24 Oktober 2012

Bandung Jakarta 4


Malam tadi aku bermimpi. Jadi asongan di kereta pagi. Jualan keliling di kelas eksekutif. Kereta favorit yang kukagumi.

Memang hebat kereta ini. Bahannya kualitas tertinggi. Catnya juga warna-warni. Dibuat oleh kampiun berjiwa seni. Negara tetangga sudah pasti iri.

Kukemas daganganku dengan kertas manila. Mereknya kutulis dengan tinta langka. Semalam suntuk aku merekanya. Karena inilah harapan satu-satunya. Biar anak cucuku hidup lebih lama. Bismillah, bismillah, semoga ada berkahnya.

Di gerbong belakang termenung seorang pengusaha. Dahinya lebih keriput dari semestinya. Asap rokok mengepulkan angka. Oh bukan angka, tapi mata uang. Yen, dolar, euro, yuan. O, ringgit juga ada. Hebat, luar biasa. Seperti pesulap saja.

Selamat pagi, Bapak belum sarapan? Mau mencoba resep spesial? Lelaki itu acuh belaka. Menoleh pun tak bersedia. Malah tangannya menuding bilah kayu. Tulisan peringatan di atas pintu. “Dilarang berjualan di kereta”. Tapi Pak, lihat tulisan diatasnya, yang lebih tinggi dari tulisan semula, “Dilarang merokok”.

Kondektur datang mencokok. Menarikku ke sisi toilet. Menyengat bau bakaran karet. Kau melanggar aturan, katanya. Aku diam saja, tak tahu harus bilang apa. Hanya kulirik bapak pengusaha, masih asyik dengan rokoknya. O, kau mau seperti dia? Kondektur itu bertanya. Selalu ada harganya. Selalu ada harganya. Itu ucapannya, berbisik seperti berdoa. Aku diam saja, tak tahu harus bilang apa.

Di gerbong lain kutemukan tentara. Wajahnya dingin seperti lazimnya. Aku tak berani menawarkan apa-apa. Terus terang, aku takut pada pistolnya.

Lalu aku mendekati seorang cendekiawan. Aku tahu itu dari kacamatanya. Tebal karena selalu membaca. Intelektual sekarang sudah banyak bedanya. Tidak kusut eksentrik seperti di film-film. Tapi necis berdasi seperti salesman.

Bapak harus sarapan menu saya. Orang seperti Bapak harus sarapan menu saya. Jika bukan Bapak, lalu siapa? Bertubi-tubi aku merayunya. Tapi cendekiawan itu terus saja membaca. Menoleh pun tak bersedia. Iseng kuintip bukunya. Survei ilmiah atau apalah namanya. Hanya dibagian bawah ada tulisan, “sponsored by bla bla bla”.

Di gerbong terdepan tampak bercahaya. Dua pemuda bersafari hitam menjaga pintunya. Mengapit dua perempuan elok berbaju batik. Duh Gusti, rendah nian belahan dada si cantik. Kata orang, mereka disebut tim relasi publik.

Mbak, saya hanya ingin menawarkan dagangan. Mengapa saya tidak diijinkan? Ini gerbong esklusif, katanya. Penumpangnya calon presiden. Siapapun dilarang masuk, apalagi pedagang asongan.

Anehnya, sang calon presiden justru lebih ramah dari mereka. Mungkin ramah memang lagi musimnya. Dihampirinya aku, lalu bertanya, Adik jualan apa?

Saya jualan cita-cita, Bapak. Kubuka kemasan manila. Kusam sinarnya seperti barang langka. Calon presiden menahan tawa sebisa-bisanya. Tapi para calon menterinya tertawa sejadi-jadinya. Dik, maaf ya, saya sudah kenyang. Tadi calon menteri saya sudah menyediakan sarapan. Menunya kekuasaan, pakai saos pragmatisme. Lezat benar rasanya. Adik harus mencobanya.

Aku pergi dengan kecewa. Di belakangku calon presiden masih juga bercanda, Dik besok saya pesan cita-cita rasa strawberry ya. Vanila juga boleh. Lalu calon presiden tertawa sejadi-jadinya. Calon mentrinya juga. Aku hanya diam saja. Tak tahu harus bilang apa.

(Pancoran, tengah malam)

Tidak ada komentar: