5 November 2012

Si Kaya yang Miskin, Si Miskin yang Kaya


Situasinya jadi pelik ketika uang tidak lagi berguna. Yakni ketika uang, berapapun banyaknya, tidak lagi mampu membeli kebutuhan yang paling mendasar. Anehnya, di sisi lain seseorang justru memiliki semua yang dibutuhkan walaupun dia tidak memiliki uang sepeserpun. Lalu berlakulah ungkapan, “Si kaya yang miskin dan si miskin yang kaya.”

Seperti itulah kira-kira kisah teman-teman saya, pehobi offroad, yang malam itu ber-offroad ria menjelajahi perbukitan Hambalang, di wilayah Kab. Bogor. Pesertanya kira-kira sepuluh orang. Ketika mencapai puncak sebuah bukit, kira-kira pukul tiga dini hari, rombongan itu sudah benar-benar kecapekan. Air minum dan perbekalan sudah lama ludes. “Seperti mau pingsan”, begitu kata seorang teman menggambarkan situasinya.

Perlu diketahui, offroad motor adalah olah raga yang sangat melelahkan. Seseorang harus memiliki ketahanan fisik prima untuk melakukannya. Tidak salah bila olah raga ini juga punya sebutan enduro, yang maksudnya kira-kira “seberapa tahan anda melawan rintangan.” Bukan hanya naik turun bukit, tetapi juga karakter medannya yang berat. Kadang becek berlumpur, kadang berbatu-batu. Jangan bayangkan kita dapat duduk nyaman di sadel motor, seperti kalau kita onroad di jalan aspal yang mulus. Kita bahkan tidak boleh duduk. Kita harus setengah berdiri. Telapak kaki menapak step. Pantat diangkat sedikit ke atas. Lutut dan paha ditekuk. Persis seperti skotjam. Ketika jalanan mendaki, tubuh harus ditarik kedepan, duduk di tangki bensin. Sebaliknya bila menurun, tubuh ditarik jauh ke belakang. Tujuannya semata-mata agar motor trail kita tidak salto. Kalau tidak begitu, bisa-bisa kepala berhelm cakil itulah yang menancap duluan ke tanah sebelum akhirnya motor menyusul menimpa tubuh kita. Tetapi meski sudah berhati-hati dan berakrobat sana-sini, tak ayal satu dua kali kita tetap jatuh juga. Bila sudah benar-benar kecapekan, kita tak akan mampu lagi berdiri. Tubuh lunglai, jemari gemetaran. Setengah pingsan.

Di bukit Hambalang itu teman-teman saya tidak hanya kecapekan. Tetapi juga kehausan dan kelaparan. Tentu saja mereka memiliki bekal uang yang cukup. Dalam situasi normal, mereka bisa pesan buffet bermenu bawal bakar, kakap, atau mushroom soup yang hangat. Tetapi ini bukit yang jauh dari mana-mana, bahkan dari rumah penduduk. Jangankan makanan, air bersih pun tak ada. Dengan kata lain, teman-teman saya memang kaya. Tetapi situasinya begitu papa.

Untung saja di puncak bukit itu terdapat sebuah rumah sederhana. Berdinding bambu, bertiang kayu hutan. Ukurannya bahkan lebih kecil dari RSS. Di sekitarnya terdapat kebun singkong yang sudah siap panen. Kebun jagungnya baru saja di tanam. Rumah ini memiliki persediaan air minum yang disimpan di sebuah gentong gerabah. Air itu diambil dari sumber air di kaki bukit. Dua kilometer jauhnya. Tidak ada radio atau tivi. Apalagi home theater atau sambungan internet. Penghuninya adalah sepasang kakek-nenek berusia 70-an tahun. Wajahnya memang keriput, tetapi gerak-geriknya segesit anak muda. Selain bertani ala kadarnya, kakek-nenek ini juga mengumpulkan apa saja untuk dibawa ke kaki bukit. Kayu atau dedaunan. Dijual, lalu ditukar beras, ikan asin, dan garam.

Kakek-nenek ini bak malaikat penolong bagi teman-teman saya. Keduanya tidak hanya memberi air putih, tetapi juga teh hangat yang serasa minuman surga. Dan saat rombongan itu asyik beristirahat, kakek-nenek itu pun segera mengupas ketela. Menanaknya dengan sedikit garam. Setelah matang, mereka menyuguhkannya pada para tamu yang kelaparan. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya. Teman-teman saya menyebut singkong rebus itu sebagai stick gunung. Sebutan yang tulus, penuh rasa terima kasih.

Di akhir perjumpaan, teman-teman saya bermaksud membayar semua hidangan. Tetapi kakek dan nenek itu serta-merta menolaknya. Dalam Bahasa Sunda, kakek itu berkata, “Teu kedah atuh Aden. Sawios, da eta cai sareng sampeu wungkul.” (Nggak usah Den, wong itu sekedar air putih dan singkong saja). Lalu rombongan itu pun melanjutkan perjalanan. Dengan perut kenyang.

Di puncak bukit, kakek-nenek itu memang orang miskin. Tetapi anehnya, dia mampu mensedekahi orang-orang yang lebih kaya. Betapa misteri hidup ini memang tidak ada habisnya.[]

24 Oktober 2012

Mencermati Facebook: Kita Ini Tuyul

Menanggapi komentar seorang teman maya: eksistensi seperti apakah sebenarnya kita di Facebook?
 
Seperti halnya ranah lain, wilayah teknososial juga memiliki 'dewa-dewa' pemikirnya sendiri. Mereka diberi julukan keren: teknoevangelis, plesetan dari kata evangelis -- penginjil. Atau digerati, kependekan dari digital literati -- nujum dunia digital. Atau teknomisionaris, padu-padan dari kata teknologi dan misionaris. Tokohnya antara lain Michael Benedikt, John Perry Barlow, Nicholas Negroponte, Robert Coover, dan lainnya. Mereka berbicara di forum-forum bergengsi. Atau menulis di jurnal-jurnal. Tengok saja wired.com. Wacana diskursusnya pun tak kurang heboh. Bisa jadi bikin geli. Misalnya, "Kesadaran manusia bisa didownload di cyberspace". Atau "Cyberspace, esensialisme, dan ruh sejati." Atau "Cyberspace, keterhubungan dalam sarang lebah, komunitas baru yang membebaskan."

Tetapi anda salah bila mengira para digerati inilah biangnya tren. Para pemikir pandai itu, seperti biasanya, bukanlah pencipta fenomena. Mereka sekedar pewacana. Tren setter yang sebenarnya adalah para pebisnis yang bercokol di lembah Silikon atau di kota Seattle. Sebut saja Gordon Moore (pendiri Intel, pencetus Hukum Moore), Bill Gates (Microsoft), Steve Job (Apple), Jeff Bezos (Amazon.com), Eric Schmidt dan Larry Page (Google), Robert Greifeld (Nasdaq, yang memungkinkan kita beli saham dari kamar tidur sambil leyeh-leyeh). Tak lupa pula Mark Zuckerberg, si pendiri Facebook yang muda dan mendadak kaya. Mereka ini menciptakan piranti-piranti baru yang sontak menjadi gaya hidup, sekaligus mendunia.

Tetapi anda masih keliru bila beranggapan para pebisnis itulah penggerak utamanya. Pebisnis hanyalah operator lapangan. Penggeraknya adalah para investor yang namanya wira-wiri di Wallstreet. Bisa jadi dia seorang Syekh Arab yang bohir. Atau Taipan Hongkong yang superkaya. Tak terkecuali, juga bank-bank nasional kita yang markir uangnya di pasar modal demi mendapatkan capital gain. Dan andapun sudah bisa menebak sari dari semua hiruk-pikuk ini: uang (money).

Pertanyaan terpenting: lalu siapakah kita, para pengguna Facebook? Jangan marah ya, kita ini adalah tuyul. Ya, makhluk halus yang tugasnya mengambil uang buat si pemeliharanya. Kita ditugasi sebuah misi rahasia, bahkan bisa jadi tidak kita sadari. Misi ini dinamakan monetizing. Menguangkan apa saja. Agar kita mau melakukan misi ini, maka kita pun diberi makan dupa. Bentuknya macam-macam. Ada yang berupa piranti narsisme, yang memungkinkan kita memajang foto diri yang tercantik atau tertampan. Lengkap dengan setelan jas, beskap, dan peci baru. Bisa juga mobil atau foto wisuda. Atau sekedar hasil rebounding salon sebelah rumah. Si dupa bisa pula berupa sense of conectivity. Anda pun giat menambah teman baru yang tidak sepenuhnya anda kenal. Atau sense of meaning -- misal anda menyatakan ingin mencapai kondisi fana ala para sufi di ruang cyber. Atau sense of speed. Seperti jargon iklan, "Dunia ada di ujung jari".

Agar tuyul bisa cepat takhluk dan penurut, para pebisnis dan investor pun punya mantra yang namanya value. Sebagaimana mantra pada umumnya, value pun digumamkan dimana-mana. Di seminar, di TV. Semakin dahsyat redaksi mantra, semakin efektif menghipnotis sang tuyul. Karena kita yang dimantrai value itu, maka kitapun digelari sebagai si valued something. Bisa valued member, valued partner, valued user. Last but not least, valued market.

Ini penting kita catat: para pemelihara tuyul tidak pernah peduli pada aktivitas si tuyul, kecuali dalam hal monetizing tadi. Mereka tidak peduli kita mengutip Quran, Lacan, atau Fromm. Sama tak pedulinya kalau kita hanya sekedar menampilkan lirik lagu Rihanna atau BCL. It does't matter at all.

Lalu bagaimana bila kita dengan gagah berani menolak menjadi tuyul? Tentu saja anda jadi elienated ghost. Hantu yang terasing di kuburan yang sepi. Persis seperti tokoh pahlawan malang dalam Johnny Got His Gun, karya Dalton Trumbo. Teramputasi tangan dan kaki, tuli, buta, dan bisu. Tetapi para digerati memang tak akan menyebut kita demikian. Mereka menyebut kita dengan istilah canggih, yakni si malang yang mengalami information gap. Atau digital divide.

Anda mungkin menolak pendapat saya. Anda merasa tidak pernah dimintai uang atau memberi uang kepada Mark Zuckerberg. Oh, itu karena beberapa sebab. Pertama, anda kebal mantra. Anda memiliki resistensi terhadap iklan. Bisa jadi karena anda memiliki nilai-nilai yang lebih kokoh sebelumnya. Atau mungkin karena mantra itu memang belum sampai kepada anda. Si pembaca mantra memang belum buru-buru menyemburkan mantranya kepada anda. Tapi itu tak akan lama. Resistensi itu tak lama lagi hancur, dan kita semua menjadi tuyul.

Nah, apakah anda percaya cerita saya di atas? Syukurlah kalau enggak. Saya pun lagi cari-cari peran agar tidak jadi tuyul.[]

Mencermati Facebook: Semangat Komunitarian Meme Hijau?


Warna pirus atau hijau Turki (turquoise),
salah satu simbol kesadaran integral
"Menjengkelkan sekali orang yang seleranya norak, lebih tertarik pada diri sendiri dibanding kepadaku." (Ambrose Bierce)
Konon manusia adalah makhluk individu juga sosial. Berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Tetapi juga sangat butuh pertemanan. Tarik-menarik orientasi kepentingan ini membuat kesadaran manusia berkembang ke dalam berbagai mode. Sewaktu bayi, kita hanya tahu kata "aku". Kehadiran orang lain dipahami semata-mata untuk memenuhi kebutuhan si "aku". Bertambah umur, si "aku" pun mulai paham arti kehadiran orang lain. Lalu "aku" berinteraksi dengan "kau". Bersamaan itu, "aku" dan "kau" juga menyadari kehadiran lingkungan interaksi, yang dipanggilnya "dia". Bila kesadaran tidak berhenti berkembang, "aku", "kau", dan "dia" bisa terintegrasi menjadi "kita". Psikologi perkembangan menyebutnya sebagai perkembangan egosentrisme menuju sosiosentrisme. Tapi tentu saja paragraf ini hanya simplifikasinya saja.

Don Beck dan Christopher Cowan membuat model perkembangan kesadaran yang dia sebut model spiral dinamik -- yang kemudian diadopsi oleh Ken Wilber. Simbol-simbolnya menarik, yakni warna. Maklumlah, Beck dan Cowan adalah aktivis anti aparheid. Mereka sensitif terhadap diskriminasi warna kulit. Pembedaan manusia berdasarkan warna kesadaran (atau disebut dengan istilah "meme") jauh lebih baik dibanding pembedaan berdasarkan warna kulit. Warna kesadaran selalu berkembang. Sedangkan warna kulit hanyalah tempelan ragawi yang permanen. Saya lebih suka menyebut meme ini sebagai mode kesadaran, bukan tingkat kesadaran. Karena seperti dikatakan oleh Beck, Cowan, apalagi Wilber, kesadaran manusia tidak bersifat hirarkhis linier, atau bertingkat-tingkat seperti anak tangga. Melainkan tumpang tindih seperti mosaik. Cair, fleksibel, naik turun seperti gelombang. Mode-mode kesadaran ini adalah abstraksi dari akumulasi respon manusia terhadap situasi (atau permasalahan) yang dihadapinya, baik dalam konteks ruang, waktu, maupun sejarah.

