24 Oktober 2012

d’Espagnat, Fisika, dan Iman


Bila Anda fisikawan, anda akan sering digulung dilema akut: beriman atau tidak beriman kepada Tuhan. Ini memang terkait dengan karakter fundamental ilmu fisika itu sendiri. Pada satu sisi, fisika menuntut olah kuantifikasi yang ketat. Yang disebut 'ada' adalah yang bisa diukur. Tetapi pada sisi lain, fisika memberi pula ruang luas kepada imajinasi matematis yang misterius. Mengapa misterius? Karena pengembaraan matematis ini berujung pada ketidakpastian pengukuran: yang seharusnya bisa diukur, ternyata tidak. Dengan kata lain, tidak semua hal bisa diukur. Misteri inilah yang menjadi kata kunci bagi Bernard d'Espagnat, Fisikawan Perancis pemenang Penghargaan Templeton tahun ini, untuk menerima pendekatan spiritualitas sebagai sebuah perspektif untuk mengetahui yang 'ada'. Selain fisika itu sendiri.

Orang 'modern' pertama yang jumawa memproklamirkan 'kematian Tuhan' sesungguhnya juga bukan orang fisika, tetapi matematikawan Pierre-Simon Laplace, yang digelari Newton dari Perancis. Dalam bukunya, "Essai Philosophique sur les Probabilités", 1814, Laplace mengklaim bahwa kemungkin-jadian segala sesuatu hanyalah problem kalkulus. Atau gampangnya, kita belum bisa mengukur yang misterius itu hanya karena belum ditemukan rumusan matematikanya. Ketika Napoleon, kaisar Perancis waktu itu, bertanya kepadanya tentang mengapa Laplace tidak menyebut satu kalipun Tuhan dalam gagasan-gagasannya, Laplace menjawab, "Itu tidak diperlukan karena segala sesuatu sudah sesuai hukumnya". Segala sesuatu mengikuti hukum mekanis-deterministik Newton, oleh karena itu Tuhan tidak diperlukan lagi. Tetapi dalam hal ini Laplace terlalu tergesa-gesa. Bahkan Newton sendiri, dalam biografi yang pernah saya terjemahkan, meyakini keberadaan Kekuatan Agung yang memungkinkan berlakunya hukum fisika. Dalam bukunya yang fenomenal, Principia, Newton mengatakan, "The most beautiful system of the sun, planets, and comets, could only proceed from the counsel and dominion on an intelligent and powerful Being". Lebih dari itu, Newton bahkan mengatakan bahwa Tuhan secara berkala melakukan intervensi atas alam sehingga alam senantiasa pada jalurnya yang konsisten.

Para fisikawan memang berdiri di titik labil karena harus selalu bergulat dengan pemaknaan tentang yang 'ada'. Mereka setiap saat merasa diharuskan mendefinikan makna keberadaan (hal yang sama sebenarnya juga dirasakan oleh para pemeluk agama). Tetapi fisikawan berangkat dari dua hal mendasar: mengukur dan merumuskan. Sedangkan para pemeluk agama berangkat dari meyakini. Tuhan sendiri per definisi memang tidak bisa diukur dan tidak bisa dirumuskan. Oleh karena itu sebagian fisikawan akan menganggap Tuhan tidak ada. Tetapi sebagian yang lain menganggap itu sebagai misteri, sesuatu yang bukan wilayah fisika. Premis kedua ini tentu sedikit banyak menggoyang bangunan fisika empiris.

Bernard d'Espagnat, yang kini berusia 87 tahun, adalah guru besar emeritus pada departemen fisika teori Universitas Paris-Orsay. Juga menjabat sebagai direktur Laboratorium Fisika Teori dan Partikel Elementer hampir selama dua dekade. Dalam bukunya On Physics and Philosophy, d'Estagnat membuat pernyataan yang sangat menarik: capaian-capaian mutakhir teori kuantum, yang memunculkan ketidakpastian tentang ruang, materi dan kausalitas, kini membutuhkan campur tangan serius dari pendekatan-pendekatan (baca: filsafat) tradisional. D'Estagnat menegaskan bahwa berdasarkan teori kuantum kita memang tidak mungkin memperoleh kebenaran ilmiah murni, dimana realitas yang diteliti bisa bebas dari pengaruh kesadaran. Kita selamanya tidak akan pernah dapat menguak, baik secara empiris maupun rasional kebenaran realitas, yang disebutnya sebagai 'realitas yang tertabiri' (veiled reality). Penelisikan 'realitas tertabiri itu', masih menurut d'Estagnat membutuhkan pendekatan spiritualitas yang lebih tinggi. Tetapi pernyataan seperti ini sesungguhnya bukan hal baru. Jauh sebelumnya para fisikawan telah lama berpolemik tentang paradoks kuantum dan kesadaran. Contoh yang populer adalah teka-teki kucing setengah mati-setengah hidup ala Erwin Schrödinger.

Penghargaan Templeton yang diterima oleh d'Espagnat adalah penghargaan bergengsi. Bahkan jumlah hadiahnya pun melebihi Nobel. Penghargaan ini hanya diberikan kepada satu orang saja setiap tahunnya, yakni mereka yang dianggap berkontribusi dalam pengembangan agama atau spiritualitas. Juri penghargaan ini berasal dari berbagai agama, termasuk Islam. Salah seorang penerima penghargaan ini adalah Bunda Theresa. Selain d'Estagnat, para fisikawan penerima Templeton diantaranya Michael Heller, Jhon D. Barrow, Freeman Dyson, Paul Davies, dan lain-lain.

Bagi saya, mungkin juga bagi anda, pemberian penghargaan Templeton kepada d'Estagnat semakin membuka celah terang bagi dialog antara fisika (atau ilmu pengetahuan pada umumnya) dan agama. Selama ini pintu dialog ini seakan tertutup. Dengan klaim otoritasnya masing-masing, agama dan ilmu pengetahuan seolah tidak bisa disatukan. Namun capaian d'Estagnat ini mungkin bisa sedikit menyisihkan kebuntuan ini.

Kepada para pemeluk agama, mari kita berseru, "Berilah kesempatan pada fisikawan untuk menemukan Tuhan dengan caranya sendiri.

Kepada para fisikawan, mari kita berseru, "Jangan buru-buru menolak Tuhan hanya karena Dia tidak bisa ditera."

(Kalibata, malam sunyi)

Tidak ada komentar: