5 November 2012

Si Kaya yang Miskin, Si Miskin yang Kaya


Situasinya jadi pelik ketika uang tidak lagi berguna. Yakni ketika uang, berapapun banyaknya, tidak lagi mampu membeli kebutuhan yang paling mendasar. Anehnya, di sisi lain seseorang justru memiliki semua yang dibutuhkan walaupun dia tidak memiliki uang sepeserpun. Lalu berlakulah ungkapan, “Si kaya yang miskin dan si miskin yang kaya.”

Seperti itulah kira-kira kisah teman-teman saya, pehobi offroad, yang malam itu ber-offroad ria menjelajahi perbukitan Hambalang, di wilayah Kab. Bogor. Pesertanya kira-kira sepuluh orang. Ketika mencapai puncak sebuah bukit, kira-kira pukul tiga dini hari, rombongan itu sudah benar-benar kecapekan. Air minum dan perbekalan sudah lama ludes. “Seperti mau pingsan”, begitu kata seorang teman menggambarkan situasinya.

Perlu diketahui, offroad motor adalah olah raga yang sangat melelahkan. Seseorang harus memiliki ketahanan fisik prima untuk melakukannya. Tidak salah bila olah raga ini juga punya sebutan enduro, yang maksudnya kira-kira “seberapa tahan anda melawan rintangan.” Bukan hanya naik turun bukit, tetapi juga karakter medannya yang berat. Kadang becek berlumpur, kadang berbatu-batu. Jangan bayangkan kita dapat duduk nyaman di sadel motor, seperti kalau kita onroad di jalan aspal yang mulus. Kita bahkan tidak boleh duduk. Kita harus setengah berdiri. Telapak kaki menapak step. Pantat diangkat sedikit ke atas. Lutut dan paha ditekuk. Persis seperti skotjam. Ketika jalanan mendaki, tubuh harus ditarik kedepan, duduk di tangki bensin. Sebaliknya bila menurun, tubuh ditarik jauh ke belakang. Tujuannya semata-mata agar motor trail kita tidak salto. Kalau tidak begitu, bisa-bisa kepala berhelm cakil itulah yang menancap duluan ke tanah sebelum akhirnya motor menyusul menimpa tubuh kita. Tetapi meski sudah berhati-hati dan berakrobat sana-sini, tak ayal satu dua kali kita tetap jatuh juga. Bila sudah benar-benar kecapekan, kita tak akan mampu lagi berdiri. Tubuh lunglai, jemari gemetaran. Setengah pingsan.

Di bukit Hambalang itu teman-teman saya tidak hanya kecapekan. Tetapi juga kehausan dan kelaparan. Tentu saja mereka memiliki bekal uang yang cukup. Dalam situasi normal, mereka bisa pesan buffet bermenu bawal bakar, kakap, atau mushroom soup yang hangat. Tetapi ini bukit yang jauh dari mana-mana, bahkan dari rumah penduduk. Jangankan makanan, air bersih pun tak ada. Dengan kata lain, teman-teman saya memang kaya. Tetapi situasinya begitu papa.

Untung saja di puncak bukit itu terdapat sebuah rumah sederhana. Berdinding bambu, bertiang kayu hutan. Ukurannya bahkan lebih kecil dari RSS. Di sekitarnya terdapat kebun singkong yang sudah siap panen. Kebun jagungnya baru saja di tanam. Rumah ini memiliki persediaan air minum yang disimpan di sebuah gentong gerabah. Air itu diambil dari sumber air di kaki bukit. Dua kilometer jauhnya. Tidak ada radio atau tivi. Apalagi home theater atau sambungan internet. Penghuninya adalah sepasang kakek-nenek berusia 70-an tahun. Wajahnya memang keriput, tetapi gerak-geriknya segesit anak muda. Selain bertani ala kadarnya, kakek-nenek ini juga mengumpulkan apa saja untuk dibawa ke kaki bukit. Kayu atau dedaunan. Dijual, lalu ditukar beras, ikan asin, dan garam.

Kakek-nenek ini bak malaikat penolong bagi teman-teman saya. Keduanya tidak hanya memberi air putih, tetapi juga teh hangat yang serasa minuman surga. Dan saat rombongan itu asyik beristirahat, kakek-nenek itu pun segera mengupas ketela. Menanaknya dengan sedikit garam. Setelah matang, mereka menyuguhkannya pada para tamu yang kelaparan. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya. Teman-teman saya menyebut singkong rebus itu sebagai stick gunung. Sebutan yang tulus, penuh rasa terima kasih.

Di akhir perjumpaan, teman-teman saya bermaksud membayar semua hidangan. Tetapi kakek dan nenek itu serta-merta menolaknya. Dalam Bahasa Sunda, kakek itu berkata, “Teu kedah atuh Aden. Sawios, da eta cai sareng sampeu wungkul.” (Nggak usah Den, wong itu sekedar air putih dan singkong saja). Lalu rombongan itu pun melanjutkan perjalanan. Dengan perut kenyang.

Di puncak bukit, kakek-nenek itu memang orang miskin. Tetapi anehnya, dia mampu mensedekahi orang-orang yang lebih kaya. Betapa misteri hidup ini memang tidak ada habisnya.[]