Walaupun begitu, baik Beck, Cowan, dan Wilber tidak menafikan sama sekali hirarkhi. Gelombang-gelombang kesadaran itu pun mereka kelompokkan ke dalam dua tahap. Tahap pertama mereka sebut tahap subsisten, yang terdiri dari enam (6) warna gelombang. Meme termutakhir dari tahap ini adalah hijau. Tahap kedua mereka sebut sebagai tahap integral, yang terdiri dari dua (2) warna kesadaran. Saya menduga mengapa tahap pertama dinamakan subsisten, karena masing-masing gelombang masih saling bersaing, yang satu berusaha menyingkirkan yang lain atau setidak-tidaknya memandang rendah yang lain. Inilah narsisme kolektif, yang oleh Wilber disebut sebagai penyakit boomeritis (penyakit yang menghinggapi generasi baby boomer, generasi kita juga). Sedangkan tahap kedua justru berupaya merangkul keseluruhan tingkat kesadaran. Perlu saya tekankan bahwa model spiral dinamik ini telah melalui survei empiris yang melibatkan 50.000 orang di seluruh dunia. Jadi tidak melulu konseptual.

Bang Armahedi menyebut Facebook (dan mungkin juga jejaring sosial lainnya) sebagai fenomena meme hijau. Sebelum kita menyetujui atau menolak pendapat Bang AM, saya kutipkan dulu ciri-ciri kesadaran meme hijau. Meme hijau adalah diri yang Peka. Komunitarian, persaudaraan, kepekaan ekologis, dan jejaring sosial. Ruh manusia harus dibebaskan dari keserakahan, dogma, dan pengelompokan-pengelompokan. Perasaan dan kepedulian menggantikan rasionalitas yang dingin. Mencintai alam, Gaia, dan kehidupan. Menentang hirarkhi. Membangun ikatan yang setara. Diri yang cair, diri yang menyukai hubungan dengan orang lain, kelompok yang saling terikat. Menekankan pada dialog, keterkaitan. Dasar dari nilai-nilai komunitas (misalnya, secara bebas memilih membangun ikatan berdasarkan persamaan sentimen). Mencapai keputusan dengan cara rekonsiliasi dan konsensus (sisi buruknya, “proses” konsensus itu bisa jadi tidak pernah selesai karena ketidakmampuan mengambil keputusan). Spiritualitas baru, harmoni, dan pengkayaan potensi manusia. Egalitarian, anti hirarkhi, nilai-nilai pluralistik, konstruksi sosial tentang realitas, keragaman, multikulturalisme, sistem nilai relativistik. Subyektif, pemikiran non-linier. Kehangatan hubungan manusia yang lebih tinggi, kepekaan, kepedulian terhadap bumi dan penghuninya. Populasinya kira-kira 10% penduduk dunia.

Sebagai pembanding, saya kutipkan ciri-ciri mode kesadaran sebelumnya, yakni meme oranye. Meme ini disebut kesadaran ilmiah. Mencari kebenaran dan makna secara ilmiah individualistik – hipotetik-deduktif, eksperimental, obyektif, mekanistik, dan operasional. Dunia adalah mesin rasional yang mematuhi hukum alam yang dapat dipelajari dan dimanipulasi untuk tujuan kita sendiri. Kaum oranye memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan diri, khususnya dalam meraih kejayaan materi. Hukum-hukum ilmiah dalam politik, ekonomi, dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan. Dunia adalah papan catur: pemain yang menang akan meraih kemuliaan dan yang kalah akan terabaikan. Aliansi pasar. Memanipulasi sumber daya alam untuk meraih capaian strategis tertentu. Menjadi dasar bagi negara korporasi. Materialisme. Humanisme sekuler. Paham-paham liberal. Kira-kira mencapai 30 persen populasi.

Satu pembanding lagi adalah meme biru. Meme ini meyakini keteraturan Mitologis. Hidup memiliki arti, arah, dan tujuan, yang capaiannya di tentukan oleh suatu kekuatan Lain yang maha perkasa (Other) ataupun oleh Keteraturan mutlak (Order). Sang Keteraturan akan mengundang-undangkan hukum absolut dan tidak terbantah tentang “yang benar” dan “yang salah”. Melanggar hukum-hukum ini akan menderita. Mentaati hukum akan mendapatkan ganjaran atas kesetiaanya. Basis dari negara-negara kuno. Hirarkhi sosial yang kaku. Paternalistik. Hanya ada satu jalan yang benar, dan hanya dengan jalan itulah kita berpikir tentang segala sesuatu. Hukum dan ketertiban. Kontrol impulsif melalui perasaan bersalah atau dosa. Kepercayaan fundamentalis dan hukum-hukum tertulis yang jelas. Kepatuhan terhadap Keteraturan. Seorang konvensional dan konformis yang keras. Sering berbentuk agama atau mitos (dalam konteks mitos ini, Graves dan Beck menyebutnya sebagai tingkat “kesantoan/absolutis”). Tapi dapat juga berbentuk misi atau keteraturan sekuler dan atheis. Ditemukan dalam paham puritan Amerika, Konfusius China, Dickensian orang Inggris, disiplin masyarakat Singapura, totaliterianime, aturan dan kehormatan kavaleri, perilaku kedermawanan, fundamentalisme agama (baik Islam, Kristen, dan lain-lain), pramuka, patriotisme. Populasinya mencapai 40%.

Apakah Facebook dan jejaring sosial lainnya adalah fenomena meme hijau? Dari sisi utilitas, Facebook saya kira memang piranti yang dapat mengantarkan kepada gelombang kesadaran hijau. Bahkan lebih dari itu, karena kecanggihannya dan sifat pervasifnya, Facebook bisa menjadi wahana ke arah gelombang-gelombang integral yang lebih tinggi. Tetapi apakah saat ini para pengguna Facebook dan jejaring sosial lainnya memang benar-benar mencerminkan kesadaran gelombang hijau? Ataukah menurut Bang Armahedi, Facebook memiliki sifat-sifat inheren (semacam paradigma) yang bisa mengantarkan penggunanya kepada kesadaran hijau? Ataukah Facebook justru menjadi tempat mengentalnya gelombang-gelombang kesadaran yang lain, misalnya oranye si ilmiah dan si biru yang absolutis? Saya belum berani menjawabnya.[]

Makan Tuh Syair


Judul ini seharusnya diakhiri dengan tanda smiling. Sebab, saya tidak bermaksud melecehkan penyair, justru mengaguminya. Khususnya penyair teman saya.

Badannya tinggi tegap. Rambut panjang ikal. Mirip penyanyi-penyanyi reggae Jamaica. Dia tinggal di rumah kos bersama teman-temannya, di pojok Jakarta. Teman saya menyebut tempat tinggalnya sebagai gubuk penyair. Kata teman saya, "Seandainya ini Amerika, tak masalah aku tinggal di kardus." Dia terinspirasi oleh film berjudul Basquiat, yang mengkisahkan kehidupan seniman nyentrik Jean Michel Basquiat. Dalam film itu, Basquiat memang tinggal di kardus.

Teman saya itu bawaannya pemurung. Dia memandang kehidupan sekitarnya dengan kaca mata kelam. Entah karena sebab itu, dia menjadi peka terhadap ketimpangan di sekitarnya. Dia sering menolong orang, tetangga atau teman-temannya, dengan cara apa saja. Bahkan kadang memalukan untuk ukuran umum. Kata teman saya, "Kenapa harus lebih malu kepada manusia ketimbang kepada Tuhan?"

Sebagai penyair, pikirannya tajam. Diksinya kaya. Tetapi kadang sarkastik. Dengan penanya, dia bisa mengubah hal sepele menjadi heboh. Apalagi bila bertutur tentang cinta (favorit semua penyair), kata-katanya magis menghanyutkan. Membawa pendengarnya mengawang-awang di langit mimpi.

Kepekaannya itulah yang membawanya menjadi sukarelawan di tanah rencong, beberapa tahun yang lalu, ketika Aceh ditimpa musibah. Dia berangkat dari Jakarta bersama sukarelawan lain. Diantara rombongan itu terdapat seorang perempuan muda. Manis parasnya. Ramah sikapnya. Sebut saja Nona.

Berbulan-bulan mereka berdua bekerjasama. Dari memungut mayat, hingga memasak di dapur umum. Kebersamaan itu membuat mereka akrab. Dari mata mengalir ke rasa, begitulah kira-kira situasi mereka. Ringkasnya, mereka dilanda cinlok, cinta lokasi. Tentu ini juga diakibatkan oleh kepiawaian teman saya mengolah kata, mengatur tutur. Tanah bencana digubahnya serasa surga. Kata teman saya, "Kami dilambungkan oleh keadaan. Situasi tempat itu sangat emosional." Tapi itu hanya kilahnya. Bagi seorang penyair, cinta bisa ditumbuhkan di mana saja, bahkan kapan saja. Ketika masa kesukarelawanannya berakhir, mereka berdua pun pulang bersama. Duduk bersisian di pesawat yang sama. Bak Mimi dan Mintuna, meminjam istilah orang Jawa.

Seminggu semenjak kepulanngannya, cinta teman saya rupanya tidak surut. Dikumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan hasrat jiwa. Kata teman saya kepada si Nona, "Non, bila sudah waktunya kau mempertimbangkan seseorang menjadi pendamping hidupmu, tolong aku dipertimbangkan juga." Rasanya, itulah kata-kata maksimal yang bisa dia ungkapkan. Lebih dari itu, lidahnya kelu. Ini memang tidak biasanya.

Rupanya atmosfir Jakarta tak sama dengan udara Aceh. Nona merevisi perasaannya. Dalam SMS-nya, Nona menulis pendek, "Kita berteman saja." Persis seperti lagu pop.

Teman saya pun patah sayapnya. Katanya, "Ketika sudah menyangkut kenyamanan, perempuan bisa menjadi sangat rasional. Ketimbang tinggal di gubuk penyair, dia lebih memilih rumahnya di Pondok Indah." Oh malangnya. Tapi bukannya menghibur, teman-teman sekosnya malah meledek, "Makan tuh syair".[]

Diperlukan Panjat Pagar dan Kejaran Anjing untuk Menegakkan Kejujuran


Seberapa rumit menegakkan kejujuran di negeri yang tidak menganggap penting kejujuran? Bak meluruskan benang basah. Rumit dan melelahkan. Berikut ini adalah kisah teman saya, seorang manajer perusahaan alih daya di bidang pencatatan meter air di Jakarta.

Banyak orang mengira, rendahnya layanan air bersih di Jakarta disebabkan oleh faktor alam, misalnya menurunnya sumber air. Atau timpangnya pasokan dengan permintaan. Tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Simak saja pernyataan Syahril Japarin, Direktur Utama PT Aetra (dulu PT Thames PAM Jaya), salah satu operator PAM Jaya yang membidangi layanan air bersih di sebagian wilayah Jakarta. Syahril mengatakan, akibat pencurian air dan perusakan meteran, PT Aetra mengalami kerugian tidak kurang Rp 903 miliar sepanjang tahun 2007, atau kira-kira 53 persen dari total produksi air (KOMPAS, http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/03/04/02415316). Syahril sendiri adalah CEO baru di perusahaan itu, yang sebelumnya mendapatkan penghargaan sebagai CEO BUMD terbaik dari Majalah SWA. Syahril adalah alumni ITB dan mantan aktivis Masjid Salman.

Kembali pada teman saya, sebut saja namanya Mas B. Perusahaannya adalah alih daya (outsourcer) yang bergerak dalam bidang pencatatan meter air di rumah-rumah pelanggan. Anak buahnya kira-kira 50 orang. Teman saya itu adalah mantan aktivis masjid, bahkan urusan memakmurkan masjid ini masih juga dilakukannya hingga sekarang. Oleh teman-temannya, dia sering diledek sebagai sopir, karena hobinya mengantar jemput penceramah. Sebagai mantan aktivis, Mas B bisa dibilang sangat idealis. Dia ingin perusahaannya bekerja secara benar. Dengan kata lain, pencatatan meter harus dilakukan dengan sebenar-benarnya.

Ah, apa susahnya sih mencatat meter? Kalau anda berpikir seperti itu, anda keliru. Masalah pertama yang harus dibereskan adalah moral anak buahnya. Seperti kita tahu, setiap orang ingin bekerja dengan gampang. Dan sikap menggampangkan itu cenderung memicu kecurangan. Misalnya, seorang pencatat hanya memeriksa tiga rumah, tetapi melaporkan sepuluh. Atau tidak jarang si pencatat menerima suap dari pelanggan yang ingin diuntungkan. Oleh karena itu, teman saya sejak awal sudah membuat aturan dan prosedur yang baku. Aturannya sederhana saja: catat meter air langsung dari meteran, catat penyimpangan bila ada, dan laporkan. Setiap karyawan yang melanggar aturan akan ditindak tegas. Untuk itu, teman saya pun membuat model pencatatan berlapis. Hasil pencatatan seorang petugas akan diverifikasi keesokan harinya oleh petugas yang lain. Dengan begitu, penyelewengan dapat diminimalisasi. Walau demikian, teman saya termasuk orang yang tidak tegaan. Pernah seorang anak buahnya kedapatan menerima suap dari pelanggan, dan sesuai aturan harus dipecat. Tetapi teman saya berupaya keras untuk mengumpulkan semua bukti, termasuk pembelaan dari si tersangka sebelum melakukan pemecatan. Ketika sekretarisnya mengkritiknya karena membuang-buang waktu saja, teman saja mengatakan, ”Aku harus mempertimbangkan kepentingan orang-orang di belakang si tersangka. Aku tidak mau gegabah memutus rejeki istri dan anak-anaknya.”

Bila urusan internal beres, urusan yang yang sesungguhnya sudah menunggu. Mengutip Syahril Japarin, pencurian air dan perusakan meteran dilakukan secara terorganisir (KOMPAS: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/11/01044919/pencurian.air.terorganisasi). Menghadapi kejahatan terorganisir tentu saja tidak mudah. Ancaman fisik dan kekerasan selalu membayangi. Inipun dialami oleh Mas B dan anak buahnya. Mulai dari teror lisan, premanisme, pengeroyokan, sabotase, dan lainnya. Yang lebih menyakitkan, menurut teman saya, adalah teror yang dilakukan oleh oknum-oknum orang dalam, yang merasa terancam sumber rejeki sampingannya. Mereka tak segan-segan melakukan fitnah terhadap perusahaan teman saya. Dengan hasil pekerjaan sebaik itupun, perusahaan teman saya tetap tidak disukai.

Menemukan meteran di rumah pelanggan juga bukan pekerjaan mudah. Diperlukan panjat pagar atau dikejar anjing untuk menemukannya. Atau ada pelanggan yang entah karena alasan apa menyembunyikan meteran di lubang yang sempit. Petugas pencatat pun harus memasukkan kepala ke lubang ukuran 30 x 30 cm itu untuk bisa melihat meteran. Belum lagi penyelewengan-penyelewenagan yang sudah lazim terjadi, misalnya pipa-pipa air yang disambung tidak melewati meteran.

Anda tahu berapa gaji para pencatat meter? Tidak seberapa untuk ukuran Jakarta. Kira-kira hanya 1,5 juta perbulan. Lebih kecil dari gaji sales rokok di kota Bandung. Anda ingin tahu gaji teman saya? Saya kutip saja pernyataan sekretarisnya, ”Gaji Mas B itu tidak cukup untuk membeli bensin mobilnya.” Aneh bukan. Tetapi dalam kehidupan ini, hal-hal aneh bukan mustahil terjadi.[]

Gunung Puntang


Fajar nyalang
singkap gaun

gunung perawan
Duhai, punggungnya menawan

Jalang matahari
dibakar birahi
usir kabut
lari menepi

Pancuran bambu
kembang dusun di balik rumpun
mandi suci berseri-seri
sisa kenangan mengukur malam

Decit pikulan di bahu legam
Lelaki pagi memikul harapan
dengan keranjang berlubang-lubang
sayang, kian jauh isinya berkurang

Bocah sekolah
riangnya renyah meruah
mencuri-curi takdir dengan kertas jerami
siapa tahu nasib mau berbagi

Duh sri gunung,
mestikah beradu untung
siapa uzur lebih dulu
apakah kau atau aku

(Banjaran, lereng Gunung Puntang)

Pinta Anakku di Hari Ulang Tahunnya


Putri namanya
delapan umurnya
belum juga remaja
masih kepang dua

Di hari ulang tahunnya
kenes memanja
kutahu maksudnya
menagih tanda cinta

Pinta anakku di hari jadinya
sebuah tivi untuk kamarnya
tak perlu besar atau datar
cembung kecil juga tak apa

Pinta anakku di hari jadinya
sebuah tivi menarik hati
ada misteri juga selebriti
Eh, bisa pula belajar ngaji

Bagai menteri titahnya
setrampil pakar kilahnya
bila tak ada tivi dikamarnya
bagaimana menghadapi dunia

kita ini katak di tempurung kelapa, katanya
berumah tanpa jendela
tivi adalah bola kaca
bagi Sri Kresna melipat dunia

Pinta anakku dihari ulang tahunnya
sebuah tivi untuk kamarnya
menakar kadar cinta ayahnya
yang termangu menimbang rasa

(Banjaran, Susah Sungguh Menjadi Seorang Ayah)


Maafkan Ayah, Anakku

Maafkan ayah, anakku
tak luluskan pintamu
Sebuah tivi untuk kamarmu
Bukan ayah tak sayang padamu

Tivi pintamu
adalah lubang hitam di angkasa biru
gravitasinya tak terperikan
Menyerap materi ke dalam pusaran

Tak peduli koruptor atau politisi
Teroris atau martir suci
wadam atau kyai
sulih rupa jadi komoditi

Tivi pintamu
adalah mesin sakti fragmentasi
menjajakan mosaik sepanjang hari
polanya dikubur ke perut bumi

Memang anakku
lubang hitam di angkasa itu
ada kalanya berlubang cacing
yang mengantarkanmu ke angkasa lain

Tapi anakku,
tak mudah kau raih itu
karena cacing hanya sekelingking
perlu rasa yang benar-benar bening

Maaf anakku,
tivimu kutukar buku
tolong jangan ragukan cinta ayahmu


(Banjaran)

Jiwa yang Mencintai


Sang rupawan berkata kepada kekasihnya
"Cintai jiwaku, bukan ragaku.
Karena jiwa lebih abadi".

Si buruk rupa berkata kepada pujaannya
"Tolong cintai jiwaku, jangan ragaku.
Karena jiwa lebih abadi."

Kekasih dan pujaan itu berkata,
"Tenang saja kekasihku,
yang mencintamu bukan ragaku,
tapi jiwaku yang juga lebih abadi."

(Kalibata, jam 4 pagi)

Kesaksian Matahari




Di pengadilan akhir
Matahari bersaksi tentang kehidupan seorang insan
"Duh Tuhan, berkahilah orang ini
dia memulai hidupnya ketika fajar buta
dengan berprasangka baik padaku
dan mengakhirinya di senja kala
dengan tetap berprasangka baik padaku."

Lalu Tuhan bertitah pada malaikat,
"Masukkan orang ini ke surga,
karena dia sudah terbiasa dengan surgaku."

*
Di pengadilan akhir
Matahari bersaksi tentang insan yang lain
"Duh Tuhan, hukumlah orang ini
dia tak pernah memulai hidupnya ketika fajar
dan selalu berprasangka buruk padaku
dan tak pernah mengakhirinya ketika senja
dan menyalahkanku atas setiap kegagalan."

Lalu Tuhan bertitah kepada malaikat,
"Masukkan orang ini ke neraka,
karena dia sudah terbiasa dengan nerakaku."

(Kalibata, jam 5 pagi)

Alur Cinta


 
Bila kau mabuk cinta
dadamu sesak oleh tanya,
"Bagaimana sebaiknya mencinta"

Lihatlah, kau sungguh berbeda dengan Dia
Dia awali cintanya pada semua
tak peduli si patuh
atau si pembangkang
dilimpahi cinta yang sama
hanya dipenghujungnya dia memilih kekasih-kekasih-Nya

Tapi kau tak seperti itu,
kau awali cintamu untuk seorang saja
membuatmu gila bagai Majnun pada Laila
merampas dunia seolah milikmu saja

Tapi mengapa kau berhenti disitu kawan?
Sedangkan itu hanya latihan
agar kau terbiasa mencinta
bukan untuk satu tapi untuk semua
seperti Tuhan di awal cintanya

(Kalibata Jam 2 Pagi)

Malaikat yang Datang


Perempuan setia
lelah meratap
dikukus resah
rasa bersalah

Tak tahu datangnya
bosan mencengkeram
pada kekasih
yang dulu dipuja


"Maafkan aku kekasihku
bukan kehendakku
bosan padamu!

Duh Gusti Pencipta,
mohon ampun
akukah pendosa?
"

Tuhanpun tak tega
dibukalah kisah
yang semestinya rahasia

"Wahai perempuan setia,
jangan berburuk sangka
pada cara-Ku mencinta

bosan itu malaikat utusanku
Kukirim khusus
untukmu sebagai tamu

bila dia datang
sambut tanganya
karena dia mengajak terbang
ke langit lapang

Bila kau banting pintu
sukmamu mati
ditikam waktu
membatu

Bila kau lari menghindar
setan kukirim
mengebiri
dengan pesta warna-warni
stagnasi

Terbang, terbanglah perempuan setia
bersama malaikat-Ku yang tak kau undang
agar cintamu berkembang
ke sudut terjauh semesta-Ku yang lajang"



d’Espagnat, Fisika, dan Iman


Bila Anda fisikawan, anda akan sering digulung dilema akut: beriman atau tidak beriman kepada Tuhan. Ini memang terkait dengan karakter fundamental ilmu fisika itu sendiri. Pada satu sisi, fisika menuntut olah kuantifikasi yang ketat. Yang disebut 'ada' adalah yang bisa diukur. Tetapi pada sisi lain, fisika memberi pula ruang luas kepada imajinasi matematis yang misterius. Mengapa misterius? Karena pengembaraan matematis ini berujung pada ketidakpastian pengukuran: yang seharusnya bisa diukur, ternyata tidak. Dengan kata lain, tidak semua hal bisa diukur. Misteri inilah yang menjadi kata kunci bagi Bernard d'Espagnat, Fisikawan Perancis pemenang Penghargaan Templeton tahun ini, untuk menerima pendekatan spiritualitas sebagai sebuah perspektif untuk mengetahui yang 'ada'. Selain fisika itu sendiri.

Orang 'modern' pertama yang jumawa memproklamirkan 'kematian Tuhan' sesungguhnya juga bukan orang fisika, tetapi matematikawan Pierre-Simon Laplace, yang digelari Newton dari Perancis. Dalam bukunya, "Essai Philosophique sur les Probabilités", 1814, Laplace mengklaim bahwa kemungkin-jadian segala sesuatu hanyalah problem kalkulus. Atau gampangnya, kita belum bisa mengukur yang misterius itu hanya karena belum ditemukan rumusan matematikanya. Ketika Napoleon, kaisar Perancis waktu itu, bertanya kepadanya tentang mengapa Laplace tidak menyebut satu kalipun Tuhan dalam gagasan-gagasannya, Laplace menjawab, "Itu tidak diperlukan karena segala sesuatu sudah sesuai hukumnya". Segala sesuatu mengikuti hukum mekanis-deterministik Newton, oleh karena itu Tuhan tidak diperlukan lagi. Tetapi dalam hal ini Laplace terlalu tergesa-gesa. Bahkan Newton sendiri, dalam biografi yang pernah saya terjemahkan, meyakini keberadaan Kekuatan Agung yang memungkinkan berlakunya hukum fisika. Dalam bukunya yang fenomenal, Principia, Newton mengatakan, "The most beautiful system of the sun, planets, and comets, could only proceed from the counsel and dominion on an intelligent and powerful Being". Lebih dari itu, Newton bahkan mengatakan bahwa Tuhan secara berkala melakukan intervensi atas alam sehingga alam senantiasa pada jalurnya yang konsisten.

Para fisikawan memang berdiri di titik labil karena harus selalu bergulat dengan pemaknaan tentang yang 'ada'. Mereka setiap saat merasa diharuskan mendefinikan makna keberadaan (hal yang sama sebenarnya juga dirasakan oleh para pemeluk agama). Tetapi fisikawan berangkat dari dua hal mendasar: mengukur dan merumuskan. Sedangkan para pemeluk agama berangkat dari meyakini. Tuhan sendiri per definisi memang tidak bisa diukur dan tidak bisa dirumuskan. Oleh karena itu sebagian fisikawan akan menganggap Tuhan tidak ada. Tetapi sebagian yang lain menganggap itu sebagai misteri, sesuatu yang bukan wilayah fisika. Premis kedua ini tentu sedikit banyak menggoyang bangunan fisika empiris.

Bernard d'Espagnat, yang kini berusia 87 tahun, adalah guru besar emeritus pada departemen fisika teori Universitas Paris-Orsay. Juga menjabat sebagai direktur Laboratorium Fisika Teori dan Partikel Elementer hampir selama dua dekade. Dalam bukunya On Physics and Philosophy, d'Estagnat membuat pernyataan yang sangat menarik: capaian-capaian mutakhir teori kuantum, yang memunculkan ketidakpastian tentang ruang, materi dan kausalitas, kini membutuhkan campur tangan serius dari pendekatan-pendekatan (baca: filsafat) tradisional. D'Estagnat menegaskan bahwa berdasarkan teori kuantum kita memang tidak mungkin memperoleh kebenaran ilmiah murni, dimana realitas yang diteliti bisa bebas dari pengaruh kesadaran. Kita selamanya tidak akan pernah dapat menguak, baik secara empiris maupun rasional kebenaran realitas, yang disebutnya sebagai 'realitas yang tertabiri' (veiled reality). Penelisikan 'realitas tertabiri itu', masih menurut d'Estagnat membutuhkan pendekatan spiritualitas yang lebih tinggi. Tetapi pernyataan seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Jauh sebelumnya para fisikawan telah lama berpolemik tentang paradoks kuantum dan kesadaran. Contoh yang populer adalah teka-teki kucing setengah mati-setengah hidup ala Erwin Schrödinger.

Penghargaan Templeton yang diterima oleh d'Espagnat adalah penghargaan bergengsi. Bahkan jumlah hadiahnya pun melebihi Nobel. Penghargaan ini hanya diberikan kepada satu orang saja setiap tahunnya, yakni mereka yang dianggap berkontribusi dalam pengembangan agama atau spiritualitas. Juri penghargaan ini berasal dari berbagai agama, termasuk Islam. Salah seorang penerima penghargaan ini adalah Bunda Theresa. Selain d'Estagnat, para fisikawan penerima Templeton diantaranya Michael Heller, Jhon D. Barrow, Freeman Dyson, Paul Davies, dan lain-lain.

Bagi saya, mungkin juga bagi anda, pemberian penghargaan Templeton kepada d'Estagnat semakin membuka celah terang bagi dialog antara fisika (atau ilmu pengetahuan pada umumnya) dan agama. Selama ini pintu dialog ini seakan tertutup. Dengan klaim otoritasnya masing-masing, agama dan ilmu pengetahuan seolah tidak bisa disatukan. Namun capaian d'Estagnat ini mungkin bisa sedikit menyisihkan kebuntuan ini.

Kepada para pemeluk agama, mari kita berseru, "Berilah kesempatan pada fisikawan untuk menemukan Tuhan dengan caranya sendiri.

Kepada para fisikawan, mari kita berseru, "Jangan buru-buru menolak Tuhan hanya karena Dia tidak bisa ditera."

(Kalibata, malam sunyi)

Bandung Jakarta

1
Kereta baja
mendaki subuh
bagai setubuh
dengan waktu
yang masih tangguh

hanya peluh
mengasini luka
semakin terasa
maafkan, oh
maafkan

keropos tulang
masih mengenang
impian surga
jaman semula

rimba di kanan
ngarai di kiri,
kini tiada
maafkan, oh
maafkan

2
Tahukah kau rasa laparku, kawan?
bukan pada anggur
bukan!
itu tak kan mengenyangkanku

Tahukah kau rasa sakitku?
bukan karena madu
bukan!
itu tak kan mengobatiku

Tahukah kau kehilanganku?
bukan pada riuh pesta itu
bukan!
itu tak kan memuaskanku

Tahukah kau lelah rinduku?
bukan pada senyummu
bukan!
itu tak kan menentramkanku

Oh, kawan
mungkin kau pernah mendengar
laparnya angin
pada pucuk-pucuk pinus
yang dibuatnya gemerisik?

Mungkin kau pernah tahu
rindunya ombak
pada biduk nelayan
yang diiringkannya ke lautan?

Mungkin kau pernah melihat
galau guruh pada gulita malam
yang dibuatnya bercahaya
terang benderang?

Mungkin kau pernah merasakan
gelora matahari pada Kunti si jelita
yang dihangatkannya
dengan ribuan impian?

Oh kawan,
kini aku jadi rindu padamu
biru memburu
agar sesaat kulupakan rasa sakitku.

(Pancoran, tengah malam)

Bandung Jakarta 3


Kereta itu berangkat sudah. Pagi yang dermawan telah menitipkan gadisnya padaku. Hanya padaku. Serona mawar, kuning kemerahan. Pipinya bersinar tembaga. Bagai bara yang baru saja menyala. Dua puluh tahun lebih muda aku rasanya.

“Bolehkah kita bertukar tempat? Saya ingin disisi jendela” Tentu. Tentu saja. Mana mungkin menolaknya. Seumpama akar rotan manis senyumnya, saat aku tersesat di belantara angan-angan. Riangnya berdentingan ketika dia mulai bercerita tentang cintanya.

“Akhirnya aku sampai juga di kotamu, kekasih. Lama sudah aku mendambakannya”. Itu kata-katanyanya. Sungguh, itu kata-katanya. Aku tersenyum saja. Tak pantas setua ini melompat-lompat seperti remaja. Ingin aku genggam tangannya. Tapi itu juga tak pantas. Seisi kereta akan tertawa. Mungkin diriku sendiri juga akan tertawa. Biarlah gadis itu bercerita tentang cintanya, aku mendengarkan saja.

Siapa bilang waktu bisa diukur dengan arloji. Tidak bisa! Leburkan dirimu ke dalam gelora maka kau tak akan merisaukan waktu. Siapa bilang ruang bisa ditera dengan speedometer. Tidak bisa, kawan. Satukan dirimu dengan anganmu maka kau tak akan menemukan batas dunia.

“Mbak, Pak, karcis, karcis,” kondektur itu mengganggu saja. Waktu jadi kembali merisaukan. Ruang kembali menyesakkan, seperti biasanya. Kenapa tak pakai barcode saja. Atau infra merah? Atau biometric scanner? Dasar kampungan.

Tapi itu tak lama. Gadis itu kembali bercerita tentang cintanya. Bergaung ke gunung-gunung. Bergema tak ada batasnya. Senyumnya manis seperti akar rotan. Dan aku mendengarkan saja. Ingin aku genggam tangannya. Tapi itu tak pantas.

Di ambang terowongan, gadis itu tiba-tiba berhenti bercerita. Sunyi seperti kematian. Dia menoleh padaku dan bertanya, “Maaf Pak, mengapa hp saya tiba-tiba tidak bisa digunakan?”

Gadis serona mawar itu berhenti bercerita tentang cintanya. Benar kawan, dia tidak bercerita padaku, tapi pada sebuah hp. “Di sini blankspot, Dik. Tidak ada sinyal,” jawabku sekenanya. Kini aku merasa perjalanan ini akan lebih lama dari biasanya. Lebih lama.

(Bandung, subuh)

Bandung Jakarta 4


Malam tadi aku bermimpi. Jadi asongan di kereta pagi. Jualan keliling di kelas eksekutif. Kereta favorit yang kukagumi.

Memang hebat kereta ini. Bahannya kualitas tertinggi. Catnya juga warna-warni. Dibuat oleh kampiun berjiwa seni. Negara tetangga sudah pasti iri.

Kukemas daganganku dengan kertas manila. Mereknya kutulis dengan tinta langka. Semalam suntuk aku merekanya. Karena inilah harapan satu-satunya. Biar anak cucuku hidup lebih lama. Bismillah, bismillah, semoga ada berkahnya.

Di gerbong belakang termenung seorang pengusaha. Dahinya lebih keriput dari semestinya. Asap rokok mengepulkan angka. Oh bukan angka, tapi mata uang. Yen, dolar, euro, yuan. O, ringgit juga ada. Hebat, luar biasa. Seperti pesulap saja.

Selamat pagi, Bapak belum sarapan? Mau mencoba resep spesial? Lelaki itu acuh belaka. Menoleh pun tak bersedia. Malah tangannya menuding bilah kayu. Tulisan peringatan di atas pintu. “Dilarang berjualan di kereta”. Tapi Pak, lihat tulisan diatasnya, yang lebih tinggi dari tulisan semula, “Dilarang merokok”.

Kondektur datang mencokok. Menarikku ke sisi toilet. Menyengat bau bakaran karet. Kau melanggar aturan, katanya. Aku diam saja, tak tahu harus bilang apa. Hanya kulirik bapak pengusaha, masih asyik dengan rokoknya. O, kau mau seperti dia? Kondektur itu bertanya. Selalu ada harganya. Selalu ada harganya. Itu ucapannya, berbisik seperti berdoa. Aku diam saja, tak tahu harus bilang apa.

Di gerbong lain kutemukan tentara. Wajahnya dingin seperti lazimnya. Aku tak berani menawarkan apa-apa. Terus terang, aku takut pada pistolnya.

Lalu aku mendekati seorang cendekiawan. Aku tahu itu dari kacamatanya. Tebal karena selalu membaca. Intelektual sekarang sudah banyak bedanya. Tidak kusut eksentrik seperti di film-film. Tapi necis berdasi seperti salesman.

Bapak harus sarapan menu saya. Orang seperti Bapak harus sarapan menu saya. Jika bukan Bapak, lalu siapa? Bertubi-tubi aku merayunya. Tapi cendekiawan itu terus saja membaca. Menoleh pun tak bersedia. Iseng kuintip bukunya. Survei ilmiah atau apalah namanya. Hanya dibagian bawah ada tulisan, “sponsored by bla bla bla”.

Di gerbong terdepan tampak bercahaya. Dua pemuda bersafari hitam menjaga pintunya. Mengapit dua perempuan elok berbaju batik. Duh Gusti, rendah nian belahan dada si cantik. Kata orang, mereka disebut tim relasi publik.

Mbak, saya hanya ingin menawarkan dagangan. Mengapa saya tidak diijinkan? Ini gerbong esklusif, katanya. Penumpangnya calon presiden. Siapapun dilarang masuk, apalagi pedagang asongan.

Anehnya, sang calon presiden justru lebih ramah dari mereka. Mungkin ramah memang lagi musimnya. Dihampirinya aku, lalu bertanya, Adik jualan apa?

Saya jualan cita-cita, Bapak. Kubuka kemasan manila. Kusam sinarnya seperti barang langka. Calon presiden menahan tawa sebisa-bisanya. Tapi para calon menterinya tertawa sejadi-jadinya. Dik, maaf ya, saya sudah kenyang. Tadi calon menteri saya sudah menyediakan sarapan. Menunya kekuasaan, pakai saos pragmatisme. Lezat benar rasanya. Adik harus mencobanya.

Aku pergi dengan kecewa. Di belakangku calon presiden masih juga bercanda, Dik besok saya pesan cita-cita rasa strawberry ya. Vanila juga boleh. Lalu calon presiden tertawa sejadi-jadinya. Calon mentrinya juga. Aku hanya diam saja. Tak tahu harus bilang apa.

(Pancoran, tengah malam)

Di Tepian Swan


Sering kau ceritakan
tentang riuhmu memunguti daun-daun gugur
di tepian Swan
slalu kau pilih satu
sebagai penanda tahun
semakin lama semakin tinggi
daun-daun kau susun.

Sering kau ceritakan
keinginanmu yang sumir
membangun mercusuar di tepian Swan
tinggi mengawang
dipuncaknya kau ingin leluasa memandang
horison negerimu di lautan seberang

Sering kau bilang mati cemburu
pada tiang-tiang kapal
yang setiap sore mencuri horisonmu
menyisakan siluet, berwarna pun tidak
lalu kau pinjam kemarahan Archimedes di ujung maut,
“Hai, kau menutupi horisonku!”

Kini kau beralih cita-cita
tak lagi ingin membangun menara, tapi reflektor raksasa
yang memantulkan horison negerimu di lautan seberang
berkilauan, entah karena cahaya atau karena berkaca-kaca
kau tak bisa memastikan
di tepian Swan, kau tak kan bisa memastikan

(Pancoran, selepas maghrib)

Sekarwangi

1

Bila mereka bertanya tentang negerimu, Anakku
ceritakan saja tentang tunas-tunas baru
yang kita tanam di kebun mawar
jangan ceritakan tanah-tanah puso yang sering kita saksikan
agar mereka terbiasa dengan harapan

Bila mereka bertanya tentang negerimu, Anakku
ceritakan saja tentang rumah baru
yang tiang-tiangnya telah kita tegakkan
jangan ceritakan tentang rumah-rumah kardus yang sering kita temukan
agar mereka terbiasa dengan masa depan

Bila mereka bertanya tentang negerimu, Anakku
ceritakan saja tentang sabana
yang anginnya menggenggam tawamu hingga ke awan
atau lautan yang tepinya melebihi keperkasaan matahari
jangan ceritakan tentang pohon-pohon lapuk yang mudah patah
agar mereka terbiasa dengan kemungkinan

Bila mereka bertanya tentang negerimu, Anakku
ceritakan saja tentang api abadi di dadamu
yang menyala sekalipun badai mengosongkan minyakmu
jangan ceritakan tentang hati kerdil si pengeluh dan hati koyak si perakus
agar mereka terbiasa dengan kemenangan

Bila mereka bertanya tentang negerimu, Anakku
jagalah perapianmu, lalu ijinkan mereka berdiang
walau kini mereka masih membeku kedinginan
tapi kelak merekapun akan rindu terbakar

2

Bila kau bertanya padaku tentang negerimu, anakku
akan kuceritakan dua hal,
satunya kepedihan,
lainnya harapan

Tentang kepedihan, anakku
Lihatlah, seandainya hari ini pun Tuhan menghadiahi surga
pasti esok pagi akan hilang baut-bautnya
dicabuti sebagai hidangan pesta
remahnya berserakan menyampahi sejarah

Tentang kepedihan, anakku
lihatlah mereka yang masih saja pulas
tak tahu ini sudah pukul berapa
entah masih sempatkah mereka terjaga
ketika kereta jaman datang bergegas

Tentang kepedihan, anakku
lihatlah mereka yang mengiba meratapi senja
seolah esok tak kan lagi tiba
sedang lainnya menghabiskan seluruh perbekalan
sekalipun mereka tahu, perjalanan masih amat panjang

Kini tentang harapan, anakku
ayahmu masih menyimpan sebongkah cita-cita
asal saja apimu masih menyala, mari kita hangatkan
jangan takut kehabisan surga, anakku
karena di dadamu masih banyak tersisa

(pancoran, menghabiskan minggu)

Puasaku Menyelamatkan Kehidupan



Syahdan, seorang guru sufi pernah berwasiat bahwa sebuah bangsa yang tidak memiliki tradisi berpuasa akan punah. Sebaliknya suatu kaum yang mampu berpuasa akan dikaruniai kodrat Tuhan: mencipta, memelihara, melindungi, dan mengembangkan.

Puasa memang seharusnya dimaknai sebagai dua sisi tugas. Sisi pertama adalah apa yang sudah menjadi pemahaman umum selama ini, yakni mengendalikan diri. Berpuasa bermakna mengendalikan diri dalam mengeksploitasi sumberdaya. Namun tidak makan, tidak minum, tidak bergunjing, tidak bersetubuh, barulah sekedar latihan. Berpuasa adalah pengendalian diri yang lebih besar dari itu. Berpuasa adalah mengendalikan diri dari segala hal yang bersifat ekploitatif.

Tapi itu tidak cukup, ternyata. Puasa juga memiliki tugas kedua, yakni memberi sebanyak mungkin yang kita bisa. Kata Nabi, bersedekahlah pada saat engkau berpuasa. Pada saat kita lapar, kita justru dipaksa memberi makan kepada orang lain. Pada saat kita mengendalikan diri untuk tidak mengeksploitasi, kita justru dipaksa untuk menyantuni. Dengan kata lain, berpuasa bermakna juga memaksa diri kita untuk memberi. Memberi memiliki kadar bertingkat-tingkat. Memberi pada tingkat yang lebih rendah adalah memberi dengan apa yang kita miliki: harta benda, kesempatan. Memberikan harta benda tanpa pretensi disebut sebagai ikhlas. Tapi pemberian yang lebih tinggi tingkatnya adalah memberikan "diri" kita sendiri. Contohnya seorang ibu pada anaknya. Bukan hanya harta benda yang diberikan sang ibu pada anaknya, tapi juga dedikasi sepanjang umur, bahkan bila perlu nyawanya dikorbankan demi sang anak. Itulah cinta tanpa pamrih. Mencintai dengan "segenap diri", bukan hanya dengan apa yang dimiliki. Bila seseorang telah mampu memberikan dirinya, maka dia disebut ridlo. Maka tepatlah ungkapan bahwa yang dicari orang beriman adalah ridlo Tuhan, bukan ikhlasnya Tuhan.

Jadi, puasa adalah mekanisme kerja Tuhan bukan? Mengambil atau meminta sesedikit mungkin, tapi pada saat yang sama memberi sebanyak-banyaknya. Tuhan menjadi tidak bergantung pada yang lain karena Dia tidak membutuhkan apa-apa dari yang lain. Tetapi Dia menjadi tempat bergantung karena Dia memberikan segala sesuatu kepada yang lain. Itulah kodrat Tuhan, dan bila kita mampu mengeksplotasi sesedikit mungkin tetapi pada saat yang sama memberikan sebanyak mungkin maka kita Insya Allah akan diberkahi kodrat Tuhan: mencipta, memlihara, melindungi, dan mengembangkan. Menyelamatkan kehidupan dari kepunahan. Pertanyaannya adalah, lebih kepada diri saya sendiri: sudahkah kita berpuasa?

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Imanensi


Kuamati sepagi itu
Matahari pada secangkir teh
Kiraku tlah kutemukan
Nyatanya hanya bayangan

Kulihat berkilat
Matahari di embun lumbu
Kiraku tlah kutemukan
Nyatanya cuma pantulan

Kulihat berkilap
Matahari di punggung penggali jalan
Kiraku tlah kudapatkan
Kiranya hanya bayangan

Kucari kapanpun
Kutemukan dimanapun
Semata bayangan
Kau sendiri tetap disana


(Pancoran, menjelang subuh)

Kapan


Kekasihku bertanya tentang cinta
Kuurai sudah jawabku seterang siang

Lagi kekasihku bertanya tentang cinta
Kutulis sudah ulasku menyusuli tinggi semeru

Masih juga kekasihku bertanya tentang cinta
Kuraut lagi jutaan pena, lautan tinta,
dan kupasang pengeras suara ribuan watt

Tapi kekasihku masih juga bertanya tentang cinta
kali ini dengan matanya yang marah:
"Cukup!
Yang kutanyakan, kapan kau akan memulai cintaimu itu?"

(Pancoran)

Mana Mungkin

Kekasihku bertanya padaku:

"Mana mungkin kau tak tahu aku di sini
Sedang kopi pagimu kau ambil dari nampanku

Mana mungkin kau lupa padaku
Sedang setiap siang matamu kaupinjam dariku

Mana mungkin kau lari dariku
Sedang setiap malam napasku sedekat nadimu

Pagi, siang, atau malam
Kau memilikiku,
Mana mungkin itu tak cukup bagimu?"

(Pancoran)

Mengapa Manajer Dibayar Mahal


Tengah malam tadi saya mengambil keputusan berbahaya: membiarkan pasukan tanpa seorang jenderal. Dan seperti sudah diduga, eksperimen itu sukses gemilang: pasukan saya luluh lantak di medan perang dalam waktu singkat. Dan pesan di laptop saya adalah, “You are totally lost. Terminate the game or replay the mission?”

Dulu saya sering diusik oleh pertanyaan, pantaskah seorang manajer -- atau boleh diasosiasikan dengan pemimpin, jenderal perang, atau lainnya -- dibayar mahal padahal sepertinya mereka ‘tidak pernah’ bekerja? Lebih banyak haha hehe, rapat sana, meeting sini, menyuruh-nyuruh, atau bicara yang muluk-muluk. Anehnya lagi, bergaji jauh melebihi bawahannya.

Tetapi saya sudah lama percaya bahwa seorang manajer memang pantas dibayar mahal. Alasannya sederhana, mereka memiliki peran penting. Rasanya, tanpa pemimpin yang piawai, tujuan hampir mustahil tercapai. Dan saya juga percaya bahwa para pemimpin sesungguhnya bekerja lebih keras dari bawahannya. Bila sang bawahan sudah bisa bercerai dari pekerjaannya sejak jam lima sore, manajer justru membawa-bawa pekerjaannya hingga ke tempat tidur. Kalau tak pintar-pintar mengatur dirinya sendiri, niscaya sang manajer akan cepat berkarib dengan migren, hipertensi, atau tukak lambung.

Lalu apa peran manajer sehingga dia pantas dibayar mahal? Pertama – tentu saja sesuai definisinya – adalah mengorganisasi. Atau istilah gado-gadonya, “memanage”. Bayangkan anda memiliki pasukan infanteri yang garang, pemanah tangguh, kavaleri haus darah, dan masih ditambah artileri yang efektif. Tapi sayangnya, anda tidak memiliki jenderal perang. Apa yang akan terjadi? Infanteri anda akan sibuk membakari rumah penduduk padahal kavaleri musuh sedang memporak-porandakan pasukan pemanah anda. Atau kavaleri anda sibuk mengejar orang-orang sipil padahal pasukan infanteri anda sedang dibombardir oleh artileri musuh. Begitulah, “You are totally lost”. Tanpa kehadiran seorang manajer, bagian-bagian dari organisasi anda akan bekerja sendiri-sendiri, dan kemungkinan besar tidak sinergis. Atau malah salah sasaran.

Kedua, peran manajer berkaitan dengan penglihatan atau visi. Bagaikan elang, manajer mampu melihat horison yang lebih luas dan menyeluruh dibanding bawahannya. Jika anda tanyakan kepada seorang tukang tembok apa yang sedang dia kerjakan, anda akan mendapat jawaban, “Oh, saya sedang menembok dinding sebelah ini, dan sore ini harus selesai.” Jika anda tanyakan kepada seorang mandor hal yang sama, dia akan menjawab, “Hm, seminggu ini saya sedang mengejar penyelesaian lantai satu gedung ini .“ Tapi jawaban seorang manajer akan berbeda, “Anda harus percaya, gedung berlantai tiga puluh ini akan segera berdiri megah tiga bulan lagi. Inilah gedung termegah yang ada di kota ini.”

Ketiga, membuat peta. Istilah canggihnya “roadmap”. Organisasi bukanlah kapal Columbus yang masih menebak-nebak kemana akan berlayar. Organisasi selalu memiliki tujuan yang definitif. Manajer yang baik seharusnya sudah menggenggam peta di tangannya, lautan mana saja yang harus diseberangi agar tujuan tercapai.

Keempat, menentukan prioritas. Saya kutip ala kadarnya pernyataan Stephen Covey, “Kegagalan bukan karena seseorang tidak disiplin, tapi karena ketidakmampuan menentukan prioritas”. Bagaimana jadinya bila atap gedung belum selesai tetapi sang manajer justru memerintahkan memasangi wallpaper? Pegangi perut anda, dan silakan tertawa sepuasnya.

Kelima, mengambil keputusan strategis. Benar bahwa tukang tembok, mandor, atau manajer pasti setiap saat melakukan pengambilan keputusan (pakai istilah keren, “decision making”). Tapi bedanya, keputusan yang diambil seorang manajer berdampak lebih besar dan berjangka panjang. Haram hukumnya seorang manajer bilang begini, “Ah, aku juga bingung nih. Enaknya gimana, ya?” Manajer model begini sebaiknya ke laut aja.

Keenam, membuat terobosan dikala situasi mandeg (pakai istilah canggih lagi, “breakthrough”). Misalnya, jika pemasok pasir tiba-tiba menghentikan pasokan, dan tukang tembok tidak bisa lagi meneruskan pekerjaannya karena tidak ada lagi bahan, juga si mandor sudah bingung tak tahu harus bagaimana, maka disinilah sang manajer seyogianya terpanggil. Manajer tidak boleh bilang begini, “Ya sudahlah, kita serahkan semua pada takdir.” Dan jika manajer bersikap begitu, maka sudah pasti takdirnya adalah: kegagalan!

Ketujuh, menciptakan lingkungan kerja yang baik (lagi-lagi pakai istilah keren, “environment”). Organisasi bukanlah seperti pasukan The Dart Vader di film Star Wars yang sebagian besar terdiri dari robot. Sebaliknya, organisasi terdiri dari manusia dengan berbagai permasalahan kemanusiaannya. Bacalah novel Taiko, dan Anda akan menemukan sosok manajer yang hebat, yang tidak hanya menyediakan lingkungan kerja yang nyaman, tetapi juga pasokan semangat yang penuh inspiratif bagi bawahannya.

Peran kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan seterusnya, silakan anda definisikan sendiri. Jangan terlalu banyak, kasihan nanti para manajer.

Jadi? Jangan iri terhadap gaji manajer. Karena sebagian gajinya sudah dialokasikan untuk membayar dokter atau menebus obat di apotik. Percayalah :)[]

Yang Plin-plan dan Yang Tak Bisa Plin-plan


Mengapa manusia butuh komputer? Sederhana saja, karena manusia plin-plan, sedangkan komputer tak bisa plin-plan. Kalau dalam istilah komputer: bahasa manusia itu ambigu, bahasa komputer tidak. Pernyataan A bagi manusia bisa berarti A atau mirip-mirip dengan A, atau malah B. Sedangkan bagi komputer, A adalah A, dan sama sekali bukan B.

Nggak percaya? Begini contohnya. Suatu hari seorang mantan pejabat BUMN memanggil dua manajer investasi yang mengelola portofolio miliknya. Kepada keduanya, sang pejabat bilang, “Kalian jual deh semua milikku”. Kedua manajer bertanya, “Semua, Pak?” Sang pejabat menjawab tegas, “Ya, semua”. Lalu kedua manajer itu bergegas melaksanakan tugasnya. Tetapi tindakan keduanya berlainan. Manajer pertama tanpa keraguan menjual semua portofolio persis sesuai instruksi sang klien. Sedangkan manajer kedua dengan jantung dag-dig-dug hanya menjual portofolio yang jeblok. Yang masih bagus dipertahankan.

Apa yang terjadi seminggu kemudian? Kepada manajer pertama, sang mantan pejabat ngamuk-ngamuk, “Gila, kamu! Kenapa kau jual semuanya? Habis deh milikku. Mulai saat ini kau kupecat!” Kepada manajer kedua, sang pejabat tersenyum puas, “Kau memang Gila! Benar-benar hebat kerjamu. Ntar kutambah deh investasiku.” Nah, nasib keduanya berbeda, sekalipun mereka sama-sama berpredikat “gila”.

Tetapi jangan buru-buru berprasangka buruk pada “penyakit” manusia itu. Anda boleh tidak setuju pada pernyataan saya bahwa anugrah teragung dari Tuhan kepada manusia adalah ambiguitas. Dan itu tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kalau tak percaya silakan baca buku Edward de Bono, “Berpikir Lateral”. Gara-gara ambiguitas itu manusia mampu membuat inovasi, menciptakan perubahan, mengukir peradaban. Hal lainnya, manusia justru menggunakan ambiguitasnya untuk meraih pengetahuan tertinggi tentang kehidupan. Meraup apa yang kita sebut wisdom. Ini dinyatakan oleh Levy Strauss dengan istilah yang cantik, Saphienza Poetica atau kebijakan puitis. Manusia memahami dan menjelaskan kosmosnya dengan bahasa kiasan, metafora, atau simbol-simbol. Jelas, metafora dan simbol-simbol bersifat ambigu.

Kesimpulannya, ambiguitas membuat manusia tetap pintar sementara komputer masih saja bodoh.
(Saya jadi ingat tayangan di TV, ketika para anggota DPR diminta memilih A atau B, tetapi sebagian memilih “ATAU”, yang lainnya memilih “A sekaligus B”) :)

Ternyata pemahaman ini juga dimiliki oleh para petinggi perusahaan. Mereka memutuskan membangun aplikasi komputer untuk mengurus hal-hal yang “tidak terlalu” plin-plan. Tujuannya hanya satu, agar mereka dapat memfokuskan diri mengoptimalkan kemampuan plin-plannya. Aneh kan?

Hal-hal yang tak terlalu plin-plan itu misalnya record keeping atau perekaman data. Ini pekerjaan sederhana, atau bahkan pekerjaan “bodoh”. Makanya, pekerjakan ini hanya dilakukan oleh mesin atau pekerja-pekerja level bawah bergaji rendah. Lalu para petinggi itu mengerjakan hal-hal yang pintar, yang ambigu. Misalnya melakukan analisa data.

Dua kesalahan yang lazim dilakukan oleh para petinggi perusahaan adalah: (1) meyakini bahwa manusia itu bisa dibikin tidak plin-plan; dan (2)mengasumsikan komputer itu bisa plin-plan.

Untuk asumsi yang pertama, sang petinggi perusahaan misalnya bilang begini, “Kita edukasi saja para pegawai agar melakukan pendataan sesuai prosedur. Kita didik mereka agar mengisi data dengan benar.” Masalahnya, edukasi yang mereka lakukan itu hanya masuk ke telinga kanan. Sementara telinga kiri sibuk menerima telpon sang pacar. Akibatnya, ketika data seorang pelanggan tidak bisa direkam karena si pelanggan tidak punya NPWP, si pegawaipun tak kurang akal. Masukkan saja nomor telpon sang pacar ke kolom NPWP. Beres, kan?

Tentang asumsi yang kedua lebih konyol lagi. Misalnya, sesuai SOP, transaksi yang dicatat hari ini adalah transaksi hari ini juga. Bukan kemarin atau besok. Dan aplikasi itupun dirancang sesuai SOP itu. Tetapi tiba-tiba seorang manajer mengiba-iba pada staf IT, “Tolong dong, khusus transaksi yang ini jangan diberi tanggal hari ini, tetapi diberi tanggal mundur saja. Ini permintaan Big Boss euy. Tolong ya, please”. Staf IT pun menjawab ketus, “Ya, cobain aja Bapak ajak dinner tuh komputer. Kali aja hatinya luluh”.:)

Begitulah, kehidupan memang tidak sempurna. Satu sama lain saling membutuhkan. Yang plin-plan membutuhkan yang tak plin-plan.[]

Kesederhanaan adalah Kekuatan


“Islam itu jangan berbohong”, kata Rasulullah Muhamad, SAW.

Saya tidak ingin mengulas agama. Saya hanya mengutip seorang teman yang mengagumi cara Rasulullah menjawab pertanyaan. Kita tahu bahwa Rasul orang yang paling paham tentang Islam. Tetapi ketika seorang awam menanyakannya, beliau menjawab dengan cara sederhana. Jenius, efektif.

Di kantor tempat kita bekerja pasti ada bos, manajer, teman sejawat, atau malah anda sendiri yang dianggap oleh orang sekitar sebagai si cerdas. Mereka bak kilat menangkap persoalan, menguraikannya, lalu menawarkan solusi. Apakah mereka memiliki IQ berlebihan? Mungkin ya, tetapi menurut saya tidak selalu. Mereka hanya jago menemukan yang saya sebut “DNA persoalan”. Atau, sederhanakan saja dengan istilah “pola”. Perhatikan kata “hanya” atau “sederhana” yang banyak saya pakai. Itu jimat terbaru di dompet saya :).

Ilustrasinya begini. Ketika si cerdas berpapasan dengan persoalan, secara refleks muncul siluet-siluet full colour dari kanan dan kiri kepalanya. Mirip klip video. Melayang-layang. Datangnya bak malaikat. Yang kiri bilang, “Itu sih seperti kasus yang dulu itu”. Yang kanan bilang, “Itu pas dengan yang kemarin kubayangkan”. Eh, masih ada yang datang dari atas kepala, “Itu sesuai dengan teori x di buku y”. Begitulah, eureka, solusipun terkonstruksi di atas meja seperti pasta lasagna.

DNA, seperti anda tahu, terdiri dari rumus sederhana, kombinasi A-C-G-T. Seperti permainan. Tetapi siapa sangka, senyum anda yang mengetarkan jantung saya itu semata-mata tersusun dari rumus itu (kalimat ini khusus bagi anda yang perempuan lho). Rumus ringkas itu menyusun pola yang ringkas. Namun manakala pola-pola ringkas itu saling berinteraksi, terbentuklah realitas yang kompleks. Yang mengklaim seperti itu banyak: harmoni angka-angka ala Phitagoras); geometri fraktal Mandelbrot; atau Teori Kompleksitas.

Dulu – akhir tahun 80-an – para ekonom, komputeriawan, matematikawan, berkumpul. Mereka ingin membangun teori akbar yang bisa menjelaskan segala hal. Benar-benar segala hal. Mereka menyebutnya teori kompleksitas. Idenya begini. Realitas yang kompleks sesungguhnya tersusun dari bagian-bagian yang sederhana. Setiap bagian itu berinteraksi dengan pola yang sederhana. Ajaibnya, pola itu mengikuti aturan atau rumus yang juga sederhana. Mereka menyebut pola-pola itu sebagai building blocks.

Ringkasnya, kecerdasan anda berbanding lurus dengan kemampuan anda mengelaborasi pola. Nah, anehnya, seorang teman saya yang ahli yoga justru bilang bahwa kepiawaian kita menangkapi pola itu akan meningkat pesat ketika pikiran kita “diam”. Atau ketika pikiran kita tidak menentang realitas dengan persepsi-persepsi. Mencerap saja. Persis seperti ketika anda menonton film The Reader, anda benar-benar membiarkan kesadaran anda tercekat oleh Kate Winslet. Masih kata teman saya, saat membiarkan itulah sub-kesadaran anda justru sedang berproses memasok gudang pola. Lalu ketika suatu saat anda membutuhkannya, klik, tanpa diminta gudang itu mensuplai anda dengan “klip-klip video” seperti yang saya ceritakan di awal. Anda akan disebut si cerdas, dan melegenda sebagai manajer yang handal. Boleh percaya, boleh juga tidak.[]

Passion dan Compassion


Dulu, jauh sebelum kita ada disini
ruh berikrar pada tubuh
"Kau adalah kendaraanku
Antarkan aku pada keabadian"



Sewaktu mahasiswa, saya mengenal dua orang teman yang sama sekali tidak tertarik pada gambar atau video porno. Sama sekali! Makanya kami menyebut keduanya dengan istilah "steril". Keduanya memiliki alasan yang berbeda. Alasan teman saya yang pertama adalah agama. Gambar atau video seperti itu bertentangan dengan aturan agama. Alasan teman yang kedua adalah martabat manusia. Gambar atau video semacam itu merendahkan martabat manusia. Sampai sekarang, kedua teman saya itu tetap konsisten pada pendiriannya.

Senada dengan itu adalah penggunaan kata "cinta". Sebagian teman merasa risih menggunakan kata itu untuk mengungkapkan hasrat yang tinggi terhadap sesuatu atau seseorang. Alasannya, kata itu sudah terlanjur murahan. Terlalu masif dipakai oleh lagu-lagu pop. Tentu saja kata "cinta" dalam lagu-lagu itu tidak akan menjadi mantra ajaib jika tidak dipadukan dengan kata lain yang berkonotasi tinggi, luhur, dan agung. Seperti kata "sejati", "tulus", "rela", "pengorbanan", dan lainnya. Alhasil, perpaduan kata-kata itu menjadi frasa yang sangat eksotik, digemari, dan mengharu-biru. Misalnya frasa "cinta sejatiku", "ketulusan cintaku", "pengorbanan cinta", dan lainnya.

Tapi kita juga maklum bahwa frasa-frasa eksotik dalam lagu-lagu pop itu sesungguhnya memiliki sasaran puncak (ultimate objectives) yang sudah pasti, yakni kesenangan tubuh. Ketika seorang penyanyi pop meneriakkan "cintamu membunuhku", sangat kecil kemungkinannya anda akan membayangkan tentang cinta seorang ibu yang sedang bergelut dengan maut karena mengorbankan salah satu ginjalnya untuk mengganti ginjal anaknya yang rusak. Jauh lebih besar kemungkinannya anda membayangkan, "Seandainya aku tak segera menikmati tubuhmu, wahai lelakiku (atau perempuanku), maka aku tak kan bisa tidur. Demam, panas-dingin, tak nafsu makan. Dan itu akan membunuhku". Juga, ketika seorang penyayi meneriakkan frasa "kukorbankan jiwa raga demi cintaku" -- di sebuah panggung sembari berpakaian minim yang memamerkan pesona tubuhnya, kecil kemungkinan anda akan membayangkan tentang cinta seorang pejuang kemerdekaan yang sedang mandi darah karena jantungnya tertembus peluru demi membela ibu pertiwi. Lebih besar kemungkinannya anda membayangkan, "Seandainya aku bisa memiliki tubuhmu, maka aku akan melakukan segalanya. Menjadi kacungmu: menjemputmu, membawakan belanjaanmu, membersihkan toiletmu, pokoknya apa sajalah." Tujuan cinta seperti ini adalah kesenangan tubuh, tentu untuk kesenangan diri sendiri.

Tetapi, ada pemaknaan cinta yang sama sekali berbeda. Misalnya cinta murni seorang ibu pada anaknya. Atau cinta para nabi pada umatnya. Atau cinta pejuang pada tanah airnya. Ungkapan paling ekspresif tentang cinta semacam ini adalah seperti yang diungkapkan oleh para sufi. Syair-syair yang diciptakannya tak kalah mengharu-biru dibandingkan syair lagu-lagu pop, tetapi sama sekali tidak berkaitan pencarian kesenangan tubuh. Ketika anda membaca syair sufi seperti "cinta tak bisa kau cari//cinta akan datang sendiri//kau hanya perlu mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya", atau ungkapan Rabiah "cukuplah bagiku cinta-Mu", dapat saya pastikan bahwa anda tidak akan membayangkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan ragawi. Bahkan, dalam kacamata lahiriah, cinta semacam ini seringkali berdampak penderitaan bagi pelakunya -- saya sebut lahiriah, karena secara batin belum tentu sang pelaku merasa menderita. Seperti dikisahkan oleh teman saya dalam catatannya di Facebook, tentang seseorang bernama Bang Rei yang memperjuangkan hak-hak buruh di bekas kantornya. Bukannya kesenangan yang akhirnya dia peroleh, melainkan penderitaan. Seperti kehilangan pekerjaan, dimusuhi, bahkan dimejahijaukan. Pun penghargaan terhadap jerih payahnya dari orang-orang yang pernah ditolongnya nyaris tidak ada, kecuali ucapan terima kasih ala kadarnya. Penderitaan paling sering yang akan kita alami akibat cinta seperti ini adalah kesepian. Kita akan merasa hidup sendirian, karena kita mengambil jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Seperti bunyi syair seorang sufi, "yang kutempuh adalah jalan sunyi". Anehnya, cinta semacam ini justru memberikan manfaat lebih besar kepada orang-orang sekitar, dampak "kesenangannya" justru dirasakan oleh orang banyak.

Bahasa Inggris mengenal dua kata yang bisa mewakili pemaknaan cinta yang berbeda di atas. Yakni passion dan compassion. Passion adalah hasrat -- sesuatu yang lebih menggebu dibanding yang selazimnya -- terhadap sesuatu atau seseorang demi kesenangan diri sendiri. Istilah ini sering dikaitkan dengan seksualitas. Passion bersifat temporal dan lokal. Jika anda mencintai suami atau istri anda karena parasnya, maka cinta anda hanya akan bertahan tiga sampai lima tahun. Sebab, suami atau istri anda akan menjadi tua, kalah pesonanya dengan brondong atau daun muda. Dampak passionate love ini juga hanya dinikmati oleh anda sendiri. Berbeda dengan itu adalah compassionate love, yang lebih bersifat abadi dan universal. Cinta ini didorong oleh sesuatu yang lebih abstrak, lebih subtil, misalnya nilai-nilai, prinsip, hati nurani, doktrin, atau iman. Cinta jenis ini lebih langgeng karena obyek yang anda cintai tidak bersifat fisik. Cinta anda kepada anak-anak anda tidak akan hilang gara-gara anak anda semakin tua, karena anda bukan mencintai fisiknya.

Apakah keduanya bertentangan? Apakah passionate love tidak diperlukan? Keduanya tidak bertentangan. Passion juga sangat diperlukan. Saya menganggapnya sebagai companion. Ruh membutuhkan raga. Untuk mencapai tujuan, diperlukan kendaraan. Masing-masing membutuhkan makan. Ruh membutuhkan cinta yang abadi dan universal, sedangkan raga membutuhkan cinta temporal dan lokal. Tanpa passion, raga kita akan kelaparan. Seperti balon yang tidak berkembang tanpa diisi udara. Kita membutuhkan makan, minum, aktivitas seksual, dan kesenangan lainnya. Pasionate love adalah makanan bagi raga. Saya menganggapnya itu sebagai takdir.

Permasalahannya adalah, cinta yang temporal harus dikendalikan oleh nilai-nilai bahkan aturan, karena cinta jenis ini berpotensi mengaburkan kita dari cinta yang abadi dan universal. Kendaraan yang kita tumpangi berpotensi membuat kita melupakan tujuan. Seorang ustadz membuat gambaran yang sangat menarik tentang hal ini. Andaikan saja anda bepergian ke suatu tempat. Untuk mencapainya anda disediakan kendaraan. Ketika anda memasuki kendaraan, anda diperbolehkan menikmati kenyamanannya: interiornya, AC-nya, musiknya, panoramanya. Lalu terjadilah dua kemungkinan: (1) anda tidak lalai dan tetap memanfaatkan kendaraan itu untuk mengantarkan anda ke tujuan; atau (2) anda berputar-putar kemana-mana supaya bisa menikmati kenyamanaan kendaraan itu lebih lama, dan akhirnya anda malah lupa pada tempat tujuan anda.

Aktivitas seksual, sebagai salah satu bentuk passionate love, hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami-istri, atau dua orang yang terikat dalam ikrar pernikahan. Ini adalah pembatasan (baca: pengendalian) yang dilakukan oleh agama. Dari sisi hukum, pembatasan seperti ini bertujuan untuk menertibkan kehidupan manusia -- tidak peduli kita merasa suka atau tidak, nyaman atau tidak, dengan pembatasan itu. Namun dari sisi filosofinya, pembatasan ini adalah upaya mengendalikan agar cinta kita yang temporal tidak mengalihkan kita dari cinta yang abadi dan universal. Agar kendaraan yang kita tumpangi dapat mengantarkan kita pada tujuan, yakni mengelola kehidupan sesuai kehendak Tuhan.[]

17 Oktober 2012

Push Your Self to The Limit


Penjelasan paling pas atas ungkapan ini saya temukan pada kisah kungfu.

Syahdan, di sebuah perguruan kungfu yang magis, mahaguru sepuh ingin mewariskan ilmu pamungkasnya kepada para murid. Tidak seperti lazimnya pewarisan ilmu, kali ini semua murid -- tidak pandang bulu -- boleh menerima ilmu itu asalkan lolos sebuah ujian sederhana. Ya, ujiannya sederhana saja: m...elakukan sikap kuda-kuda, dan tidak boleh berhenti sebelum sang guru menghentikannya. Kuda-kuda adalah teknik dasar bela diri, semua orang pasti bisa melakukannya. Berdiri, lutut sedikit ditarik ke depan, paha diregangkan, betis menumpu berat badan, seperti pegas di pelajaran fisika. Lalu ujian pun dimulai, diikuti oleh seluruh murid dengan antusias. Tetapi sang guru tidak pernah menyampaikan batas waktu kapan ujian ini akan berakhir.

Selama ujian berlangsung, sang guru melakukan apa saja yang disukainya: ketawa-tawa, makan, nembang, berseruling ria, menerima tamu, atau malah tidur, seolah tidak menghiraukan murid-muridnya di arena. Satu-dua jam murid-murid yunior berguguran. Mereka yang tidak kuat lantas berdiri santai, dan melenggang ke sisi gelanggang. Sang guru pun mencatatnya, walaupun tetap terkesan cuek. Beberapa jam berlalu, murid-murid yang lebih senior juga bertumbangan. Mereka melakukan hal yang sama, berdiri santai dan melenggang ke tepi lapangan. Kini tinggal tersisa beberapa murid paling senior yang berjibaku melawan lelah, dipanggang matahari yang garang. Hingga akhirnya, kekuatan fisik pun menemukan batasnya. Murid-murid senior itu mengakhiri ujiannya. Ada yang tersungkur di tanah, terkapar, hampir pingsan, tak kuat lagi berdiri. Tetapi ada pula yang masih tampak bugar walaupun terlihat lelah, dan mengakhiri ujiannya dengan berdiri santai, lalu melenggang ke sisi lapangan.

Guru pun memisahkan dua kelompok murid itu dalam barisan terpisah. Menurut anda, kepada kelompok murid yang mana sang guru akan mewariskan ilmunya? Kepada murid yang jatuh tersungkur dan tak kuat lagi berdiri, atau kepada murid yang masih tampak bugar? Sang guru hanya bilang begini, "Aku wariskan ilmu pamungkasku kepada para muridku yang berusaha sampai titik batas kekuatannya." Dan ilmu pamungkas itupun diberikan kepada para murid yang jatuh terkapar hampir pingsan.[]

Fur Elise di Ampera


Malam ini bintang-bintang menjamuku di Ampera.
Jangan biarkan lilin-lilin itu merebut cintamu, katanya.
Disuguhinya aku secangkir nira, disadap dari batang kenangan.
Sekian lama ingin kulupakan. Sekalipun aku tahu, lupa tak pernah kekal.

Dulu aku memilihmu disini.
Sehelai rumput kering hadiah dari angin.
Kulingkarkan pada jemarimu sebagai cincin.
Lalu kubisikkan permohonan itu, “Heningkan resahku dengan sunyimu”.
Tapi kau memilih pergi, mengejar keramaian.
Untukmu saja, ucapmu menyerahkan sekeping sepi. Dingin sekali.
Malam ini, seperti juga malam itu, aku masih saja suka menggigil.

Oh, dengarlah Fur Elise di Ampera.
Kubiarkan bintang-bintang cemburu pada pemusik tua.
Lusuh di sudut itu, sepadan organ yang makin lapuk.
Tapi apalah artinya seruling bagi gembala yang lama berkarib dengan kebebasan.
Pemusik itu tahu nada-nada tak ditanak pada bilah plastik, tapi pada dadanya.
Seluas prairi dadanya. Atau bahkan dia tak pernah peduli.
Fur Elise itu pun mengalun berulangkali. Itu juga dia tak peduli.

Dengarlah Fur Elise di Ampera.
Tadi sebelum menguap sempat kutangkap kristalnya.
Lalu kubungkus pelan-pelan dengan selembar jiwa.
Oleh-oleh buat istriku yang mangu menunggu.
Seperti biasanya, sekedar membukakan pintu untukku.
Tanpa pernah bertanya, mengapa masih saja kusimpan kenanganku.

(Pancoran, subuh)

15 Agustus 2012

Mata Habibie

Tepat jam sebelas malam saya besuk orang tua seorang teman yang dirawat di rumah sakit Tebet. Sakit ayah teman saya itu tergolong sangat berat. Stroke kedua, hingga menelan makananpun tak bisa. Di ruang rawat saya berbincang dengan teman saya dan keluarganya, sembari duduk di bed sebelah yang kosong. Lalu tiba-tiba masuklah sepasang laki-laki dan perempuan berpakaian lusuh, wajahnya kotor oleh keringat. Teman saya menyapanya dengan akrab, karena rupanya mereka juga pasien disini, di bed yang saya duduki.

Laki-laki yang datang itu menenteng sebuah kresek hitam -- mungkin isinya obat-obatan, makanan, atau pakaian. Sementara si perempuan membawa sebuah termos kecil. Saya menduga perempuan itulah pasiennya dan laki-laki itu adalah suaminya. Perempuan itu mukanya pucat sekali, tampak sangat kelelahan. Sedangkan sang suami justru mengesankan saya: tak pernah berhenti berceloteh ini itu. Sesekali bercanda, sesekali tertawa ditahan. Yang paling mengesankan adalah matanya. Bulat berkilat-kilat, selalu bergerak, menandakan semangat yang menyala-nyala. Mata Habibie, mengingatkan pada idola saya sewaktu kecil, Profesor B.J. Habibie. Dari perbincangan, akhirnya saya tahu bahwa si pasien itu rupanya menderita sakit yang tak kalah berat. Ginjalnya yang hanya tinggal sebelah itu kini bermasalah, sementara ginjal satunya sudah diangkat beberapa tahun sebelumnya. "Sudah tak bisa sholat, Mas," kata si perempuan, "Ngompol terus. Baru juga selesai berwudzu, sudah ngompol lagi." Mata perempuan itu berkaca-kaca.

Sepasang suami-istri itu rupanya baru saja dari PMI, mengantri darah untuk transfusi. "Wah panjang bener antriannya, Mas," kata si suami, "Kami mengantri hampir enam jam, dari jam lima." Mereka terpaksa mengantri berdua karena tidak ada keluarga atau tetangga yang bisa dimintai tolong. Rumahnya di pinggiran kota, sangat jauh dari rumah sakit ini. "Semua lagi sibuk. Maklumlah, Mas. Ini kan Jakarta," kata suaminya lagi, seperti sebuah keluhan ringan. Tapi saya agak heran, mengapa mereka harus mengantri berdua? Mengapa suami itu tidak meninggalkan istrinya yang sakit di rumah sakit saja? Bukankah berbahaya seorang pasien ikut-ikutan mengantri selama itu?

Selain masalah mengantri yang kelewat lama itu, tak banyak yang diceritakan oleh si suami tentang penderitaan mereka. Si Mata Habibie itu justru bersemangat sekali mengisahkan tentang pertemuannya dengan seorang yang mengaku tabib di sebuah halte, sewaktu menunggu bis tadi. Tabib itu berwajah Bima, berewokan, berwibawa. Pakaiannya seperti Resi Wiyasa di pewayangan. "Tabib itu sempat mendemokan kesaktiannya. Digores pemes (pisau lipat) kagak mempan. Dia bilang bisa menyembuhkan apa saja," kata si Habibie, matanya tetap berkilat-kilat, "Kapan-kapan kami akan mengunjunginya. Siapa tahu manjur".

Lalu tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter muda berkalung stetoskop menghampiri mereka sambil tersenyum, "Ayo, pak, sudah siapkah? Bapak saya periksa dulu di lab sebelum transfusi." Si mata Habibie itu menjawab optimis, "Ayolah Dok. Saya juga sudah mulai berkunang-kunang." Matanya tetap berkilat-kilat, wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan penderitaan -- hanya tampak lusuh karena kelelahan. Dia tersenyum kepada istrinya, lalu melambaikan tangan. Sang istri melepasnya dengan mata kosong. Wajahnya lebih memucat. Tiba-tiba saya baru sadar. Oh ya Tuhan, ternyata pasien itu bukan perempuan itu, tetapi si mata Habibie. Bulu kuduk saya merinding, dan mata saya perih.[]

20 Januari 2012

Memperpanjang Horison Waktu

Gambar ini milik
National Geographics
.
Memperpanjang Horison Waktu

Anda harus menonton bagian akhir "Cavemen", film rekonstruksi-dokumenter bikinan BBC. Kira-kira 150.000 tahun yang lalu, sekelompok homo sapiens -- leluhur manusia modern yang tinggal di Afrika -- melakukan tindakan yang menyelamatkan mereka dari kepunahan akibat kekeringan yang ganas. Sederhana saja yang mereka lakukan, manusia perintis itu memiliki kebiasaan menyimpan air di cangkang-cangkang telor raksasa sebagai persediaan. Yang luar biasa adalah bahwa tindakan serupa itu tak pernah dilakukan oleh spesies-spesies lain sebelumnya. Ini sebuah gerakan moral baru, mempersiapkan masa depan. Alhasil, homo sapiens pun lestari hingga saat ini.

Dalam usia bumi "yang baru mencapai" jutaan tahun ini, berbagai spesies telah lahir dan musnah. Generasi demi generasi datang dan pergi. Sebagian besar kehancuran spesies-spesies bumi itu diakibatkan oleh ketidakmampuannya mengantisipasi perubahan. Neanderthal misalnya. Manusia purba ini hidup di sekitar pegunungan Portugal, pada jaman yang paling dekat dengan kita, 200.000 hingga 30.000 tahun yang lalu. Mereka hidup di era yang kita sebut jaman es, ketika wilayah kutub dan sub tropis mengalami pembekuan yang panjang. Neanderthal itu pun tak luput dari kemusnahan. Padahal mereka secara fisik sangat kuat, rahangnya besar, badannya kekar, jago berburu, bahkan mampu bertahan dalam suhu yang ekstra dingin. Prasyarat fisik untuk bisa lestari telah dimilikinya. Mereka musnah oleh ketidakmampuannya mengantisipasi perubahan: bagaimana jika es tiba-tiba mencair dan ekosistem tiba-tiba berubah? Mereka tak memiliki kemampuan moral layaknya homo sapiens, mempersiapkan masa depan.

Seorang teman melontarkan pernyataan yang membuat telinga saya memerah, "Bangsa kita tidak akan pernah bisa maju, progresif, kompetitif, dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia". Sebab, memang tidak ada alasan untuk itu. Kita hidup di tanah surga, dan mewarisi cara hidup "para penghuni surga". Kita memiliki -- mengutip Koes Plus -- bukan lagi lautan, tetapi kolam susu. Tongkat kayu ditancapkan menjadi perdu. (Ngomong-ngomong, syair sederhana ini ternyata jauh lebih cerdas dan intelektual dibanding kebanyakan syair-syair lagu pop lainnya). Kita tak mengenal tekanan alam yang ekstrim, seperti halnya kekeringan di Afrika atau pergantian musim yang merepotkan di Eropa. Kita bahkan tak perlu menyimpan air di cangkang telur karena air dan sumber makanan melimpah-ruah. Kita mengalami determinisme geo-sosial yang gampang kita tebak: merasa tidak perlu bersusah-payah mempersiapkan hari esok. Kita merasa tercukupi hari ini. Tak perlu mempersiapkan cadangan minyak, cadangan makanan, cadangan hutan, atau cadangan devisa. Tak ada yang perlu dicemaskan. Bahasa Inggris menyebutnya sebagai complacency, keterlenaan.

Cara berpikir seperti itu kita alami setiap hari. Kita sangat disibukkan oleh upaya untuk memenuhi kesenangan hari ini. Pemerintah dan para politisi sibuk mempertahankan kekuasaan yang hanya berusia lima tahun. Kita tak memiliki perencanaan yang rasional untuk sepuluh, dua puluh, apalagi lima puluh tahun ke depan. Kita tak mampu mencegah eksploitasi besar-besaran sumber daya alam -- bahkan air minum -- oleh penguasa modal. Kita tak mampu menjaga kelestarian hutan dari penjarahan orang-orang yang bahkan kehidupan sehari-harinya tidak bergantung pada hutan. Yang lebih tragis lagi adalah bahwa hasil jarahan sumber daya alam dan hutan kita justru dipakai oleh orang lain untuk mempersiapkan masa depan mereka sendiri. Kita tak melakukan seperti yang dilakukan homo sapiens leluhur kita di Afrika, mempersiapkan masa depan. (Baca notes Bang Armahedi Mahzar tentang betapa kita membiarkan kekayaan alam kita dijarah di http://www.facebook.com/profile.php?id=1300070985&v=app_2347471856#!/note.php?note_id=414277351800)

Mempersiapkan masa depan adalah upaya memperpanjang horison waktu. Memperpanjang orientasi hidup kita, bukan hanya senang dan nyaman hari ini, tetapi juga lestari di masa depan. Bukan lagi kebutuhan survival generasi masa kini, tetapi juga generasi selanjutnya. Kalau kita ingin punya penghasilan sendiri di masa tua, misalnya -- ketika kita sudah tidak bisa lagi bekerja, maka kita mempersiapkan jaminan pensiun. Anak-anak kita dibiasakan menabung agar kelak memiliki cadangan uang ketika suatu hari diperlukan. Uang pensiun dan menabung adalah contoh praktis sebuah upaya memperpanjang horison waktu.

Saya pernah mengutip nasihat seorang guru ngaji, bahwa tidak ada bangsa yang lestari bila tak memiliki tradisi puasa (http://www.facebook.com/profile.php?id=1300070985&v=app_2347471856#!/note.php?note_id=132428756432). Perhatikan dua kata yang dipakai oleh sang guru: puasa (pengendalian diri) dan lestari (memperpanjang horison waktu). Dulu saya memaknai puasa secara ritualistik-eksoteris saja, sebagai sebuah cara ibadah. Lebih seperti memaknai suatu festival. Tetapi guru itu mengajarkan kepada saya tentang makna yang lebih dalam dan konseptual: puasa adalah sebuah upaya memperpanjang horison waktu. Ketika kita berpuasa, kita diharuskan meminimalisasi tindakan apapun yang bersifat eksplotatif, tetapi pada saat yang sama kita diharuskan memberi sebanyak-banyaknya. Sang guru menyebutnya dengan istilah "cara kerja Tuhan". Salah satu sifat manusia yang sangat buruk bukanlah manusia tidak cepat paham atau bodoh. Tetapi bahwa manusia cepat sekali terlena. Lebih mudah lupa pada tujuan jangka panjang karena menemukan kenyamanan jangka pendek. Puasa adalah sebuah disiplin yang diciptakan untuk mengingatkan kita pada tujuan jangka panjang. Bukan semata-mata untuk mendapatkan surga di hari akhir, tetapi justru yang lebih penting untuk melestarikan surga yang sudah ada di bumi saat ini, yang kita nikmati sewaktu kita masih hidup: alam dan kehidupan ini. Saya sering dipojokkan oleh pertanyaan hati nurani: bagaimana mungkin Allah akan menghadiahi kita surga di hari akhir sedangkan kita saat ini bahkan tidak bisa memelihara surga yang ada di depan mata?

Dulu, Neanderthal dan spesies-spesies lainnya punah oleh kekuatan alam. Tetapi kini, ketika alam telah menjadi ekosistem yang stabil, ancaman kepunahan justru bukan lagi datang dari alam. Tetapi dari penghuninya sendiri, spesies istimewa yang paling cerdas dan sempurna: manusia. Perang nuklir, kerusakan alam, dan kerakusan telah menjadi ancaman nyata bagi kelestarian hidup kita.

Selamat menyambut bulan Ramadan, bulan penuh berkah. Semoga dengan itu, kita dan anak cucu kita masih bisa lestari.[]

Hukum Relatif

Gambar ini milik Funbrain

Hukum Relatif

Alam semesta terdiri dari harmoni angka-angka --kata Phitagoras.
Kehidupan kita sering dikelabui oleh halusinasi angka-angka --kata saya.

Andaikan anda sekaya Bill Gates atau Bill Joy. Atau setidak-tidaknya sekelas keluarga Bakrie. Mana yang lebih nyaman, hidup ditengah-tengah tetangga yang miskin atau di sekitar tetangga yang cukup kaya tetapi masih jauh lebih miskin dibanding anda? Tanyalah pada Bill Gates atau keluarga Bakrie, jawabannya pasti opsi yang kedua.

Nilai kekayaan anda disebut angka absolut -- misalkan saja seratus juta, semilyar, atau malah seratus milyar. Tetapi nilai kenyamanan anda adalah angka relatif. Sebab, anda tidak bisa menilai tingkat kenyamanan dengan angka 1000, 100, atau 10 tanpa mempertimbangkan variabel-variabel lainnya, misalnya kekayaan tetangga anda. Pada opsi pertama di atas, saya jamin anda tidak akan merasa leluasa membangun rumah yang super megah diantara tetangga-tetangga anda yang berumah batako. Dan seandainya anda tega juga melakukannya, anda akan terpaksa membangun pagar setinggi dua atau tiga meter di sekeliling rumah. Plus pecahan kaca yang ditebar di atas tembok pagar :). Sebenarnya bukan karena para tetangga suka mencuri, tetapi karena anda sendiri terjangkiti paranoia: bagaimana kalau anggrek bulan di halaman depan yang berharga sepuluh juta itu diambil orang? Situasinya akan berbeda jika tetangga-tetangga anda lumayan kaya. Anda justru lebih antusias memajang Mercy, X5, atau Bentley di garasi, bahkan kalau perlu tanpa dipagari. Sebab, anda merasa yakin bahwa tetangga-tetangga anda pasti juga sudah memiliki mobil pribadi, entah avanza, innova, bahkan mungkin BMW seri tiga keluaran lama. Pada opsi pertama, kekayaan membuat anda merasa terancam. Sedangkan pada opsi kedua, kekayaan membuat anda merasa sebagai pemenang. Lalu, mengapa nilai kekayaan yang sama bisa menciptakan situasi relatif yang berbeda? Sederhana saja, karena angka absolut mengelabui anda.

Kisah lain adalah Enron, perusahaan energi Amerika Serikat yang dulunya mengagumkan -- setidaknya menurut majalah Fortune, yang berperingkat tujuh terbesar di dunia. Secara berkala, tentu saja, Enron selalu mengeluarkan laporan keuangan. Angka-angkanya meyakinkan. Para investor menyukai sahamnya. Tak terkecuali para analis bursa. Lalu sampailah pada tragedi itu, ketika akhir tahun 2001 Enron tiba-tiba mengajukan pailit, alias bangkrut. CEO-nya bahkan lalu divonis pidana 24 tahun, di penjara kelas satu, disatukan dengan bandit-bandit kelas kakap. Tuduhannya mengerikan, sang CEO telah mengelabui para investor dengan laporan keuangan yang menyesatkan. Tetapi bukankah laporan keuangan dapat diakses secara terbuka dan dianalisa oleh siapa saja? Dan mengapa selama bertahun-tahun tak satupun pihak berwenang di Amerika yang menengarai adanya pelanggaran?

Sebab, Enron memang tak melanggar hukum. Enron hanya licik, tetapi tidak kriminal. Ibaratnya anda seorang pedagang jeruk yang menata dagangan anda sedemikian rupa sehingga tampak tidak ada jeruk yang buruk. Apakah menata jeruk seperti itu melanggar hukum? Tentu saja tidak. Dan mengapa pula selama bertahun-tahun para investor atau para analis, yang biasanya bermata jeli setajam elang, tak ada yang mencurigai keanehan laporan keuangan itu? Ya, memang sulit mencurigai sebuah perusahaan dengan citra hebat dan laporan keuangan mengkilap. Hampir muskil. Dimana-mana juga yang dicurigai adalah yang berpenampilan kumuh, atau yang tak stabil. Bukan yang necis, dendi, dan mapan. Angka-angka telah mengelabui mereka semua! Eh, tunggu dulu, tidak semuanya. Seorang wartawan bernama Jonathan Weil pada tahun 2000, atau setahun sebelum kejatuhan Enron, telah menulis keanehan laporan keuangan perusahaan itu di Wall Street journal. Bahkan tahun 1998, atau tiga tahun sebelumnya, enam orang mahasiswa paska sarjana telah membuat penelitian yang kesimpulannya adalah, "Jual saham Enron segera!". Hasil penelitiannya dipajang di situs Cornel University. Masalahnya, adakah orang yang mau mendengarkan celoteh seorang wartawan bisnis atau penelitian "ecek-ecek" enam orang mahasiswa paska sarjana? Tidak ada!

Jika anda termasuk seorang coach potatoe -- orang yang suka mematung di depan tivi berjam-jam lamanya, di atas sofa, sambil makan kentang goreng atau berondong jagung -- sudah semestinya anda merasa jengah dengan angka-angka. Di tivi anda akan dibombardir oleh pameran angka yang hampir semuanya menakjubkan. Entah itu pidato presiden, menteri, petinggi Polri, atau anggota DPR. Misalnya, presiden mempresentasikan keberhasilan kepemimpinannya dengan memaparkan angka pertumbuhan, jumlah lapangan kerja yang berhasil diciptakan, menurunnya jumlah rakyat miskin, atau anggaran pendidikan yang meningkat hingga 200 trilyun. Atau petinggi Polri -- ketika citranya sedang diluluhlantakkan -- memaparkan prestasi institusinya dengan angka-angka: terbongkarnya sekian ratus kasus terorisme, sekian ribu kasus narkotika, sekian ribu kasus korupsi. Lalu belum lama ini, humas Pertamina melaporkan tentang disantuninya "sekian" korban ledakan gas elpiji dengan uang senilai sekian puluh juta. Kalau anda belum juga jengah dengan angka-angka itu, cobalah sekali-kali bersafari ke kantor-kantor pemerintahan kota atau kabupaten. Anda akan menemukan eforia angka-angka yang menurut saya terlalu glamor: angka partisipasi ini, indeks pembangunan itu, indeks ini, indeks itu. Tetapi mengapa gemerlap angka-angka itu justru membuat anda merasa tak nyaman? Sebab, mata anda melihat kenyataan yang tak sesuai.

Lalu apakah presiden, menteri, Polri, DPR atau Pertamina berbohong? Jangan buru-buru menuduh, mereka sama sekali tak berbohong. Mereka memang menyampaikan fakta, atau tepatnya angka, yang benar. Yang menjadi masalah, presiden, menteri, dan lainnya itu tak pernah menyampaikan angka lain sebagai pembanding. Kita pun tak mudah mendapatkan angka pembanding itu dari sumber lain. Misalnya, ketika presiden menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dia tak menyertainya dengan informasi tentang bagimana kue ekonomi didistribusikan. Atau ketika presiden menyampaikan tentang meningkatnya penciptaan lapangan kerja, dia tak menyertainya dengan info tentang besarnya laju pengangguran. Ketika dikatakan jumlah rakyat miskin menurun, kita tak pernah diberitahu seberapa layak standar yang dipakai untuk mengukur seseorang miskin atau tidak. Ketika Polri menyebut keberhasilannya menyelesaikan sekian ribu kasus, kita tak pernah diberitahu berapa banyak kasus yang tak berhasil. Atau lebih jauh lagi, seberapa besar sebenarnya ancaman kejahatan terhadap hidup kita. Ketika Humas Pertamina memaparkan jumlah santunan, kita tak pernah diberitahu berapa korban yang tak disantuni. Lebih jauh lagi, seberapa besar potensi calon korban selanjutnya, atau seberapa banyak tabung gas yang mungkin akan meledak. Kita tak pernah diberikan angka pembanding. Seperti halnya pembeli jeruk, kita hanya diperlihatkan jeruk yang baik diantara tumpukan jeruk yang mungkin saja buruk.

Hukum relatif adalah kaidah memaknai sebuah angka dengan membandingkannya dengan angka yang lain. Dasarnya sederhana saja: sedikit sekali angka absolut yang memiliki arti dalam kehidupan kita. Ketika anda menyebut gaji anda 100 juta, itu tak akan bermakna apa-apa. Angka itu baru bermakna ketika anda membandingkannya dengan indeks daya beli, atau dengan angka standar hidup layak, atau bahkan dengan harga sepotong kol di pasar. Semakin banyak angka pembanding lain -- atau semakin banyak variabel yang diikutsertakan dalam pemaknaan atas sebuah angka, maka akan semakin luas dimensi pemaknaan itu. Tanpa upaya seperti itu, sebuah angka bisa jadi sangat menyesatkan. Anda tak percaya? Coba simak ini: menurut income per kapita, pendapatan saya dan Aburizal Bakrie adalah sama, sekitar 24 juta setahun, atau sekitar dua juta per bulan. Nah!

Makanya, anda sebaiknya menambah sedikit doa, "Ya Allah, jauhkanlah hamba dari godaan angka dan halusinasinya".[]