21 Mei 2013

Road To School: Mansur dan Kegigihan Bersekolah
(bag. 2)

"Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan"
UUD 45 Pasal 31 Ayat 1

 


Bocah itu bernama Mansur. Usianya baru 8 atau 9 tahun, kelas 3 SD. Setiap hari dia berjalan kaki -- sering tanpa sepatu -- sejauh 5 kilometer untuk bisa sampai di sekolah. Bukan melalui jalan rata apalagi beraspal, tetapi jalur rumpil setapak, mendaki dan menuruni bukit. Setiap kali menerabas semak-semak, embun pagi yang menggigilkan di lembah yang terkenal sangat dingin itu selalu membuat celana dan baju seragamnya basah. Sekalipun begitu, semangatnya tak pernah surut. Karena keteguhannya inilah maka para offroader mengabadikan namanya untuk sebuah tanjakan dan tikungan paling berhaya di desa itu, Tanjakan Mansur.



Di tengah-tengah rimba belantara, setelah mengalami perjalanan sulit di jalan rintisan berlumpur, anda akan menemukan perkampungan. Rumah-rumahnya nyaris tak ada yang permanen, kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu. Jarak antar rumah juga jauh. Inilah Desa Cisaranten, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur. Tetapi sekalipun masuk administrasi Cianjur, lokasi ini justru lebih "mudah" dicapai melalui ujung tenggara Kabupaten Bandung, yakni Kecamatan Ciwidey, melewati Perkebunan Teh Rancabali dan Bukit Sumbul. Saya sebenarnya tidak pantas menyebut "mudah" untuk mencapai lokasi ini. Sebab, wilayah ini hanya bisa disambangi dengan kendaraan gardan dua dan harus dikendarai oleh seorang offroader berpengalaman. Untuk mencapainya, kami memerlukan 18 jam dari Bandung pulang pergi, padahal jaraknya hanya 60 kilometer dari pusat metropolitan Bandung (silakan baca tulisan saya sebelumnya http://www.goeska.com/2013/05/road-to-school-meretas-jalan-ke-sekolah.html ). Karena dilingkupi pegunungan, hutan, dan jeram, maka daerah ini menjadi sangat terpencil. Begitu anda keluar dari jalan beraspal yang menghubungkan Kec. Ciwidey (Kab. Bandung) dan Kec. Cidaun (Kab. Cianjur), lalu memasuki jalan tanah ke desa ini, anda seolah-olah sedang memasuki gerbang kesunyian. Seperti sebuah dunia lain. Tak ada angkutan, tak ada transportasi. Lengang.


Di tengah perkampungan, di sebuah tanah datar terdapat bangunan mirip sekali dengan kandang hewan. Luasnya kira-kira 60 m2. Cukup kokoh sebenarnya. Tiang-tiangnya dari kayu hutan. Dinding dalamnya dari kayu sisa penggergajian, dan dinding luarnya dari bambu. Tetapi dinding itu tidak menutupi seluruh bangunan. Bagian yang agak tinggi dibiarkan terbuka. Terus terang kami awalnya mengira bangunan itu kandang ayam atau sapi. Walaupun agak mengherankan, mengapa begitu besar? Nyatanya memang bukan. Bangunan itu bukan kandang, tetapi sebuah sekolah. Ya, sekolah! Inilah SDN Giriasih, tempat Mansur kecil menuntut ilmu sepanjang pagi.

SD ini sebenarnya hanyalah "cabang" dari sekolah lain, yakni SDN Girimekar, yang jaraknya 10 kilometer dari lokasi. Konon, awalnya warga desa merasa khawatir putra-putri mungilnya setiap hari harus mengukur jalan, merambah medan yang sulit dan jauh untuk bisa sekolah. Lalu mereka pun berswadaya membangun sekolah seadanya, memanfaatkan lahan desa yang kosong. Secara administratif SD ini masih menginduk pada SD yang lama. Diampu oleh 3 orang guru, SD ini kini memiliki 84 siswa. Kelas satu 33, kelas dua 17, kelas tiga 13, dan kelas empat 21 siswa. Hanya terdapat 3 ruang kelas. Ujung kanan, kiri, dan tengah. Kelas 4 bergantian dengan kelas dua.



Desa ini dihuni sekitar 135 KK. Umumnya mereka hidup sebagai peladang atau peternak. "Sulit hidup didesa ini jika tak punya tanah untuk bertani. Beberapa orang akhirnya merantau sebagai TKI," kata seorang warga desa. Ketika kami mengunjungi desa ini, beberapa rekan mengungkapkan keheranan yang mirip, "Mengapa penduduk mau tinggal di daerah sunyi seperti ini?" Jawabannya kami peroleh dari para offroader, "Alamnya sungguh indah. Masih perawan, tak terpapar polusi. Lihatlah ladang, sawah, sungai, dan hutan itu, suatu berkah surgawi." Mungkin begitu. Tetapi angka statistik berbicara lain. Dalam lingkup Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Cianjur memiliki angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) paling rendah. Dan Cianjur Selatan adalah "penyumbang" terbesar terhadap jebloknya angka statistik itu. Mereka tak punya kemewahan seperti kita, yang mudah protes jika menemukan aspal berlubang. Tetapi Mereka, bahkan jalan tanah yang layak pun tak punya. Buruknya transportasi ini, menurut saya, pangkal persoalannya. Tak ada distribusi komoditi masuk atau keluar. Tak ada angkutan, mobil niaga, atau truk yang bisa mengalirkan barang, kecuali sesaat di musim kemarau ketika jalan benar-benar kering. "Kami mendapatkan keperluan barang rumah tangga dari pedagang yang sesekali datang pakai sepeda motor, atau menitip ke warga desa yang sedang keluar kampung," ungkap seorang warga. Kami menyaksikan sendiri bagaimana para pengendara sepeda motor terbanting-banting meniti turunan, tanjakan, dan tikungan maut yang super licin. Diperlukan kepiawaian sekelas offroader untuk bisa melintasinya.

Hujan, Sepatu Basah, dan Kontra Pedagogi

Sekolah yang tidak layak tentu saja menyimpan beragam penderitaan. Salah satunya kenyamanan. Karena dindingnya tak rapat, kedua ruang kelas di ujung bangunan sering kehujanan. Parahnya, saat ini curah hujan justru sedang sangat tinggi. Yang relatif aman hanyalah ruang kelas bagian tengah. Jika hujan tiba, para murid akan dikumpulkan jadi satu di ruang kelas tengah itu, berhimpit-hicmpitan. Dan karena bangku dan mejanya dipaku mati dengan tanah, maka sebagian besar murid itu belajar sambil berdiri. Anda bisa membayangkan, betapa sumpek dan hingar-bingarnya ketika sekitar 60 anak dikumpulkan dalam satu ruangan berukuran 4x5 meter.

Kita tentu saja tak pantas menanyakan fasilitas belajar-mengajar dalam kondisi seperti ini. Anda sudah bisa menduga seperti apa keadaannya. Tak ada kantor guru. Tak ada lemari. Tak ada buku-buku pelajaran, apalagi perpustakaan. Pun tak tersedia fasilitas kesehatan. Lantai bangunan ini juga masih tanah. Bukan ubin atau keramik, dan tentu saja sering becek. Jika hujan, kelas akan semakin kotor dan lembab. Seperti sebutannya di awal, mirip kandang ayam.

Kepala Desa Cisaranten, Kamal, menuturkan harapannya, seperti dikutip oleh koran Pikiran Rakyat Online, "Keberadaan sekolah baru di Kampung Giriasih memang sudah selayaknya.  Dinas Pendidikan Kab. Cianjur diharapkan bisa segera merealisasikan pembangunan sekolah permanen karena jumlah muridnya sudah cukup banyak. Selama ini, 'kelas jauh' di SDN Giriasih tidak kondusif untuk proses belajar mengajar. Jika hujan, banyak anak ke sekolah tak bersepatu karena becek. Dalam berbagai rapat desa, guru-guru di Giriasih sudah mengeluhkan hal tersebut."

Disini toilet adalah kemewahan, karena sekolah ini tak memilikinya. Jika guru dan para siswa terpaksa buat hajat, yang tersedia hanyalah sebuah tempat yang agak tersembunyi di belakang sekolah, tersamar oleh semak-semak. Kakus itu bahkan tak berpenutup atau berdinding. Juga tak tersedia air untuk sanitasi. 

Rosa, salah satu keluarga offroader, bercerita, "Manyedihkan sekali anak-anak itu. Sebagian besar mereka ke sekolah memakai sandal jepit. Jika ada yang pakai sepatu, biasanya sudah rusak dan basah di perjalanan. Seragamnya kumal dan banyak yang sudah kekecilan. Mereka tak memiliki tas sekolah atau alat tulis yang memadai." Memang, pada taraf subsisten, mana mungkin mereka sempat memikirkan sepatu, seragam, atau tas. Semua yang selama ini kita anggap kebutuhan dasar, disini menjadi barang mewah. Bahkan bersedia sekolah pun itu sudah sebuah berkah.

Jika akhir-akhir ini pendidikan nasional kita sedang diharu-biru oleh isu-isu ujian nasional atau kurikulum 2013, di sekolah ini semua itu menjadi absurd. Di tempat ini kita tak pantas menanyakan tentang efektifitas proses belajar-mengajar. Jangankan berbicara tentang kualitas pengajaran, ketersediaan guru saja tak tercukupi. Guru mengajar rangkap. Bukan hanya rangkap kelas, tetapi juga rangkap mata pelajaran. Kondisi sekolah yang tak nyaman dan sempit juga tak memungkinkan tercapainya proses belajar-mengajar yang efektif.

Seperti halnya Mansur, semangat siswa desa terpencil ini patut diacungi jempol. Seperti lazimnya anak-anak, mereka senantiasa bersukacita -- seperti dapat anda saksikan dalam beberapa foto di bawah. Demikian juga para guru. Dedikasinya layak diapresiasi. Mereka seolah tak menghiraukan keterbatasan dan minimnya fasilitas. Motif apalagi yang mendasari keteguhan seperti ini selain kecintaan pada profesinya? Di tempat lain, seorang guru mungkin memiliki kendaraan bermotor, entah itu roda dua bahkan roda empat. Di tempat ini, sekalipun mereka punya, piranti itu tetap saja tak bisa digunakan. 

Penderitaan ini tak lama lagi akan semakin membuat miris. Bergantinya tahun ajaran baru berarti pula bertambahnya jumlah siswa. Mereka bukan hanya berasal dari desa setempat, konon sekolah ini juga menampung anak-anak dari desa sekitarnya. Bila kondisi ini tak segera ditanggulangi oleh Dinas Pendidikan dan pihak-pihak lainnya, niscaya sekolah ini akan lebih parah dari sekedar kandang ayam.

Master Plan

Adalah H. Ajat Sudrajat, pegawai Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, yang "menemukan" desa ini dalam sebuah perjalanan dinas. Karena Pak Ajat juga seorang ketua kelompok offroader yang menamakan diri MTC (Manglayang Tracker Community 4x4 Bandung), dia lalu mengajak bersafari kelompok offroadnya setiap akhir pekan ke daerah ini. Mereka bahu-membahu dengan kelompok offroader lain di sekitar Bandung, seperti AOF dan lainnya. Kelompok-kelompok offroader ini kemudian mengumpulkan sumbangan dari masyarakat untuk membantu masyarakat Desa Cisaranten dan sekolahnya, baik berupa uang, piranti sekolah, buku pelajaran, dan lainnya. Ini seperti bunyi pepatah, sekali mendayung tiga pulau terlampui. Mereka menemukan lahan asyik untuk menyalurkan hobinya menggaruk lumpur, sekaligus pada saat yang sama melakukan kegiatan amal.

Rupanya kelompok-kelompok offroad ini bergerak lebih jauh. Mereka juga menghubungi media, sehingga sekolah di daerah terpencil ini akhirnya terpublikasikan ke berbagai media nasiona. Koran dan tivi lalu memberitakannya secara maraton. Tetapi pemberitaan yang masif ini belum banyak berpengaruh pada keadaan sekolah. Tak ada upaya nyata dari Pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan sekolah yang lebih permanen.

MTC pun kemudian berinsisiatif membuat proposal kepada siapa saja untuk membantu pembangunan sekolah. Proposal ini juga dilengkapi dengan master plan pembangunan gedung sekolah seluas 160 m2 di atas tanah desa seluas 300 m2. Rancang bangun gedung ini cukup representatif dan indah, dan sudah dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti toilet, taman, dan lapangan olah raga.

Foto-foto dibawah ini rasanya lebih bisa berbicara banyak. Foto-foto ini saya ambil dari dokumentasi proposal milik MTC, dan khusus gedung sekolah saya ambil dari koleksi pribadi teman kami, Ratih Sawitrijati.

Bagi anda yang bermaksud menyumbang, baik dana, atau piranti sekolah, baru atau bekas -- seperti Sepatu, baju seragam, tas, atau buku-buku pelajaran dan bacaan, silakan menghubungi sekretariat MTC, JL. Tanjakan Sari, No. 76 Cileunyi, Bandung. PIC: H. Ajat Sudrajat/M. Lufti Oktaribi.

Tulisan ini adalah catatan ekspedisi kecil-kecilan dari Paguyuban ITB 89, bersama tim offroader AOF dan MTC.[]

8 Mei 2013

Road to School: Meretas Jalan ke Sekolah (Bagian 1)


Apalah artinya sebuah cerita. Tetapi tanpa cerita, tak ada yang bisa kita ketahui, bukan? Tulisan ini memang sekedar cerita tentang upaya kami menemukan sebuah sekolah yang pernah diberitakan oleh TV nasional dan media massa lainnya yang konon mirip kandang ayam. Tentu sudah sering kita dengar tentang sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Masalahnya, sekolah yang kami cari ini hanya berjarak 60 km dari kota Bandung. Judul tulisan ini bermakna ganda. Pertama, menggambarkan sulitnya usaha kami untuk mencapai lokasi. Kedua, sulitnya anak-anak warga setempat untuk bisa bersekolah secara layak. Saya akan menceritakan satu demi satu, dan mohon simpan dulu isu-isu tentang Ujian Nasional atau Kurikulum 2013. Cerita ini bakal lebih getir ketimbang isu-isu itu.

 
Rubicon, Lumpur, dan Lintah

Saya sebenarnya tidak asing terhadap daerah Cianjur Selatan. Hampir sebulan sekali saya mengajak keluarga berakhir pekan ke daerah ini. Melalui Perkebunan Rancabali, kami biasanya naik ke Gunung Sumbul melalui jalan yang berkelok-kelok. Pemandangannya sungguh menawan, menyisiri permadani hijau kebun teh, yang dibelakangnya dibentengi oleh hutan lebat yang kian langka. Kadang-kadang kabut turun menutupi perbukitan, membuat kita seolah tercerabut dari alam nyata dan terjebak di dunia lain. Seperti dunia para dewa atau kahyangan yang diceritakan dalam film Sun Go Kong atau mitologi Yunani. Jika kabut menghilang, dari puncak Gunung Sumbul itu kita bisa melihat horison
putih bergerak-gerak di kejauhan, melayang diantara perbukitan kelabu nan jauh. "Yang putih itu Pantai Jayanti Cidaun, Pak" kata pemilik warung satu-satunya di Puncak Sumbul. Anak saya, yang menggemari film The Lord of The Rings, menggelari Puncak Sumbul ini sebagai Shire, negeri indah para Hobbit.


Jalan yang saya lalui selama ini selalu beraspal mulus. Tetapi memang sempit. Jika berpapasan dengan kendaraan lain, kita harus sedikit menepi. Kanan-kirinya minim sekali perkampungan. Hanya ada satu-dua yang dihuni oleh warga perkebunan. Rumah-rumahnya biasanya dicat dengan warna khas putih-biru. Perkampungan ini juga sudah dilengkapi dengan sekolah yang bangunannya sangat baik dan kokoh. Bangunan sekolah itu terlihat jelas dari jalan raya. Tetapi.. tiba-tiba teman kami, Maman Tirta Rukmana, mengabarkan bahwa di sekitar rute main-main saya itu terdapat desa yang tak bisa dilalui kendaraan, dan memiliki sekolah yang mirip kandang ayam. Desa dan sekolah ini bahkan sudah diberitakan oleh salah satu stasiun tivi nasional. Terus terang saya bingung, yang mana sih? Setahu saya seluruh perkampungan disini sudah dilalui jalan beraspal. Bahkan juga sudah dilalui angkutan antar kota (baca "elep"), yang dalam sehari lewat beberapa kali, menghubungkan Kecamatan Ciwidey (Kabupaten Bandung) dan Kecamatan Cidaun (Kabupaten Cianjur). Juga bangunan sekolahnya sudah permanen. Jika malam tiba, desa-desa ini akan tampak kerlap-kerlip oleh lampu-lampu listrik, tak berbeda dengan kampung-kampung di perkotaan. Tetapi keramaian memang hanya terjadi pada siang hari. Jika malam, selain cahaya lampu perkampungan itu, seluruhnya seolah mati. Anda akan ditelan oleh kegelapan gunung-gunung dan hutan.

Ah, saya terlalu naif rupanya. Saya terperdaya oleh mooy indie. Kampung yang dimaksud Maman itu tak berada dijalur wisata, tetapi tersamar oleh hutan belantara,  kira-kira jaraknya 20 km dari Puncak Sumbul yang sering saya datangi. Dekat memang. Tetapi masalahnya, kampung itu tak bisa ditembus oleh kendaraan biasa. Untuk bisa mencapainya, kita harus menumpang mobil bergardan dua, dan mesti pula dinakhodai oleh seorang ofroader berpengalaman. Jika tidak, niscaya jurang yang dalamnya tak bertepi -- benar-benar tak terlihat dasarnya-- akan dengan senang hati menelan tubuh kita bulat-bulat. Inilah tempat yang akan kami tuju dalam ekspedisi kali ini. Sebuah desa yang sekalipun berada di Wilayah Kabupaten Cianjur, tetapi secara geografis lebih dekat ke Ibukota Kabupaten Bandung. Sebuah desa yang seperti terlupakan.

Kami menamakan kegiatan kali ini dengan istilah yang agak dramatis, "ekspedisi". Bukan tanpa alasan, tetapi alasannya baru akan teman-teman pahami jika sudah selesai membaca tulisan ini. Untuk mudahnya, tolong terima saja istilah "ekspedisi" ini. Kami membawa amanah dari Paguyuban ITB 89 untuk mensurvei lokasi, agar Paguyuban dapat memberikan bantuan semampunya, dan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Setelah direncanakan selama satu-dua minggu oleh Yanti Wijanarko  (Koordinator Sosbud) dan Maman Tirta Rukmana (Koordinator Lapangan), akhirnya pagi itu -- tanggal 4 Mei 2013 --  ekspedisi ITB 89 bertolak dari Dipati Ukur, Bandung. Tim ini berkumpul sejak jam 06.00 pagi. Tim 89 yang ikut dalam kegiatan ini adalah Maman Tirta Rukmana, Yanti Wijanarko, Mursid Wijanarko, Asep Zaenudin Noor, Ratih Sawitridjati, Myrna Utari, Ully Roy, Fitri Halim, dan saya (Agus Kurniawan). Untuk bisa sampai di tujuan, tim Paguyuban didukung oleh para offroader dari Bandung, rekan-rekan Maman yang tergabung dalam AOF, diantaranya Hasbi Prasetya, Fahmy Pastriana, Devy Manang, Abeh Ohank, Camel Hendi, Ryan Kusumah, Herry Firdaus, Nujajunk Juliadi, Elita Rukmana (istri Maman), Wado, Bar Anoe, Ahmad Sunjaya, dll. Beberapa offroader juga membawa istri dan anak, yang sepertinya sudah terbiasa dengan kegiatan seperti ini. Para offroader ini juga berperan sebagai pengangkut rombongan 89. Maklumlah, selain Maman -- yang ketika itu membawa kendaraan super tangguh Wrangler Rubicon 3800 cc, tak seorangpun dari Tim ITB 89 lainnya yang memiliki pengalaman offroad. Kami bahkan tak memiliki kendaraan gardan ganda seperti yang disyaratkan. Satu-satunya kendaraan yang kami anggap layak untuk medan ini adalah Taft milik Ratih, yang disindir oleh Maman dengan istilah "tuwil", plesetan dari "two wheel" (gardan tunggal).

Alhamdulillah, secara kebetulan kami juga seagenda dengan kelompok offroader lain, yang menamakan diri MTC (Manglayang Trekker Community). Inilah komunitas yang "menemukan" desa terpencil ini dan mempopulerkannya ke dunia luar. Kami semua berkumpul bersama di Taman Wisata Cimanggu, Ciwidey, untuk sarapan pagi, foto-foto, dan berkenalan. Total kendaraan yang ikut dalam ekspedisi ini mencapai 25-an. Bisa anda bayangkan, dari sekian banyak mobil, cuma Taft milik kami yang "tuwil". 

Menjelang siang kami telah sampai di pos berikutnya, di Warung Puncak Sumbul. Warung inilah yang sering saya sambangi bersama anak-anak untuk berakhir pekan, seperti sudah saya ceritakan di atas. Inilah satu-satunya warung yang ada di daerah itu, bahkan satu-satunya rumah. Sisanya adalah hamparan perkebunan Teh dan hutan. Ini juga menjadi pos perbekalan terakhir. Tim MTC akhirnya berangkat duluan setelah mendapatkan perbekalan yang dibutuhkan (nasi bungkus dan air minum). Sementara rombongan kami terpaksa tertunda satu jam gara-gara nasi di warung keburu habis, dan pemiliknya harus menanaknya kembali. Terus terang saya agak heran, mengapa untuk menempuh jarak 20 km para trekker perlu menyimpan banyak perbekalan? Kenapa harus capek-capek menunggu nasi yang masih ditanak? Bukankah 20 km bukanlah jarak yang jauh? Tim 89 memang tak sesiap para offroader dalam menghadapi medan. Kami hanya membawa perbekalan ala kadarnya. Mungkin juga karena kami agak underestimate terhadap medan yang akan ditempuh. Kami memang membawa pakaian ganti, tetapi tidak membawa perlengkapan penting, misalnya jas hujan atau panco. Sedangkan para offroader, karena tahu medan, lebih siap dengan perlengkapan yang komplit. Kalau dipikir-pikir, apa sih artinya jarak 20 km? Jika berjalan kaki, paling lama juga 4 atau 5 jam? Pertanyaan saya itu kelak akan terjawab setelah saya mengalami sendiri terjebak selama belasan jam di dalam hutan.

Setelah perbekalan tercukupi, kami pun melanjutkan perjalanan. Kira-kira satu kilo meter dari warung itu, kami keluar dari jalan beraspal, memasuki jalan tanah rintisan. Yang membuka jalan itu mungkin pemerintah atau Kopasus, saya tidak tahu persis. Tetapi di jalan masuk itu memang terdapat papan pengumuman besar. Bunyinya, "Tempat latihan Kopasus". Ternyata jalan inilah yang selama ini saya abaikan. Saya sudah sering melihat papan pengumuman itu, tetapi tidak menyangka bahwa jalan itu menuju pedesaan. Saya mengiranya hanya sebagai tempat latihan tentara. Awalnya jalan tanah itu lumayan baik, masih bisa dilalui oleh mobil 'tuwil' milik Ratih. Tetapi baru berjalan dua kilo meter, si tuwil itu terpaksa harus ditarik karena selip. Jalan tanah itu berlumpur hingga setengah ban, dan membuat roda tuwil serupa dengan kincir kertas mainan anak-anak, alias muter ditempat. Karena tak memungkinkan menarik mobil sepanjang jalan, maka akhirnya si tuwil pun ditinggal begitu saja di hutan.       

Nestapa datang lebih cepat. Hujan yang biasanya menjadi berkah, justru kini menimbulkan kesulitan. Jalan becek itu menjadi lebih berlumpur. Oh, ini sebabnya Maman sejak awal mewanti-wanti agar kami membawa kendaraan gardan dua. Bahkan kendaraan cangkul itu juga tidak bisa berjalan dengan mulus. Badannya terpeleset ke kanan dan ke kiri. "Lagi goyang, Wa?", itulah candaan para offroader jika melihat mobil rekannya terbanting-banting. Pada kilometer ke-4 sebuah pohon tumbang berdiameter 40 cm menghadang kami. Pohon itu sudah digergaji oleh offroader yang lewat sebelumnya, tetapi meletakkannya tidak benar-benar rapi di sisi jalan. Kendaraan kecil seperti Jimny dapat melewatinya dengan mudah. Tetapi Rubicon milik Maman tidak semudah itu. Untuk bisa melewati celah sempit itu, si Rubicon harus dijaga dari depan atau belakang oleh dua kendaraan lain (dengan diikat tali) agar tidak terpelanting ke jurang atau menghantam potongan kayu. Beberapa navigator dan tim 89 cowok terpaksa berhujan-hujan ria untuk membantu mengarahkan Rubicon itu atau sekedar memotretnya. "Saya dulu pernah harus menginap empat hari di sini gara-gara pohon tumbang", cerita Maman, "Begitu bisa menapak lagi di jalan aspal, saya langsung menciumnya." Tapi nestapa yang sesungguhnya baru menghadang tiga atau empat kilo meter di depan. Jalan yang tadinya rata, kini menurun curam dan meliuk-liuk. Beberapa diantaranya terdapat tikungan siku-siku -- benar-benar bersudut siku-siku. Saya baru sadar bahwa kami bertolak dari puncak bukit, sementara lokasi yang dituju berada di lembah. Tentu saja jalan yang turun dan meliuk-liuk itu sangat menyulitkan. Apalagi diguyur hujan lebat. Jangankan kendaraan, saya yang mencoba jalan kaki saja rasanya setengah mati. Sering tergelincir karena licin. Untuk menuruninya, mobil-mobil offroad itu sebagian harus dijaga dari belakang oleh mobil lain -- dengan diikat dengan tali, agar tidak lepas landas ke tebing.     

Setengah perjalanan, Maman, sang komandan lapangan, tiba-tiba turun dari mobil di tengah guyuran hujan. Waktu itu pukul 15.00, menjelang sore. "Saya mau lihat keadaan di depan dulu," katanya. Setengah jam kami menunggunya. Dan begitu kembali, dia mengabarkan kekecewaan, "Saya putuskan hanya tiga mobil yang boleh turun. Yang lain harus menunggu disini." Artinya, sebagian besar rombongan kami tak akan sampai di tujuan! "Keadaannya tidak memungkinkan. Jika dipaksa turun malah menyusahkan. Bukan hanya turunnya, tetapi juga pulangnya nanti," kata Maman menjelaskan, dengan ekspresi penuh permohonan maaf. Mungkin Maman mempertimbangkan kami yang minim pengalaman offroad. Selain itu, beberapa mobil tidak dalam kondisi sempurna. Ya, sudahlah. Tim 89 yang akhirnya beruntung turun hanya Maman, Asep, dan Ratih. Tetapi kelak sewaktu pulang, Ratih bercerita bahwa ketiga mobil yang berhasil turun itupun nyaris mengurungkan niatnya, "Medannya berat. Tikungan tajam, dan dibawahnya jurang menganga. Saya sampai menutup mata karena ngeri."

Akhirnya kami, diluar yang berada di tiga mobil tersebut, seperti sedang melakukan jambore. Membuat tenda darurat, menyalakan kompor portabel, membuat kopi atau menanak mie instan biar agak hangat. Maklumlah, kami kedinginan karena berhujan-hujan. Selain itu, ini memang daerah pegunungan yang dikenal udaranya sangat dingin. Kami juga menyikat habis perbekalan yang dibawa dari Puncak Sumbul. Untuk membunuh waktu dan mengubur kekecewaan, kami mencoba membuat api unggun. Lumayan sulit karena ranting-rantingnya basah. Telinga kami selalu menunggu deru mobil, siapa tahu teman-teman kami sudah kembali. Atau mata kami mencari-cari sorot kendaraan yang lewat. Tetapi itu hanya harapan kosong. "Ah, mereka tak akan kembali malam ini. Mungkin mereka menginap di desa," kata seorang offroader yang membuat kami semakin nglangut. Kami juga berusaha menghubungi mereka dengan HP, tetapi tak satupun operator yang bisa nyambung. Akhirnya kami pasrah, dan bersiap bermalam di tengah hutan, menemani lutung, kelelawar, dan lintah. Oh ya, entah darimana datangnya tiba-tiba Yanti dan Fitri menemukan hewan semacam cacing di rambut mereka, juga di lengan. Ketika akan dibuang, hewan itu menggigit hingga lengan rekan kami itu keluar darah. "Itu salah satu spesies lintah," kata seorang offroader.

Jam 22.00 malam, seberkas cahaya datang. Kami sedikit gembira, sekalipun sorot lampu itu datang dari arah yang tidak kami harapkan. Rupanya tiga mobil offroad MTC baru saja menyusul dari Bandung. "Kami mengantar genset untuk warga desa, Kang," kata seorang offroader. Ah, sekalipun mereka bukan rekan-rekan kami yang sejak tadi kami tunggu, tetapi kehadirannya sedikit menceriakan. Setidaknya kami punya banyak kawan seperjalanan. Karena sulitnya medan, bahan bangunan sumbangan untuk pembangunan sekolah pun harus dianter dengan cara offroad semacam ini. Teman-teman offroader yang satu rombongan dengan kami bercerita, "Beberapa minggu kemarin kami kemari membawa balok-balok kayu untuk gedung sekolah. Masing-masing mobil menarik kayu dengan tali. Lumayan seru, sih. Mungkin lain kalo kami juga akan mengangkut semen kesini, diikat di atap mobil atau bagasi. Tapi itu kalau tidak hujan."

Untuk mengusir kebosanan, kami lalu mengantar dengan berjalan kaki kepergian rekan-rekan MTC itu hingga di tikungan bawah. Mereka merayapi tikungan dengan sangat pelan, dan setiap mobil yang turun harus dijaga oleh mobil lainnya. Teriakan aba-aba mereka mengingatkan kita pada suasana penyelamatan oleh tim SAR atau situasi perang di film-film. Tanpa kami sadari, keberkahan datang tepat di depan mata. Berlawanan arah dengan mobil-mobil MTC itu, rekan-rekan kami yang sejak tadi kami tunggu tampak sedang merayap naik. Mereka agak lama tertahan di jalan karena salah satu mobil bannya kempes, dan tergelincir hingga melintang di jalan. Mereka telah terpisah dari kami setidaknya selama 7 jam, dari jam 15.00 hingga jam 22.00. 

Ratih yang berhasil turun ke bawah telah berhasil memotret "bangunan" sekolah. Dia juga telah melakukan komunikasi dengan tetua setempat dan rekan-rekan dari MTC yang selama ini mengkoordinasikan bantuan. Rencana awalnya memang kami akan melihat master plan pembangunan sekolah itu, sembari mensurvey lokasi. Tetapi apa daya, keinginan kami tak kesampaian. (Kondisi sekolah akan saya ceritakan dalam tulisan terpisah -- bagian 2).

Akhirnya kami bisa membongkar sauh, pulang! Tetapi kami belum bisa bersantai. Perjalanan pulang sepanjang sepuluh kilometer sama beratnya dengan saat keberangkatan. Jalan yang menanjak dan berlumpur menanti di depan mata. Alhasil, kami pun akhirnya baru sampai di jalan raya, dan berkumpul kembali di Taman Wisata Cimanggu sekitar pukul 03.30 dini hari. Dengan kata lain, kami telah menghabiskan waktu hampir 18 jam untuk mencari sebuah sekolah, yang jaraknya hanya 60 km dari kota metropolitan Bandung. Tragisnya, tidak seluruh tim pun bisa sampai di tujuan. Inilah sebabnya kami menyebutnya sebagai ekspedisi, sekalipun cuma kecil-kecilan.[]

27 April 2013

Roadmap Cinta

Roadmap Cinta
Cinta itu indah
(syair lagu)

Kira-kira 3500 tahun lalu, romansa paling dikenang dalam sejarah manusia terjadi di rumah seseorang bergelar Al-Azis, atau Fortipar namanya, di tanah Mesir. Ketika itu nyonya rumah bermain-main api di punggung suaminya, mengejar cinta seorang budak muda yang bekerja di rumahnya. Budak itu amat tampan, memiliki raga sempurna, yang sanggup membuat para perempuan mengiris jari mereka sendiri tanpa sadar hanya karena melihat pemuda itu lewat di depan mereka. Begitu besar amok asmara, membuat perempuan itu kehilangan akal sehat. Secara nista dia menjebak sang pemuda di dalam kamar terkunci. Dan ketika cintanya ditolak, nyonya itu meradang, mengadu pada suaminya dengan narasi yang dimanipulasi. Kita pun tahu akhir ceritanya, pemuda itu harus menghadapi peradilan karena sebagian penduduk tak menyukai ketampanannya yang menggiurkan para isteri. Dia dipenjara untuk waktu yang lama. Inilah kisah Yusuf AS (salam sejahtera untuknya), atau Joseph, yang dicatat dalam tiga kitab suci agama terbesar dunia, Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan setelah dibumbui oleh mitos-mitos di luar teks kitab suci, kisah ini lalu didongengkan kepada lebih dari separuh penduduk bumi.

Cinta memang aneh. Digilai, meskipun sering menyengsarakan seumur hidup. Konon hormon serotoninlah biang keladinya, membuat otak kita mencandu rasa sakit: kian menyakitkan, kian menghanyutkan. Perempuan itu contohnya -- kitab suci tak pernah menyebutkan siapa namanya. Dia rela mengorbankan kehormatan diri demi cinta seperti itu. Kahlil Gibran menulis,

Jika cinta mengajakmu, sertailah ia,
Sekalipun jalan yang ditempuh cadas terjal.
Berserahlah jika sayapnya merengkuhmu,
sekalipun belati yang tersamar dalam bulu-bulunya mungkin melukaimu...

Kita pernah merasakan yang seperti itu, saya yakin. Entah dulu atau kini masih. Kita seperti didesak-desak untuk segera mengakuisi sesuatu yang berasal dari orang yang kita cintai, entah apa bentuknya. Mungkin tubuh, pemujaan, perhatian, atau sekedar tatapan takjub. Kita rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengintipnya lewat di selasar masjid atau dibalkon kafe. Dan jika kehadiran kita diabaikan, kita akan terluka. Namun jika dia menyapa ala kadarnya -- ya, hanya ala kadarnya, kita tiba-tiba mengalami eforia seolah-olah sang pujaan itu baru saja menentukan takdir abadi -- menyerahkan dirinya untuk kita. Entah kenapa kita tiba-tiba merasa tak utuh tanpa kehadirannya,  tak lengkap, atau malah kosong. Dan ketika cinta itu berhasil direngkuh, kita merelakan diri menjadi abdi: menyenangkannya, merawatnya, sepanjang kita masih bisa merasa memiliki si dia. Lalu kita mati-matian mempertahankan kepemilikan itu. Kita merasa bahagia, sekaligus menderita, karena kebahagiaan akibat cinta ini adalah sebuah paradoks: ketika kita bahagia, kita tak mau kebahagiaan itu berakhir; dan ketika kita tak mau sesuatunya berakhir, maka kita jadi tak bahagia.

Hampir setiap kebudayaan memiliki kisah-kisah tersohor tentang cinta. Dalam rumpun Indo Eropa, kita tahu dongeng Eros-Psyche di Yunani, Rama-Sinta di India. Dan dalam rumpun Timur, kita mengenal Liang-Zhu (Sampek-Engtay). Budaya tradisional kita sendiri juga memiliki berjibun folklore, seperti kisah wayang, Lutung Kasarung, Jayaprana-layonsari, dan lainnya. Ringkasnya, cinta telah menjadi bagian penting dari setiap kebudayaan di seluruh belahan dunia. Tetapi tak ada drama yang lebih agung selain hidup kita sendiri. Bukan hal yang aneh jika anda tiba-tiba meraih sapu tangan mengusap air mata hanya karena menonton Ariel Noah menyuarakan cinta mendayu-dayu -- seolah dia bersenandung khusus untuk anda. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam The Social Science Journal tahun 2003, cinta memang mendominasi tema lagu pop dari masa ke masa -- hal yang mudah kita tebak. Bukan hanya lagu, rasanya hampir seluruh bagian dalam hidup kita memang didominasi oleh romansa seperti itu.

Baiklah, tadi adalah cinta jenis tertentu. Tapi silakan simak juga kisah tentang ular kobra di pegunungan India yang mencengangkan. Ular kobra betina memerlukan waktu berhari-hari dan perjalanan berkilo-kilo sebelum menemukan tempat yang tepat untuk bertelur. Begitu seluruh telur dikeluarkan, induk kobra itu akan berpuasa selama beberapa minggu untuk mengeraminya, sekaligus menjaganya dari predator. Selama itu induk kobra tak pernah makan dan kelaparan. Anehnya, ketika tiba waktu telurnya menetas, induk kobra yang kelaparan itu serta-merta menjauhi sarangnya, meninggalkan calon anak-anaknya. Ya, begitulah, seperti ada yang menuntunnya. Mengapa induk kobra itu meninggalkan anaknya? Bukankah semestinya dia bergembira menyaksikan buah hatinya hadir ke dunia ramai, lalu merawat mereka seperti yang dilakukan hewan-hewan pada umumnya? Induk kobra melakukan itu karena alasan yang sungguh mengharukan: dalam kondisi lapar, dia takut memakan anaknya sendiri yang baru saja menetas. Instingnya memberi tahu bahwa dirinya bagaimanapun seekor binatang buas, lalu memilih pergi demi keselamatan anaknya. Dia mengorbankan kesenangannya demi keselamatan sesuatu yang lain. Sepertinya kobra itu menjalani suatu cinta jenis lain.

Para rasul adalah tauladan terbesar dalam kaitannya dengan cinta jenis lain itu. Dua ribu tahun lalu, Isa AS (salam sejahtera untuknya) mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan cinta kasih kepada seluruh manusia, seperti guru yang mengajari membaca kepada anak kecil yang belum bisa mengeja. Lalu enam abad kemudian di gurun tandus Mekah, Rasulullah Muhammad SAW (salam sejahtera untuknya), mengorbankan kemapanan hidupnya sebagai pengusaha terpandang dan membuang begitu saja previledge sebagai anggota keluarga suku penguasa, demi misi mulia mengangkat seluruh manusia dari kegelapan menuju cahaya nilai-nilai. Hidup mereka memang identik dengan pengorbanan. Bukan untuk waktu sekejab, tetapi sepanjang hayat. Bukan hanya pengorbanan atas harta milik, tetapi bahkan jiwa. Kebanyakan para rasul dalam memperjuangkan risalahnya memang sering harus berhadapan dengan penguasa politik. Yang berarti bahwa keselamatannya selalu terancam. Kehidupan mereka jauh dari rasa senang dalam pengertian yang umum. Mereka baru makan setelah semua orang kenyang. Mereka berada di garis depan dalam menanggung resiko. Kita menyebutnya berzuhud, menjauhi eksploitasi kesenangan yang berlebihan. Pun bahkan ketika perjuangannya sudah dianggap berhasil -- misalnya ketika beliau baru saja menjadi pemimpin suatu imperium baru, tetap saja beliau berzuhud. Tidur bukan di atas ranjang mewah ala para pemenang, tetapi memilih hanya beralaskan tikar daun kurma, meninggalkan bekas-bekas galur dipunggung. 

Mungkin cinta para rasul terlalu agung. Tetapi kita memiliki daftar yang tak kan habis tentang cinta semacam itu dalam berbagai ukuran. Sukarno, misalnya. Ketika dia lulus dari ITB -- suatu previledge langka, dia tak memilih jadi ambtenaar yang membuat hidupnya sangat nyaman. Dia justru memilih mencetak brosur berisi mimpi-mimpinya memiliki negara merdeka, yang mengantarkannya ke penjara. Bukan penjara "nyaman" seperti sekarang, tetapi penjara milik rezim penjajah yang bengis. Begitu pula Hatta, Agus Salim, Tan malaka, Cut Nya' Dien, Pattimura, dan lainnya. Mereka pada kadar tertentu bertindak sebagaimana para rasul, mendedikasikan hidupnya demi kepentingan yang lebih besar di luar dirinya. Termasuk dalam kelompok ini adalah para ibu yang tulus merawat anak-anaknya. Atau para kyai, para pejuang, teman-teman kita yang giat beramal atau memperjuangkan prinsip-prinsip tertentu. Dan masih banyak lagi.

Kalau begitu kita memiliki dua jenis cinta. Jenis pertama, sebagaimana perempuan Mesir menggadang Yusuf, adalah cinta yang bersyarat (conditional love). Cinta seperti ini baru lahir karena sang pecinta memiliki tuntutan tertentu. Saya menyebutnya obsesi kepemilikan, atau boleh juga disebut serotonin effect. Cinta ini lahir dari keinginan untuk mengakuisisi sebagian atau seluruhnya hal-hal milik orang yang kita cintai. Syair Ariel, Bruno Mars, Celine Dion, Roma Irama, Ikke Nurjanah, Beatles, Metalica, Didi Kempot, Shakespiere, Laila-Majdnun... melukiskan dengan gegap-gempita cinta bersyarat ini. Bahkan riset dalam The Social Science Journal itu mengabarkan bahwa syair-syair lagu pop kini semakin egois: cinta dalam syair-syair itu cenderung semakin menuntut dan kurang melayani.

Jenis cinta kedua adalah unconditional love, cinta tak bersyarat. Sang pecinta disini tidak menuntut imbal balik apapun dari obyek yang dicintai. Cinta dipahami dan dihayati bukan dalam perspektif kepentingan orang yang mencintai, tetapi demi kepentingan pihak yang dicintai. Inilah cinta yang tidak berpretensi apalagi terobsesi untuk mengakuisisi. Tetapi sebaliknya, pelakunya justru mengorbankan harta miliknya, bahkan hidupnya, demi yang dicintai. Cinta jenis ini bertujuan untuk mengembangkan atau memberi manfaat sebesar-besarnya kepada yang dicintai. Inilah cinta yang berperan besar dalam mengembangkan kehidupan menuju taraf yang lebih sempurna. oleh karenanya, seorang yang berhasil merengkuh cinta jenis ini akan terangkat derajadnya, dari manusia sekelas lumpur bertransformasi menjadi khalifah atau wakil Tuhan di bumi. Seperti kata Muhammad Iqbal, penyair Pakistan itu, "Allah menciptakan lempung, manusia membuatnya menjadi gerabah." Hebatnya, pelaku cinta kedua ini justru akan merasakan kebahagiaan yang lebih murni dan langgeng ketimbang pecinta jenis pertama. Sebab, pecinta kedua ini tak harus merasakan sindrom penyakit hati dan ketakutan kehilangan -- sumber paradoks kebahagiaan, seperti yang biasa dialami oleh pecinta jenis pertama. 

Sayangnya kita, manusia, tak mudah memiliki cinta jenis kedua karena suatu sebab, yang akan saya ceritakan di bawah ini.

ROADMAP CINTA

Sejak sepuluh tahun lalu saya mengenal seorang lelaki sepuh. Beliau penyair, pelukis, penghayat tasauf yang serius. Namanya Muhammad Zuhri, dan kami memanggil beliau Pak Muh. Beliau bercerita kepada kami tentang apa yang saya namakan roadmap cinta.

Syahdan, Allah -- Tuhan seru sekalian alam -- mencintai seluruh makhluknya tanpa pandang bulu, sesuai nama-Nya Ar-Rahman. Tetapi pada akhirnya, Allah memilih sebagian kecil makhluk-Nya untuk lebih dicintai, sesuai sebutannya Ar-Rahim. Mereka yang terpilih itu tidak ditentukan berdasarkan ukuran-ukuran profan, melainkan berdasarkan dedikasi mereka pada kehendak Allah, yang disebut taqwa. Ringkasnya, awalnya Allah mencintai semua makhluk secara merata, tetapi kemudian pada akhirnya Allah memilih hanya beberapa untuk lebih dikasihi. Tentu kita tidak bisa melabeli cinta Tuhan dengan conditional atau unconditional, karena Dia sama sekali tak bergantung pada ciptaan-Nya. Tetapi ilustrasi ini hanya untuk mengambarkan sebuah roadmap bahwa cinta Tuhan berawal dari inklusif menjadi lebih eksklusif.

Sementara kita, manusia, berbeda. Makhluk Tuhan paling mulia ini mengambil roadmap yang berkebalikan dengan cinta Tuhan. Awalnya, cinta manusia sangat ekslusif dan bersyarat (conditional). Manusia mengerahkan seluruh daya hidupnya hanya untuk mencintai beberapa pihak saja: diri sendiri, istri, anak, keluarga. Kita tak mudah membaginya kepada pihak lain, kecuali jika pihak lain itu memberikan imbal balik yang menyenangkan. Kita tak pernah benar-benar berkorban karena pengorbanan kita disertai pamrih. Kita memiliki sifat rakus (syetan) dan sombong (iblis), yang membuat kita tak mudah untuk berbagi.

Tetapi ternyata cinta ekslusif dan bersayarat itu sama sekali bukan tujuan. Ini sekedar wahana pembelajaran bagi kita untuk mengembangkan cinta yang lebih luas, inklusif, dan tanpa pamrih (unconditional). Pembelajaran ini perlu karena kita makhluk bodoh, pelupa, dan pengabai. Kita tidak serta merta tahu tujuan. Kita baru tahu tujuan setelah belajar lama dan sulit. Dengan demikian, mencintai istri, anak, keluarga, adalah sarana belajar bagi kita agar kita bisa mentransformasi cinta kita ke semesta yang lebih luas. Dan jika kita berhenti hanya sampai pada tahap belajar, berarti kita gagal mengambil peran dalam tujuan penciptaan. Ibarat sekolah, kita cuma belajar melulu, dan tak pernah mengamalkan apa yang kita pelajari.

Lalu, adakah indikator kita sudah musti bertransformasi? Rasa bosan. Ya benar, rasa bosan adalah indikator bahwa kita sudah saatnya mengembangkan cinta kita ke medan yang lebih besar. Rasa bosan adalah impuls-impuls spiritual agar kita mengepakkan sayap cinta lebih lebar. Ketika anda merasa bosan dengan istri atau suami, jangan cepat-cepat menyimpulkan untuk segera berpoligami atau menggugat cerai dan mencari suami baru. Rasa bosan itu peringatan bahwa kita sudah saatnya lebih peduli pada tetangga, kawan, anak yatim, atau negara.

Nah, akhirnya kini kita bisa memaknai syair Kahlil Gibran itu dengan perspektif baru. Selamat mencintai. Karena seperti kata syair lagu, cinta itu indah.[]

22 April 2013

Simulakra dan Tasripin

Sewaktu kecil saya pernah menipu kakek. Usia beliau tujuh puluh waktu itu, dan mewakili generasi yang minim sekali bersentuhan dengan ikon-ikon kemajuan. Kakek saya itu seorang petani dusun yang tinggal di ujung gunung, perbatasan Kabupaten Magelang dan Semarang, yang sepanjang hidupnya tak memiliki piranti elektronik apapun. Oh, kecuali senter kecil bertenaga baterai. Sebaliknya, saya generasi yang sedang antusias menyongsong jaman baru. Sekalipun kami sama-sama belum menikmati listrik, tetapi setidaknya di rumah bapak saya sudah tersedia radio dan tape recorder bertenaga aki kecil. Dengan tape recorder inilah saya menipu kakek.

Ketika menginap di rumah kami, kakek biasanya saya putarkan musik favorit keluarga, yakni gending Jawa. Atau istilah populernya uyon-uyon, entah itu dengan radio atau tape. Kakek tentu saja tahu tentang radio atau tape, atau lebih tepatnya tahu menikmatinya. Tetapi beliau tidak tahu mengoperasikannya. Dan yang sama sekali tak diketahuinya adalah bahwa tape recorder bisa digunakan untuk merekam suara kita sendiri. Entah bisikan apa tiba-tiba saya kepikiran untuk merekam suara saya, menirukan penyiar yang sering didengar oleh kakek dari radio. Lalu dalam rekaman itu saya menyampaikan salam hangat kepada kakek saya, lengkap dengan deskripsi detil yang mengindikasikan bahwa penyiar gadungan tersebut mengenal betul sosok kakek saya. Hasilnya sesuai harapan. Kakek terheran-heran dengan kejadian ini, dan mulai menceritakannya dengan penuh antusias kepada orang-orang terdekat, misalnya kepada bapak, ibu, dan paman saya. Ketika beberapa minggu kemudian saya berterus terang tentang penipuan ini, kakek marah besar.

Kenakalan saya itu sebenarnya suatu persoalan filosofis yang serius. Apa yang dimaksud dengan kenyataan? Benarkah yang kita anggap kenyataan itu sesungguhnya cuma "kesan-kesan" yang dihasilkan di dalam ruang interpretasi? Bisa jadi "kenyataan" itu hanyalah tiruan atau bahkan pemalsuan dari sesuatu yang lain? Peniruan atau pemalsuan dari sebuah model nyata? Atau ... bahkan bukan lagi tiruan, tetapi khayalan yang tidak lagi bersumber dari realitas manapun? Wow akhirnya kita sampai pada polemik pelik tentang representasi, yang telah mengharu-biru jagad intelektual sejak Parmenides, Plato, Hegel, hingga Umberto Uco atau Baudrillard. Seandainya saya tak berterus terang kepada kakek tentang penipuan itu, mungkin sampai akhir hayatnya kakek akan tetap percaya bahwa penyiar radio itu benar-benar mengenal beliau. Sementara bagi saya -- yang tahu persis kejadiannya, realitas yang diyakini kakek itu omong kosong belaka.

Terhadap peristiwa sederhana yang berlangsung di depan mata, kita akan dengan mudah mengatakan, "Saya tahu persis kejadiannya". Tetapi peristiwa model begini tidak memiliki peran signifikan dalam sistem kognisi kita. Ini seringkali hanyalah peristiwa remeh-temeh, misalnya gelas pecah atau kran macet. Sedangkan yang dominan dalam hidup kita adalah kejadian-kejadian yang sudah dimediasi. Atau dengan istilah lain, sudah dimanipulasi, baik dalam nosi baik atau buruk. Dan pernyataan 'saya tahu persis kejadiannya' menjadi diragukan.

Saya tak sendirian. Kenakalan saya bukan modus baru. Memanipulasi 'kenyataan' telah terjadi sejak ribuan tahun silam. Plato, filosof Yunani itu, pernah mendokumentasikan dialog njlimet tetapi serius antara kolega Socrates -- seorang anak muda bernama Theaetetus -- dan seorang asing dari Elea. Dialog itu pada dasarnya membahas tentang definisi Kaum Sophis, dan oleh karenanya dialog itu diberi judul "Sophist". Kaum Sophis adalah sekelompok intelektual yang menyebarkan atau mengajarkan pengetahuan dengan meminta imbalan -- tren aneh yang lagi booming jaman itu. Orang Asing dari Elea itu menganalogikan kaum Sophis sebagai pemburu bayaran (hired hunter), yang menukarkan hasil buruan dengan sejumlah uang. Sementara lawannya adalah pemburu sejati (faithfull hunter), yang menyedekahkan hasil buruannya secara cuma-cuma. Lalu dialog itu menyinggung tabiat para seniman kriya yang memahat patung tidak dalam proporsi yang benar sesuai tubuh manusia, tetapi sengaja didistori -- tubuh bagian atas lebih besar dibanding bagian bawah. Tujuannya agar patung-patung itu memiliki citra lebih gagah. Bahasa Latin memiliki istilah khusus tentang ini, yakni simulakra. Istilah ini baru masuk ke dalam kamus Bahasa Inggris kira-kira abad ke-16, yang arti harfiahnya adalah "kemiripan", "keserupaan", "similarity", atau "likeness". Menurut orang Elea itu, baik para Sophis atau para seniman memiliki nosi yang mirip, yakni berperan layaknya "pedagang". Barang dagangannya disebutnya "food of the soul", dibedakan dengan barang dagangan fisik pada umumnya, atau "food of the body". Isi dialog itu kira-kira begini (Maaf, ini cuma "Dialog Plato" palsu versi saya. Versi aslinya lebih bertele-tele :):

Orang Asing: "Apakah kita sepakat menggunakan istilah 'yang nyata (being)' dan yang 'tidak nyata (not being)'"?
Theaetetus: "Ya, sepakat."
Orang Asing: "Apakah menurut anda patung-patung -- yang berkesan gagah -- itu 'nyata'"?
Theaetetus: "Tidak, tetapi tiruan dari 'yang nyata'"?
Orang Asing: "Berarti 'tidak nyata'?"
Theaetetus: "Saya kira demikian."
Orang Asing: "Mengapa?"
Theaetetus: "Karena patung-patung itu tidak benar-benar persis sesuai aslinya, tetapi sengaja didesain untuk memunculkan kesan-kesan khusus."
Orang Asing: "Hmm... tapi bukankah kesan-kesan itu akhirnya mempengaruhi persepsi kita tentang kenyataan? Bahkan ... orang-orang justru akhirnya lebih percaya patung yang berkesan khusus itu ketimbang yang persis aslinya? Jadi, 'yang tidak nyata' itu mungkin saja menjadi 'nyata'?"
Theaetetus: "Hmm...bener juga sih."

Media Amerika ternyata paling getol menciptakan simulakra. Di Yalta, tahun 1945, ketika nestapa Perang Dunia Ke-2 baru saja usai, Silvester "Rocky" Stalone pernah mejeng bareng PM Inggris Tuan Churcill, Presiden AS Mister Roosevelt, dan Presiden Rusia Kamerad Stalin. Bayangkan, Stalone yang ototnya berbuku-buku itu cuma memakai singlet alias kaos oblong, sementara para pemimpin dunia itu berjas lengkap. Pada foto itu, Si Rocky seolah-olah habis menasehati para kampiun perang itu dengan logat Brooklyn nan medok, "Sok atuh Bos, bagi-bagi hasilnya yang rata. Jangan berebut, ya!" Scientific American lebih gila lagi. Majalah itu menayangkan potret Abaraham Lincoln memangku dan memeluk mesra bintang seronok, Merlyn Monroe. Dalam foto itu Nona Monroe tampak bahagia, sementara Lincoln terlihat bijaksana.

Kurang ajar memang. Tapi tenang saja. Foto-foto itu palsu, atau istilah teknisnya montase (montage). Dengan mudah kita bisa menyangkal kebenarannya: bagaimana mungkin mereka yang beda generasi bisa berpose dalam satu potret? Apalagi waktu itu sebagian sudah meninggal dan lainnya masih hidup. Mudah sekali mengetahui kepalsuannya, bukan? Benar, memang mudah. Tetapi itu karena kita masih bisa melihat -- walau sedikit -- jejak kenyataan, atau kepingan artifak. Bagaimana dengan anak cucu beberapa generasi mendatang yang tak tahu apa-apa? Atau bagaimana kita sendiri jika berada dalam kondisi buta -- tak memiliki informasi memadai? Pasti sulit. Sebab, foto-foto itu sulit sekali untuk dicap palsu. Sangat bagus, seperti asli. Anda tentu tak akan bisa menduga bahwa foto Menteri Sekretaris Negara AS James Baker dengan Presiden Irak Sadam Husein itu palsu. Padahal aslinya foto itu antara Tuan Baker dan Menlu Philipina, Raul Manglapus, sebelum akhirnya disisipi potongan tubuh Pak Saddam, musuh bebuyutan Amerika. Di foto aslinya mimik Baker tampak tegang, seolah merasa bersalah akibat borok sejarah para pendahulunya. Sementara dalam foto palsu itu Baker justru rileks -- lengannya  merangkul akrab pundak Saddam, disaksikan oleh Manglapus yang juga ceria. Lengan itu aslinya tidak melingkar di pundak siapapun, tetapi menjuntai di atas bantal sofa. Para seniman fotografi bahkan menilai foto palsu itu lebih baik dari aslinya.

