20 Januari 2012

Memperpanjang Horison Waktu

Gambar ini milik
National Geographics
.
Memperpanjang Horison Waktu

Anda harus menonton bagian akhir "Cavemen", film rekonstruksi-dokumenter bikinan BBC. Kira-kira 150.000 tahun yang lalu, sekelompok homo sapiens -- leluhur manusia modern yang tinggal di Afrika -- melakukan tindakan yang menyelamatkan mereka dari kepunahan akibat kekeringan yang ganas. Sederhana saja yang mereka lakukan, manusia perintis itu memiliki kebiasaan menyimpan air di cangkang-cangkang telor raksasa sebagai persediaan. Yang luar biasa adalah bahwa tindakan serupa itu tak pernah dilakukan oleh spesies-spesies lain sebelumnya. Ini sebuah gerakan moral baru, mempersiapkan masa depan. Alhasil, homo sapiens pun lestari hingga saat ini.

Dalam usia bumi "yang baru mencapai" jutaan tahun ini, berbagai spesies telah lahir dan musnah. Generasi demi generasi datang dan pergi. Sebagian besar kehancuran spesies-spesies bumi itu diakibatkan oleh ketidakmampuannya mengantisipasi perubahan. Neanderthal misalnya. Manusia purba ini hidup di sekitar pegunungan Portugal, pada jaman yang paling dekat dengan kita, 200.000 hingga 30.000 tahun yang lalu. Mereka hidup di era yang kita sebut jaman es, ketika wilayah kutub dan sub tropis mengalami pembekuan yang panjang. Neanderthal itu pun tak luput dari kemusnahan. Padahal mereka secara fisik sangat kuat, rahangnya besar, badannya kekar, jago berburu, bahkan mampu bertahan dalam suhu yang ekstra dingin. Prasyarat fisik untuk bisa lestari telah dimilikinya. Mereka musnah oleh ketidakmampuannya mengantisipasi perubahan: bagaimana jika es tiba-tiba mencair dan ekosistem tiba-tiba berubah? Mereka tak memiliki kemampuan moral layaknya homo sapiens, mempersiapkan masa depan.

Seorang teman melontarkan pernyataan yang membuat telinga saya memerah, "Bangsa kita tidak akan pernah bisa maju, progresif, kompetitif, dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia". Sebab, memang tidak ada alasan untuk itu. Kita hidup di tanah surga, dan mewarisi cara hidup "para penghuni surga". Kita memiliki -- mengutip Koes Plus -- bukan lagi lautan, tetapi kolam susu. Tongkat kayu ditancapkan menjadi perdu. (Ngomong-ngomong, syair sederhana ini ternyata jauh lebih cerdas dan intelektual dibanding kebanyakan syair-syair lagu pop lainnya). Kita tak mengenal tekanan alam yang ekstrim, seperti halnya kekeringan di Afrika atau pergantian musim yang merepotkan di Eropa. Kita bahkan tak perlu menyimpan air di cangkang telur karena air dan sumber makanan melimpah-ruah. Kita mengalami determinisme geo-sosial yang gampang kita tebak: merasa tidak perlu bersusah-payah mempersiapkan hari esok. Kita merasa tercukupi hari ini. Tak perlu mempersiapkan cadangan minyak, cadangan makanan, cadangan hutan, atau cadangan devisa. Tak ada yang perlu dicemaskan. Bahasa Inggris menyebutnya sebagai complacency, keterlenaan.

Cara berpikir seperti itu kita alami setiap hari. Kita sangat disibukkan oleh upaya untuk memenuhi kesenangan hari ini. Pemerintah dan para politisi sibuk mempertahankan kekuasaan yang hanya berusia lima tahun. Kita tak memiliki perencanaan yang rasional untuk sepuluh, dua puluh, apalagi lima puluh tahun ke depan. Kita tak mampu mencegah eksploitasi besar-besaran sumber daya alam -- bahkan air minum -- oleh penguasa modal. Kita tak mampu menjaga kelestarian hutan dari penjarahan orang-orang yang bahkan kehidupan sehari-harinya tidak bergantung pada hutan. Yang lebih tragis lagi adalah bahwa hasil jarahan sumber daya alam dan hutan kita justru dipakai oleh orang lain untuk mempersiapkan masa depan mereka sendiri. Kita tak melakukan seperti yang dilakukan homo sapiens leluhur kita di Afrika, mempersiapkan masa depan. (Baca notes Bang Armahedi Mahzar tentang betapa kita membiarkan kekayaan alam kita dijarah di http://www.facebook.com/profile.php?id=1300070985&v=app_2347471856#!/note.php?note_id=414277351800)

Mempersiapkan masa depan adalah upaya memperpanjang horison waktu. Memperpanjang orientasi hidup kita, bukan hanya senang dan nyaman hari ini, tetapi juga lestari di masa depan. Bukan lagi kebutuhan survival generasi masa kini, tetapi juga generasi selanjutnya. Kalau kita ingin punya penghasilan sendiri di masa tua, misalnya -- ketika kita sudah tidak bisa lagi bekerja, maka kita mempersiapkan jaminan pensiun. Anak-anak kita dibiasakan menabung agar kelak memiliki cadangan uang ketika suatu hari diperlukan. Uang pensiun dan menabung adalah contoh praktis sebuah upaya memperpanjang horison waktu.

Saya pernah mengutip nasihat seorang guru ngaji, bahwa tidak ada bangsa yang lestari bila tak memiliki tradisi puasa (http://www.facebook.com/profile.php?id=1300070985&v=app_2347471856#!/note.php?note_id=132428756432). Perhatikan dua kata yang dipakai oleh sang guru: puasa (pengendalian diri) dan lestari (memperpanjang horison waktu). Dulu saya memaknai puasa secara ritualistik-eksoteris saja, sebagai sebuah cara ibadah. Lebih seperti memaknai suatu festival. Tetapi guru itu mengajarkan kepada saya tentang makna yang lebih dalam dan konseptual: puasa adalah sebuah upaya memperpanjang horison waktu. Ketika kita berpuasa, kita diharuskan meminimalisasi tindakan apapun yang bersifat eksplotatif, tetapi pada saat yang sama kita diharuskan memberi sebanyak-banyaknya. Sang guru menyebutnya dengan istilah "cara kerja Tuhan". Salah satu sifat manusia yang sangat buruk bukanlah manusia tidak cepat paham atau bodoh. Tetapi bahwa manusia cepat sekali terlena. Lebih mudah lupa pada tujuan jangka panjang karena menemukan kenyamanan jangka pendek. Puasa adalah sebuah disiplin yang diciptakan untuk mengingatkan kita pada tujuan jangka panjang. Bukan semata-mata untuk mendapatkan surga di hari akhir, tetapi justru yang lebih penting untuk melestarikan surga yang sudah ada di bumi saat ini, yang kita nikmati sewaktu kita masih hidup: alam dan kehidupan ini. Saya sering dipojokkan oleh pertanyaan hati nurani: bagaimana mungkin Allah akan menghadiahi kita surga di hari akhir sedangkan kita saat ini bahkan tidak bisa memelihara surga yang ada di depan mata?

Dulu, Neanderthal dan spesies-spesies lainnya punah oleh kekuatan alam. Tetapi kini, ketika alam telah menjadi ekosistem yang stabil, ancaman kepunahan justru bukan lagi datang dari alam. Tetapi dari penghuninya sendiri, spesies istimewa yang paling cerdas dan sempurna: manusia. Perang nuklir, kerusakan alam, dan kerakusan telah menjadi ancaman nyata bagi kelestarian hidup kita.

Selamat menyambut bulan Ramadan, bulan penuh berkah. Semoga dengan itu, kita dan anak cucu kita masih bisa lestari.[]

Hukum Relatif

Gambar ini milik Funbrain

Hukum Relatif

Alam semesta terdiri dari harmoni angka-angka --kata Phitagoras.
Kehidupan kita sering dikelabui oleh halusinasi angka-angka --kata saya.

Andaikan anda sekaya Bill Gates atau Bill Joy. Atau setidak-tidaknya sekelas keluarga Bakrie. Mana yang lebih nyaman, hidup ditengah-tengah tetangga yang miskin atau di sekitar tetangga yang cukup kaya tetapi masih jauh lebih miskin dibanding anda? Tanyalah pada Bill Gates atau keluarga Bakrie, jawabannya pasti opsi yang kedua.

Nilai kekayaan anda disebut angka absolut -- misalkan saja seratus juta, semilyar, atau malah seratus milyar. Tetapi nilai kenyamanan anda adalah angka relatif. Sebab, anda tidak bisa menilai tingkat kenyamanan dengan angka 1000, 100, atau 10 tanpa mempertimbangkan variabel-variabel lainnya, misalnya kekayaan tetangga anda. Pada opsi pertama di atas, saya jamin anda tidak akan merasa leluasa membangun rumah yang super megah diantara tetangga-tetangga anda yang berumah batako. Dan seandainya anda tega juga melakukannya, anda akan terpaksa membangun pagar setinggi dua atau tiga meter di sekeliling rumah. Plus pecahan kaca yang ditebar di atas tembok pagar :). Sebenarnya bukan karena para tetangga suka mencuri, tetapi karena anda sendiri terjangkiti paranoia: bagaimana kalau anggrek bulan di halaman depan yang berharga sepuluh juta itu diambil orang? Situasinya akan berbeda jika tetangga-tetangga anda lumayan kaya. Anda justru lebih antusias memajang Mercy, X5, atau Bentley di garasi, bahkan kalau perlu tanpa dipagari. Sebab, anda merasa yakin bahwa tetangga-tetangga anda pasti juga sudah memiliki mobil pribadi, entah avanza, innova, bahkan mungkin BMW seri tiga keluaran lama. Pada opsi pertama, kekayaan membuat anda merasa terancam. Sedangkan pada opsi kedua, kekayaan membuat anda merasa sebagai pemenang. Lalu, mengapa nilai kekayaan yang sama bisa menciptakan situasi relatif yang berbeda? Sederhana saja, karena angka absolut mengelabui anda.

Kisah lain adalah Enron, perusahaan energi Amerika Serikat yang dulunya mengagumkan -- setidaknya menurut majalah Fortune, yang berperingkat tujuh terbesar di dunia. Secara berkala, tentu saja, Enron selalu mengeluarkan laporan keuangan. Angka-angkanya meyakinkan. Para investor menyukai sahamnya. Tak terkecuali para analis bursa. Lalu sampailah pada tragedi itu, ketika akhir tahun 2001 Enron tiba-tiba mengajukan pailit, alias bangkrut. CEO-nya bahkan lalu divonis pidana 24 tahun, di penjara kelas satu, disatukan dengan bandit-bandit kelas kakap. Tuduhannya mengerikan, sang CEO telah mengelabui para investor dengan laporan keuangan yang menyesatkan. Tetapi bukankah laporan keuangan dapat diakses secara terbuka dan dianalisa oleh siapa saja? Dan mengapa selama bertahun-tahun tak satupun pihak berwenang di Amerika yang menengarai adanya pelanggaran?

Sebab, Enron memang tak melanggar hukum. Enron hanya licik, tetapi tidak kriminal. Ibaratnya anda seorang pedagang jeruk yang menata dagangan anda sedemikian rupa sehingga tampak tidak ada jeruk yang buruk. Apakah menata jeruk seperti itu melanggar hukum? Tentu saja tidak. Dan mengapa pula selama bertahun-tahun para investor atau para analis, yang biasanya bermata jeli setajam elang, tak ada yang mencurigai keanehan laporan keuangan itu? Ya, memang sulit mencurigai sebuah perusahaan dengan citra hebat dan laporan keuangan mengkilap. Hampir muskil. Dimana-mana juga yang dicurigai adalah yang berpenampilan kumuh, atau yang tak stabil. Bukan yang necis, dendi, dan mapan. Angka-angka telah mengelabui mereka semua! Eh, tunggu dulu, tidak semuanya. Seorang wartawan bernama Jonathan Weil pada tahun 2000, atau setahun sebelum kejatuhan Enron, telah menulis keanehan laporan keuangan perusahaan itu di Wall Street journal. Bahkan tahun 1998, atau tiga tahun sebelumnya, enam orang mahasiswa paska sarjana telah membuat penelitian yang kesimpulannya adalah, "Jual saham Enron segera!". Hasil penelitiannya dipajang di situs Cornel University. Masalahnya, adakah orang yang mau mendengarkan celoteh seorang wartawan bisnis atau penelitian "ecek-ecek" enam orang mahasiswa paska sarjana? Tidak ada!

Jika anda termasuk seorang coach potatoe -- orang yang suka mematung di depan tivi berjam-jam lamanya, di atas sofa, sambil makan kentang goreng atau berondong jagung -- sudah semestinya anda merasa jengah dengan angka-angka. Di tivi anda akan dibombardir oleh pameran angka yang hampir semuanya menakjubkan. Entah itu pidato presiden, menteri, petinggi Polri, atau anggota DPR. Misalnya, presiden mempresentasikan keberhasilan kepemimpinannya dengan memaparkan angka pertumbuhan, jumlah lapangan kerja yang berhasil diciptakan, menurunnya jumlah rakyat miskin, atau anggaran pendidikan yang meningkat hingga 200 trilyun. Atau petinggi Polri -- ketika citranya sedang diluluhlantakkan -- memaparkan prestasi institusinya dengan angka-angka: terbongkarnya sekian ratus kasus terorisme, sekian ribu kasus narkotika, sekian ribu kasus korupsi. Lalu belum lama ini, humas Pertamina melaporkan tentang disantuninya "sekian" korban ledakan gas elpiji dengan uang senilai sekian puluh juta. Kalau anda belum juga jengah dengan angka-angka itu, cobalah sekali-kali bersafari ke kantor-kantor pemerintahan kota atau kabupaten. Anda akan menemukan eforia angka-angka yang menurut saya terlalu glamor: angka partisipasi ini, indeks pembangunan itu, indeks ini, indeks itu. Tetapi mengapa gemerlap angka-angka itu justru membuat anda merasa tak nyaman? Sebab, mata anda melihat kenyataan yang tak sesuai.

Lalu apakah presiden, menteri, Polri, DPR atau Pertamina berbohong? Jangan buru-buru menuduh, mereka sama sekali tak berbohong. Mereka memang menyampaikan fakta, atau tepatnya angka, yang benar. Yang menjadi masalah, presiden, menteri, dan lainnya itu tak pernah menyampaikan angka lain sebagai pembanding. Kita pun tak mudah mendapatkan angka pembanding itu dari sumber lain. Misalnya, ketika presiden menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dia tak menyertainya dengan informasi tentang bagimana kue ekonomi didistribusikan. Atau ketika presiden menyampaikan tentang meningkatnya penciptaan lapangan kerja, dia tak menyertainya dengan info tentang besarnya laju pengangguran. Ketika dikatakan jumlah rakyat miskin menurun, kita tak pernah diberitahu seberapa layak standar yang dipakai untuk mengukur seseorang miskin atau tidak. Ketika Polri menyebut keberhasilannya menyelesaikan sekian ribu kasus, kita tak pernah diberitahu berapa banyak kasus yang tak berhasil. Atau lebih jauh lagi, seberapa besar sebenarnya ancaman kejahatan terhadap hidup kita. Ketika Humas Pertamina memaparkan jumlah santunan, kita tak pernah diberitahu berapa korban yang tak disantuni. Lebih jauh lagi, seberapa besar potensi calon korban selanjutnya, atau seberapa banyak tabung gas yang mungkin akan meledak. Kita tak pernah diberikan angka pembanding. Seperti halnya pembeli jeruk, kita hanya diperlihatkan jeruk yang baik diantara tumpukan jeruk yang mungkin saja buruk.

Hukum relatif adalah kaidah memaknai sebuah angka dengan membandingkannya dengan angka yang lain. Dasarnya sederhana saja: sedikit sekali angka absolut yang memiliki arti dalam kehidupan kita. Ketika anda menyebut gaji anda 100 juta, itu tak akan bermakna apa-apa. Angka itu baru bermakna ketika anda membandingkannya dengan indeks daya beli, atau dengan angka standar hidup layak, atau bahkan dengan harga sepotong kol di pasar. Semakin banyak angka pembanding lain -- atau semakin banyak variabel yang diikutsertakan dalam pemaknaan atas sebuah angka, maka akan semakin luas dimensi pemaknaan itu. Tanpa upaya seperti itu, sebuah angka bisa jadi sangat menyesatkan. Anda tak percaya? Coba simak ini: menurut income per kapita, pendapatan saya dan Aburizal Bakrie adalah sama, sekitar 24 juta setahun, atau sekitar dua juta per bulan. Nah!

Makanya, anda sebaiknya menambah sedikit doa, "Ya Allah, jauhkanlah hamba dari godaan angka dan halusinasinya".[]

Menakar Batas

Menakar Batas


Gambar ini Milik National Geographics
Faiza baru berusia enam tahun. Sekolahnya masih TK B. Lucu, spontan, dan polos. Pada minggu sore yang damai itu, diselingi tawa Spongebob di tivi, Faiza bercerita di pangkuan ayahnya. Katanya, "Ayah tahu nggak, CT lebih disukai orang karena dia mau meminta maaf. Tapi AR dan LM tidak." CT, AR, dan LM adalah nama-nama selebriti yang terlibat pornografi -- saya yang menyingkatnya di tulisan ini. Faiza menceritakannya dengan mimik biasa saja, seolah-olah sedang berceloteh tentang Patrick, Squickwork, atau Ipin-Upin.

Ayahnya terkejut tentu saja. Bukan karena semata-mata Faiza tahu tentang isu-isu kontemporer, tetapi karena gadis kecil itu juga memahami silogisme, sesuatu yang lebih kompleks dibanding sekedar mengetahui. Untuk menguji lebih jauh pengetahuan si kecil, ayahnya bertanya, "Memangnya apa yang dilakukan orang-orang itu sehingga perlu meminta maaf?" Sambil menggerakkan kedua tanggannya seolah sedang presentasi, dia menerangkan, "CT sama AR tidur bareng tanpa baju, dan CT kelihatan itunya". Kali ini bicaranya setengah berbisik, dan mengakhirinya dengan tawa cekikikan, ekspresi yang sama seperti ketika dia menceritakan dua ekor kelinci yang sedang kawin di peternakan kakeknya.

Kita mungkin masih beranggapan bahwa informasi bisa diisolasi. Kita menyensornya, membuat batas yang tak boleh dimasuki. Kita mematikan tivi agar anak-anak tak menonton sinetron atau infotainment. Kita memproteksi internet dengan Cybersitter atau Net Nanny. Dan di meja belajar, mereka hanya boleh membaca buku-buku tertentu. Di jaman dulu, sewaktu kecil, saya dibatasi oleh tabu. Ibu saya mengatakan "ora ilok" untuk mencegah saya mengetahui hal-hal yang dilarang. Istri saya menggunakan istilah "pamali". Atau Pak Sembiring, Menkominfo, memerintahkan provider-provider Internet menutup akses ke situs-situs porno. Bahkan Pemerintah Cina melarang Google atas pencarian "keyword" tertentu, yang akhirnya membuat Google hengkang dari tanah kungfu. Pendek kata, kita ingin membuat benteng yang tertutup, tak bisa tembus, dan kita percaya bahwa batas-batas seperti itu cukup efektif.

Tetapi anda dan saya mungkin frustasi, seperti frustasinya ibu saya ketika mengetahui saya telah melanggar tabu sewaktu kecil. Benteng yang kita bangun ternyata tak cukup kokoh, mudah ditembus bahkan oleh tetangga kita. Faiza misalnya. Dia tahu cerita tentang artis-artis itu bukan dari ayah atau ibunya. Juga bukan dari internet atau acara tivi. Dia tahu dari teman-temannya, sesama anak TK -- yang melegakan, setidaknya saya masih meragukan mereka pernah melihat langsung videonya. Orang tua Faiza memang telah membuat batas yang tegas. Tetapi tetangganya tak melakukan hal yang sama. Dunia steril Faiza menjadi terbuka ketika dia berinteraksi dengan teman-temannya. Pemblokiran situs-situs porno oleh Pak Sembiring ternyata juga tak seefektif gaungnya di media. Sebab, pornografi tak semata-mata diunduh di situs-situs berlabel porno. Dia disebarluaskan di jejaring sosial atau situs pertukaran file, seperti Kaskus, Rapidshare, Easyshare, Yahoogroups, dan sejenisnya -- suatu zona netral. Lalu apakah anda dan saya, dalam rangka membuat batas yang lebih tegas lagi, juga akan mengisolasi anak-anak kita dari tetangga atau teman-teman TK-nya? Apakah Pak Sembiring juga perlu menutup seluruh situs jejaring sosial sekalipun tak berlabel porno?

Kini anda dan saya tampaknya harus memaknai batas dengan cara baru. Bisa jadi lebih rumit. Yang pertama adalah sikap kita terhadap teknologi. Sepertinya selama ini kita keliru menganggap teknologi sekedar sebuah alat. Nyatanya lebih dari itu. Di Masjid Nabawi yang megah itu --misalnya, di jantung Kota Madinah, anda dilarang keras memotret atau berpose. Pasalnya hobi kita berpose mengganggu kekhusyukan ibadah. Alasan lainnya, memotret -- seperti halnya melukis -- masih diperdebatkan halal-haramnya. Cara paling mudah menegakkan aturan itu adalah dengan melarang orang membawa alat potret. Makanya salah satu tugas Asykar -- polisi Kerajaan Arab Saudi -- adalah men-sweeping alat potret. Dulu larangan itu cukup efektif. Kamera anda yang berukuran super jumbo mudah ketahuan. Tetapi kini, Asykar mulai kesulitan menerapkan aturan itu karena alasan yang juga bersifat teknis: alat potret sekarang berukuran super mini. Asykar tak mungkin mengawasi, apalagi menangkap, ribuan orang yang ber-candid ria dengan kamera sebesar kotak korek. Mungkin, untuk mengantisipasinya, dikemudian hari Pemerintah Saudi akan membeli piranti anti alat potret -- semacam surveillance super cerdas. Tetapi bersamaan dengan itu teknologi kamera mungkin pula menciptakan alat potret yang tak terdeteksi. Akhirnya, cerita tak pernah selesai. Aturan, atau lebih luas lagi otoritas, bersaing dengan alat potret.

Menurut saya, teknologi lebih tepat bila disikapi sebagai organisme. Sesuatu yang hidup dengan caranya sendiri, tak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Dia hidup berdampingan dengan kita, bak tetangga, baik kita menghendakinya maupun tidak. Tetangga bisa jadi baik atau buruk. Ada tetangga yang sejak awal memang buruk. Ada pula yang awalnya baik, tetapi interaksi kita membuatnya menjadi buruk. Namun, dalam kehidupan kita, yang baik biasanya jauh lebih banyak dibanding yang buruk. Terhadap semua tetangga kita pertama-tama kita harus mengenalnya, memahami kekuatan dan kelemahannya. Setelah itu baru kita bisa menjalin hubungan yang menguntungkan. Putri -- kakak Faiza yang kini berusia sepuluh tahun-- telah mengenal komputer sejak umur tiga tahun. Mulai menggunakan internet sejak kelas tiga. Memiliki account Facebook sejak kelas empat. Kini, ketika duduk di kelas lima, Putri telah mampu menjinakkan "tetangganya" itu untuk mendukung kegiatannya di sekolah atau di tempat kursus: menerjemahkan kata-kata baru Bahasa Inggris dengan Google Translate. Memberikan keleluasaan pada Putri untuk berinteraksi dengan teknologi adalah sesuatu yang positif. Dia akhirnya memiliki kemampuan memperkaya pengetahuannya secara mandiri. Tetapi yang lebih penting, interaksinya dengan teknologi adalah bagian dari persiapannya menghadapi tantangan kehidupannya sendiri di masa depan -- yang kemungkinan besar berbeda dengan tantangan kita saat ini. Tetapi, tentu saja, ini bukan sama sekali tak beresiko. Membiarkan begitu saja Putri berinteraksi dengan teknologi bisa jadi berbahaya. Kita harus bersusah payah menjaganya, siang malam. Misalnya, Putri tak pernah tahu bahwa di tengah malam, ketika dia tertidur pulas, ayahnya akan mencuri account Facebooknya, mensterilkan komunitasnya: menendang keluar orang-orang dewasa tak dikenal yang menjadi teman mayanya, atau mengusir teman-teman sebayanya yang -- misalnya-- mengirim pesan-pesan tak pantas di accountnya.

Pemaknaan yang kedua adalah tentang batas itu sendiri. Tembok, benteng, tabu, atau larangan adalah batas yang yang datang dari luar. Diciptakan oleh sesuatu di luar diri kita. Sebut saja sebagai batas eksternal. Batas itu memang tampak kokoh, gahar, dan meyakinkan. Tetapi sesungguhnya keropos. Sampai kapan, misalnya, kita dapat melarang anak-anak kita berbicara tentang seks? Sampai kapan Asykar dapat mencegah orang memotret? Batas-batas eksternal itu akan kokoh dan efektif seandainya didukung oleh batas yang lain, yang tumbuh di dalam diri kita sendiri. Kita sebut saja sebagai batas internal. Batas internal ini adalah semacam pengetahuan, kesadaran, atau lebih tepat lagi self-cencorship, di dalam diri kita sendiri tentang apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang penting dan tidak penting, apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Pak Onno Purbo -- misalnya, seorang pakar internet, ketika ditanya oleh wartawan tentang apakah dia juga sering melihat gambar atau video porno di internet, dia menjawab singkat, "Tak ada waktu". Batas internal Pak Onno telah memberikan pemahaman kepada dirinya sendiri bahwa materi-materi pornografi itu sama sekali tak penting. Dia tak punya waktu untuk bermain-main dengan hal-hal yang tak penting seperti itu.

Tetapi, pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya menanamkan batas internal pada anak sekecil Faiza? Bagaimana memberitahu padanya bahwa informasi tentang CT, AR, atau LM itu sama sekali tak penting? Ya, itu juga pertanyaan saya, ayah Putri dan Faiza. Sampai sekarang saya juga tak tahu caranya. Hanya menakar-nakar saja. Dan saya hanya memiliki beberapa tahun sebelum anak-anak saya itu menanyakan sesuatu yang jauh lebih kompleks dibanding dua ekor kelinci yang kawin di peternakan kakeknya. Hanya beberapa tahun lagi.[]

Menggantang Nasib

Menggantang Nasib

Foto ini milik
National Geographics

Susahkah memperbaiki nasib? Sulit sekali jika andaberjuang sendirian. Di lembah Merapi, di perbatasan paling utara Kabupaten Magelang, Muhromin lahir dari keluarga miskin. Orang tuanya petani merangkap perabot dusun dengan upah tak lebih dari seratus ribu sebulan. Rumahnya dari bilik bambu berlantai tanah, dan tak memiliki tivi. Ketika umurnya belum genap dua puluh tahun, Muhromin cidera parah di pangkal lengan yang mengharuskannya diamputasi. Tetapi orang tuanya tak mampu mengobati. Mereka memutuskan untuk merawatnya saja di rumah, mengandalkan tukang urut dan mantri suntik. Setahun kemudian Muhromin, teman SD saya itu, meninggal karena infeksi lengannya telah mencapai organ vital.
Tetapi apakah kecerdasan Muhromin seburuk nasibnya? Anda keliru. Dia anak pintar. Dia sempat masuk SMP favorit di kota kami. Memang hanya sampai disitu. Selepasnya, dia tak melanjutkan. Orang tuanya tak sanggup membiayai. Lalu dia bekerja sebagai buruh lepas, dengan upah tak seberapa. Waktu itu umurnya masih terlalu muda, sekitar 16 tahun, usia yang seharusnya menyenangkan. Dia terpaksa bekerja agar setidaknya mengurangi beban ekonomi keluarga. Dan bila uangnya berlebih, dia bisa membantu orang tuanya menyekolahkan adik-adiknya yang berjumlah tiga orang. Tetapi naas, ketika bermain bola saat rehat kerja, dia terjatuh dan bahunya terinjak teman. Engselnya patah, dan tak pernah mendapat pertolongan yang layak. Cideranya itu dibiarkan berbulan-bulan hingga membengkak sebesar paha. Ketika lukanya terasa sakit, tangisnya memilukan. Tetapi ketika keadaannya membaik, dia akan mendatangi rumah saya dan bercerita panjang lebar tentang aktivitas sosial keagaamaan di tempatnya bekerja -- waktu itu saya sudah SMA. Salah satu cita-citanya -- yang selalu diceritakannya berulang-ulang -- adalah mendirikan organisasi sosial di desa kami, mencontoh organisasi di tempatnya bekerja. Sayang sekali, itu tak kesampaian.

Muhromin adalah tipikal anak miskin. Berjuang bertahan hidup, tak memiliki jaminan keselamatan, dan tak punya peluang berkembang. Di desa kami waktu itu, berpuluh-puluh teman saya seperti Muhromin, walau tak setragis nasibnya. Beberapa diantaranya anak-anak cerdas, tetapi hanya mampu sekolah setinggi SMP. Lalu bekerja serabutan, menikah muda, beranak-pinak, dan mungkin akan meninggal dengan kondisi yang tak jauh beda dengan orang tuanya. Yang piawai berwiraswasta biasanya ekonominya membaik. Tetapi diluar itu umumnya mereka menjalani siklus hidup yang serupa. Memang tak semua teman kecil saya anak miskin. Tak sedikit yang berkecukupan. Orang tuanya biasanya memiliki sawah yang luas dan kebun duku -- komoditi bernilai tinggi di desa kami. Sayangnya, orang tua teman-teman saya banyak yang tak mementingkan pendidikan. Ketimbang membiayai anaknya masuk perguruan tinggi, mereka lebih suka menghadiahi anaknya motor atau rumah, dan menikahkannya di usia dini. Saya pernah ketemu teman-teman saya dari kelompok ini. Mereka kini berprofesi sebagai tukang ojek, tengkulak, kuli, atau bahkan menganggur. Beberapa diantaranya menjadi buruh di kota atau jadi TKI.

Lain Muhromin, lain pula Toro -- nama samaran, seorang teman yang baru saya kenal beberapa tahun terakhir. Tinggal di metropolitan Jakarta, ayahnya mantan direktur rumah sakit besar. Ibunya seorang pelukis nasional yang cukup terkenal. Sebagaimana anak yang terlahir dari keluarga kelas menengah, Toro memang cerdas. Gelar sarjana dan masternya dari Universitas Indonesia. Dia kini berprofesi sebagai dosen di beberapa universitas di Jakarta, mendirikan bisnis bimbingan belajar, dan memiliki perusahaan konsultan teknologi informasi. Dia menguasai setidaknya dua bahasa asing, Inggris dan Jepang. Dia sering berbicara dengan saya dalam Bahasa Inggris, dan dengan ibunya dalam Bahasa Jepang. Hobinya bowling, dan tak menutup kemungkinan dia pernah tinggal di negeri sakura.

Anda tentu sudah membayangkan bagaimana masa kecil Toro. Dia sekolah di tempat-tempat favorit. Usai sekolah dia mengikuti kursus bahasa asing dan musik. Bila hatinya suntuk -- seperti pernah diceritakan pada saya, dia akan membuka grand piano di rumahnya dan memainkan lagu-lagu klasik sampai suasana hatinya membaik. Toro mendapatkan semua itu, tentu saja, karena dukungan orang tuanya. Berbeda dengan Muhromin, Toro tak berjuang sendirian. Ketika Toro ingin masuk sekolah berkelas, orang tuanya menyediakan. Ketika dia ingin mendapatkan pengetahuan ekstra di luar sekolah, orang tuanya mewujudkan. Walaupun sama-sama cerdas, Toro dan Muhromin bernasib tak sama.

Di seberang lautan, Malcom Gladwel pernah bercerita tentang salah satu orang terpintar se-Amerika Serikat. Chris Langan namanya. Waktu itu Bozeman, Montana, masih kota kecil. Chris Langan besar di sana. Anda ingin tahu berapa IQ-nya? 195! Sempurna, bahkan Einstein pun hanya 150. Sayangnya Chris lahir dari keluarga semrawut. Bapak kandungnya minggat ketika dia belum lahir. Bapak tirinya wartawan gagal, pemabuk, dan suka melakukan kekerasan. Ibunya bermoral kacau, memiliki empat anak dari lelaki yang berlainan. Seorang adiknya diadopsi orang, dan yang lainnya masuk sekolah anak nakal. "Sampai hari ini saya belum pernah bertemu orang yang masa kecilnya semiskin kami", kata Chris. "Kami hanya memiliki satu setel pakaian, sepasang kaos kaki belang sebelah, sepatu bolong, dan celana sobek." Saking miskinnya mereka sekeluarga pernah tinggal di penampungan Indian, dan makan dari bantuan sosial pemerintah. Ringkasnya, Chris adalah si jenius bernasib malang, mirip-mirip film Good Will Hunting. Bedanya, Chris adalah cerita nyata.

Selepas SMA, seperti lazimnya anak pintar, Chris pun mendapat tawaran bea siswa. Dua malah. Satunya dari Universitas Chicago dan lainnya dari Reed College Oregon. Sepertinya, inilah kesempatan emas baginya untuk menukar nasib. "Melihat kemampuannya, dia semestinya mudah meraih Ph.D", kata Jeff Langan, adik kandungnya. Lalu dia memilih Oregon, dan segera saja dia menyadari bahwa pilihannya itu sama sekali tak tepat. Dia kesulitan beradaptasi dengan kehidupan kota besar, juga dengan teman-teman kampusnya yang sebagian besar berasal dari metropolitan New York. Tapi itu halangan tak seberapa. Semester awal kuliahnya bertabur nilai A. Tetapi semester berikutnya nilainya F semua. Pasalnya, dia tak pernah lagi hadir di kelas. Bea siswanya dicabut oleh sebab yang tak masuk akal: ibunya lalai tak mengirimkan surat keterangan miskin. Ibunya mengaku bingung cara mengisi formulirnya. Bea siswanya dialihkan ke orang lain, dan Chris Langan pun drop out.

Balik ke Bozeman, kampung halamannya, Chris bekerja sebagai kuli bangunan. Lalu ganti jadi buruh nelayan penangkap kerang. Pindah lagi sebagai pemadam kebakaran hutan. Tapi dia berhasil menabung sedikit-sedikit, hingga akhirnya satu setengah tahun kemudian dia bisa kuliah lagi di Universitas Negeri Montana. Jurusan yang diambilnya matematika dan filsafat. Kita pasti menduga, kini masa depannya akan kembali tertata. Naasnya, tak demikian. Di suatu musim dingin yang menggigil, mobil tua Chris -- yang sehari-hari dipakainya kuliah -- dipinjam adiknya. Rusak, dan Chris tak punya uang untuk memperbaiki. Padahal jarak tempuh kampusnya terlalu jauh, sekitar dua puluh kilo meter. Dia tak punya transportasi alternatif. Lalu dia berusaha melobi tata usaha kampusnya agar diperbolehkan kuliah sore. Ada tetangga yang bisa ditumpangi pulang pergi ke kampus di sore hari. Tetapi, tentu saja, pihak universitas tak mungkin mengistimewakan seorang mahasiswa. Permohonannya ditolak. Chris Langan pun kembali drop out. Tetapi kali ini kepergiannya membawa kebencian membatu pada institusi pendidikan, "Saya jijik jika harus mengulanginya lagi". Chris Langan pun menganggur lama, tanpa ijazah, sebelum akhirnya bekerja sebagai tukang pukul di sebuah bar. Sampai kini dia pun masih terobsesi menulis di jurnal ilmiah -- tentang Astrofisika kegemarannya. Sekalipun kadang-kadang dia merasa frustasi karena tak punya ijazah.

Muhromin dan Chris Langan sepertinya sepola. Pintar, berpotensi, layaknya intan atau pedang. Tetapi mereka merasa tak didukung lingkungannya. Mereka berjuang sendirian dan kehilangan kesempatan merubah nasib. Muhromin atau Chris Langan seperti intan yang terkubur lumpur, dan tak pernah ditemukan pendulang. Atau mengutip teman saya Watung, "Mereka ibarat pedang yang disimpan di meja dapur dan digunakan hanya untuk memotong daging". Pada situasi yang berbeda, kita tentu bisa berharap bahwa Muh atau Chris dapat menjadi berlian atau pedang pusaka. Seperti Toro. Atau lebih hebat lagi seperti Oppenheimer -- seorang jenius lain, doktor fisika yang mengkomandani megaproyek bom atom yang pertama. Atau seperti Bill Gates, sekalipun drop out tetapi kampiun bisnis dan orang terkaya di dunia. Pertanyaannya, mengapa Muhromin dan Chris Langan tak bisa seperti mereka? Sebaliknya, mengapa sekalipun kecerdasannya tak semenjulang Chris Langan, tetapi Toro, Oppenheimer, atau Bill Gates bisa sehebat itu?

Malcom Gladwel mengutip penelitian sosiolog Annete Lareau tentang dua pola pengasuhan yang berbeda antara keluarga miskin dan kaya -- di Amerika. Keluarga miskin biasanya membiarkan begitu saja anaknya tumbuh sendiri. Akibat tekanan ekonomi, para orang tua miskin tak memiliki waktu dan uang untuk memberikan perhatian lebih pada kebutuhan anaknya. Mereka juga sangat percaya pada bakat bawaan. Jika anaknya memang cerdas, sang anak dipercaya akan menemukan jalannya sendiri untuk menjadi insinyur atau profesor. Tetapi jika tak berbakat, mau dipoles seperti apapun juga tak kan bersinar. Masalah lainnya, akibat dari kegagalan-kegagalan hidupnya yang menahun, para orang tua miskin punya kebiasaan menularkan mentalitas negatif pada anaknya. Mereka menularkan ketidakpercayaan diri, apatisme, dan kecurigaan pada lingkungan. Muhromin dan orang tuanya, sebagai seorang jawa, percaya bahwa cidera lengannya memang suratan takdir. Sementara Chris Langan menganggap bahwa kampus tak punya empati dan kepedulian pada mahasiswa miskin seperti dirinya. Tetapi, mari kita sedikit berandai-andai: apakah Muhromin tak bisa tertolong seandainya keluarganya mau mendatangi lurah atau camat dan mengadukan nasib anaknya? Apakah beasiswa Chris Langan tak bisa dipertahankan seandainya dia mau melobi tata usaha kampusnya atau dosennya lebih gigih lagi? Kita tak bisa mengandaikan itu, karena baik Muhromin, Chris, dan keluarganya memang tak memiliki keahlian seperti itu. Mereka tak memiliki keahlian sosial praktis dalam kaitannya dengan interaksi dengan orang lain, atau sering disebut sebagai kecerdasan ortogonal. Dan kecerdasan seperti itu bukanlah bakat, atau diperoleh dari lahir, melainkan dari pola pengasuhan.

Keluarga-keluarga kaya justru berbuat sebaliknya. Mereka bukan hanya menggunakan uangnya untuk menjadi bos dermawan bagi anaknya, seperti membiayai sekolah terbaik, les termahal, atau membelikan grand piano. Tetapi yang lebih penting lagi, orang tua kaya memiliki kesempatan untuk terlibat ke hal-hal rinci dalam kehidupan anaknya. Misalnya mengantarkan anaknya ke dokter gigi, mendatangi guru untuk diskusi tentang nilai sang anak, atau sekedar menunggui anaknya di pinggir kolam renang. Mereka seolah menyediakan dirinya penuh dua puluh empat jam buat sang anak. Bagi Lareau, ini bukanlah bentuk kemanjaan. Tetapi merupakan sebuah pola pengasuhan yang dia sebut sebagai concerted cultivation (pengasuhan terpadu?). Oppenheimer, misalnya. Sejak kecil menggemari bebatuan atau hal-hal yang berbau geologi. Demi mendukung hobi sang anak, orang tuanya --seorang pengusaha tekstil yang sukses di Manhattan -- setiap minggu selalu mengajak berjalan-jalan di pedesaan mengamati bebatuan. Bill Gates juga begitu. Ketika Bill kecil merasa bosan sekolah, Ibunya segera memindahkannya ke sekolah swasta mahal di Lakeside. Ketika kelas delapan -- sekitar tahun 60-an, sang ibu menjadi donatur bagi sekolahnya untuk membeli sebuah alat ajaib yang tak dimiliki oleh sekolah manapun di Amerika apalagi dunia, yakni komputer tak berkartu (tak pakai punch card). ASR 33 Teletype namanya. Universitas-universitas pun belum tentu memilikinya. Ajaibnya lagi, komputer itu juga terhubung ke komputer mainframe di kota Seatle. Biaya koneksinya sangat mahal. Dan Ibu Gates tak berat merogoh dompetnya.

Di pinggiran Bandung, di lembah Malabar, mertua saya punya kisah menarik tentang pertanian organiknya. Kisahnya mirip concerted cultivation itu. Sewaktu menyawah dengan metode lama, hasil panennya hanya 6 ton per hektar. Tetapi ketika mempraktekkan pertanian organik, hasilnya hampir dua kali lipat. Paling sedikit 10 ton. Menariknya lagi, harga jualnya juga lebih mahal. Beras biasa harganya enam ribu. Tapi beras organik setidaknya bisa sepuluh ribu. Lalu mertua saya itu menularkan pengetahuan dan kisah suksesnya ke tetangga-tetangga desanya. Apakah anda mengira tetangga-tetangganya akan mengikuti jejaknya? Keliru! Tak seorangpun menirunya. Mengapa? Sebab, pertanian organik tak seperti pertanian biasa. Dia membutuhkan perhatian ekstra. "Seperti merawat bayi kecil," kata mertua saya. Jika ada satu bibit saja yang mati, harus segera diganti. Air sawahnya juga harus dijaga stabil. Tak boleh terlalu basah atau terlalu kering. Dalam masa pertumbuhnnya, bulir padi harus dijaga dari gulma. Rumput-rumput harus disiangi terus-menerus. Dan jerami hasil panen juga tak boleh dibakar --cara lazim yang lebih simpel sebenarnya. Jerami itu harus dipotong-potong dan dibenamkan ke dalam lumpur sampai membusuk, agar kelak menjadi kompos. "Ripuh ah", kata tetangga mertua saya.

Begitulah, memang tak mudah menukar nasib. Seperti kita menggantang asap, perlu disiapkan balon plastik yang besar. :D

Pancoran

Sketsa di Braga

Sketsa di Braga

Bila kau bertamu ke kotaku
datanglah ke Braga sebelum lampu-lampu sore
menawarkan tubuhya yang gading
tak usah kau hiraukan lalu lalang
mereka sama saja seperti kita, mencari sesuatu yang hilang
barangkali tercecer di trotoar
atau di etalase toko
itupun jika benar ada yang hilang

Bila kau bertamu ke kotaku
kunjungilah pelukis di Braga sebelum senja
bertangan empat seakan Manikmaya
dua mendekap dada, dua lagi di udara menangkapi warna
dia melukis dengan mulutnya
merapal sebuah kata, “jadilah, jadilah”
tanpa pernah berhenti, hanya satu kata

Aku duduk dibangku kayu, pelukis itu di tahta Andini
rupaku dilolosi, seperti benang bordir
lalu ditempel di kanvas terawang, tanpa goresan
wahai pelukis, mengapa tak satupun bergaris?
pelukis itu membentakku dengan halilintar
“Cakrawala tak pernah bergaris, matamu yang menganggapnya bergaris!”
Aku beringsut, menghindari halilintar yang hingar menyambar

Kini sketsaku hampir selesai
persis seperti diriku, tapi berdimensi dua
wahai pelukis, bisakah aku lebih tampan sedikit saja?
kali ini pelukis itu melunak tuturnya,
“Tidak bisa, Nak. Takdir yang ini tak bisa diubah.
Carilah takdir lain yang bisa kau ubah”

Bila kau bertamu ke kotaku
mampirlah ke rumahku
karena sketsa itu kupajang di daun pintu
agar semua tahu, aku pun bisa abadi
agar Tuhan juga tahu, aku pun bisa abadi

(pancoran, subuh)