24 Oktober 2012

Makan Tuh Syair


Judul ini seharusnya diakhiri dengan tanda smiling. Sebab, saya tidak bermaksud melecehkan penyair, justru mengaguminya. Khususnya penyair teman saya.

Badannya tinggi tegap. Rambut panjang ikal. Mirip penyanyi-penyanyi reggae Jamaica. Dia tinggal di rumah kos bersama teman-temannya, di pojok Jakarta. Teman saya menyebut tempat tinggalnya sebagai gubuk penyair. Kata teman saya, "Seandainya ini Amerika, tak masalah aku tinggal di kardus." Dia terinspirasi oleh film berjudul Basquiat, yang mengkisahkan kehidupan seniman nyentrik Jean Michel Basquiat. Dalam film itu, Basquiat memang tinggal di kardus.

Teman saya itu bawaannya pemurung. Dia memandang kehidupan sekitarnya dengan kaca mata kelam. Entah karena sebab itu, dia menjadi peka terhadap ketimpangan di sekitarnya. Dia sering menolong orang, tetangga atau teman-temannya, dengan cara apa saja. Bahkan kadang memalukan untuk ukuran umum. Kata teman saya, "Kenapa harus lebih malu kepada manusia ketimbang kepada Tuhan?"

Sebagai penyair, pikirannya tajam. Diksinya kaya. Tetapi kadang sarkastik. Dengan penanya, dia bisa mengubah hal sepele menjadi heboh. Apalagi bila bertutur tentang cinta (favorit semua penyair), kata-katanya magis menghanyutkan. Membawa pendengarnya mengawang-awang di langit mimpi.

Kepekaannya itulah yang membawanya menjadi sukarelawan di tanah rencong, beberapa tahun yang lalu, ketika Aceh ditimpa musibah. Dia berangkat dari Jakarta bersama sukarelawan lain. Diantara rombongan itu terdapat seorang perempuan muda. Manis parasnya. Ramah sikapnya. Sebut saja Nona.

Berbulan-bulan mereka berdua bekerjasama. Dari memungut mayat, hingga memasak di dapur umum. Kebersamaan itu membuat mereka akrab. Dari mata mengalir ke rasa, begitulah kira-kira situasi mereka. Ringkasnya, mereka dilanda cinlok, cinta lokasi. Tentu ini juga diakibatkan oleh kepiawaian teman saya mengolah kata, mengatur tutur. Tanah bencana digubahnya serasa surga. Kata teman saya, "Kami dilambungkan oleh keadaan. Situasi tempat itu sangat emosional." Tapi itu hanya kilahnya. Bagi seorang penyair, cinta bisa ditumbuhkan di mana saja, bahkan kapan saja. Ketika masa kesukarelawanannya berakhir, mereka berdua pun pulang bersama. Duduk bersisian di pesawat yang sama. Bak Mimi dan Mintuna, meminjam istilah orang Jawa.

Seminggu semenjak kepulanngannya, cinta teman saya rupanya tidak surut. Dikumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan hasrat jiwa. Kata teman saya kepada si Nona, "Non, bila sudah waktunya kau mempertimbangkan seseorang menjadi pendamping hidupmu, tolong aku dipertimbangkan juga." Rasanya, itulah kata-kata maksimal yang bisa dia ungkapkan. Lebih dari itu, lidahnya kelu. Ini memang tidak biasanya.

Rupanya atmosfir Jakarta tak sama dengan udara Aceh. Nona merevisi perasaannya. Dalam SMS-nya, Nona menulis pendek, "Kita berteman saja." Persis seperti lagu pop.

Teman saya pun patah sayapnya. Katanya, "Ketika sudah menyangkut kenyamanan, perempuan bisa menjadi sangat rasional. Ketimbang tinggal di gubuk penyair, dia lebih memilih rumahnya di Pondok Indah." Oh malangnya. Tapi bukannya menghibur, teman-teman sekosnya malah meledek, "Makan tuh syair".[]

Tidak ada komentar: