24 Oktober 2012

Yang Plin-plan dan Yang Tak Bisa Plin-plan


Mengapa manusia butuh komputer? Sederhana saja, karena manusia plin-plan, sedangkan komputer tak bisa plin-plan. Kalau dalam istilah komputer: bahasa manusia itu ambigu, bahasa komputer tidak. Pernyataan A bagi manusia bisa berarti A atau mirip-mirip dengan A, atau malah B. Sedangkan bagi komputer, A adalah A, dan sama sekali bukan B.

Nggak percaya? Begini contohnya. Suatu hari seorang mantan pejabat BUMN memanggil dua manajer investasi yang mengelola portofolio miliknya. Kepada keduanya, sang pejabat bilang, “Kalian jual deh semua milikku”. Kedua manajer bertanya, “Semua, Pak?” Sang pejabat menjawab tegas, “Ya, semua”. Lalu kedua manajer itu bergegas melaksanakan tugasnya. Tetapi tindakan keduanya berlainan. Manajer pertama tanpa keraguan menjual semua portofolio persis sesuai instruksi sang klien. Sedangkan manajer kedua dengan jantung dag-dig-dug hanya menjual portofolio yang jeblok. Yang masih bagus dipertahankan.

Apa yang terjadi seminggu kemudian? Kepada manajer pertama, sang mantan pejabat ngamuk-ngamuk, “Gila, kamu! Kenapa kau jual semuanya? Habis deh milikku. Mulai saat ini kau kupecat!” Kepada manajer kedua, sang pejabat tersenyum puas, “Kau memang Gila! Benar-benar hebat kerjamu. Ntar kutambah deh investasiku.” Nah, nasib keduanya berbeda, sekalipun mereka sama-sama berpredikat “gila”.

Tetapi jangan buru-buru berprasangka buruk pada “penyakit” manusia itu. Anda boleh tidak setuju pada pernyataan saya bahwa anugrah teragung dari Tuhan kepada manusia adalah ambiguitas. Dan itu tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kalau tak percaya silakan baca buku Edward de Bono, “Berpikir Lateral”. Gara-gara ambiguitas itu manusia mampu membuat inovasi, menciptakan perubahan, mengukir peradaban. Hal lainnya, manusia justru menggunakan ambiguitasnya untuk meraih pengetahuan tertinggi tentang kehidupan. Meraup apa yang kita sebut wisdom. Ini dinyatakan oleh Levy Strauss dengan istilah yang cantik, Saphienza Poetica atau kebijakan puitis. Manusia memahami dan menjelaskan kosmosnya dengan bahasa kiasan, metafora, atau simbol-simbol. Jelas, metafora dan simbol-simbol bersifat ambigu.

Kesimpulannya, ambiguitas membuat manusia tetap pintar sementara komputer masih saja bodoh.
(Saya jadi ingat tayangan di TV, ketika para anggota DPR diminta memilih A atau B, tetapi sebagian memilih “ATAU”, yang lainnya memilih “A sekaligus B”) :)

Ternyata pemahaman ini juga dimiliki oleh para petinggi perusahaan. Mereka memutuskan membangun aplikasi komputer untuk mengurus hal-hal yang “tidak terlalu” plin-plan. Tujuannya hanya satu, agar mereka dapat memfokuskan diri mengoptimalkan kemampuan plin-plannya. Aneh kan?

Hal-hal yang tak terlalu plin-plan itu misalnya record keeping atau perekaman data. Ini pekerjaan sederhana, atau bahkan pekerjaan “bodoh”. Makanya, pekerjakan ini hanya dilakukan oleh mesin atau pekerja-pekerja level bawah bergaji rendah. Lalu para petinggi itu mengerjakan hal-hal yang pintar, yang ambigu. Misalnya melakukan analisa data.

Dua kesalahan yang lazim dilakukan oleh para petinggi perusahaan adalah: (1) meyakini bahwa manusia itu bisa dibikin tidak plin-plan; dan (2)mengasumsikan komputer itu bisa plin-plan.

Untuk asumsi yang pertama, sang petinggi perusahaan misalnya bilang begini, “Kita edukasi saja para pegawai agar melakukan pendataan sesuai prosedur. Kita didik mereka agar mengisi data dengan benar.” Masalahnya, edukasi yang mereka lakukan itu hanya masuk ke telinga kanan. Sementara telinga kiri sibuk menerima telpon sang pacar. Akibatnya, ketika data seorang pelanggan tidak bisa direkam karena si pelanggan tidak punya NPWP, si pegawaipun tak kurang akal. Masukkan saja nomor telpon sang pacar ke kolom NPWP. Beres, kan?

Tentang asumsi yang kedua lebih konyol lagi. Misalnya, sesuai SOP, transaksi yang dicatat hari ini adalah transaksi hari ini juga. Bukan kemarin atau besok. Dan aplikasi itupun dirancang sesuai SOP itu. Tetapi tiba-tiba seorang manajer mengiba-iba pada staf IT, “Tolong dong, khusus transaksi yang ini jangan diberi tanggal hari ini, tetapi diberi tanggal mundur saja. Ini permintaan Big Boss euy. Tolong ya, please”. Staf IT pun menjawab ketus, “Ya, cobain aja Bapak ajak dinner tuh komputer. Kali aja hatinya luluh”.:)

Begitulah, kehidupan memang tidak sempurna. Satu sama lain saling membutuhkan. Yang plin-plan membutuhkan yang tak plin-plan.[]

Tidak ada komentar: