20 Januari 2012

Hukum Relatif

Gambar ini milik Funbrain

Hukum Relatif

Alam semesta terdiri dari harmoni angka-angka --kata Phitagoras.
Kehidupan kita sering dikelabui oleh halusinasi angka-angka --kata saya.

Andaikan anda sekaya Bill Gates atau Bill Joy. Atau setidak-tidaknya sekelas keluarga Bakrie. Mana yang lebih nyaman, hidup ditengah-tengah tetangga yang miskin atau di sekitar tetangga yang cukup kaya tetapi masih jauh lebih miskin dibanding anda? Tanyalah pada Bill Gates atau keluarga Bakrie, jawabannya pasti opsi yang kedua.

Nilai kekayaan anda disebut angka absolut -- misalkan saja seratus juta, semilyar, atau malah seratus milyar. Tetapi nilai kenyamanan anda adalah angka relatif. Sebab, anda tidak bisa menilai tingkat kenyamanan dengan angka 1000, 100, atau 10 tanpa mempertimbangkan variabel-variabel lainnya, misalnya kekayaan tetangga anda. Pada opsi pertama di atas, saya jamin anda tidak akan merasa leluasa membangun rumah yang super megah diantara tetangga-tetangga anda yang berumah batako. Dan seandainya anda tega juga melakukannya, anda akan terpaksa membangun pagar setinggi dua atau tiga meter di sekeliling rumah. Plus pecahan kaca yang ditebar di atas tembok pagar :). Sebenarnya bukan karena para tetangga suka mencuri, tetapi karena anda sendiri terjangkiti paranoia: bagaimana kalau anggrek bulan di halaman depan yang berharga sepuluh juta itu diambil orang? Situasinya akan berbeda jika tetangga-tetangga anda lumayan kaya. Anda justru lebih antusias memajang Mercy, X5, atau Bentley di garasi, bahkan kalau perlu tanpa dipagari. Sebab, anda merasa yakin bahwa tetangga-tetangga anda pasti juga sudah memiliki mobil pribadi, entah avanza, innova, bahkan mungkin BMW seri tiga keluaran lama. Pada opsi pertama, kekayaan membuat anda merasa terancam. Sedangkan pada opsi kedua, kekayaan membuat anda merasa sebagai pemenang. Lalu, mengapa nilai kekayaan yang sama bisa menciptakan situasi relatif yang berbeda? Sederhana saja, karena angka absolut mengelabui anda.

Kisah lain adalah Enron, perusahaan energi Amerika Serikat yang dulunya mengagumkan -- setidaknya menurut majalah Fortune, yang berperingkat tujuh terbesar di dunia. Secara berkala, tentu saja, Enron selalu mengeluarkan laporan keuangan. Angka-angkanya meyakinkan. Para investor menyukai sahamnya. Tak terkecuali para analis bursa. Lalu sampailah pada tragedi itu, ketika akhir tahun 2001 Enron tiba-tiba mengajukan pailit, alias bangkrut. CEO-nya bahkan lalu divonis pidana 24 tahun, di penjara kelas satu, disatukan dengan bandit-bandit kelas kakap. Tuduhannya mengerikan, sang CEO telah mengelabui para investor dengan laporan keuangan yang menyesatkan. Tetapi bukankah laporan keuangan dapat diakses secara terbuka dan dianalisa oleh siapa saja? Dan mengapa selama bertahun-tahun tak satupun pihak berwenang di Amerika yang menengarai adanya pelanggaran?

Sebab, Enron memang tak melanggar hukum. Enron hanya licik, tetapi tidak kriminal. Ibaratnya anda seorang pedagang jeruk yang menata dagangan anda sedemikian rupa sehingga tampak tidak ada jeruk yang buruk. Apakah menata jeruk seperti itu melanggar hukum? Tentu saja tidak. Dan mengapa pula selama bertahun-tahun para investor atau para analis, yang biasanya bermata jeli setajam elang, tak ada yang mencurigai keanehan laporan keuangan itu? Ya, memang sulit mencurigai sebuah perusahaan dengan citra hebat dan laporan keuangan mengkilap. Hampir muskil. Dimana-mana juga yang dicurigai adalah yang berpenampilan kumuh, atau yang tak stabil. Bukan yang necis, dendi, dan mapan. Angka-angka telah mengelabui mereka semua! Eh, tunggu dulu, tidak semuanya. Seorang wartawan bernama Jonathan Weil pada tahun 2000, atau setahun sebelum kejatuhan Enron, telah menulis keanehan laporan keuangan perusahaan itu di Wall Street journal. Bahkan tahun 1998, atau tiga tahun sebelumnya, enam orang mahasiswa paska sarjana telah membuat penelitian yang kesimpulannya adalah, "Jual saham Enron segera!". Hasil penelitiannya dipajang di situs Cornel University. Masalahnya, adakah orang yang mau mendengarkan celoteh seorang wartawan bisnis atau penelitian "ecek-ecek" enam orang mahasiswa paska sarjana? Tidak ada!

Jika anda termasuk seorang coach potatoe -- orang yang suka mematung di depan tivi berjam-jam lamanya, di atas sofa, sambil makan kentang goreng atau berondong jagung -- sudah semestinya anda merasa jengah dengan angka-angka. Di tivi anda akan dibombardir oleh pameran angka yang hampir semuanya menakjubkan. Entah itu pidato presiden, menteri, petinggi Polri, atau anggota DPR. Misalnya, presiden mempresentasikan keberhasilan kepemimpinannya dengan memaparkan angka pertumbuhan, jumlah lapangan kerja yang berhasil diciptakan, menurunnya jumlah rakyat miskin, atau anggaran pendidikan yang meningkat hingga 200 trilyun. Atau petinggi Polri -- ketika citranya sedang diluluhlantakkan -- memaparkan prestasi institusinya dengan angka-angka: terbongkarnya sekian ratus kasus terorisme, sekian ribu kasus narkotika, sekian ribu kasus korupsi. Lalu belum lama ini, humas Pertamina melaporkan tentang disantuninya "sekian" korban ledakan gas elpiji dengan uang senilai sekian puluh juta. Kalau anda belum juga jengah dengan angka-angka itu, cobalah sekali-kali bersafari ke kantor-kantor pemerintahan kota atau kabupaten. Anda akan menemukan eforia angka-angka yang menurut saya terlalu glamor: angka partisipasi ini, indeks pembangunan itu, indeks ini, indeks itu. Tetapi mengapa gemerlap angka-angka itu justru membuat anda merasa tak nyaman? Sebab, mata anda melihat kenyataan yang tak sesuai.

Lalu apakah presiden, menteri, Polri, DPR atau Pertamina berbohong? Jangan buru-buru menuduh, mereka sama sekali tak berbohong. Mereka memang menyampaikan fakta, atau tepatnya angka, yang benar. Yang menjadi masalah, presiden, menteri, dan lainnya itu tak pernah menyampaikan angka lain sebagai pembanding. Kita pun tak mudah mendapatkan angka pembanding itu dari sumber lain. Misalnya, ketika presiden menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dia tak menyertainya dengan informasi tentang bagimana kue ekonomi didistribusikan. Atau ketika presiden menyampaikan tentang meningkatnya penciptaan lapangan kerja, dia tak menyertainya dengan info tentang besarnya laju pengangguran. Ketika dikatakan jumlah rakyat miskin menurun, kita tak pernah diberitahu seberapa layak standar yang dipakai untuk mengukur seseorang miskin atau tidak. Ketika Polri menyebut keberhasilannya menyelesaikan sekian ribu kasus, kita tak pernah diberitahu berapa banyak kasus yang tak berhasil. Atau lebih jauh lagi, seberapa besar sebenarnya ancaman kejahatan terhadap hidup kita. Ketika Humas Pertamina memaparkan jumlah santunan, kita tak pernah diberitahu berapa korban yang tak disantuni. Lebih jauh lagi, seberapa besar potensi calon korban selanjutnya, atau seberapa banyak tabung gas yang mungkin akan meledak. Kita tak pernah diberikan angka pembanding. Seperti halnya pembeli jeruk, kita hanya diperlihatkan jeruk yang baik diantara tumpukan jeruk yang mungkin saja buruk.

Hukum relatif adalah kaidah memaknai sebuah angka dengan membandingkannya dengan angka yang lain. Dasarnya sederhana saja: sedikit sekali angka absolut yang memiliki arti dalam kehidupan kita. Ketika anda menyebut gaji anda 100 juta, itu tak akan bermakna apa-apa. Angka itu baru bermakna ketika anda membandingkannya dengan indeks daya beli, atau dengan angka standar hidup layak, atau bahkan dengan harga sepotong kol di pasar. Semakin banyak angka pembanding lain -- atau semakin banyak variabel yang diikutsertakan dalam pemaknaan atas sebuah angka, maka akan semakin luas dimensi pemaknaan itu. Tanpa upaya seperti itu, sebuah angka bisa jadi sangat menyesatkan. Anda tak percaya? Coba simak ini: menurut income per kapita, pendapatan saya dan Aburizal Bakrie adalah sama, sekitar 24 juta setahun, atau sekitar dua juta per bulan. Nah!

Makanya, anda sebaiknya menambah sedikit doa, "Ya Allah, jauhkanlah hamba dari godaan angka dan halusinasinya".[]

Tidak ada komentar: