14 Oktober 2010

Ku Sambut Kau dengan Sebuah Toilet

Menlu AS Hillary Clinton memberi applaus
pada toilet bantuan USAID
di Petojo, Jakarta
Ku Sambut Kau dengan Sebuah Toilet
Untuk Yang Mulia Mrs. Hillary

Akhirnya kemarin kau datang juga
dari negeri atas angin, parfummu melelehkan ranting-ranting
ku menyambutmu di depan pintu
dengan karpet merah bertabur haru
setelah sekian lama kutanggung rindu

Dan sesuai pesanmu,
kupajang sebuah toilet baru
tepat di depan pintu
warnanya baru saja dipulas
merah biru berbintang-bintang
tinggi mengangkang, menutupi taman-taman
gemuruh sudah kau bertepuk tangan

Sungguh, aku senang kau datang
kita akan lama saling meminang
tapi lain kali jangan membuatku malu
sekalipun pujianmu tubi menggebu

Dinegeriku ini, kawan
toilet letaknya di pojok belakang
sekalipun disepuh emas benderang
tetap tak pantas untuk dipajang
apa lagi untuk menyambut tamu yang datang

Pancoran,
04 Agustus 2009
(Ketika membongkar sebuah halaman koran lama, dan ketika harga diriku sebatas toilet)

Imanensi

Imanensi

Kuamati sepagi itu
Matahari pada secangkir teh
Kiraku tlah kutemukan
Nyatanya hanya bayangan

Kulihat berkilat
Matahari di embun lumbu
Kiraku tlah kutemukan
Nyatanya cuma pantulan

Kulihat berkilap
Matahari di punggung penggali jalan
Kiraku tlah kudapatkan
Kiranya hanya bayangan

Kucari kapanpun
Kutemukan dimanapun
Semata bayangan
Kau sendiri tetap disana

15 Jan 2010
(Pancoran, menjelang subuh)

Menakar Batas

Gambar ini milik National Geographics
Faiza baru berusia enam tahun. Sekolahnya masih TK B. Lucu, spontan, dan polos. Pada minggu sore yang damai itu, diselingi tawa Spongebob di tivi, Faiza bercerita di pangkuan ayahnya. Katanya, "Ayah tahu nggak, CT lebih disukai orang karena dia mau meminta maaf. Tapi AR dan LM tidak." CT, AR, dan LM adalah nama-nama selebriti yang terlibat pornografi -- saya yang menyingkatnya di tulisan ini. Faiza menceritakannya dengan mimik biasa saja, seolah-olah sedang berceloteh tentang Patrick, Squickwork, atau Ipin-Upin.

Ayahnya terkejut tentu saja. Bukan karena semata-mata Faiza tahu tentang isu-isu kontemporer, tetapi karena gadis kecil itu juga memahami silogisme, sesuatu yang lebih kompleks dibanding sekedar mengetahui. Untuk menguji lebih jauh pengetahuan si kecil, ayahnya bertanya, "Memangnya apa yang dilakukan orang-orang itu sehingga perlu meminta maaf?" Sambil menggerakkan kedua tanggannya seolah sedang presentasi, dia menerangkan, "CT sama AR tidur bareng tanpa baju, dan CT kelihatan itunya". Kali ini bicaranya setengah berbisik, dan mengakhirinya dengan tawa cekikikan, ekspresi yang sama seperti ketika dia menceritakan dua ekor kelinci yang sedang kawin di peternakan kakeknya.

Kita mungkin masih beranggapan bahwa informasi bisa diisolasi. Kita menyensornya, membuat batas yang tak boleh dimasuki. Kita mematikan tivi agar anak-anak tak menonton sinetron atau infotainment. Kita memproteksi internet dengan Cybersitter atau Net Nanny. Dan di meja belajar, mereka hanya boleh membaca buku-buku tertentu. Di jaman dulu, sewaktu kecil, saya dibatasi oleh tabu. Ibu saya mengatakan "ora ilok" untuk mencegah saya mengetahui hal-hal yang dilarang. Istri saya menggunakan istilah "pamali". Atau Pak Sembiring, Menkominfo, memerintahkan provider-provider Internet menutup akses ke situs-situs porno. Bahkan Pemerintah Cina melarang Google atas pencarian "keyword" tertentu, yang akhirnya membuat Google hengkang dari tanah kungfu. Pendek kata, kita ingin membuat benteng yang tertutup, tak bisa tembus, dan kita percaya bahwa batas-batas seperti itu cukup efektif.

Tetapi anda dan saya mungkin frustasi, seperti frustasinya ibu saya ketika mengetahui saya telah melanggar tabu sewaktu kecil. Benteng yang kita bangun ternyata tak cukup kokoh, mudah ditembus bahkan oleh tetangga kita. Faiza misalnya. Dia tahu cerita tentang artis-artis itu bukan dari ayah atau ibunya. Juga bukan dari internet atau acara tivi. Dia tahu dari teman-temannya, sesama anak TK -- yang melegakan, setidaknya saya masih meragukan mereka pernah melihat langsung videonya. Orang tua Faiza memang telah membuat batas yang tegas. Tetapi tetangganya tak melakukan hal yang sama. Dunia steril Faiza menjadi terbuka ketika dia berinteraksi dengan teman-temannya. Pemblokiran situs-situs porno oleh Pak Sembiring ternyata juga tak seefektif gaungnya di media. Sebab, pornografi tak semata-mata diunduh di situs-situs berlabel porno. Dia disebarluaskan di jejaring sosial atau situs pertukaran file, seperti Kaskus, Rapidshare, Easyshare, Yahoogroups, dan sejenisnya -- suatu zona netral. Lalu apakah anda dan saya, dalam rangka membuat batas yang lebih tegas lagi, juga akan mengisolasi anak-anak kita dari tetangga atau teman-teman TK-nya? Apakah Pak Sembiring juga perlu menutup seluruh situs jejaring sosial sekalipun tak berlabel porno?

Kini anda dan saya tampaknya harus memaknai batas dengan cara baru. Bisa jadi lebih rumit. Yang pertama adalah sikap kita terhadap teknologi. Sepertinya selama ini kita keliru menganggap teknologi sekedar sebuah alat. Nyatanya lebih dari itu. Di Masjid Nabawi yang megah itu --misalnya, di jantung Kota Madinah, anda dilarang keras memotret atau berpose. Pasalnya hobi kita berpose mengganggu kekhusyukan ibadah. Alasan lainnya, memotret -- seperti halnya melukis -- masih diperdebatkan halal-haramnya. Cara paling mudah menegakkan aturan itu adalah dengan melarang orang membawa alat potret. Makanya salah satu tugas Asykar -- polisi Kerajaan Arab Saudi -- adalah men-sweeping alat potret. Dulu larangan itu cukup efektif. Kamera anda yang berukuran super jumbo mudah ketahuan. Tetapi kini, Asykar mulai kesulitan menerapkan aturan itu karena alasan yang juga bersifat teknis: alat potret sekarang berukuran super mini. Asykar tak mungkin mengawasi, apalagi menangkap, ribuan orang yang ber-candid ria dengan kamera sebesar kotak korek. Mungkin, untuk mengantisipasinya, dikemudian hari Pemerintah Saudi akan membeli piranti anti alat potret -- semacam surveillance super cerdas. Tetapi bersamaan dengan itu teknologi kamera mungkin pula menciptakan alat potret yang tak terdeteksi. Akhirnya, cerita tak pernah selesai. Aturan, atau lebih luas lagi otoritas, bersaing dengan alat potret.

Menurut saya, teknologi lebih tepat bila disikapi sebagai organisme. Sesuatu yang hidup dengan caranya sendiri, tak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Dia hidup berdampingan dengan kita, bak tetangga, baik kita menghendakinya maupun tidak. Tetangga bisa jadi baik atau buruk. Ada tetangga yang sejak awal memang buruk. Ada pula yang awalnya baik, tetapi interaksi kita membuatnya menjadi buruk. Namun, dalam kehidupan kita, yang baik biasanya jauh lebih banyak dibanding yang buruk. Terhadap semua tetangga kita pertama-tama kita harus mengenalnya, memahami kekuatan dan kelemahannya. Setelah itu baru kita bisa menjalin hubungan yang menguntungkan. Putri -- kakak Faiza yang kini berusia sepuluh tahun-- telah mengenal komputer sejak umur tiga tahun. Mulai menggunakan internet sejak kelas tiga. Memiliki account Facebook sejak kelas empat. Kini, ketika duduk di kelas lima, Putri telah mampu menjinakkan "tetangganya" itu untuk mendukung kegiatannya di sekolah atau di tempat kursus: menerjemahkan kata-kata baru Bahasa Inggris dengan Google Translate. Memberikan keleluasaan pada Putri untuk berinteraksi dengan teknologi adalah sesuatu yang positif. Dia akhirnya memiliki kemampuan memperkaya pengetahuannya secara mandiri. Tetapi yang lebih penting, interaksinya dengan teknologi adalah bagian dari persiapannya menghadapi tantangan kehidupannya sendiri di masa depan -- yang kemungkinan besar berbeda dengan tantangan kita saat ini. Tetapi, tentu saja, ini bukan sama sekali tak beresiko. Membiarkan begitu saja Putri berinteraksi dengan teknologi bisa jadi berbahaya. Kita harus bersusah payah menjaganya, siang malam. Misalnya, Putri tak pernah tahu bahwa di tengah malam, ketika dia tertidur pulas, ayahnya akan mencuri account Facebooknya, mensterilkan komunitasnya: menendang keluar orang-orang dewasa tak dikenal yang menjadi teman mayanya, atau mengusir teman-teman sebayanya yang -- misalnya-- mengirim pesan-pesan tak pantas di accountnya.

Pemaknaan yang kedua adalah tentang batas itu sendiri. Tembok, benteng, tabu, atau larangan adalah batas yang yang datang dari luar. Diciptakan oleh sesuatu di luar diri kita. Sebut saja sebagai batas eksternal. Batas itu memang tampak kokoh, gahar, dan meyakinkan. Tetapi sesungguhnya keropos. Sampai kapan, misalnya, kita dapat melarang anak-anak kita berbicara tentang seks? Sampai kapan Asykar dapat mencegah orang memotret? Batas-batas eksternal itu akan kokoh dan efektif seandainya didukung oleh batas yang lain, yang tumbuh di dalam diri kita sendiri. Kita sebut saja sebagai batas internal. Batas internal ini adalah semacam pengetahuan, kesadaran, atau lebih tepat lagi self-cencorship, di dalam diri kita sendiri tentang apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang penting dan tidak penting, apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Pak Onno Purbo -- misalnya, seorang pakar internet, ketika ditanya oleh wartawan tentang apakah dia juga sering melihat gambar atau video porno di internet, dia menjawab singkat, "Tak ada waktu". Batas internal Pak Onno telah memberikan pemahaman kepada dirinya sendiri bahwa materi-materi pornografi itu sama sekali tak penting. Dia tak punya waktu untuk bermain-main dengan hal-hal yang tak penting seperti itu.

Tetapi, pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya menanamkan batas internal pada anak sekecil Faiza? Bagaimana memberitahu padanya bahwa informasi tentang CT, AR, atau LM itu sama sekali tak penting? Ya, itu juga pertanyaan saya, ayah Putri dan Faiza. Sampai sekarang saya juga tak tahu caranya. Hanya menakar-nakar saja. Dan saya hanya memiliki beberapa tahun sebelum anak-anak saya itu menanyakan sesuatu yang jauh lebih kompleks dibanding dua ekor kelinci yang kawin di peternakan kakeknya. Hanya beberapa tahun lagi.