar kota (baca "elep"), yang dalam sehari lewat beberapa kali, menghubungkan Kecamatan Ciwidey (Kabupaten Bandung) dan Kecamatan Cidaun (Kabupaten Cianjur). Juga bangunan sekolahnya sudah permanen. Jika malam tiba, desa-desa ini akan tampak kerlap-kerlip oleh lampu-lampu listrik, tak berbeda dengan kampung-kampung di perkotaan. Tetapi keramaian memang hanya terjadi pada siang hari. Jika malam, selain cahaya lampu perkampungan itu, seluruhnya seolah mati. Anda akan ditelan oleh kegelapan gunung-gunung dan hutan.

Ah, saya terlalu naif rupanya. Saya terperdaya oleh mooy indie. Kampung yang dimaksud Maman itu tak berada dijalur wisata, tetapi tersamar oleh hutan belantara,  kira-kira jaraknya 20 km dari Puncak Sumbul yang sering saya datangi. Dekat memang. Tetapi masalahnya, kampung itu tak bisa ditembus oleh kendaraan biasa. Untuk bisa mencapainya, kita harus menumpang mobil bergardan dua, dan mesti pula dinakhodai oleh seorang ofroader berpengalaman. Jika tidak, niscaya jurang yang dalamnya tak bertepi -- benar-benar tak terlihat dasarnya-- akan dengan senang hati menelan tubuh kita bulat-bulat. Inilah tempat yang akan kami tuju dalam ekspedisi kali ini. Sebuah desa yang sekalipun berada di Wilayah Kabupaten Cianjur, tetapi secara geografis lebih dekat ke Ibukota Kabupaten Bandung. Sebuah desa yang seperti terlupakan.

Kami menamakan kegiatan kali ini dengan istilah yang agak dramatis, "ekspedisi". Bukan tanpa alasan, tetapi alasannya baru akan teman-teman pahami jika sudah selesai membaca tulisan ini. Untuk mudahnya, tolong terima saja istilah "ekspedisi" ini. Kami membawa amanah dari Paguyuban ITB 89 untuk mensurvei lokasi, agar Paguyuban dapat memberikan bantuan semampunya, dan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Setelah direncanakan selama satu-dua minggu oleh Yanti Wijanarko  (Koordinator Sosbud) dan Maman Tirta Rukmana (Koordinator Lapangan), akhirnya pagi itu -- tanggal 4 Mei 2013 --  ekspedisi ITB 89 bertolak dari Dipati Ukur, Bandung. Tim ini berkumpul sejak jam 06.00 pagi. Tim 89 yang ikut dalam kegiatan ini adalah Maman Tirta Rukmana, Yanti Wijanarko, Mursid Wijanarko, Asep Zaenudin Noor, Ratih Sawitridjati, Myrna Utari, Ully Roy, Fitri Halim, dan saya (Agus Kurniawan). Untuk bisa sampai di tujuan, tim Paguyuban didukung oleh para offroader dari Bandung, rekan-rekan Maman yang tergabung dalam AOF, diantaranya Hasbi Prasetya, Fahmy Pastriana, Devy Manang, Abeh Ohank, Camel Hendi, Ryan Kusumah, Herry Firdaus, Nujajunk Juliadi, Elita Rukmana (istri Maman), Wado, Bar Anoe, Ahmad Sunjaya, dll. Beberapa offroader juga membawa istri dan anak, yang sepertinya sudah terbiasa dengan kegiatan seperti ini. Para offroader ini juga berperan sebagai pengangkut rombongan 89. Maklumlah, selain Maman -- yang ketika itu membawa kendaraan super tangguh Wrangler Rubicon 3800 cc, tak seorangpun dari Tim ITB 89 lainnya yang memiliki pengalaman offroad. Kami bahkan tak memiliki kendaraan gardan ganda seperti yang disyaratkan. Satu-satunya kendaraan yang kami anggap layak untuk medan ini adalah Taft milik Ratih, yang disindir oleh Maman dengan istilah "tuwil", plesetan dari "two wheel" (gardan tunggal).

Alhamdulillah, secara kebetulan kami juga seagenda dengan kelompok offroader lain, yang menamakan diri MTC (Manglayang Trekker Community). Inilah komunitas yang "menemukan" desa terpencil ini dan mempopulerkannya ke dunia luar. Kami semua berkumpul bersama di Taman Wisata Cimanggu, Ciwidey, untuk sarapan pagi, foto-foto, dan berkenalan. Total kendaraan yang ikut dalam ekspedisi ini mencapai 25-an. Bisa anda bayangkan, dari sekian banyak mobil, cuma Taft milik kami yang "tuwil". 

Menjelang siang kami telah sampai di pos berikutnya, di Warung Puncak Sumbul. Warung inilah yang sering saya sambangi bersama anak-anak untuk berakhir pekan, seperti sudah saya ceritakan di atas. Inilah satu-satunya warung yang ada di daerah itu, bahkan satu-satunya rumah. Sisanya adalah hamparan perkebunan Teh dan hutan. Ini juga menjadi pos perbekalan terakhir. Tim MTC akhirnya berangkat duluan setelah mendapatkan perbekalan yang dibutuhkan (nasi bungkus dan air minum). Sementara rombongan kami terpaksa tertunda satu jam gara-gara nasi di warung keburu habis, dan pemiliknya harus menanaknya kembali. Terus terang saya agak heran, mengapa untuk menempuh jarak 20 km para trekker perlu menyimpan banyak perbekalan? Kenapa harus capek-capek menunggu nasi yang masih ditanak? Bukankah 20 km bukanlah jarak yang jauh? Tim 89 memang tak sesiap para offroader dalam menghadapi medan. Kami hanya membawa perbekalan ala kadarnya. Mungkin juga karena kami agak underestimate terhadap medan yang akan ditempuh. Kami memang membawa pakaian ganti, tetapi tidak membawa perlengkapan penting, misalnya jas hujan atau panco. Sedangkan para offroader, karena tahu medan, lebih siap dengan perlengkapan yang komplit. Kalau dipikir-pikir, apa sih artinya jarak 20 km? Jika berjalan kaki, paling lama juga 4 atau 5 jam? Pertanyaan saya itu kelak akan terjawab setelah saya mengalami sendiri terjebak selama belasan jam di dalam hutan.

Setelah perbekalan tercukupi, kami pun melanjutkan perjalanan. Kira-kira satu kilo meter dari warung itu, kami keluar dari jalan beraspal, memasuki jalan tanah rintisan. Yang membuka jalan itu mungkin pemerintah atau Kopasus, saya tidak tahu persis. Tetapi di jalan masuk itu memang terdapat papan pengumuman besar. Bunyinya, "Tempat latihan Kopasus". Ternyata jalan inilah yang selama ini saya abaikan. Saya sudah sering melihat papan pengumuman itu, tetapi tidak menyangka bahwa jalan itu menuju pedesaan. Saya mengiranya hanya sebagai tempat latihan tentara. Awalnya jalan tanah itu lumayan baik, masih bisa dilalui oleh mobil 'tuwil' milik Ratih. Tetapi baru berjalan dua kilo meter, si tuwil itu terpaksa harus ditarik karena selip. Jalan tanah itu berlumpur hingga setengah ban, dan membuat roda tuwil serupa dengan kincir kertas mainan anak-anak, alias muter ditempat. Karena tak memungkinkan menarik mobil sepanjang jalan, maka akhirnya si tuwil pun ditinggal begitu saja di hutan.       

Nestapa datang lebih cepat. Hujan yang biasanya menjadi berkah, justru kini menimbulkan kesulitan. Jalan becek itu menjadi lebih berlumpur. Oh, ini sebabnya Maman sejak awal mewanti-wanti agar kami membawa kendaraan gardan dua. Bahkan kendaraan cangkul itu juga tidak bisa berjalan dengan mulus. Badannya terpeleset ke kanan dan ke kiri. "Lagi goyang, Wa?", itulah candaan para offroader jika melihat mobil rekannya terbanting-banting. Pada kilometer ke-4 sebuah pohon tumbang berdiameter 40 cm menghadang kami. Pohon itu sudah digergaji oleh offroader yang lewat sebelumnya, tetapi meletakkannya tidak benar-benar rapi di sisi jalan. Kendaraan kecil seperti Jimny dapat melewatinya dengan mudah. Tetapi Rubicon milik Maman tidak semudah itu. Untuk bisa melewati celah sempit itu, si Rubicon harus dijaga dari depan atau belakang oleh dua kendaraan lain (dengan diikat tali) agar tidak terpelanting ke jurang atau menghantam potongan kayu. Beberapa navigator dan tim 89 cowok terpaksa berhujan-hujan ria untuk membantu mengarahkan Rubicon itu atau sekedar memotretnya. "Saya dulu pernah harus menginap empat hari di sini gara-gara pohon tumbang", cerita Maman, "Begitu bisa menapak lagi di jalan aspal, saya langsung menciumnya." Tapi nestapa yang sesungguhnya baru menghadang tiga atau empat kilo meter di depan. Jalan yang tadinya rata, kini menurun curam dan meliuk-liuk. Beberapa diantaranya terdapat tikungan siku-siku -- benar-benar bersudut siku-siku. Saya baru sadar bahwa kami bertolak dari puncak bukit, sementara lokasi yang dituju berada di lembah. Tentu saja jalan yang turun dan meliuk-liuk itu sangat menyulitkan. Apalagi diguyur hujan lebat. Jangankan kendaraan, saya yang mencoba jalan kaki saja rasanya setengah mati. Sering tergelincir karena licin. Untuk menuruninya, mobil-mobil offroad itu sebagian harus dijaga dari belakang oleh mobil lain -- dengan diikat dengan tali, agar tidak lepas landas ke tebing.     

Setengah perjalanan, Maman, sang komandan lapangan, tiba-tiba turun dari mobil di tengah guyuran hujan. Waktu itu pukul 15.00, menjelang sore. "Saya mau lihat keadaan di depan dulu," katanya. Setengah jam kami menunggunya. Dan begitu kembali, dia mengabarkan kekecewaan, "Saya putuskan hanya tiga mobil yang boleh turun. Yang lain harus menunggu disini." Artinya, sebagian besar rombongan kami tak akan sampai di tujuan! "Keadaannya tidak memungkinkan. Jika dipaksa turun malah menyusahkan. Bukan hanya turunnya, tetapi juga pulangnya nanti," kata Maman menjelaskan, dengan ekspresi penuh permohonan maaf. Mungkin Maman mempertimbangkan kami yang minim pengalaman offroad. Selain itu, beberapa mobil tidak dalam kondisi sempurna. Ya, sudahlah. Tim 89 yang akhirnya beruntung turun hanya Maman, Asep, dan Ratih. Tetapi kelak sewaktu pulang, Ratih bercerita bahwa ketiga mobil yang berhasil turun itupun nyaris mengurungkan niatnya, "Medannya berat. Tikungan tajam, dan dibawahnya jurang menganga. Saya sampai menutup mata karena ngeri."

Akhirnya kami, diluar yang berada di tiga mobil tersebut, seperti sedang melakukan jambore. Membuat tenda darurat, menyalakan kompor portabel, membuat kopi atau menanak mie instan biar agak hangat. Maklumlah, kami kedinginan karena berhujan-hujan. Selain itu, ini memang daerah pegunungan yang dikenal udaranya sangat dingin. Kami juga menyikat habis perbekalan yang dibawa dari Puncak Sumbul. Untuk membunuh waktu dan mengubur kekecewaan, kami mencoba membuat api unggun. Lumayan sulit karena ranting-rantingnya basah. Telinga kami selalu menunggu deru mobil, siapa tahu teman-teman kami sudah kembali. Atau mata kami mencari-cari sorot kendaraan yang lewat. Tetapi itu hanya harapan kosong. "Ah, mereka tak akan kembali malam ini. Mungkin mereka menginap di desa," kata seorang offroader yang membuat kami semakin nglangut. Kami juga berusaha menghubungi mereka dengan HP, tetapi tak satupun operator yang bisa nyambung. Akhirnya kami pasrah, dan bersiap bermalam di tengah hutan, menemani lutung, kelelawar, dan lintah. Oh ya, entah darimana datangnya tiba-tiba Yanti dan Fitri menemukan hewan semacam cacing di rambut mereka, juga di lengan. Ketika akan dibuang, hewan itu menggigit hingga lengan rekan kami itu keluar darah. "Itu salah satu spesies lintah," kata seorang offroader.

Jam 22.00 malam, seberkas cahaya datang. Kami sedikit gembira, sekalipun sorot lampu itu datang dari arah yang tidak kami harapkan. Rupanya tiga mobil offroad MTC baru saja menyusul dari Bandung. "Kami mengantar genset untuk warga desa, Kang," kata seorang offroader. Ah, sekalipun mereka bukan rekan-rekan kami yang sejak tadi kami tunggu, tetapi kehadirannya sedikit menceriakan. Setidaknya kami punya banyak kawan seperjalanan. Karena sulitnya medan, bahan bangunan sumbangan untuk pembangunan sekolah pun harus dianter dengan cara offroad semacam ini. Teman-teman offroader yang satu rombongan dengan kami bercerita, "Beberapa minggu kemarin kami kemari membawa balok-balok kayu untuk gedung sekolah. Masing-masing mobil menarik kayu dengan tali. Lumayan seru, sih. Mungkin lain kalo kami juga akan mengangkut semen kesini, diikat di atap mobil atau bagasi. Tapi itu kalau tidak hujan."

Untuk mengusir kebosanan, kami lalu mengantar dengan berjalan kaki kepergian rekan-rekan MTC itu hingga di tikungan bawah. Mereka merayapi tikungan dengan sangat pelan, dan setiap mobil yang turun harus dijaga oleh mobil lainnya. Teriakan aba-aba mereka mengingatkan kita pada suasana penyelamatan oleh tim SAR atau situasi perang di film-film. Tanpa kami sadari, keberkahan datang tepat di depan mata. Berlawanan arah dengan mobil-mobil MTC itu, rekan-rekan kami yang sejak tadi kami tunggu tampak sedang merayap naik. Mereka agak lama tertahan di jalan karena salah satu mobil bannya kempes, dan tergelincir hingga melintang di jalan. Mereka telah terpisah dari kami setidaknya selama 7 jam, dari jam 15.00 hingga jam 22.00. 

Ratih yang berhasil turun ke bawah telah berhasil memotret "bangunan" sekolah. Dia juga telah melakukan komunikasi dengan tetua setempat dan rekan-rekan dari MTC yang selama ini mengkoordinasikan bantuan. Rencana awalnya memang kami akan melihat master plan pembangunan sekolah itu, sembari mensurvey lokasi. Tetapi apa daya, keinginan kami tak kesampaian. (Kondisi sekolah akan saya ceritakan dalam tulisan terpisah -- bagian 2).

Akhirnya kami bisa membongkar sauh, pulang! Tetapi kami belum bisa bersantai. Perjalanan pulang sepanjang sepuluh kilometer sama beratnya dengan saat keberangkatan. Jalan yang menanjak dan berlumpur menanti di depan mata. Alhasil, kami pun akhirnya baru sampai di jalan raya, dan berkumpul kembali di Taman Wisata Cimanggu sekitar pukul 03.30 dini hari. Dengan kata lain, kami telah menghabiskan waktu hampir 18 jam untuk mencari sebuah sekolah, yang jaraknya hanya 60 km dari kota metropolitan Bandung. Tragisnya, tidak seluruh tim pun bisa sampai di tujuan. Inilah sebabnya kami menyebutnya sebagai ekspedisi, sekalipun cuma kecil-kecilan.[]