20 Januari 2012

Menggantang Nasib

Menggantang Nasib

Foto ini milik
National Geographics

Susahkah memperbaiki nasib? Sulit sekali jika andaberjuang sendirian. Di lembah Merapi, di perbatasan paling utara Kabupaten Magelang, Muhromin lahir dari keluarga miskin. Orang tuanya petani merangkap perabot dusun dengan upah tak lebih dari seratus ribu sebulan. Rumahnya dari bilik bambu berlantai tanah, dan tak memiliki tivi. Ketika umurnya belum genap dua puluh tahun, Muhromin cidera parah di pangkal lengan yang mengharuskannya diamputasi. Tetapi orang tuanya tak mampu mengobati. Mereka memutuskan untuk merawatnya saja di rumah, mengandalkan tukang urut dan mantri suntik. Setahun kemudian Muhromin, teman SD saya itu, meninggal karena infeksi lengannya telah mencapai organ vital.
Tetapi apakah kecerdasan Muhromin seburuk nasibnya? Anda keliru. Dia anak pintar. Dia sempat masuk SMP favorit di kota kami. Memang hanya sampai disitu. Selepasnya, dia tak melanjutkan. Orang tuanya tak sanggup membiayai. Lalu dia bekerja sebagai buruh lepas, dengan upah tak seberapa. Waktu itu umurnya masih terlalu muda, sekitar 16 tahun, usia yang seharusnya menyenangkan. Dia terpaksa bekerja agar setidaknya mengurangi beban ekonomi keluarga. Dan bila uangnya berlebih, dia bisa membantu orang tuanya menyekolahkan adik-adiknya yang berjumlah tiga orang. Tetapi naas, ketika bermain bola saat rehat kerja, dia terjatuh dan bahunya terinjak teman. Engselnya patah, dan tak pernah mendapat pertolongan yang layak. Cideranya itu dibiarkan berbulan-bulan hingga membengkak sebesar paha. Ketika lukanya terasa sakit, tangisnya memilukan. Tetapi ketika keadaannya membaik, dia akan mendatangi rumah saya dan bercerita panjang lebar tentang aktivitas sosial keagaamaan di tempatnya bekerja -- waktu itu saya sudah SMA. Salah satu cita-citanya -- yang selalu diceritakannya berulang-ulang -- adalah mendirikan organisasi sosial di desa kami, mencontoh organisasi di tempatnya bekerja. Sayang sekali, itu tak kesampaian.

Muhromin adalah tipikal anak miskin. Berjuang bertahan hidup, tak memiliki jaminan keselamatan, dan tak punya peluang berkembang. Di desa kami waktu itu, berpuluh-puluh teman saya seperti Muhromin, walau tak setragis nasibnya. Beberapa diantaranya anak-anak cerdas, tetapi hanya mampu sekolah setinggi SMP. Lalu bekerja serabutan, menikah muda, beranak-pinak, dan mungkin akan meninggal dengan kondisi yang tak jauh beda dengan orang tuanya. Yang piawai berwiraswasta biasanya ekonominya membaik. Tetapi diluar itu umumnya mereka menjalani siklus hidup yang serupa. Memang tak semua teman kecil saya anak miskin. Tak sedikit yang berkecukupan. Orang tuanya biasanya memiliki sawah yang luas dan kebun duku -- komoditi bernilai tinggi di desa kami. Sayangnya, orang tua teman-teman saya banyak yang tak mementingkan pendidikan. Ketimbang membiayai anaknya masuk perguruan tinggi, mereka lebih suka menghadiahi anaknya motor atau rumah, dan menikahkannya di usia dini. Saya pernah ketemu teman-teman saya dari kelompok ini. Mereka kini berprofesi sebagai tukang ojek, tengkulak, kuli, atau bahkan menganggur. Beberapa diantaranya menjadi buruh di kota atau jadi TKI.

Lain Muhromin, lain pula Toro -- nama samaran, seorang teman yang baru saya kenal beberapa tahun terakhir. Tinggal di metropolitan Jakarta, ayahnya mantan direktur rumah sakit besar. Ibunya seorang pelukis nasional yang cukup terkenal. Sebagaimana anak yang terlahir dari keluarga kelas menengah, Toro memang cerdas. Gelar sarjana dan masternya dari Universitas Indonesia. Dia kini berprofesi sebagai dosen di beberapa universitas di Jakarta, mendirikan bisnis bimbingan belajar, dan memiliki perusahaan konsultan teknologi informasi. Dia menguasai setidaknya dua bahasa asing, Inggris dan Jepang. Dia sering berbicara dengan saya dalam Bahasa Inggris, dan dengan ibunya dalam Bahasa Jepang. Hobinya bowling, dan tak menutup kemungkinan dia pernah tinggal di negeri sakura.

Anda tentu sudah membayangkan bagaimana masa kecil Toro. Dia sekolah di tempat-tempat favorit. Usai sekolah dia mengikuti kursus bahasa asing dan musik. Bila hatinya suntuk -- seperti pernah diceritakan pada saya, dia akan membuka grand piano di rumahnya dan memainkan lagu-lagu klasik sampai suasana hatinya membaik. Toro mendapatkan semua itu, tentu saja, karena dukungan orang tuanya. Berbeda dengan Muhromin, Toro tak berjuang sendirian. Ketika Toro ingin masuk sekolah berkelas, orang tuanya menyediakan. Ketika dia ingin mendapatkan pengetahuan ekstra di luar sekolah, orang tuanya mewujudkan. Walaupun sama-sama cerdas, Toro dan Muhromin bernasib tak sama.

Di seberang lautan, Malcom Gladwel pernah bercerita tentang salah satu orang terpintar se-Amerika Serikat. Chris Langan namanya. Waktu itu Bozeman, Montana, masih kota kecil. Chris Langan besar di sana. Anda ingin tahu berapa IQ-nya? 195! Sempurna, bahkan Einstein pun hanya 150. Sayangnya Chris lahir dari keluarga semrawut. Bapak kandungnya minggat ketika dia belum lahir. Bapak tirinya wartawan gagal, pemabuk, dan suka melakukan kekerasan. Ibunya bermoral kacau, memiliki empat anak dari lelaki yang berlainan. Seorang adiknya diadopsi orang, dan yang lainnya masuk sekolah anak nakal. "Sampai hari ini saya belum pernah bertemu orang yang masa kecilnya semiskin kami", kata Chris. "Kami hanya memiliki satu setel pakaian, sepasang kaos kaki belang sebelah, sepatu bolong, dan celana sobek." Saking miskinnya mereka sekeluarga pernah tinggal di penampungan Indian, dan makan dari bantuan sosial pemerintah. Ringkasnya, Chris adalah si jenius bernasib malang, mirip-mirip film Good Will Hunting. Bedanya, Chris adalah cerita nyata.

Selepas SMA, seperti lazimnya anak pintar, Chris pun mendapat tawaran bea siswa. Dua malah. Satunya dari Universitas Chicago dan lainnya dari Reed College Oregon. Sepertinya, inilah kesempatan emas baginya untuk menukar nasib. "Melihat kemampuannya, dia semestinya mudah meraih Ph.D", kata Jeff Langan, adik kandungnya. Lalu dia memilih Oregon, dan segera saja dia menyadari bahwa pilihannya itu sama sekali tak tepat. Dia kesulitan beradaptasi dengan kehidupan kota besar, juga dengan teman-teman kampusnya yang sebagian besar berasal dari metropolitan New York. Tapi itu halangan tak seberapa. Semester awal kuliahnya bertabur nilai A. Tetapi semester berikutnya nilainya F semua. Pasalnya, dia tak pernah lagi hadir di kelas. Bea siswanya dicabut oleh sebab yang tak masuk akal: ibunya lalai tak mengirimkan surat keterangan miskin. Ibunya mengaku bingung cara mengisi formulirnya. Bea siswanya dialihkan ke orang lain, dan Chris Langan pun drop out.

Balik ke Bozeman, kampung halamannya, Chris bekerja sebagai kuli bangunan. Lalu ganti jadi buruh nelayan penangkap kerang. Pindah lagi sebagai pemadam kebakaran hutan. Tapi dia berhasil menabung sedikit-sedikit, hingga akhirnya satu setengah tahun kemudian dia bisa kuliah lagi di Universitas Negeri Montana. Jurusan yang diambilnya matematika dan filsafat. Kita pasti menduga, kini masa depannya akan kembali tertata. Naasnya, tak demikian. Di suatu musim dingin yang menggigil, mobil tua Chris -- yang sehari-hari dipakainya kuliah -- dipinjam adiknya. Rusak, dan Chris tak punya uang untuk memperbaiki. Padahal jarak tempuh kampusnya terlalu jauh, sekitar dua puluh kilo meter. Dia tak punya transportasi alternatif. Lalu dia berusaha melobi tata usaha kampusnya agar diperbolehkan kuliah sore. Ada tetangga yang bisa ditumpangi pulang pergi ke kampus di sore hari. Tetapi, tentu saja, pihak universitas tak mungkin mengistimewakan seorang mahasiswa. Permohonannya ditolak. Chris Langan pun kembali drop out. Tetapi kali ini kepergiannya membawa kebencian membatu pada institusi pendidikan, "Saya jijik jika harus mengulanginya lagi". Chris Langan pun menganggur lama, tanpa ijazah, sebelum akhirnya bekerja sebagai tukang pukul di sebuah bar. Sampai kini dia pun masih terobsesi menulis di jurnal ilmiah -- tentang Astrofisika kegemarannya. Sekalipun kadang-kadang dia merasa frustasi karena tak punya ijazah.

Muhromin dan Chris Langan sepertinya sepola. Pintar, berpotensi, layaknya intan atau pedang. Tetapi mereka merasa tak didukung lingkungannya. Mereka berjuang sendirian dan kehilangan kesempatan merubah nasib. Muhromin atau Chris Langan seperti intan yang terkubur lumpur, dan tak pernah ditemukan pendulang. Atau mengutip teman saya Watung, "Mereka ibarat pedang yang disimpan di meja dapur dan digunakan hanya untuk memotong daging". Pada situasi yang berbeda, kita tentu bisa berharap bahwa Muh atau Chris dapat menjadi berlian atau pedang pusaka. Seperti Toro. Atau lebih hebat lagi seperti Oppenheimer -- seorang jenius lain, doktor fisika yang mengkomandani megaproyek bom atom yang pertama. Atau seperti Bill Gates, sekalipun drop out tetapi kampiun bisnis dan orang terkaya di dunia. Pertanyaannya, mengapa Muhromin dan Chris Langan tak bisa seperti mereka? Sebaliknya, mengapa sekalipun kecerdasannya tak semenjulang Chris Langan, tetapi Toro, Oppenheimer, atau Bill Gates bisa sehebat itu?

Malcom Gladwel mengutip penelitian sosiolog Annete Lareau tentang dua pola pengasuhan yang berbeda antara keluarga miskin dan kaya -- di Amerika. Keluarga miskin biasanya membiarkan begitu saja anaknya tumbuh sendiri. Akibat tekanan ekonomi, para orang tua miskin tak memiliki waktu dan uang untuk memberikan perhatian lebih pada kebutuhan anaknya. Mereka juga sangat percaya pada bakat bawaan. Jika anaknya memang cerdas, sang anak dipercaya akan menemukan jalannya sendiri untuk menjadi insinyur atau profesor. Tetapi jika tak berbakat, mau dipoles seperti apapun juga tak kan bersinar. Masalah lainnya, akibat dari kegagalan-kegagalan hidupnya yang menahun, para orang tua miskin punya kebiasaan menularkan mentalitas negatif pada anaknya. Mereka menularkan ketidakpercayaan diri, apatisme, dan kecurigaan pada lingkungan. Muhromin dan orang tuanya, sebagai seorang jawa, percaya bahwa cidera lengannya memang suratan takdir. Sementara Chris Langan menganggap bahwa kampus tak punya empati dan kepedulian pada mahasiswa miskin seperti dirinya. Tetapi, mari kita sedikit berandai-andai: apakah Muhromin tak bisa tertolong seandainya keluarganya mau mendatangi lurah atau camat dan mengadukan nasib anaknya? Apakah beasiswa Chris Langan tak bisa dipertahankan seandainya dia mau melobi tata usaha kampusnya atau dosennya lebih gigih lagi? Kita tak bisa mengandaikan itu, karena baik Muhromin, Chris, dan keluarganya memang tak memiliki keahlian seperti itu. Mereka tak memiliki keahlian sosial praktis dalam kaitannya dengan interaksi dengan orang lain, atau sering disebut sebagai kecerdasan ortogonal. Dan kecerdasan seperti itu bukanlah bakat, atau diperoleh dari lahir, melainkan dari pola pengasuhan.

Keluarga-keluarga kaya justru berbuat sebaliknya. Mereka bukan hanya menggunakan uangnya untuk menjadi bos dermawan bagi anaknya, seperti membiayai sekolah terbaik, les termahal, atau membelikan grand piano. Tetapi yang lebih penting lagi, orang tua kaya memiliki kesempatan untuk terlibat ke hal-hal rinci dalam kehidupan anaknya. Misalnya mengantarkan anaknya ke dokter gigi, mendatangi guru untuk diskusi tentang nilai sang anak, atau sekedar menunggui anaknya di pinggir kolam renang. Mereka seolah menyediakan dirinya penuh dua puluh empat jam buat sang anak. Bagi Lareau, ini bukanlah bentuk kemanjaan. Tetapi merupakan sebuah pola pengasuhan yang dia sebut sebagai concerted cultivation (pengasuhan terpadu?). Oppenheimer, misalnya. Sejak kecil menggemari bebatuan atau hal-hal yang berbau geologi. Demi mendukung hobi sang anak, orang tuanya --seorang pengusaha tekstil yang sukses di Manhattan -- setiap minggu selalu mengajak berjalan-jalan di pedesaan mengamati bebatuan. Bill Gates juga begitu. Ketika Bill kecil merasa bosan sekolah, Ibunya segera memindahkannya ke sekolah swasta mahal di Lakeside. Ketika kelas delapan -- sekitar tahun 60-an, sang ibu menjadi donatur bagi sekolahnya untuk membeli sebuah alat ajaib yang tak dimiliki oleh sekolah manapun di Amerika apalagi dunia, yakni komputer tak berkartu (tak pakai punch card). ASR 33 Teletype namanya. Universitas-universitas pun belum tentu memilikinya. Ajaibnya lagi, komputer itu juga terhubung ke komputer mainframe di kota Seatle. Biaya koneksinya sangat mahal. Dan Ibu Gates tak berat merogoh dompetnya.

Di pinggiran Bandung, di lembah Malabar, mertua saya punya kisah menarik tentang pertanian organiknya. Kisahnya mirip concerted cultivation itu. Sewaktu menyawah dengan metode lama, hasil panennya hanya 6 ton per hektar. Tetapi ketika mempraktekkan pertanian organik, hasilnya hampir dua kali lipat. Paling sedikit 10 ton. Menariknya lagi, harga jualnya juga lebih mahal. Beras biasa harganya enam ribu. Tapi beras organik setidaknya bisa sepuluh ribu. Lalu mertua saya itu menularkan pengetahuan dan kisah suksesnya ke tetangga-tetangga desanya. Apakah anda mengira tetangga-tetangganya akan mengikuti jejaknya? Keliru! Tak seorangpun menirunya. Mengapa? Sebab, pertanian organik tak seperti pertanian biasa. Dia membutuhkan perhatian ekstra. "Seperti merawat bayi kecil," kata mertua saya. Jika ada satu bibit saja yang mati, harus segera diganti. Air sawahnya juga harus dijaga stabil. Tak boleh terlalu basah atau terlalu kering. Dalam masa pertumbuhnnya, bulir padi harus dijaga dari gulma. Rumput-rumput harus disiangi terus-menerus. Dan jerami hasil panen juga tak boleh dibakar --cara lazim yang lebih simpel sebenarnya. Jerami itu harus dipotong-potong dan dibenamkan ke dalam lumpur sampai membusuk, agar kelak menjadi kompos. "Ripuh ah", kata tetangga mertua saya.

Begitulah, memang tak mudah menukar nasib. Seperti kita menggantang asap, perlu disiapkan balon plastik yang besar. :D

Pancoran

Tidak ada komentar: