24 Oktober 2012

Diperlukan Panjat Pagar dan Kejaran Anjing untuk Menegakkan Kejujuran


Seberapa rumit menegakkan kejujuran di negeri yang tidak menganggap penting kejujuran? Bak meluruskan benang basah. Rumit dan melelahkan. Berikut ini adalah kisah teman saya, seorang manajer perusahaan alih daya di bidang pencatatan meter air di Jakarta.

Banyak orang mengira, rendahnya layanan air bersih di Jakarta disebabkan oleh faktor alam, misalnya menurunnya sumber air. Atau timpangnya pasokan dengan permintaan. Tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Simak saja pernyataan Syahril Japarin, Direktur Utama PT Aetra (dulu PT Thames PAM Jaya), salah satu operator PAM Jaya yang membidangi layanan air bersih di sebagian wilayah Jakarta. Syahril mengatakan, akibat pencurian air dan perusakan meteran, PT Aetra mengalami kerugian tidak kurang Rp 903 miliar sepanjang tahun 2007, atau kira-kira 53 persen dari total produksi air (KOMPAS, http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/03/04/02415316). Syahril sendiri adalah CEO baru di perusahaan itu, yang sebelumnya mendapatkan penghargaan sebagai CEO BUMD terbaik dari Majalah SWA. Syahril adalah alumni ITB dan mantan aktivis Masjid Salman.

Kembali pada teman saya, sebut saja namanya Mas B. Perusahaannya adalah alih daya (outsourcer) yang bergerak dalam bidang pencatatan meter air di rumah-rumah pelanggan. Anak buahnya kira-kira 50 orang. Teman saya itu adalah mantan aktivis masjid, bahkan urusan memakmurkan masjid ini masih juga dilakukannya hingga sekarang. Oleh teman-temannya, dia sering diledek sebagai sopir, karena hobinya mengantar jemput penceramah. Sebagai mantan aktivis, Mas B bisa dibilang sangat idealis. Dia ingin perusahaannya bekerja secara benar. Dengan kata lain, pencatatan meter harus dilakukan dengan sebenar-benarnya.

Ah, apa susahnya sih mencatat meter? Kalau anda berpikir seperti itu, anda keliru. Masalah pertama yang harus dibereskan adalah moral anak buahnya. Seperti kita tahu, setiap orang ingin bekerja dengan gampang. Dan sikap menggampangkan itu cenderung memicu kecurangan. Misalnya, seorang pencatat hanya memeriksa tiga rumah, tetapi melaporkan sepuluh. Atau tidak jarang si pencatat menerima suap dari pelanggan yang ingin diuntungkan. Oleh karena itu, teman saya sejak awal sudah membuat aturan dan prosedur yang baku. Aturannya sederhana saja: catat meter air langsung dari meteran, catat penyimpangan bila ada, dan laporkan. Setiap karyawan yang melanggar aturan akan ditindak tegas. Untuk itu, teman saya pun membuat model pencatatan berlapis. Hasil pencatatan seorang petugas akan diverifikasi keesokan harinya oleh petugas yang lain. Dengan begitu, penyelewengan dapat diminimalisasi. Walau demikian, teman saya termasuk orang yang tidak tegaan. Pernah seorang anak buahnya kedapatan menerima suap dari pelanggan, dan sesuai aturan harus dipecat. Tetapi teman saya berupaya keras untuk mengumpulkan semua bukti, termasuk pembelaan dari si tersangka sebelum melakukan pemecatan. Ketika sekretarisnya mengkritiknya karena membuang-buang waktu saja, teman saja mengatakan, ”Aku harus mempertimbangkan kepentingan orang-orang di belakang si tersangka. Aku tidak mau gegabah memutus rejeki istri dan anak-anaknya.”

Bila urusan internal beres, urusan yang yang sesungguhnya sudah menunggu. Mengutip Syahril Japarin, pencurian air dan perusakan meteran dilakukan secara terorganisir (KOMPAS: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/11/01044919/pencurian.air.terorganisasi). Menghadapi kejahatan terorganisir tentu saja tidak mudah. Ancaman fisik dan kekerasan selalu membayangi. Inipun dialami oleh Mas B dan anak buahnya. Mulai dari teror lisan, premanisme, pengeroyokan, sabotase, dan lainnya. Yang lebih menyakitkan, menurut teman saya, adalah teror yang dilakukan oleh oknum-oknum orang dalam, yang merasa terancam sumber rejeki sampingannya. Mereka tak segan-segan melakukan fitnah terhadap perusahaan teman saya. Dengan hasil pekerjaan sebaik itupun, perusahaan teman saya tetap tidak disukai.

Menemukan meteran di rumah pelanggan juga bukan pekerjaan mudah. Diperlukan panjat pagar atau dikejar anjing untuk menemukannya. Atau ada pelanggan yang entah karena alasan apa menyembunyikan meteran di lubang yang sempit. Petugas pencatat pun harus memasukkan kepala ke lubang ukuran 30 x 30 cm itu untuk bisa melihat meteran. Belum lagi penyelewengan-penyelewenagan yang sudah lazim terjadi, misalnya pipa-pipa air yang disambung tidak melewati meteran.

Anda tahu berapa gaji para pencatat meter? Tidak seberapa untuk ukuran Jakarta. Kira-kira hanya 1,5 juta perbulan. Lebih kecil dari gaji sales rokok di kota Bandung. Anda ingin tahu gaji teman saya? Saya kutip saja pernyataan sekretarisnya, ”Gaji Mas B itu tidak cukup untuk membeli bensin mobilnya.” Aneh bukan. Tetapi dalam kehidupan ini, hal-hal aneh bukan mustahil terjadi.[]

1 komentar:

Theresia Ratih Sawitridjati mengatakan...

Sekarang sistem pencatatan listrik maupun air tidak lagi dilakukan dengan pencatatan manual, tetapi melalui teknologi digital, alias dipotret dan kemudian filenya tersimpan baik. Maka jika ada complain dari pelanggan mereka tinggal menunjukkan bukti otentik.
Tapi perjuangan memperoleh datanya tidak jauh berbeda, hanya saja sekarang jika pagar tidak mungkin dilalui, cukup memotret kondisi rumah.