27 April 2013

Roadmap Cinta

Roadmap Cinta
Cinta itu indah
(syair lagu)

Kira-kira 3500 tahun lalu, romansa paling dikenang dalam sejarah manusia terjadi di rumah seseorang bergelar Al-Azis, atau Fortipar namanya, di tanah Mesir. Ketika itu nyonya rumah bermain-main api di punggung suaminya, mengejar cinta seorang budak muda yang bekerja di rumahnya. Budak itu amat tampan, memiliki raga sempurna, yang sanggup membuat para perempuan mengiris jari mereka sendiri tanpa sadar hanya karena melihat pemuda itu lewat di depan mereka. Begitu besar amok asmara, membuat perempuan itu kehilangan akal sehat. Secara nista dia menjebak sang pemuda di dalam kamar terkunci. Dan ketika cintanya ditolak, nyonya itu meradang, mengadu pada suaminya dengan narasi yang dimanipulasi. Kita pun tahu akhir ceritanya, pemuda itu harus menghadapi peradilan karena sebagian penduduk tak menyukai ketampanannya yang menggiurkan para isteri. Dia dipenjara untuk waktu yang lama. Inilah kisah Yusuf AS (salam sejahtera untuknya), atau Joseph, yang dicatat dalam tiga kitab suci agama terbesar dunia, Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan setelah dibumbui oleh mitos-mitos di luar teks kitab suci, kisah ini lalu didongengkan kepada lebih dari separuh penduduk bumi.

Cinta memang aneh. Digilai, meskipun sering menyengsarakan seumur hidup. Konon hormon serotoninlah biang keladinya, membuat otak kita mencandu rasa sakit: kian menyakitkan, kian menghanyutkan. Perempuan itu contohnya -- kitab suci tak pernah menyebutkan siapa namanya. Dia rela mengorbankan kehormatan diri demi cinta seperti itu. Kahlil Gibran menulis,

Jika cinta mengajakmu, sertailah ia,
Sekalipun jalan yang ditempuh cadas terjal.
Berserahlah jika sayapnya merengkuhmu,
sekalipun belati yang tersamar dalam bulu-bulunya mungkin melukaimu...

Kita pernah merasakan yang seperti itu, saya yakin. Entah dulu atau kini masih. Kita seperti didesak-desak untuk segera mengakuisi sesuatu yang berasal dari orang yang kita cintai, entah apa bentuknya. Mungkin tubuh, pemujaan, perhatian, atau sekedar tatapan takjub. Kita rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengintipnya lewat di selasar masjid atau dibalkon kafe. Dan jika kehadiran kita diabaikan, kita akan terluka. Namun jika dia menyapa ala kadarnya -- ya, hanya ala kadarnya, kita tiba-tiba mengalami eforia seolah-olah sang pujaan itu baru saja menentukan takdir abadi -- menyerahkan dirinya untuk kita. Entah kenapa kita tiba-tiba merasa tak utuh tanpa kehadirannya,  tak lengkap, atau malah kosong. Dan ketika cinta itu berhasil direngkuh, kita merelakan diri menjadi abdi: menyenangkannya, merawatnya, sepanjang kita masih bisa merasa memiliki si dia. Lalu kita mati-matian mempertahankan kepemilikan itu. Kita merasa bahagia, sekaligus menderita, karena kebahagiaan akibat cinta ini adalah sebuah paradoks: ketika kita bahagia, kita tak mau kebahagiaan itu berakhir; dan ketika kita tak mau sesuatunya berakhir, maka kita jadi tak bahagia.

Hampir setiap kebudayaan memiliki kisah-kisah tersohor tentang cinta. Dalam rumpun Indo Eropa, kita tahu dongeng Eros-Psyche di Yunani, Rama-Sinta di India. Dan dalam rumpun Timur, kita mengenal Liang-Zhu (Sampek-Engtay). Budaya tradisional kita sendiri juga memiliki berjibun folklore, seperti kisah wayang, Lutung Kasarung, Jayaprana-layonsari, dan lainnya. Ringkasnya, cinta telah menjadi bagian penting dari setiap kebudayaan di seluruh belahan dunia. Tetapi tak ada drama yang lebih agung selain hidup kita sendiri. Bukan hal yang aneh jika anda tiba-tiba meraih sapu tangan mengusap air mata hanya karena menonton Ariel Noah menyuarakan cinta mendayu-dayu -- seolah dia bersenandung khusus untuk anda. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam The Social Science Journal tahun 2003, cinta memang mendominasi tema lagu pop dari masa ke masa -- hal yang mudah kita tebak. Bukan hanya lagu, rasanya hampir seluruh bagian dalam hidup kita memang didominasi oleh romansa seperti itu.

Baiklah, tadi adalah cinta jenis tertentu. Tapi silakan simak juga kisah tentang ular kobra di pegunungan India yang mencengangkan. Ular kobra betina memerlukan waktu berhari-hari dan perjalanan berkilo-kilo sebelum menemukan tempat yang tepat untuk bertelur. Begitu seluruh telur dikeluarkan, induk kobra itu akan berpuasa selama beberapa minggu untuk mengeraminya, sekaligus menjaganya dari predator. Selama itu induk kobra tak pernah makan dan kelaparan. Anehnya, ketika tiba waktu telurnya menetas, induk kobra yang kelaparan itu serta-merta menjauhi sarangnya, meninggalkan calon anak-anaknya. Ya, begitulah, seperti ada yang menuntunnya. Mengapa induk kobra itu meninggalkan anaknya? Bukankah semestinya dia bergembira menyaksikan buah hatinya hadir ke dunia ramai, lalu merawat mereka seperti yang dilakukan hewan-hewan pada umumnya? Induk kobra melakukan itu karena alasan yang sungguh mengharukan: dalam kondisi lapar, dia takut memakan anaknya sendiri yang baru saja menetas. Instingnya memberi tahu bahwa dirinya bagaimanapun seekor binatang buas, lalu memilih pergi demi keselamatan anaknya. Dia mengorbankan kesenangannya demi keselamatan sesuatu yang lain. Sepertinya kobra itu menjalani suatu cinta jenis lain.

Para rasul adalah tauladan terbesar dalam kaitannya dengan cinta jenis lain itu. Dua ribu tahun lalu, Isa AS (salam sejahtera untuknya) mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan cinta kasih kepada seluruh manusia, seperti guru yang mengajari membaca kepada anak kecil yang belum bisa mengeja. Lalu enam abad kemudian di gurun tandus Mekah, Rasulullah Muhammad SAW (salam sejahtera untuknya), mengorbankan kemapanan hidupnya sebagai pengusaha terpandang dan membuang begitu saja previledge sebagai anggota keluarga suku penguasa, demi misi mulia mengangkat seluruh manusia dari kegelapan menuju cahaya nilai-nilai. Hidup mereka memang identik dengan pengorbanan. Bukan untuk waktu sekejab, tetapi sepanjang hayat. Bukan hanya pengorbanan atas harta milik, tetapi bahkan jiwa. Kebanyakan para rasul dalam memperjuangkan risalahnya memang sering harus berhadapan dengan penguasa politik. Yang berarti bahwa keselamatannya selalu terancam. Kehidupan mereka jauh dari rasa senang dalam pengertian yang umum. Mereka baru makan setelah semua orang kenyang. Mereka berada di garis depan dalam menanggung resiko. Kita menyebutnya berzuhud, menjauhi eksploitasi kesenangan yang berlebihan. Pun bahkan ketika perjuangannya sudah dianggap berhasil -- misalnya ketika beliau baru saja menjadi pemimpin suatu imperium baru, tetap saja beliau berzuhud. Tidur bukan di atas ranjang mewah ala para pemenang, tetapi memilih hanya beralaskan tikar daun kurma, meninggalkan bekas-bekas galur dipunggung. 

Mungkin cinta para rasul terlalu agung. Tetapi kita memiliki daftar yang tak kan habis tentang cinta semacam itu dalam berbagai ukuran. Sukarno, misalnya. Ketika dia lulus dari ITB -- suatu previledge langka, dia tak memilih jadi ambtenaar yang membuat hidupnya sangat nyaman. Dia justru memilih mencetak brosur berisi mimpi-mimpinya memiliki negara merdeka, yang mengantarkannya ke penjara. Bukan penjara "nyaman" seperti sekarang, tetapi penjara milik rezim penjajah yang bengis. Begitu pula Hatta, Agus Salim, Tan malaka, Cut Nya' Dien, Pattimura, dan lainnya. Mereka pada kadar tertentu bertindak sebagaimana para rasul, mendedikasikan hidupnya demi kepentingan yang lebih besar di luar dirinya. Termasuk dalam kelompok ini adalah para ibu yang tulus merawat anak-anaknya. Atau para kyai, para pejuang, teman-teman kita yang giat beramal atau memperjuangkan prinsip-prinsip tertentu. Dan masih banyak lagi.

Kalau begitu kita memiliki dua jenis cinta. Jenis pertama, sebagaimana perempuan Mesir menggadang Yusuf, adalah cinta yang bersyarat (conditional love). Cinta seperti ini baru lahir karena sang pecinta memiliki tuntutan tertentu. Saya menyebutnya obsesi kepemilikan, atau boleh juga disebut serotonin effect. Cinta ini lahir dari keinginan untuk mengakuisisi sebagian atau seluruhnya hal-hal milik orang yang kita cintai. Syair Ariel, Bruno Mars, Celine Dion, Roma Irama, Ikke Nurjanah, Beatles, Metalica, Didi Kempot, Shakespiere, Laila-Majdnun... melukiskan dengan gegap-gempita cinta bersyarat ini. Bahkan riset dalam The Social Science Journal itu mengabarkan bahwa syair-syair lagu pop kini semakin egois: cinta dalam syair-syair itu cenderung semakin menuntut dan kurang melayani.

Jenis cinta kedua adalah unconditional love, cinta tak bersyarat. Sang pecinta disini tidak menuntut imbal balik apapun dari obyek yang dicintai. Cinta dipahami dan dihayati bukan dalam perspektif kepentingan orang yang mencintai, tetapi demi kepentingan pihak yang dicintai. Inilah cinta yang tidak berpretensi apalagi terobsesi untuk mengakuisisi. Tetapi sebaliknya, pelakunya justru mengorbankan harta miliknya, bahkan hidupnya, demi yang dicintai. Cinta jenis ini bertujuan untuk mengembangkan atau memberi manfaat sebesar-besarnya kepada yang dicintai. Inilah cinta yang berperan besar dalam mengembangkan kehidupan menuju taraf yang lebih sempurna. oleh karenanya, seorang yang berhasil merengkuh cinta jenis ini akan terangkat derajadnya, dari manusia sekelas lumpur bertransformasi menjadi khalifah atau wakil Tuhan di bumi. Seperti kata Muhammad Iqbal, penyair Pakistan itu, "Allah menciptakan lempung, manusia membuatnya menjadi gerabah." Hebatnya, pelaku cinta kedua ini justru akan merasakan kebahagiaan yang lebih murni dan langgeng ketimbang pecinta jenis pertama. Sebab, pecinta kedua ini tak harus merasakan sindrom penyakit hati dan ketakutan kehilangan -- sumber paradoks kebahagiaan, seperti yang biasa dialami oleh pecinta jenis pertama. 

Sayangnya kita, manusia, tak mudah memiliki cinta jenis kedua karena suatu sebab, yang akan saya ceritakan di bawah ini.

ROADMAP CINTA

Sejak sepuluh tahun lalu saya mengenal seorang lelaki sepuh. Beliau penyair, pelukis, penghayat tasauf yang serius. Namanya Muhammad Zuhri, dan kami memanggil beliau Pak Muh. Beliau bercerita kepada kami tentang apa yang saya namakan roadmap cinta.

Syahdan, Allah -- Tuhan seru sekalian alam -- mencintai seluruh makhluknya tanpa pandang bulu, sesuai nama-Nya Ar-Rahman. Tetapi pada akhirnya, Allah memilih sebagian kecil makhluk-Nya untuk lebih dicintai, sesuai sebutannya Ar-Rahim. Mereka yang terpilih itu tidak ditentukan berdasarkan ukuran-ukuran profan, melainkan berdasarkan dedikasi mereka pada kehendak Allah, yang disebut taqwa. Ringkasnya, awalnya Allah mencintai semua makhluk secara merata, tetapi kemudian pada akhirnya Allah memilih hanya beberapa untuk lebih dikasihi. Tentu kita tidak bisa melabeli cinta Tuhan dengan conditional atau unconditional, karena Dia sama sekali tak bergantung pada ciptaan-Nya. Tetapi ilustrasi ini hanya untuk mengambarkan sebuah roadmap bahwa cinta Tuhan berawal dari inklusif menjadi lebih eksklusif.

Sementara kita, manusia, berbeda. Makhluk Tuhan paling mulia ini mengambil roadmap yang berkebalikan dengan cinta Tuhan. Awalnya, cinta manusia sangat ekslusif dan bersyarat (conditional). Manusia mengerahkan seluruh daya hidupnya hanya untuk mencintai beberapa pihak saja: diri sendiri, istri, anak, keluarga. Kita tak mudah membaginya kepada pihak lain, kecuali jika pihak lain itu memberikan imbal balik yang menyenangkan. Kita tak pernah benar-benar berkorban karena pengorbanan kita disertai pamrih. Kita memiliki sifat rakus (syetan) dan sombong (iblis), yang membuat kita tak mudah untuk berbagi.

Tetapi ternyata cinta ekslusif dan bersayarat itu sama sekali bukan tujuan. Ini sekedar wahana pembelajaran bagi kita untuk mengembangkan cinta yang lebih luas, inklusif, dan tanpa pamrih (unconditional). Pembelajaran ini perlu karena kita makhluk bodoh, pelupa, dan pengabai. Kita tidak serta merta tahu tujuan. Kita baru tahu tujuan setelah belajar lama dan sulit. Dengan demikian, mencintai istri, anak, keluarga, adalah sarana belajar bagi kita agar kita bisa mentransformasi cinta kita ke semesta yang lebih luas. Dan jika kita berhenti hanya sampai pada tahap belajar, berarti kita gagal mengambil peran dalam tujuan penciptaan. Ibarat sekolah, kita cuma belajar melulu, dan tak pernah mengamalkan apa yang kita pelajari.

Lalu, adakah indikator kita sudah musti bertransformasi? Rasa bosan. Ya benar, rasa bosan adalah indikator bahwa kita sudah saatnya mengembangkan cinta kita ke medan yang lebih besar. Rasa bosan adalah impuls-impuls spiritual agar kita mengepakkan sayap cinta lebih lebar. Ketika anda merasa bosan dengan istri atau suami, jangan cepat-cepat menyimpulkan untuk segera berpoligami atau menggugat cerai dan mencari suami baru. Rasa bosan itu peringatan bahwa kita sudah saatnya lebih peduli pada tetangga, kawan, anak yatim, atau negara.

Nah, akhirnya kini kita bisa memaknai syair Kahlil Gibran itu dengan perspektif baru. Selamat mencintai. Karena seperti kata syair lagu, cinta itu indah.[]

Tidak ada komentar: