24 Oktober 2012

Kesederhanaan adalah Kekuatan


“Islam itu jangan berbohong”, kata Rasulullah Muhamad, SAW.

Saya tidak ingin mengulas agama. Saya hanya mengutip seorang teman yang mengagumi cara Rasulullah menjawab pertanyaan. Kita tahu bahwa Rasul orang yang paling paham tentang Islam. Tetapi ketika seorang awam menanyakannya, beliau menjawab dengan cara sederhana. Jenius, efektif.

Di kantor tempat kita bekerja pasti ada bos, manajer, teman sejawat, atau malah anda sendiri yang dianggap oleh orang sekitar sebagai si cerdas. Mereka bak kilat menangkap persoalan, menguraikannya, lalu menawarkan solusi. Apakah mereka memiliki IQ berlebihan? Mungkin ya, tetapi menurut saya tidak selalu. Mereka hanya jago menemukan yang saya sebut “DNA persoalan”. Atau, sederhanakan saja dengan istilah “pola”. Perhatikan kata “hanya” atau “sederhana” yang banyak saya pakai. Itu jimat terbaru di dompet saya :).

Ilustrasinya begini. Ketika si cerdas berpapasan dengan persoalan, secara refleks muncul siluet-siluet full colour dari kanan dan kiri kepalanya. Mirip klip video. Melayang-layang. Datangnya bak malaikat. Yang kiri bilang, “Itu sih seperti kasus yang dulu itu”. Yang kanan bilang, “Itu pas dengan yang kemarin kubayangkan”. Eh, masih ada yang datang dari atas kepala, “Itu sesuai dengan teori x di buku y”. Begitulah, eureka, solusipun terkonstruksi di atas meja seperti pasta lasagna.

DNA, seperti anda tahu, terdiri dari rumus sederhana, kombinasi A-C-G-T. Seperti permainan. Tetapi siapa sangka, senyum anda yang mengetarkan jantung saya itu semata-mata tersusun dari rumus itu (kalimat ini khusus bagi anda yang perempuan lho). Rumus ringkas itu menyusun pola yang ringkas. Namun manakala pola-pola ringkas itu saling berinteraksi, terbentuklah realitas yang kompleks. Yang mengklaim seperti itu banyak: harmoni angka-angka ala Phitagoras); geometri fraktal Mandelbrot; atau Teori Kompleksitas.

Dulu – akhir tahun 80-an – para ekonom, komputeriawan, matematikawan, berkumpul. Mereka ingin membangun teori akbar yang bisa menjelaskan segala hal. Benar-benar segala hal. Mereka menyebutnya teori kompleksitas. Idenya begini. Realitas yang kompleks sesungguhnya tersusun dari bagian-bagian yang sederhana. Setiap bagian itu berinteraksi dengan pola yang sederhana. Ajaibnya, pola itu mengikuti aturan atau rumus yang juga sederhana. Mereka menyebut pola-pola itu sebagai building blocks.

Ringkasnya, kecerdasan anda berbanding lurus dengan kemampuan anda mengelaborasi pola. Nah, anehnya, seorang teman saya yang ahli yoga justru bilang bahwa kepiawaian kita menangkapi pola itu akan meningkat pesat ketika pikiran kita “diam”. Atau ketika pikiran kita tidak menentang realitas dengan persepsi-persepsi. Mencerap saja. Persis seperti ketika anda menonton film The Reader, anda benar-benar membiarkan kesadaran anda tercekat oleh Kate Winslet. Masih kata teman saya, saat membiarkan itulah sub-kesadaran anda justru sedang berproses memasok gudang pola. Lalu ketika suatu saat anda membutuhkannya, klik, tanpa diminta gudang itu mensuplai anda dengan “klip-klip video” seperti yang saya ceritakan di awal. Anda akan disebut si cerdas, dan melegenda sebagai manajer yang handal. Boleh percaya, boleh juga tidak.[]

Tidak ada komentar: