24 Oktober 2012

Passion dan Compassion


Dulu, jauh sebelum kita ada disini
ruh berikrar pada tubuh
"Kau adalah kendaraanku
Antarkan aku pada keabadian"



Sewaktu mahasiswa, saya mengenal dua orang teman yang sama sekali tidak tertarik pada gambar atau video porno. Sama sekali! Makanya kami menyebut keduanya dengan istilah "steril". Keduanya memiliki alasan yang berbeda. Alasan teman saya yang pertama adalah agama. Gambar atau video seperti itu bertentangan dengan aturan agama. Alasan teman yang kedua adalah martabat manusia. Gambar atau video semacam itu merendahkan martabat manusia. Sampai sekarang, kedua teman saya itu tetap konsisten pada pendiriannya.

Senada dengan itu adalah penggunaan kata "cinta". Sebagian teman merasa risih menggunakan kata itu untuk mengungkapkan hasrat yang tinggi terhadap sesuatu atau seseorang. Alasannya, kata itu sudah terlanjur murahan. Terlalu masif dipakai oleh lagu-lagu pop. Tentu saja kata "cinta" dalam lagu-lagu itu tidak akan menjadi mantra ajaib jika tidak dipadukan dengan kata lain yang berkonotasi tinggi, luhur, dan agung. Seperti kata "sejati", "tulus", "rela", "pengorbanan", dan lainnya. Alhasil, perpaduan kata-kata itu menjadi frasa yang sangat eksotik, digemari, dan mengharu-biru. Misalnya frasa "cinta sejatiku", "ketulusan cintaku", "pengorbanan cinta", dan lainnya.

Tapi kita juga maklum bahwa frasa-frasa eksotik dalam lagu-lagu pop itu sesungguhnya memiliki sasaran puncak (ultimate objectives) yang sudah pasti, yakni kesenangan tubuh. Ketika seorang penyanyi pop meneriakkan "cintamu membunuhku", sangat kecil kemungkinannya anda akan membayangkan tentang cinta seorang ibu yang sedang bergelut dengan maut karena mengorbankan salah satu ginjalnya untuk mengganti ginjal anaknya yang rusak. Jauh lebih besar kemungkinannya anda membayangkan, "Seandainya aku tak segera menikmati tubuhmu, wahai lelakiku (atau perempuanku), maka aku tak kan bisa tidur. Demam, panas-dingin, tak nafsu makan. Dan itu akan membunuhku". Juga, ketika seorang penyayi meneriakkan frasa "kukorbankan jiwa raga demi cintaku" -- di sebuah panggung sembari berpakaian minim yang memamerkan pesona tubuhnya, kecil kemungkinan anda akan membayangkan tentang cinta seorang pejuang kemerdekaan yang sedang mandi darah karena jantungnya tertembus peluru demi membela ibu pertiwi. Lebih besar kemungkinannya anda membayangkan, "Seandainya aku bisa memiliki tubuhmu, maka aku akan melakukan segalanya. Menjadi kacungmu: menjemputmu, membawakan belanjaanmu, membersihkan toiletmu, pokoknya apa sajalah." Tujuan cinta seperti ini adalah kesenangan tubuh, tentu untuk kesenangan diri sendiri.

Tetapi, ada pemaknaan cinta yang sama sekali berbeda. Misalnya cinta murni seorang ibu pada anaknya. Atau cinta para nabi pada umatnya. Atau cinta pejuang pada tanah airnya. Ungkapan paling ekspresif tentang cinta semacam ini adalah seperti yang diungkapkan oleh para sufi. Syair-syair yang diciptakannya tak kalah mengharu-biru dibandingkan syair lagu-lagu pop, tetapi sama sekali tidak berkaitan pencarian kesenangan tubuh. Ketika anda membaca syair sufi seperti "cinta tak bisa kau cari//cinta akan datang sendiri//kau hanya perlu mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya", atau ungkapan Rabiah "cukuplah bagiku cinta-Mu", dapat saya pastikan bahwa anda tidak akan membayangkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan ragawi. Bahkan, dalam kacamata lahiriah, cinta semacam ini seringkali berdampak penderitaan bagi pelakunya -- saya sebut lahiriah, karena secara batin belum tentu sang pelaku merasa menderita. Seperti dikisahkan oleh teman saya dalam catatannya di Facebook, tentang seseorang bernama Bang Rei yang memperjuangkan hak-hak buruh di bekas kantornya. Bukannya kesenangan yang akhirnya dia peroleh, melainkan penderitaan. Seperti kehilangan pekerjaan, dimusuhi, bahkan dimejahijaukan. Pun penghargaan terhadap jerih payahnya dari orang-orang yang pernah ditolongnya nyaris tidak ada, kecuali ucapan terima kasih ala kadarnya. Penderitaan paling sering yang akan kita alami akibat cinta seperti ini adalah kesepian. Kita akan merasa hidup sendirian, karena kita mengambil jalan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Seperti bunyi syair seorang sufi, "yang kutempuh adalah jalan sunyi". Anehnya, cinta semacam ini justru memberikan manfaat lebih besar kepada orang-orang sekitar, dampak "kesenangannya" justru dirasakan oleh orang banyak.

