20 Januari 2012

Sketsa di Braga

Sketsa di Braga

Bila kau bertamu ke kotaku
datanglah ke Braga sebelum lampu-lampu sore
menawarkan tubuhya yang gading
tak usah kau hiraukan lalu lalang
mereka sama saja seperti kita, mencari sesuatu yang hilang
barangkali tercecer di trotoar
atau di etalase toko
itupun jika benar ada yang hilang

Bila kau bertamu ke kotaku
kunjungilah pelukis di Braga sebelum senja
bertangan empat seakan Manikmaya
dua mendekap dada, dua lagi di udara menangkapi warna
dia melukis dengan mulutnya
merapal sebuah kata, “jadilah, jadilah”
tanpa pernah berhenti, hanya satu kata

Aku duduk dibangku kayu, pelukis itu di tahta Andini
rupaku dilolosi, seperti benang bordir
lalu ditempel di kanvas terawang, tanpa goresan
wahai pelukis, mengapa tak satupun bergaris?
pelukis itu membentakku dengan halilintar
“Cakrawala tak pernah bergaris, matamu yang menganggapnya bergaris!”
Aku beringsut, menghindari halilintar yang hingar menyambar

Kini sketsaku hampir selesai
persis seperti diriku, tapi berdimensi dua
wahai pelukis, bisakah aku lebih tampan sedikit saja?
kali ini pelukis itu melunak tuturnya,
“Tidak bisa, Nak. Takdir yang ini tak bisa diubah.
Carilah takdir lain yang bisa kau ubah”

Bila kau bertamu ke kotaku
mampirlah ke rumahku
karena sketsa itu kupajang di daun pintu
agar semua tahu, aku pun bisa abadi
agar Tuhan juga tahu, aku pun bisa abadi

(pancoran, subuh)

Tidak ada komentar: