17 Oktober 2012

Push Your Self to The Limit


Penjelasan paling pas atas ungkapan ini saya temukan pada kisah kungfu.

Syahdan, di sebuah perguruan kungfu yang magis, mahaguru sepuh ingin mewariskan ilmu pamungkasnya kepada para murid. Tidak seperti lazimnya pewarisan ilmu, kali ini semua murid -- tidak pandang bulu -- boleh menerima ilmu itu asalkan lolos sebuah ujian sederhana. Ya, ujiannya sederhana saja: m...elakukan sikap kuda-kuda, dan tidak boleh berhenti sebelum sang guru menghentikannya. Kuda-kuda adalah teknik dasar bela diri, semua orang pasti bisa melakukannya. Berdiri, lutut sedikit ditarik ke depan, paha diregangkan, betis menumpu berat badan, seperti pegas di pelajaran fisika. Lalu ujian pun dimulai, diikuti oleh seluruh murid dengan antusias. Tetapi sang guru tidak pernah menyampaikan batas waktu kapan ujian ini akan berakhir.

Selama ujian berlangsung, sang guru melakukan apa saja yang disukainya: ketawa-tawa, makan, nembang, berseruling ria, menerima tamu, atau malah tidur, seolah tidak menghiraukan murid-muridnya di arena. Satu-dua jam murid-murid yunior berguguran. Mereka yang tidak kuat lantas berdiri santai, dan melenggang ke sisi gelanggang. Sang guru pun mencatatnya, walaupun tetap terkesan cuek. Beberapa jam berlalu, murid-murid yang lebih senior juga bertumbangan. Mereka melakukan hal yang sama, berdiri santai dan melenggang ke tepi lapangan. Kini tinggal tersisa beberapa murid paling senior yang berjibaku melawan lelah, dipanggang matahari yang garang. Hingga akhirnya, kekuatan fisik pun menemukan batasnya. Murid-murid senior itu mengakhiri ujiannya. Ada yang tersungkur di tanah, terkapar, hampir pingsan, tak kuat lagi berdiri. Tetapi ada pula yang masih tampak bugar walaupun terlihat lelah, dan mengakhiri ujiannya dengan berdiri santai, lalu melenggang ke sisi lapangan.

Guru pun memisahkan dua kelompok murid itu dalam barisan terpisah. Menurut anda, kepada kelompok murid yang mana sang guru akan mewariskan ilmunya? Kepada murid yang jatuh tersungkur dan tak kuat lagi berdiri, atau kepada murid yang masih tampak bugar? Sang guru hanya bilang begini, "Aku wariskan ilmu pamungkasku kepada para muridku yang berusaha sampai titik batas kekuatannya." Dan ilmu pamungkas itupun diberikan kepada para murid yang jatuh terkapar hampir pingsan.[]

Fur Elise di Ampera


Malam ini bintang-bintang menjamuku di Ampera.
Jangan biarkan lilin-lilin itu merebut cintamu, katanya.
Disuguhinya aku secangkir nira, disadap dari batang kenangan.
Sekian lama ingin kulupakan. Sekalipun aku tahu, lupa tak pernah kekal.

Dulu aku memilihmu disini.
Sehelai rumput kering hadiah dari angin.
Kulingkarkan pada jemarimu sebagai cincin.
Lalu kubisikkan permohonan itu, “Heningkan resahku dengan sunyimu”.
Tapi kau memilih pergi, mengejar keramaian.
Untukmu saja, ucapmu menyerahkan sekeping sepi. Dingin sekali.
Malam ini, seperti juga malam itu, aku masih saja suka menggigil.

Oh, dengarlah Fur Elise di Ampera.
Kubiarkan bintang-bintang cemburu pada pemusik tua.
Lusuh di sudut itu, sepadan organ yang makin lapuk.
Tapi apalah artinya seruling bagi gembala yang lama berkarib dengan kebebasan.
Pemusik itu tahu nada-nada tak ditanak pada bilah plastik, tapi pada dadanya.
Seluas prairi dadanya. Atau bahkan dia tak pernah peduli.
Fur Elise itu pun mengalun berulangkali. Itu juga dia tak peduli.

Dengarlah Fur Elise di Ampera.
Tadi sebelum menguap sempat kutangkap kristalnya.
Lalu kubungkus pelan-pelan dengan selembar jiwa.
Oleh-oleh buat istriku yang mangu menunggu.
Seperti biasanya, sekedar membukakan pintu untukku.
Tanpa pernah bertanya, mengapa masih saja kusimpan kenanganku.

(Pancoran, subuh)