24 Oktober 2012

Mencermati Facebook: Kita Ini Tuyul

Menanggapi komentar seorang teman maya: eksistensi seperti apakah sebenarnya kita di Facebook?
 
Seperti halnya ranah lain, wilayah teknososial juga memiliki 'dewa-dewa' pemikirnya sendiri. Mereka diberi julukan keren: teknoevangelis, plesetan dari kata evangelis -- penginjil. Atau digerati, kependekan dari digital literati -- nujum dunia digital. Atau teknomisionaris, padu-padan dari kata teknologi dan misionaris. Tokohnya antara lain Michael Benedikt, John Perry Barlow, Nicholas Negroponte, Robert Coover, dan lainnya. Mereka berbicara di forum-forum bergengsi. Atau menulis di jurnal-jurnal. Tengok saja wired.com. Wacana diskursusnya pun tak kurang heboh. Bisa jadi bikin geli. Misalnya, "Kesadaran manusia bisa didownload di cyberspace". Atau "Cyberspace, esensialisme, dan ruh sejati." Atau "Cyberspace, keterhubungan dalam sarang lebah, komunitas baru yang membebaskan."

Tetapi anda salah bila mengira para digerati inilah biangnya tren. Para pemikir pandai itu, seperti biasanya, bukanlah pencipta fenomena. Mereka sekedar pewacana. Tren setter yang sebenarnya adalah para pebisnis yang bercokol di lembah Silikon atau di kota Seattle. Sebut saja Gordon Moore (pendiri Intel, pencetus Hukum Moore), Bill Gates (Microsoft), Steve Job (Apple), Jeff Bezos (Amazon.com), Eric Schmidt dan Larry Page (Google), Robert Greifeld (Nasdaq, yang memungkinkan kita beli saham dari kamar tidur sambil leyeh-leyeh). Tak lupa pula Mark Zuckerberg, si pendiri Facebook yang muda dan mendadak kaya. Mereka ini menciptakan piranti-piranti baru yang sontak menjadi gaya hidup, sekaligus mendunia.

Tetapi anda masih keliru bila beranggapan para pebisnis itulah penggerak utamanya. Pebisnis hanyalah operator lapangan. Penggeraknya adalah para investor yang namanya wira-wiri di Wallstreet. Bisa jadi dia seorang Syekh Arab yang bohir. Atau Taipan Hongkong yang superkaya. Tak terkecuali, juga bank-bank nasional kita yang markir uangnya di pasar modal demi mendapatkan capital gain. Dan andapun sudah bisa menebak sari dari semua hiruk-pikuk ini: uang (money).

Pertanyaan terpenting: lalu siapakah kita, para pengguna Facebook? Jangan marah ya, kita ini adalah tuyul. Ya, makhluk halus yang tugasnya mengambil uang buat si pemeliharanya. Kita ditugasi sebuah misi rahasia, bahkan bisa jadi tidak kita sadari. Misi ini dinamakan monetizing. Menguangkan apa saja. Agar kita mau melakukan misi ini, maka kita pun diberi makan dupa. Bentuknya macam-macam. Ada yang berupa piranti narsisme, yang memungkinkan kita memajang foto diri yang tercantik atau tertampan. Lengkap dengan setelan jas, beskap, dan peci baru. Bisa juga mobil atau foto wisuda. Atau sekedar hasil rebounding salon sebelah rumah. Si dupa bisa pula berupa sense of conectivity. Anda pun giat menambah teman baru yang tidak sepenuhnya anda kenal. Atau sense of meaning -- misal anda menyatakan ingin mencapai kondisi fana ala para sufi di ruang cyber. Atau sense of speed. Seperti jargon iklan, "Dunia ada di ujung jari".

Agar tuyul bisa cepat takhluk dan penurut, para pebisnis dan investor pun punya mantra yang namanya value. Sebagaimana mantra pada umumnya, value pun digumamkan dimana-mana. Di seminar, di TV. Semakin dahsyat redaksi mantra, semakin efektif menghipnotis sang tuyul. Karena kita yang dimantrai value itu, maka kitapun digelari sebagai si valued something. Bisa valued member, valued partner, valued user. Last but not least, valued market.

Ini penting kita catat: para pemelihara tuyul tidak pernah peduli pada aktivitas si tuyul, kecuali dalam hal monetizing tadi. Mereka tidak peduli kita mengutip Quran, Lacan, atau Fromm. Sama tak pedulinya kalau kita hanya sekedar menampilkan lirik lagu Rihanna atau BCL. It does't matter at all.

Lalu bagaimana bila kita dengan gagah berani menolak menjadi tuyul? Tentu saja anda jadi elienated ghost. Hantu yang terasing di kuburan yang sepi. Persis seperti tokoh pahlawan malang dalam Johnny Got His Gun, karya Dalton Trumbo. Teramputasi tangan dan kaki, tuli, buta, dan bisu. Tetapi para digerati memang tak akan menyebut kita demikian. Mereka menyebut kita dengan istilah canggih, yakni si malang yang mengalami information gap. Atau digital divide.

Anda mungkin menolak pendapat saya. Anda merasa tidak pernah dimintai uang atau memberi uang kepada Mark Zuckerberg. Oh, itu karena beberapa sebab. Pertama, anda kebal mantra. Anda memiliki resistensi terhadap iklan. Bisa jadi karena anda memiliki nilai-nilai yang lebih kokoh sebelumnya. Atau mungkin karena mantra itu memang belum sampai kepada anda. Si pembaca mantra memang belum buru-buru menyemburkan mantranya kepada anda. Tapi itu tak akan lama. Resistensi itu tak lama lagi hancur, dan kita semua menjadi tuyul.

Nah, apakah anda percaya cerita saya di atas? Syukurlah kalau enggak. Saya pun lagi cari-cari peran agar tidak jadi tuyul.[]

1 komentar:

Werner Ebner mengatakan...


Hi there to all, it's truly a fastidious for me to visit this website, it includes useful Information. netflix member login