24 Oktober 2012

Bandung Jakarta

1
Kereta baja
mendaki subuh
bagai setubuh
dengan waktu
yang masih tangguh

hanya peluh
mengasini luka
semakin terasa
maafkan, oh
maafkan

keropos tulang
masih mengenang
impian surga
jaman semula

rimba di kanan
ngarai di kiri,
kini tiada
maafkan, oh
maafkan

2
Tahukah kau rasa laparku, kawan?
bukan pada anggur
bukan!
itu tak kan mengenyangkanku

Tahukah kau rasa sakitku?
bukan karena madu
bukan!
itu tak kan mengobatiku

Tahukah kau kehilanganku?
bukan pada riuh pesta itu
bukan!
itu tak kan memuaskanku

Tahukah kau lelah rinduku?
bukan pada senyummu
bukan!
itu tak kan menentramkanku

Oh, kawan
mungkin kau pernah mendengar
laparnya angin
pada pucuk-pucuk pinus
yang dibuatnya gemerisik?

Mungkin kau pernah tahu
rindunya ombak
pada biduk nelayan
yang diiringkannya ke lautan?

Mungkin kau pernah melihat
galau guruh pada gulita malam
yang dibuatnya bercahaya
terang benderang?

Mungkin kau pernah merasakan
gelora matahari pada Kunti si jelita
yang dihangatkannya
dengan ribuan impian?

Oh kawan,
kini aku jadi rindu padamu
biru memburu
agar sesaat kulupakan rasa sakitku.

(Pancoran, tengah malam)

Tidak ada komentar: