24 Oktober 2012

Gunung Puntang


Fajar nyalang
singkap gaun

gunung perawan
Duhai, punggungnya menawan

Jalang matahari
dibakar birahi
usir kabut
lari menepi

Pancuran bambu
kembang dusun di balik rumpun
mandi suci berseri-seri
sisa kenangan mengukur malam

Decit pikulan di bahu legam
Lelaki pagi memikul harapan
dengan keranjang berlubang-lubang
sayang, kian jauh isinya berkurang

Bocah sekolah
riangnya renyah meruah
mencuri-curi takdir dengan kertas jerami
siapa tahu nasib mau berbagi

Duh sri gunung,
mestikah beradu untung
siapa uzur lebih dulu
apakah kau atau aku

(Banjaran, lereng Gunung Puntang)

Tidak ada komentar: