15 Agustus 2012

Mata Habibie

Tepat jam sebelas malam saya besuk orang tua seorang teman yang dirawat di rumah sakit Tebet. Sakit ayah teman saya itu tergolong sangat berat. Stroke kedua, hingga menelan makananpun tak bisa. Di ruang rawat saya berbincang dengan teman saya dan keluarganya, sembari duduk di bed sebelah yang kosong. Lalu tiba-tiba masuklah sepasang laki-laki dan perempuan berpakaian lusuh, wajahnya kotor oleh keringat. Teman saya menyapanya dengan akrab, karena rupanya mereka juga pasien disini, di bed yang saya duduki.

Laki-laki yang datang itu menenteng sebuah kresek hitam -- mungkin isinya obat-obatan, makanan, atau pakaian. Sementara si perempuan membawa sebuah termos kecil. Saya menduga perempuan itulah pasiennya dan laki-laki itu adalah suaminya. Perempuan itu mukanya pucat sekali, tampak sangat kelelahan. Sedangkan sang suami justru mengesankan saya: tak pernah berhenti berceloteh ini itu. Sesekali bercanda, sesekali tertawa ditahan. Yang paling mengesankan adalah matanya. Bulat berkilat-kilat, selalu bergerak, menandakan semangat yang menyala-nyala. Mata Habibie, mengingatkan pada idola saya sewaktu kecil, Profesor B.J. Habibie. Dari perbincangan, akhirnya saya tahu bahwa si pasien itu rupanya menderita sakit yang tak kalah berat. Ginjalnya yang hanya tinggal sebelah itu kini bermasalah, sementara ginjal satunya sudah diangkat beberapa tahun sebelumnya. "Sudah tak bisa sholat, Mas," kata si perempuan, "Ngompol terus. Baru juga selesai berwudzu, sudah ngompol lagi." Mata perempuan itu berkaca-kaca.

Sepasang suami-istri itu rupanya baru saja dari PMI, mengantri darah untuk transfusi. "Wah panjang bener antriannya, Mas," kata si suami, "Kami mengantri hampir enam jam, dari jam lima." Mereka terpaksa mengantri berdua karena tidak ada keluarga atau tetangga yang bisa dimintai tolong. Rumahnya di pinggiran kota, sangat jauh dari rumah sakit ini. "Semua lagi sibuk. Maklumlah, Mas. Ini kan Jakarta," kata suaminya lagi, seperti sebuah keluhan ringan. Tapi saya agak heran, mengapa mereka harus mengantri berdua? Mengapa suami itu tidak meninggalkan istrinya yang sakit di rumah sakit saja? Bukankah berbahaya seorang pasien ikut-ikutan mengantri selama itu?

Selain masalah mengantri yang kelewat lama itu, tak banyak yang diceritakan oleh si suami tentang penderitaan mereka. Si Mata Habibie itu justru bersemangat sekali mengisahkan tentang pertemuannya dengan seorang yang mengaku tabib di sebuah halte, sewaktu menunggu bis tadi. Tabib itu berwajah Bima, berewokan, berwibawa. Pakaiannya seperti Resi Wiyasa di pewayangan. "Tabib itu sempat mendemokan kesaktiannya. Digores pemes (pisau lipat) kagak mempan. Dia bilang bisa menyembuhkan apa saja," kata si Habibie, matanya tetap berkilat-kilat, "Kapan-kapan kami akan mengunjunginya. Siapa tahu manjur".

Lalu tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter muda berkalung stetoskop menghampiri mereka sambil tersenyum, "Ayo, pak, sudah siapkah? Bapak saya periksa dulu di lab sebelum transfusi." Si mata Habibie itu menjawab optimis, "Ayolah Dok. Saya juga sudah mulai berkunang-kunang." Matanya tetap berkilat-kilat, wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan penderitaan -- hanya tampak lusuh karena kelelahan. Dia tersenyum kepada istrinya, lalu melambaikan tangan. Sang istri melepasnya dengan mata kosong. Wajahnya lebih memucat. Tiba-tiba saya baru sadar. Oh ya Tuhan, ternyata pasien itu bukan perempuan itu, tetapi si mata Habibie. Bulu kuduk saya merinding, dan mata saya perih.[]