Satu lagi tentang tipu-menipu. Kali ini digambarkan secara filmis dalam "Wag The Dog". Film ini digawangi oleh seabreg mega bintang seperti Robert De Niro, Dustin Hoffman, Kristen Dunst, Anne Heche, dan Dennis Leary, yang berkisah tentang penyelamatan presiden incumbent Amerika Serikat dari aib: berselingkuh dengan gadis panggilan di bawah umur. Parahnya dua minggu lagi musim kampanye. Untuk mengalihkan isu, tim publik presiden lalu membuat simulakrum yang tak kalah sinting, sebuah liputan dokumenter palsu tentang perang yang juga palsu di Albania, dimana para tentara Amerika terjebak dalam medan perang yang bengis. Situasi perang itu sendiri tidak digambarkan secara hingar-bingar ala "Saving Private Ryan", melainkan cuma latar reruntuhan gedung dan penampakan seorang gadis setempat yang panik dan memelas, sambil menggendong seekor pudel. Memang sesekali terdengar juga desingan metraliur dan dentuman artileri, tapi tak heboh amat. Ending-nya mudah ditebak, para "rambo" itu berhasil menyelamatkan sang gadis, dan dielu-elukan sebagai pahlawan. Alhasil, isupun teralihkan.

Serangkaian simulakra itu memang persis seperti yang diramalkan oleh orang asing dari Elea itu. Realistis, halus, detil, dan yang lebih penting: mengesankan. Tak menyisakan ruang keraguan bagi kita -- pemirsanya -- bahwa realitas itu sebenarnya sama sekali tidak nyata. Mark Slouka, budayawan Amerika, menyebut bangsanya sendiri -- dan saya kira juga sebagian besar penduduk bumi ini termasuk kita -- sudah menderita vertigo sejarah, semacam simtom kebingungan akut. Tak lagi bisa membedakan yang nyata dan tak nyata. Jungkir balik, begitulah.

Tak usah jauh-jauh ke Amerika. Foto dramatis tentang negeri kita pun ada. Foto ini sekalipun bertajuk China Begger (Pengemis Cina), tetapi judul itu ditulis terlalu kecil, nyaris tak kelihatan. Yang justru menonjol adalah potret seorang nenek pengemis berkebaya dan berkain batik, sedang bersandar pada dinding gedung yang lengang sembari menadahkan mangkuk alumunium ke orang-orang yang lewat. Nenek itu sangat memprihatinkan, memang. Tapi itu tak seberapa. Yang membuat foto itu begitu menggelegakkan emosi adalah gambar sekelompok gadis sekolah berseragam merah-putih, seragam SD kita, lewat di depan sang pengemis sambil menertawai kepapaannya. Dan bahkan salah satu dari gadis kecil itu mengacungkan jari tengah kepada si nenek, yang dalam budaya Barat diartikan sebagai simbol penghinaan yang keji. Tak ayal di dunia mayapun menggembung diskusi yang melibatkan ribuan netters, baik dari dalam dan luar negeri -- termasuk kawan-kawan kita sendiri, tentang betapa bobroknya moralitas anak-anak kita. Caci maki, kejengkelan, keprihatinan. Sahut-menyahut seolah kita sedang membahas tragedi pedih dan bayangan kelam masa depan. Padahal gambar itu seratus persen palsu. Anak-anak dan nenek pengemis itu berasal dari foto berbeda. Pun telunjuk tengah yang diacungkan itu juga bukan milik anak itu. Teknik montasenya buruk, cropingnya kasar, pencahayaannya tak konsisten. Lalu ketika saya dan beberapa orang lain di Internet bilang bahwa foto itu palsu, sebagian besar khalayak tetap saja meneruskan diskusinya, dengan tambahan kata-kata bersentimen moral, "Baiklah, mungkin benar gambar itu palsu. Tetapi bukankah kita tetap perlu waspada terhadap ancaman keruntuhan akhlak anak-anak kita?" Saya akhirnya bertanya-tanya sendiri, mengapa orang-orang itu seperti menikmati self-bullying, semacam sado-masochism, dimana dirinya sendiri dipermainkan oleh realitas palsu? Ataukah ini yang oleh Uco dan Baudrillard disebut hiperealitas?  (Anda mungkin ingat tentang betapa dahsyat religiusitas para penghuni cyberspace ketika tiba-tiba menemukan gambar palsu tentang malaikat yang turun di atas Ka'bah. Saya pernah berhasil membuat potret model begitu hanya dengan asap, kamera digital, dan cahaya blits).
 
Anda boleh setuju atau tidak, produsen simulakra terhebat adalah media massa, khususnya tivi. Sinetron, infotaintment, dan berita. Ya berita (news), benteng pembeda terakhir antara yang nyata dan tak nyata pun kini terindikasi korup. Korup bukan dalam pengertian umum, tetapi sebagaimana yang dimaksud dalam Dialog Plato, yakni menghadirkan representasi yang tak sesuai dengan aslinya, alias tak nyata. Atau dalam terminologi Mark Slouka, representasi yang semakin bersaing dengan kenyataan, yang pelan-pelan mengaburkan tabir antara yang nyata dan yang virtual. Tivi semakin sukses membuat pemirsanya lebih prihatin terhadap artis ayu mungil yang tergolek sayu di ranjang rumah sakit karena tifus, melebihi kepedulian mereka terhadap tetangga asli yang juga sedang opname karena demam berdarah. Atau tiba-tiba kita menjadi begitu takjub terhadap selebritis yang memanjakan anjing atau kucing piaraannya, sementara kita tak mendapat berita apapun seputar anggaran kemewahan si kucing yang melebihi gaji para pawangnya.  

Tetapi selalu ada dua sisi mata uang. Tak selamanya simulakrum ber-output buruk bagi pihak-pihak yang terlibat. Salah satunya tentang Tasripin. Adalah sebuah berkah ketika media "berhasil menemukan" anak Banyumas berusia dua belas tahun yang bernasib malang ini, yang selama beberapa pekan menghiasi media-media nasional, termasuk media dari daerah-daerah yang jauh. Anak ini diberitakan sebatangkara karena ibunya meninggal tertimpa longsoran batu di kali, sementara bapak dan kakak sulungnya merantau ke Kalimantan tanpa kabar. Keluarga dekat yang tinggal sekampung berkesan tak mau mengurus. Akibatnya, anak kecil yang seharusnya riang bermain ini terpaksa mensulihi peran sebagai kepala keluarga bagi ketiga adiknya. Lalu, tentu saja, berita mengharukan ini mengundang simpati orang banyak. Tak hanya dermawan biasa, tetapi juga Bupati dan bahkan Presiden SBY. Tasripin yang sempat putus sekolah itupun akhirnya kini bisa melanjutkan. Rumahnya diperbaiki oleh tentara dari Kodim. Bahkan akhirnya para dermawan berhasil membawa pulang sang ayah dan dipertemukan dengan anaknya. Ketika ditanya oleh tivi apakah dia akan meninggalkan lagi anaknya, ayah Tasripin menjawab tegas, "Tidak, Pak".

Eh, tunggu dulu. Rupanya kisah Tasripin tak persis seperti itu. Situs Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) wilayah Purwokerto (ajikotapurwokerto.or.id) memuat tulisan Shinta arDjahrie, seorang aktivis lembaga amal di Purwokerto, yang juga menyalurkan titipan bantuan kepada Tasripin. Menurut Shinta, anak malang itu tak benar-benar hidup sendiri. Dia diasuh oleh pamannya, Ali Katun, walapun tak tinggal serumah. Pamannya inilah yang menyediakan makanan pokok untuk Tasripin dan adik-adiknya. Situs Riau Pos (riaupos.co) juga memberitakan bahwa Kuswito, ayah Tasripin yang berpenghasilan hanya satu juta sebagai buruh di perkebunan sawit itu, juga selalu rutin mengirim uang 300-an ribu sebulan. Tapi uang itu tak mencukupi, hingga Tasripin kadang bekerja serabutan untuk menambah biaya sekolah adik-adiknya. Tapi mengapa anak-anak ini tak tinggal saja dengan pamannya? "Kuswito bersikeras supaya anak-anaknya tetap di rumah. Dia menolak tawaran saudara-saudaranya untuk mengasuh anak-anaknya. Kami pun merasa sedih," kata Ali. Lagian rumah Tasripin dan pamannya juga sangat dekat, hanya terpaut satu rumah.

Rupanya pemberitaan media yang tak sesuai itu melukai hati Ali Katun, sang paman. “Kami memang hidup kekurangan, Mbak. Tapi kami tidak pernah menelantarkan anggota keluarga kami sendiri,” kata Ali kepada Shinta. Yang menyinggung perasaan Ali dan keluarganya adalah berita bahwa Tasripin makan nasi hanya berlauk garam selama berhari-hari.

Pada titik ini, Shinta pun keheranan. Bagaimana mungkin pemberitaan bisa korup (meminjam nosi Plato) seperti ini? Mengapa Ali sang Paman, yang kebetulan juga ketua RW, yang rumahnya hanya berjarak 20 meter atau selisih satu rumah dengan tempat tinggal Tasripin, tak disertakan sebagai nara sumber? Juga orang-orang setempat, seperti guru ngaji dan kepala dusun? Bagi Shinta, pemberitaan Tasripin ini menyimpan teka-teki tersendiri. Dia menduga sang wartawan tak benar-benar datang ke lokasi. Reportase ini semata-mata berdasarkan informasi dari pihak ketiga, semacam "press release", entah dengan maksud apa.

Akhirnya, anda dan saya akan selalu gamang mensikapi realitas. Di masa depan kita akan semakin kesulitan membedakan antara 'yang nyata' dan 'yang tak nyata'. Tentang kegamangan ini Mark Slouka menasehati, "Cobalah mulai saat ini Anda belajar mencintai hal-hal yang benar-benar nyata. Pergilah ke taman, dan sentuh daun-daun yang berguguran. Rasakan juga anginnya yang mencicit-cicit. Juga ciumlah kening istri anda di taman itu, rasakan wanginya. Jangan biasakan mencium kening virtual di dunia maya."

Saya sendiri lagi mencoba menyelami makna hadist ini, "WAMA 'ARAR FA NAFSAHA WA KHAR 'ARA RABBAHU". Barangsiapa mengenal diri sendiri, sesungguhnya ia mengenal Tuhan. Bukankah Tuhan adalan Realitas Sejati? Tetapi ini juga membuat saya semakin gamang.[] 

11 Februari 2013

Merayakan Empat Puluh


Empat puluh tahun. Saya telah mencapainya. Dan konon itu usia keramat dalam kehidupan manusia. Saya memang ingin sekali merayakannya. Bukan dengan lilin atau doa-doa, tetapi dengan refleksi agak serius. Tetapi seperti biasanya, gagal. Saya memang tak memiliki kehebatan seperti Rasulullah Muhamad, yang bertafakur di gua sunyi pada usia itu, lalu merubah semesta. Tidak juga seperti Sidarta, ketika daun-daun pohon bodhi menjadi saksi pencerahannya. Saya hanya manusia gua yang tercekat oleh bayang-bayang fenomena. Ya, saya manusia gua seperti gambaran Plato.

Sebagian besar manusia, kata Plato sang filosof Yunani itu, adalah sosok yang terperangkap di dalam gua. Tangan dan tubuh terikat, sehingga mereka hanya bisa menatap dinding gua bagian dalam. Tak bisa sekalipun menoleh ke belakang, padahal di balik punggung mereka terbuka lebar pintu keluar. Lalu setiap pagi hingga petang, ketika matahari menyisir pintu, para manusia itu akan melihat beragam siluet di dinding dalam. Siluet itu adalah pantulan dari realitas di luar gua. Rupa-rupa, riuh, menggairahkan, dan hidup. Bertahun-tahun keadaanya seperti itu, sampai-sampai para manusia gua itu meyakini bahwa satu-satunya realitas yang ada hanyalah dirinya dan siluet-siluet itu. Tak ada realitas lain di luar itu. Bahkan, ketika salah seorang dari mereka berhasil melarikan diri ke luar gua, lalu datang kembali untuk mengabarkan bahwa yang mereka saksikan di dinding itu semata bayangan, para manusia gua itu tetap saja tak percaya. Ya, sayalah si manusia gua itu.

Betapa tidak. Empat puluh tahun lamanya saya terjebak dalam rutinitas riuh tetapi berulang-ulang. Pagi datang, malam terlupakan. Mulai dari pekerjaan, karir, hingga urusan remeh-temeh: dasi baru, gadget baru. Menyibukkan, tak berjeda. Saya pun tak henti-hentinya membunuh waktu. Menghibur diri, mencari kesenangan, mengingat-ingat kemenangan, menyesali kekalahan. Pagi, sore, malam, bahkan kadang melupakan tidur. Dari kesibukan satu ke kesibukan lainnya. Dari suka ria satu ke suka ria lainnya. Dari pengharapan satu, ke pengharapan lainnya. Ya, sayalah si manusia gua, yang selalu tercekat oleh siluet-siluet di dinding gua, yang tak mau tahu ada realitas lain di balik pungung saya.

Sekali dua kali saya memang bertanya pada diri sendiri, "Bagian mana dari hidup ini yang paling penting?" Dulu, ketika usia saya lebih muda, saya akan menjawabnya dengan kata "prestasi". Lalu semakin tua, jawaban bergeser. Mula-mula karir. Lalu kemakmuran. Dan kelak, lima belas atau dua puluh tahun lagi, jawaban saya mungkin "cucu". Itulah siluet! Siluet yang gegap gempita dan warna-warni di dinding gua yang saya saksikan sepanjang usia.

Tetapi, ketika satu dua teman seangkatan meninggal dunia beberapa waktu terakhir ini, saya terpana. Jawabannya ternyata bukan itu. Meninggalnya teman-teman saya memberikan pemaknaan baru, "Bagian paling penting dari hidup ini ternyata hidup itu sendiri -- tanpa embel-embel. Saya ternyata masih diberi kesempatan bernapas. Saya masih bisa menikmati secangkir kopi dan senja merah..." Ah, betapa sering saya melupakan itu, melupakan bahwa saya masih eksis. Mungkin sebab itulah kita disunahkan untuk sering-sering menghadiri upacara penguburan. Bukan sekedar untuk mengingat bahwa hidup ini ada akhirnya. Tetapi lebih dari itu, untuk menyadarkan bahwa kita ternyata masih diberi kesempatan hidup. Adagiumnya seharusnya adalah, "Saya hidup maka saya ada." Ya, hidup itulah yang seharusnya kita syukuri. Hidup itulah -- tanpa dibebani embel-embel lainnya -- yang harus kita rayakan. Betapa tidak? Bayangkan jika kita tiba-tiba mati saat ini. Bayangkan seandainya dulu kita tidak pernah diciptakan? Apakah kita bisa menikmati petualangan-petualangan luar biasa ini? Tidak. Tidak bisa! Karena kita tidak eksis. Ya, saya telah melupakannya. Saya begitu heboh memikirkan gemuruh buih-buih ombak, tapi saya melupakan airnya.

Kata pepatah, "Life begin at forty". Tetapi bisa juga, "Life decay at forty". Segala sesuatu memang memiliki umur. Misalnya pembuluh darah saya. Tiba-tiba dokter mengatakan bahwa saya mengidap darah tinggi karena pembuluh darah saya tak lagi lentur. Rambut saya pun satu dua mulai memutih, atau gigi saya mulai keropos. Mana mungkin? Sepuluh atau lima tahun lalu saya tak menduga hal ini. Bahkan setahun lalu saya masih meledek ibu saya yang tiap hari meminum obat-obatan penurun tensi. Tetapi... percayalah teman-teman. Sekalipun membuat syok, ternyata ini sebuah berkah. Sebab, degradasi faali itulah yang justru menyadarkan saya bahwa tangan dan tubuh saya masih terikat di dalam gua. Persis tamparan di pipi ketika kita sedang melamun. Pedih, tapi menyadarkan! Tiba-tiba saya bisa mengeliat. Bisa menoleh ke belakang, dan melihat realitas di luar gua. Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu tercekat oleh siluet-siluet di dinding. Lalu, saya pun mulai memahami -- sekalipun samar-samar -- bahwa siluet-siluet itu sesungguhnya adalah pantulan dari ego saya sendiri. Saya yang menciptakan siluet-siluet itu, dan saya juga yang memproyeksikannya untuk diri saya sendiri. Ya, Semacam egosentrisme.

Ketika usia empat puluh, saya harus merekonstruksi ego setidaknya tentang tiga hal: harapan, kenangan, dan kematian. Tentang harapan, saya teringat tentang almarhum bapak saya ketika membelikan baju lebaran sewaktu saya kecil. Ketika saya tanyakan kenapa beliau hanya membelikan baju untuk kami anak-anaknya, dan tidak untuk dirinya sendiri, bapak saya mengatakan, "Bapak sudah cukup dengan yang ada. Kamu masih muda, kamu yang memerlukan baju baru." Ya, pada usia empat puluh sudah semestinya kita mulai mengesampingkan keinginan-keinginan kita sendiri, dan mulai lebih banyak menyerap harapan orang-orang di sekeliling kita. Kita semestinya mulai lebih banyak membelikan "baju-baju baru" bagi "anak-anak sejarah" kita: yakni medan yang lebih luas bagi mereka untuk lebih berkembang; busur yang kokoh untuknya melesat ke masa depan.

Tentang kenangan, percayalah, itu pembunuh manusia nomer satu. Saya musti pandai-pandai mengaturnya. Saya cuplik saja kisah Kungfu Panda. Ketika Po mengalahkan Shen, pendekar merak itu bertanya, "Bagaimana kau bisa mencapai ketenangan diri sehingga bisa mengalahkanku? Bagaimana kau melupakan masa lalu yang telah kubuat sekelam mungkin?" Pendekar Naga itupun menyahut, "Saya tak hidup lagi di masa lalu. Saya telah melupakannya, agar saya bisa hidup di masa kini."

Tentang kematian, saya benar-benar harus merekonstruksikannya. Ini bagian yang paling menakutkan sekaligus mengintimidasi. Dulu saya begitu takut padanya. Sebab, awalnya kematian saya pahami sebagai akhir dari kesenangan. Tetapi kini kematian saya artikan sebagai tunainya sebuah tugas. Mungkin tidak sempurna, tetapi  --sepanjang yang saya tahu, saya telah mengerjakan dengan sebaik-baiknya... Ketakutan saya pada kematian memang tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya sekarang saya merasa sedikit lega.

Tulisan ini harusnya berupa sebuah buku. Tapi saya belum bisa membuatnya. Selamat ulang tahun buat semuanya yang kini berusia empat puluh. Anda harus merayakannya. Percayalah, karena saya telah melewatinya[]

FIle Presentasi Pongky:
Solusi Kemanan Putra-Putri di Sekolah
Silent Genset: Solusi Cerdas untuk Cadangan Listrik
Fleet Solution for Heavy Industries
Energy Saving etc
Simulasi Biaya Solar Home System