Bahasa Inggris mengenal dua kata yang bisa mewakili pemaknaan cinta yang berbeda di atas. Yakni passion dan compassion. Passion adalah hasrat -- sesuatu yang lebih menggebu dibanding yang selazimnya -- terhadap sesuatu atau seseorang demi kesenangan diri sendiri. Istilah ini sering dikaitkan dengan seksualitas. Passion bersifat temporal dan lokal. Jika anda mencintai suami atau istri anda karena parasnya, maka cinta anda hanya akan bertahan tiga sampai lima tahun. Sebab, suami atau istri anda akan menjadi tua, kalah pesonanya dengan brondong atau daun muda. Dampak passionate love ini juga hanya dinikmati oleh anda sendiri. Berbeda dengan itu adalah compassionate love, yang lebih bersifat abadi dan universal. Cinta ini didorong oleh sesuatu yang lebih abstrak, lebih subtil, misalnya nilai-nilai, prinsip, hati nurani, doktrin, atau iman. Cinta jenis ini lebih langgeng karena obyek yang anda cintai tidak bersifat fisik. Cinta anda kepada anak-anak anda tidak akan hilang gara-gara anak anda semakin tua, karena anda bukan mencintai fisiknya.

Apakah keduanya bertentangan? Apakah passionate love tidak diperlukan? Keduanya tidak bertentangan. Passion juga sangat diperlukan. Saya menganggapnya sebagai companion. Ruh membutuhkan raga. Untuk mencapai tujuan, diperlukan kendaraan. Masing-masing membutuhkan makan. Ruh membutuhkan cinta yang abadi dan universal, sedangkan raga membutuhkan cinta temporal dan lokal. Tanpa passion, raga kita akan kelaparan. Seperti balon yang tidak berkembang tanpa diisi udara. Kita membutuhkan makan, minum, aktivitas seksual, dan kesenangan lainnya. Pasionate love adalah makanan bagi raga. Saya menganggapnya itu sebagai takdir.

Permasalahannya adalah, cinta yang temporal harus dikendalikan oleh nilai-nilai bahkan aturan, karena cinta jenis ini berpotensi mengaburkan kita dari cinta yang abadi dan universal. Kendaraan yang kita tumpangi berpotensi membuat kita melupakan tujuan. Seorang ustadz membuat gambaran yang sangat menarik tentang hal ini. Andaikan saja anda bepergian ke suatu tempat. Untuk mencapainya anda disediakan kendaraan. Ketika anda memasuki kendaraan, anda diperbolehkan menikmati kenyamanannya: interiornya, AC-nya, musiknya, panoramanya. Lalu terjadilah dua kemungkinan: (1) anda tidak lalai dan tetap memanfaatkan kendaraan itu untuk mengantarkan anda ke tujuan; atau (2) anda berputar-putar kemana-mana supaya bisa menikmati kenyamanaan kendaraan itu lebih lama, dan akhirnya anda malah lupa pada tempat tujuan anda.

Aktivitas seksual, sebagai salah satu bentuk passionate love, hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami-istri, atau dua orang yang terikat dalam ikrar pernikahan. Ini adalah pembatasan (baca: pengendalian) yang dilakukan oleh agama. Dari sisi hukum, pembatasan seperti ini bertujuan untuk menertibkan kehidupan manusia -- tidak peduli kita merasa suka atau tidak, nyaman atau tidak, dengan pembatasan itu. Namun dari sisi filosofinya, pembatasan ini adalah upaya mengendalikan agar cinta kita yang temporal tidak mengalihkan kita dari cinta yang abadi dan universal. Agar kendaraan yang kita tumpangi dapat mengantarkan kita pada tujuan, yakni mengelola kehidupan sesuai kehendak Tuhan.[]

Tidak ada komentar: