8 Mei 2013

Road to School: Meretas Jalan ke Sekolah (Bagian 1)


Apalah artinya sebuah cerita. Tetapi tanpa cerita, tak ada yang bisa kita ketahui, bukan? Tulisan ini memang sekedar cerita tentang upaya kami menemukan sebuah sekolah yang pernah diberitakan oleh TV nasional dan media massa lainnya yang konon mirip kandang ayam. Tentu sudah sering kita dengar tentang sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Masalahnya, sekolah yang kami cari ini hanya berjarak 60 km dari kota Bandung. Judul tulisan ini bermakna ganda. Pertama, menggambarkan sulitnya usaha kami untuk mencapai lokasi. Kedua, sulitnya anak-anak warga setempat untuk bisa bersekolah secara layak. Saya akan menceritakan satu demi satu, dan mohon simpan dulu isu-isu tentang Ujian Nasional atau Kurikulum 2013. Cerita ini bakal lebih getir ketimbang isu-isu itu.

 
Rubicon, Lumpur, dan Lintah

Saya sebenarnya tidak asing terhadap daerah Cianjur Selatan. Hampir sebulan sekali saya mengajak keluarga berakhir pekan ke daerah ini. Melalui Perkebunan Rancabali, kami biasanya naik ke Gunung Sumbul melalui jalan yang berkelok-kelok. Pemandangannya sungguh menawan, menyisiri permadani hijau kebun teh, yang dibelakangnya dibentengi oleh hutan lebat yang kian langka. Kadang-kadang kabut turun menutupi perbukitan, membuat kita seolah tercerabut dari alam nyata dan terjebak di dunia lain. Seperti dunia para dewa atau kahyangan yang diceritakan dalam film Sun Go Kong atau mitologi Yunani. Jika kabut menghilang, dari puncak Gunung Sumbul itu kita bisa melihat horison
putih bergerak-gerak di kejauhan, melayang diantara perbukitan kelabu nan jauh. "Yang putih itu Pantai Jayanti Cidaun, Pak" kata pemilik warung satu-satunya di Puncak Sumbul. Anak saya, yang menggemari film The Lord of The Rings, menggelari Puncak Sumbul ini sebagai Shire, negeri indah para Hobbit.


Jalan yang saya lalui selama ini selalu beraspal mulus. Tetapi memang sempit. Jika berpapasan dengan kendaraan lain, kita harus sedikit menepi. Kanan-kirinya minim sekali perkampungan. Hanya ada satu-dua yang dihuni oleh warga perkebunan. Rumah-rumahnya biasanya dicat dengan warna khas putih-biru. Perkampungan ini juga sudah dilengkapi dengan sekolah yang bangunannya sangat baik dan kokoh. Bangunan sekolah itu terlihat jelas dari jalan raya. Tetapi.. tiba-tiba teman kami, Maman Tirta Rukmana, mengabarkan bahwa di sekitar rute main-main saya itu terdapat desa yang tak bisa dilalui kendaraan, dan memiliki sekolah yang mirip kandang ayam. Desa dan sekolah ini bahkan sudah diberitakan oleh salah satu stasiun tivi nasional. Terus terang saya bingung, yang mana sih? Setahu saya seluruh perkampungan disini sudah dilalui jalan beraspal. Bahkan juga sudah dilalui angkutan antar kota (baca "elep"), yang dalam sehari lewat beberapa kali, menghubungkan Kecamatan Ciwidey (Kabupaten Bandung) dan Kecamatan Cidaun (Kabupaten Cianjur). Juga bangunan sekolahnya sudah permanen. Jika malam tiba, desa-desa ini akan tampak kerlap-kerlip oleh lampu-lampu listrik, tak berbeda dengan kampung-kampung di perkotaan. Tetapi keramaian memang hanya terjadi pada siang hari. Jika malam, selain cahaya lampu perkampungan itu, seluruhnya seolah mati. Anda akan ditelan oleh kegelapan gunung-gunung dan hutan.

Ah, saya terlalu naif rupanya. Saya terperdaya oleh mooy indie. Kampung yang dimaksud Maman itu tak berada dijalur wisata, tetapi tersamar oleh hutan belantara,  kira-kira jaraknya 20 km dari Puncak Sumbul yang sering saya datangi. Dekat memang. Tetapi masalahnya, kampung itu tak bisa ditembus oleh kendaraan biasa. Untuk bisa mencapainya, kita harus menumpang mobil bergardan dua, dan mesti pula dinakhodai oleh seorang ofroader berpengalaman. Jika tidak, niscaya jurang yang dalamnya tak bertepi -- benar-benar tak terlihat dasarnya-- akan dengan senang hati menelan tubuh kita bulat-bulat. Inilah tempat yang akan kami tuju dalam ekspedisi kali ini. Sebuah desa yang sekalipun berada di Wilayah Kabupaten Cianjur, tetapi secara geografis lebih dekat ke Ibukota Kabupaten Bandung. Sebuah desa yang seperti terlupakan.

Kami menamakan kegiatan kali ini dengan istilah yang agak dramatis, "ekspedisi". Bukan tanpa alasan, tetapi alasannya baru akan teman-teman pahami jika sudah selesai membaca tulisan ini. Untuk mudahnya, tolong terima saja istilah "ekspedisi" ini. Kami membawa amanah dari Paguyuban ITB 89 untuk mensurvei lokasi, agar Paguyuban dapat memberikan bantuan semampunya, dan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Setelah direncanakan selama satu-dua minggu oleh Yanti Wijanarko  (Koordinator Sosbud) dan Maman Tirta Rukmana (Koordinator Lapangan), akhirnya pagi itu -- tanggal 4 Mei 2013 --  ekspedisi ITB 89 bertolak dari Dipati Ukur, Bandung. Tim ini berkumpul sejak jam 06.00 pagi. Tim 89 yang ikut dalam kegiatan ini adalah Maman Tirta Rukmana, Yanti Wijanarko, Mursid Wijanarko, Asep Zaenudin Noor, Ratih Sawitridjati, Myrna Utari, Ully Roy, Fitri Halim, dan saya (Agus Kurniawan). Untuk bisa sampai di tujuan, tim Paguyuban didukung oleh para offroader dari Bandung, rekan-rekan Maman yang tergabung dalam AOF, diantaranya Hasbi Prasetya, Fahmy Pastriana, Devy Manang, Abeh Ohank, Camel Hendi, Ryan Kusumah, Herry Firdaus, Nujajunk Juliadi, Elita Rukmana (istri Maman), Wado, Bar Anoe, Ahmad Sunjaya, dll. Beberapa offroader juga membawa istri dan anak, yang sepertinya sudah terbiasa dengan kegiatan seperti ini. Para offroader ini juga berperan sebagai pengangkut rombongan 89. Maklumlah, selain Maman -- yang ketika itu membawa kendaraan super tangguh Wrangler Rubicon 3800 cc, tak seorangpun dari Tim ITB 89 lainnya yang memiliki pengalaman offroad. Kami bahkan tak memiliki kendaraan gardan ganda seperti yang disyaratkan. Satu-satunya kendaraan yang kami anggap layak untuk medan ini adalah Taft milik Ratih, yang disindir oleh Maman dengan istilah "tuwil", plesetan dari "two wheel" (gardan tunggal).

Alhamdulillah, secara kebetulan kami juga seagenda dengan kelompok offroader lain, yang menamakan diri MTC (Manglayang Trekker Community). Inilah komunitas yang "menemukan" desa terpencil ini dan mempopulerkannya ke dunia luar. Kami semua berkumpul bersama di Taman Wisata Cimanggu, Ciwidey, untuk sarapan pagi, foto-foto, dan berkenalan. Total kendaraan yang ikut dalam ekspedisi ini mencapai 25-an. Bisa anda bayangkan, dari sekian banyak mobil, cuma Taft milik kami yang "tuwil". 

Menjelang siang kami telah sampai di pos berikutnya, di Warung Puncak Sumbul. Warung inilah yang sering saya sambangi bersama anak-anak untuk berakhir pekan, seperti sudah saya ceritakan di atas. Inilah satu-satunya warung yang ada di daerah itu, bahkan satu-satunya rumah. Sisanya adalah hamparan perkebunan Teh dan hutan. Ini juga menjadi pos perbekalan terakhir. Tim MTC akhirnya berangkat duluan setelah mendapatkan perbekalan yang dibutuhkan (nasi bungkus dan air minum). Sementara rombongan kami terpaksa tertunda satu jam gara-gara nasi di warung keburu habis, dan pemiliknya harus menanaknya kembali. Terus terang saya agak heran, mengapa untuk menempuh jarak 20 km para trekker perlu menyimpan banyak perbekalan? Kenapa harus capek-capek menunggu nasi yang masih ditanak? Bukankah 20 km bukanlah jarak yang jauh? Tim 89 memang tak sesiap para offroader dalam menghadapi medan. Kami hanya membawa perbekalan ala kadarnya. Mungkin juga karena kami agak underestimate terhadap medan yang akan ditempuh. Kami memang membawa pakaian ganti, tetapi tidak membawa perlengkapan penting, misalnya jas hujan atau panco. Sedangkan para offroader, karena tahu medan, lebih siap dengan perlengkapan yang komplit. Kalau dipikir-pikir, apa sih artinya jarak 20 km? Jika berjalan kaki, paling lama juga 4 atau 5 jam? Pertanyaan saya itu kelak akan terjawab setelah saya mengalami sendiri terjebak selama belasan jam di dalam hutan.

Setelah perbekalan tercukupi, kami pun melanjutkan perjalanan. Kira-kira satu kilo meter dari warung itu, kami keluar dari jalan beraspal, memasuki jalan tanah rintisan. Yang membuka jalan itu mungkin pemerintah atau Kopasus, saya tidak tahu persis. Tetapi di jalan masuk itu memang terdapat papan pengumuman besar. Bunyinya, "Tempat latihan Kopasus". Ternyata jalan inilah yang selama ini saya abaikan. Saya sudah sering melihat papan pengumuman itu, tetapi tidak menyangka bahwa jalan itu menuju pedesaan. Saya mengiranya hanya sebagai tempat latihan tentara. Awalnya jalan tanah itu lumayan baik, masih bisa dilalui oleh mobil 'tuwil' milik Ratih. Tetapi baru berjalan dua kilo meter, si tuwil itu terpaksa harus ditarik karena selip. Jalan tanah itu berlumpur hingga setengah ban, dan membuat roda tuwil serupa dengan kincir kertas mainan anak-anak, alias muter ditempat. Karena tak memungkinkan menarik mobil sepanjang jalan, maka akhirnya si tuwil pun ditinggal begitu saja di hutan.       

Nestapa datang lebih cepat. Hujan yang biasanya menjadi berkah, justru kini menimbulkan kesulitan. Jalan becek itu menjadi lebih berlumpur. Oh, ini sebabnya Maman sejak awal mewanti-wanti agar kami membawa kendaraan gardan dua. Bahkan kendaraan cangkul itu juga tidak bisa berjalan dengan mulus. Badannya terpeleset ke kanan dan ke kiri. "Lagi goyang, Wa?", itulah candaan para offroader jika melihat mobil rekannya terbanting-banting. Pada kilometer ke-4 sebuah pohon tumbang berdiameter 40 cm menghadang kami. Pohon itu sudah digergaji oleh offroader yang lewat sebelumnya, tetapi meletakkannya tidak benar-benar rapi di sisi jalan. Kendaraan kecil seperti Jimny dapat melewatinya dengan mudah. Tetapi Rubicon milik Maman tidak semudah itu. Untuk bisa melewati celah sempit itu, si Rubicon harus dijaga dari depan atau belakang oleh dua kendaraan lain (dengan diikat tali) agar tidak terpelanting ke jurang atau menghantam potongan kayu. Beberapa navigator dan tim 89 cowok terpaksa berhujan-hujan ria untuk membantu mengarahkan Rubicon itu atau sekedar memotretnya. "Saya dulu pernah harus menginap empat hari di sini gara-gara pohon tumbang", cerita Maman, "Begitu bisa menapak lagi di jalan aspal, saya langsung menciumnya." Tapi nestapa yang sesungguhnya baru menghadang tiga atau empat kilo meter di depan. Jalan yang tadinya rata, kini menurun curam dan meliuk-liuk. Beberapa diantaranya terdapat tikungan siku-siku -- benar-benar bersudut siku-siku. Saya baru sadar bahwa kami bertolak dari puncak bukit, sementara lokasi yang dituju berada di lembah. Tentu saja jalan yang turun dan meliuk-liuk itu sangat menyulitkan. Apalagi diguyur hujan lebat. Jangankan kendaraan, saya yang mencoba jalan kaki saja rasanya setengah mati. Sering tergelincir karena licin. Untuk menuruninya, mobil-mobil offroad itu sebagian harus dijaga dari belakang oleh mobil lain -- dengan diikat dengan tali, agar tidak lepas landas ke tebing.     

Setengah perjalanan, Maman, sang komandan lapangan, tiba-tiba turun dari mobil di tengah guyuran hujan. Waktu itu pukul 15.00, menjelang sore. "Saya mau lihat keadaan di depan dulu," katanya. Setengah jam kami menunggunya. Dan begitu kembali, dia mengabarkan kekecewaan, "Saya putuskan hanya tiga mobil yang boleh turun. Yang lain harus menunggu disini." Artinya, sebagian besar rombongan kami tak akan sampai di tujuan! "Keadaannya tidak memungkinkan. Jika dipaksa turun malah menyusahkan. Bukan hanya turunnya, tetapi juga pulangnya nanti," kata Maman menjelaskan, dengan ekspresi penuh permohonan maaf. Mungkin Maman mempertimbangkan kami yang minim pengalaman offroad. Selain itu, beberapa mobil tidak dalam kondisi sempurna. Ya, sudahlah. Tim 89 yang akhirnya beruntung turun hanya Maman, Asep, dan Ratih. Tetapi kelak sewaktu pulang, Ratih bercerita bahwa ketiga mobil yang berhasil turun itupun nyaris mengurungkan niatnya, "Medannya berat. Tikungan tajam, dan dibawahnya jurang menganga. Saya sampai menutup mata karena ngeri."

Akhirnya kami, diluar yang berada di tiga mobil tersebut, seperti sedang melakukan jambore. Membuat tenda darurat, menyalakan kompor portabel, membuat kopi atau menanak mie instan biar agak hangat. Maklumlah, kami kedinginan karena berhujan-hujan. Selain itu, ini memang daerah pegunungan yang dikenal udaranya sangat dingin. Kami juga menyikat habis perbekalan yang dibawa dari Puncak Sumbul. Untuk membunuh waktu dan mengubur kekecewaan, kami mencoba membuat api unggun. Lumayan sulit karena ranting-rantingnya basah. Telinga kami selalu menunggu deru mobil, siapa tahu teman-teman kami sudah kembali. Atau mata kami mencari-cari sorot kendaraan yang lewat. Tetapi itu hanya harapan kosong. "Ah, mereka tak akan kembali malam ini. Mungkin mereka menginap di desa," kata seorang offroader yang membuat kami semakin nglangut. Kami juga berusaha menghubungi mereka dengan HP, tetapi tak satupun operator yang bisa nyambung. Akhirnya kami pasrah, dan bersiap bermalam di tengah hutan, menemani lutung, kelelawar, dan lintah. Oh ya, entah darimana datangnya tiba-tiba Yanti dan Fitri menemukan hewan semacam cacing di rambut mereka, juga di lengan. Ketika akan dibuang, hewan itu menggigit hingga lengan rekan kami itu keluar darah. "Itu salah satu spesies lintah," kata seorang offroader.

Jam 22.00 malam, seberkas cahaya datang. Kami sedikit gembira, sekalipun sorot lampu itu datang dari arah yang tidak kami harapkan. Rupanya tiga mobil offroad MTC baru saja menyusul dari Bandung. "Kami mengantar genset untuk warga desa, Kang," kata seorang offroader. Ah, sekalipun mereka bukan rekan-rekan kami yang sejak tadi kami tunggu, tetapi kehadirannya sedikit menceriakan. Setidaknya kami punya banyak kawan seperjalanan. Karena sulitnya medan, bahan bangunan sumbangan untuk pembangunan sekolah pun harus dianter dengan cara offroad semacam ini. Teman-teman offroader yang satu rombongan dengan kami bercerita, "Beberapa minggu kemarin kami kemari membawa balok-balok kayu untuk gedung sekolah. Masing-masing mobil menarik kayu dengan tali. Lumayan seru, sih. Mungkin lain kalo kami juga akan mengangkut semen kesini, diikat di atap mobil atau bagasi. Tapi itu kalau tidak hujan."

Untuk mengusir kebosanan, kami lalu mengantar dengan berjalan kaki kepergian rekan-rekan MTC itu hingga di tikungan bawah. Mereka merayapi tikungan dengan sangat pelan, dan setiap mobil yang turun harus dijaga oleh mobil lainnya. Teriakan aba-aba mereka mengingatkan kita pada suasana penyelamatan oleh tim SAR atau situasi perang di film-film. Tanpa kami sadari, keberkahan datang tepat di depan mata. Berlawanan arah dengan mobil-mobil MTC itu, rekan-rekan kami yang sejak tadi kami tunggu tampak sedang merayap naik. Mereka agak lama tertahan di jalan karena salah satu mobil bannya kempes, dan tergelincir hingga melintang di jalan. Mereka telah terpisah dari kami setidaknya selama 7 jam, dari jam 15.00 hingga jam 22.00. 

Ratih yang berhasil turun ke bawah telah berhasil memotret "bangunan" sekolah. Dia juga telah melakukan komunikasi dengan tetua setempat dan rekan-rekan dari MTC yang selama ini mengkoordinasikan bantuan. Rencana awalnya memang kami akan melihat master plan pembangunan sekolah itu, sembari mensurvey lokasi. Tetapi apa daya, keinginan kami tak kesampaian. (Kondisi sekolah akan saya ceritakan dalam tulisan terpisah -- bagian 2).

Akhirnya kami bisa membongkar sauh, pulang! Tetapi kami belum bisa bersantai. Perjalanan pulang sepanjang sepuluh kilometer sama beratnya dengan saat keberangkatan. Jalan yang menanjak dan berlumpur menanti di depan mata. Alhasil, kami pun akhirnya baru sampai di jalan raya, dan berkumpul kembali di Taman Wisata Cimanggu sekitar pukul 03.30 dini hari. Dengan kata lain, kami telah menghabiskan waktu hampir 18 jam untuk mencari sebuah sekolah, yang jaraknya hanya 60 km dari kota metropolitan Bandung. Tragisnya, tidak seluruh tim pun bisa sampai di tujuan. Inilah sebabnya kami menyebutnya sebagai ekspedisi, sekalipun cuma kecil-kecilan.[]

Tidak ada komentar: