17 Oktober 2012

Fur Elise di Ampera


Malam ini bintang-bintang menjamuku di Ampera.
Jangan biarkan lilin-lilin itu merebut cintamu, katanya.
Disuguhinya aku secangkir nira, disadap dari batang kenangan.
Sekian lama ingin kulupakan. Sekalipun aku tahu, lupa tak pernah kekal.

Dulu aku memilihmu disini.
Sehelai rumput kering hadiah dari angin.
Kulingkarkan pada jemarimu sebagai cincin.
Lalu kubisikkan permohonan itu, “Heningkan resahku dengan sunyimu”.
Tapi kau memilih pergi, mengejar keramaian.
Untukmu saja, ucapmu menyerahkan sekeping sepi. Dingin sekali.
Malam ini, seperti juga malam itu, aku masih saja suka menggigil.

Oh, dengarlah Fur Elise di Ampera.
Kubiarkan bintang-bintang cemburu pada pemusik tua.
Lusuh di sudut itu, sepadan organ yang makin lapuk.
Tapi apalah artinya seruling bagi gembala yang lama berkarib dengan kebebasan.
Pemusik itu tahu nada-nada tak ditanak pada bilah plastik, tapi pada dadanya.
Seluas prairi dadanya. Atau bahkan dia tak pernah peduli.
Fur Elise itu pun mengalun berulangkali. Itu juga dia tak peduli.

Dengarlah Fur Elise di Ampera.
Tadi sebelum menguap sempat kutangkap kristalnya.
Lalu kubungkus pelan-pelan dengan selembar jiwa.
Oleh-oleh buat istriku yang mangu menunggu.
Seperti biasanya, sekedar membukakan pintu untukku.
Tanpa pernah bertanya, mengapa masih saja kusimpan kenanganku.

(Pancoran, subuh)

Tidak ada komentar: