24 Oktober 2012

Mencermati Facebook: Semangat Komunitarian Meme Hijau?


Warna pirus atau hijau Turki (turquoise),
salah satu simbol kesadaran integral
"Menjengkelkan sekali orang yang seleranya norak, lebih tertarik pada diri sendiri dibanding kepadaku." (Ambrose Bierce)
Konon manusia adalah makhluk individu juga sosial. Berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Tetapi juga sangat butuh pertemanan. Tarik-menarik orientasi kepentingan ini membuat kesadaran manusia berkembang ke dalam berbagai mode. Sewaktu bayi, kita hanya tahu kata "aku". Kehadiran orang lain dipahami semata-mata untuk memenuhi kebutuhan si "aku". Bertambah umur, si "aku" pun mulai paham arti kehadiran orang lain. Lalu "aku" berinteraksi dengan "kau". Bersamaan itu, "aku" dan "kau" juga menyadari kehadiran lingkungan interaksi, yang dipanggilnya "dia". Bila kesadaran tidak berhenti berkembang, "aku", "kau", dan "dia" bisa terintegrasi menjadi "kita". Psikologi perkembangan menyebutnya sebagai perkembangan egosentrisme menuju sosiosentrisme. Tapi tentu saja paragraf ini hanya simplifikasinya saja.

Don Beck dan Christopher Cowan membuat model perkembangan kesadaran yang dia sebut model spiral dinamik -- yang kemudian diadopsi oleh Ken Wilber. Simbol-simbolnya menarik, yakni warna. Maklumlah, Beck dan Cowan adalah aktivis anti aparheid. Mereka sensitif terhadap diskriminasi warna kulit. Pembedaan manusia berdasarkan warna kesadaran (atau disebut dengan istilah "meme") jauh lebih baik dibanding pembedaan berdasarkan warna kulit. Warna kesadaran selalu berkembang. Sedangkan warna kulit hanyalah tempelan ragawi yang permanen. Saya lebih suka menyebut meme ini sebagai mode kesadaran, bukan tingkat kesadaran. Karena seperti dikatakan oleh Beck, Cowan, apalagi Wilber, kesadaran manusia tidak bersifat hirarkhis linier, atau bertingkat-tingkat seperti anak tangga. Melainkan tumpang tindih seperti mosaik. Cair, fleksibel, naik turun seperti gelombang. Mode-mode kesadaran ini adalah abstraksi dari akumulasi respon manusia terhadap situasi (atau permasalahan) yang dihadapinya, baik dalam konteks ruang, waktu, maupun sejarah.

Walaupun begitu, baik Beck, Cowan, dan Wilber tidak menafikan sama sekali hirarkhi. Gelombang-gelombang kesadaran itu pun mereka kelompokkan ke dalam dua tahap. Tahap pertama mereka sebut tahap subsisten, yang terdiri dari enam (6) warna gelombang. Meme termutakhir dari tahap ini adalah hijau. Tahap kedua mereka sebut sebagai tahap integral, yang terdiri dari dua (2) warna kesadaran. Saya menduga mengapa tahap pertama dinamakan subsisten, karena masing-masing gelombang masih saling bersaing, yang satu berusaha menyingkirkan yang lain atau setidak-tidaknya memandang rendah yang lain. Inilah narsisme kolektif, yang oleh Wilber disebut sebagai penyakit boomeritis (penyakit yang menghinggapi generasi baby boomer, generasi kita juga). Sedangkan tahap kedua justru berupaya merangkul keseluruhan tingkat kesadaran. Perlu saya tekankan bahwa model spiral dinamik ini telah melalui survei empiris yang melibatkan 50.000 orang di seluruh dunia. Jadi tidak melulu konseptual.

Bang Armahedi menyebut Facebook (dan mungkin juga jejaring sosial lainnya) sebagai fenomena meme hijau. Sebelum kita menyetujui atau menolak pendapat Bang AM, saya kutipkan dulu ciri-ciri kesadaran meme hijau. Meme hijau adalah diri yang Peka. Komunitarian, persaudaraan, kepekaan ekologis, dan jejaring sosial. Ruh manusia harus dibebaskan dari keserakahan, dogma, dan pengelompokan-pengelompokan. Perasaan dan kepedulian menggantikan rasionalitas yang dingin. Mencintai alam, Gaia, dan kehidupan. Menentang hirarkhi. Membangun ikatan yang setara. Diri yang cair, diri yang menyukai hubungan dengan orang lain, kelompok yang saling terikat. Menekankan pada dialog, keterkaitan. Dasar dari nilai-nilai komunitas (misalnya, secara bebas memilih membangun ikatan berdasarkan persamaan sentimen). Mencapai keputusan dengan cara rekonsiliasi dan konsensus (sisi buruknya, “proses” konsensus itu bisa jadi tidak pernah selesai karena ketidakmampuan mengambil keputusan). Spiritualitas baru, harmoni, dan pengkayaan potensi manusia. Egalitarian, anti hirarkhi, nilai-nilai pluralistik, konstruksi sosial tentang realitas, keragaman, multikulturalisme, sistem nilai relativistik. Subyektif, pemikiran non-linier. Kehangatan hubungan manusia yang lebih tinggi, kepekaan, kepedulian terhadap bumi dan penghuninya. Populasinya kira-kira 10% penduduk dunia.

Sebagai pembanding, saya kutipkan ciri-ciri mode kesadaran sebelumnya, yakni meme oranye. Meme ini disebut kesadaran ilmiah. Mencari kebenaran dan makna secara ilmiah individualistik – hipotetik-deduktif, eksperimental, obyektif, mekanistik, dan operasional. Dunia adalah mesin rasional yang mematuhi hukum alam yang dapat dipelajari dan dimanipulasi untuk tujuan kita sendiri. Kaum oranye memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan diri, khususnya dalam meraih kejayaan materi. Hukum-hukum ilmiah dalam politik, ekonomi, dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan. Dunia adalah papan catur: pemain yang menang akan meraih kemuliaan dan yang kalah akan terabaikan. Aliansi pasar. Memanipulasi sumber daya alam untuk meraih capaian strategis tertentu. Menjadi dasar bagi negara korporasi. Materialisme. Humanisme sekuler. Paham-paham liberal. Kira-kira mencapai 30 persen populasi.

Satu pembanding lagi adalah meme biru. Meme ini meyakini keteraturan Mitologis. Hidup memiliki arti, arah, dan tujuan, yang capaiannya di tentukan oleh suatu kekuatan Lain yang maha perkasa (Other) ataupun oleh Keteraturan mutlak (Order). Sang Keteraturan akan mengundang-undangkan hukum absolut dan tidak terbantah tentang “yang benar” dan “yang salah”. Melanggar hukum-hukum ini akan menderita. Mentaati hukum akan mendapatkan ganjaran atas kesetiaanya. Basis dari negara-negara kuno. Hirarkhi sosial yang kaku. Paternalistik. Hanya ada satu jalan yang benar, dan hanya dengan jalan itulah kita berpikir tentang segala sesuatu. Hukum dan ketertiban. Kontrol impulsif melalui perasaan bersalah atau dosa. Kepercayaan fundamentalis dan hukum-hukum tertulis yang jelas. Kepatuhan terhadap Keteraturan. Seorang konvensional dan konformis yang keras. Sering berbentuk agama atau mitos (dalam konteks mitos ini, Graves dan Beck menyebutnya sebagai tingkat “kesantoan/absolutis”). Tapi dapat juga berbentuk misi atau keteraturan sekuler dan atheis. Ditemukan dalam paham puritan Amerika, Konfusius China, Dickensian orang Inggris, disiplin masyarakat Singapura, totaliterianime, aturan dan kehormatan kavaleri, perilaku kedermawanan, fundamentalisme agama (baik Islam, Kristen, dan lain-lain), pramuka, patriotisme. Populasinya mencapai 40%.

Apakah Facebook dan jejaring sosial lainnya adalah fenomena meme hijau? Dari sisi utilitas, Facebook saya kira memang piranti yang dapat mengantarkan kepada gelombang kesadaran hijau. Bahkan lebih dari itu, karena kecanggihannya dan sifat pervasifnya, Facebook bisa menjadi wahana ke arah gelombang-gelombang integral yang lebih tinggi. Tetapi apakah saat ini para pengguna Facebook dan jejaring sosial lainnya memang benar-benar mencerminkan kesadaran gelombang hijau? Ataukah menurut Bang Armahedi, Facebook memiliki sifat-sifat inheren (semacam paradigma) yang bisa mengantarkan penggunanya kepada kesadaran hijau? Ataukah Facebook justru menjadi tempat mengentalnya gelombang-gelombang kesadaran yang lain, misalnya oranye si ilmiah dan si biru yang absolutis? Saya belum berani menjawabnya.[]

Tidak ada komentar: