24 Oktober 2012

Mengapa Manajer Dibayar Mahal


Tengah malam tadi saya mengambil keputusan berbahaya: membiarkan pasukan tanpa seorang jenderal. Dan seperti sudah diduga, eksperimen itu sukses gemilang: pasukan saya luluh lantak di medan perang dalam waktu singkat. Dan pesan di laptop saya adalah, “You are totally lost. Terminate the game or replay the mission?”

Dulu saya sering diusik oleh pertanyaan, pantaskah seorang manajer -- atau boleh diasosiasikan dengan pemimpin, jenderal perang, atau lainnya -- dibayar mahal padahal sepertinya mereka ‘tidak pernah’ bekerja? Lebih banyak haha hehe, rapat sana, meeting sini, menyuruh-nyuruh, atau bicara yang muluk-muluk. Anehnya lagi, bergaji jauh melebihi bawahannya.

Tetapi saya sudah lama percaya bahwa seorang manajer memang pantas dibayar mahal. Alasannya sederhana, mereka memiliki peran penting. Rasanya, tanpa pemimpin yang piawai, tujuan hampir mustahil tercapai. Dan saya juga percaya bahwa para pemimpin sesungguhnya bekerja lebih keras dari bawahannya. Bila sang bawahan sudah bisa bercerai dari pekerjaannya sejak jam lima sore, manajer justru membawa-bawa pekerjaannya hingga ke tempat tidur. Kalau tak pintar-pintar mengatur dirinya sendiri, niscaya sang manajer akan cepat berkarib dengan migren, hipertensi, atau tukak lambung.

Lalu apa peran manajer sehingga dia pantas dibayar mahal? Pertama – tentu saja sesuai definisinya – adalah mengorganisasi. Atau istilah gado-gadonya, “memanage”. Bayangkan anda memiliki pasukan infanteri yang garang, pemanah tangguh, kavaleri haus darah, dan masih ditambah artileri yang efektif. Tapi sayangnya, anda tidak memiliki jenderal perang. Apa yang akan terjadi? Infanteri anda akan sibuk membakari rumah penduduk padahal kavaleri musuh sedang memporak-porandakan pasukan pemanah anda. Atau kavaleri anda sibuk mengejar orang-orang sipil padahal pasukan infanteri anda sedang dibombardir oleh artileri musuh. Begitulah, “You are totally lost”. Tanpa kehadiran seorang manajer, bagian-bagian dari organisasi anda akan bekerja sendiri-sendiri, dan kemungkinan besar tidak sinergis. Atau malah salah sasaran.

Kedua, peran manajer berkaitan dengan penglihatan atau visi. Bagaikan elang, manajer mampu melihat horison yang lebih luas dan menyeluruh dibanding bawahannya. Jika anda tanyakan kepada seorang tukang tembok apa yang sedang dia kerjakan, anda akan mendapat jawaban, “Oh, saya sedang menembok dinding sebelah ini, dan sore ini harus selesai.” Jika anda tanyakan kepada seorang mandor hal yang sama, dia akan menjawab, “Hm, seminggu ini saya sedang mengejar penyelesaian lantai satu gedung ini .“ Tapi jawaban seorang manajer akan berbeda, “Anda harus percaya, gedung berlantai tiga puluh ini akan segera berdiri megah tiga bulan lagi. Inilah gedung termegah yang ada di kota ini.”

Ketiga, membuat peta. Istilah canggihnya “roadmap”. Organisasi bukanlah kapal Columbus yang masih menebak-nebak kemana akan berlayar. Organisasi selalu memiliki tujuan yang definitif. Manajer yang baik seharusnya sudah menggenggam peta di tangannya, lautan mana saja yang harus diseberangi agar tujuan tercapai.

Keempat, menentukan prioritas. Saya kutip ala kadarnya pernyataan Stephen Covey, “Kegagalan bukan karena seseorang tidak disiplin, tapi karena ketidakmampuan menentukan prioritas”. Bagaimana jadinya bila atap gedung belum selesai tetapi sang manajer justru memerintahkan memasangi wallpaper? Pegangi perut anda, dan silakan tertawa sepuasnya.

Kelima, mengambil keputusan strategis. Benar bahwa tukang tembok, mandor, atau manajer pasti setiap saat melakukan pengambilan keputusan (pakai istilah keren, “decision making”). Tapi bedanya, keputusan yang diambil seorang manajer berdampak lebih besar dan berjangka panjang. Haram hukumnya seorang manajer bilang begini, “Ah, aku juga bingung nih. Enaknya gimana, ya?” Manajer model begini sebaiknya ke laut aja.

Keenam, membuat terobosan dikala situasi mandeg (pakai istilah canggih lagi, “breakthrough”). Misalnya, jika pemasok pasir tiba-tiba menghentikan pasokan, dan tukang tembok tidak bisa lagi meneruskan pekerjaannya karena tidak ada lagi bahan, juga si mandor sudah bingung tak tahu harus bagaimana, maka disinilah sang manajer seyogianya terpanggil. Manajer tidak boleh bilang begini, “Ya sudahlah, kita serahkan semua pada takdir.” Dan jika manajer bersikap begitu, maka sudah pasti takdirnya adalah: kegagalan!

Ketujuh, menciptakan lingkungan kerja yang baik (lagi-lagi pakai istilah keren, “environment”). Organisasi bukanlah seperti pasukan The Dart Vader di film Star Wars yang sebagian besar terdiri dari robot. Sebaliknya, organisasi terdiri dari manusia dengan berbagai permasalahan kemanusiaannya. Bacalah novel Taiko, dan Anda akan menemukan sosok manajer yang hebat, yang tidak hanya menyediakan lingkungan kerja yang nyaman, tetapi juga pasokan semangat yang penuh inspiratif bagi bawahannya.

Peran kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan seterusnya, silakan anda definisikan sendiri. Jangan terlalu banyak, kasihan nanti para manajer.

Jadi? Jangan iri terhadap gaji manajer. Karena sebagian gajinya sudah dialokasikan untuk membayar dokter atau menebus obat di apotik. Percayalah :)[]

Tidak ada komentar: