11 Februari 2013

Merayakan Empat Puluh


Empat puluh tahun. Saya telah mencapainya. Dan konon itu usia keramat dalam kehidupan manusia. Saya memang ingin sekali merayakannya. Bukan dengan lilin atau doa-doa, tetapi dengan refleksi agak serius. Tetapi seperti biasanya, gagal. Saya memang tak memiliki kehebatan seperti Rasulullah Muhamad, yang bertafakur di gua sunyi pada usia itu, lalu merubah semesta. Tidak juga seperti Sidarta, ketika daun-daun pohon bodhi menjadi saksi pencerahannya. Saya hanya manusia gua yang tercekat oleh bayang-bayang fenomena. Ya, saya manusia gua seperti gambaran Plato.

Sebagian besar manusia, kata Plato sang filosof Yunani itu, adalah sosok yang terperangkap di dalam gua. Tangan dan tubuh terikat, sehingga mereka hanya bisa menatap dinding gua bagian dalam. Tak bisa sekalipun menoleh ke belakang, padahal di balik punggung mereka terbuka lebar pintu keluar. Lalu setiap pagi hingga petang, ketika matahari menyisir pintu, para manusia itu akan melihat beragam siluet di dinding dalam. Siluet itu adalah pantulan dari realitas di luar gua. Rupa-rupa, riuh, menggairahkan, dan hidup. Bertahun-tahun keadaanya seperti itu, sampai-sampai para manusia gua itu meyakini bahwa satu-satunya realitas yang ada hanyalah dirinya dan siluet-siluet itu. Tak ada realitas lain di luar itu. Bahkan, ketika salah seorang dari mereka berhasil melarikan diri ke luar gua, lalu datang kembali untuk mengabarkan bahwa yang mereka saksikan di dinding itu semata bayangan, para manusia gua itu tetap saja tak percaya. Ya, sayalah si manusia gua itu.

Betapa tidak. Empat puluh tahun lamanya saya terjebak dalam rutinitas riuh tetapi berulang-ulang. Pagi datang, malam terlupakan. Mulai dari pekerjaan, karir, hingga urusan remeh-temeh: dasi baru, gadget baru. Menyibukkan, tak berjeda. Saya pun tak henti-hentinya membunuh waktu. Menghibur diri, mencari kesenangan, mengingat-ingat kemenangan, menyesali kekalahan. Pagi, sore, malam, bahkan kadang melupakan tidur. Dari kesibukan satu ke kesibukan lainnya. Dari suka ria satu ke suka ria lainnya. Dari pengharapan satu, ke pengharapan lainnya. Ya, sayalah si manusia gua, yang selalu tercekat oleh siluet-siluet di dinding gua, yang tak mau tahu ada realitas lain di balik pungung saya.

Sekali dua kali saya memang bertanya pada diri sendiri, "Bagian mana dari hidup ini yang paling penting?" Dulu, ketika usia saya lebih muda, saya akan menjawabnya dengan kata "prestasi". Lalu semakin tua, jawaban bergeser. Mula-mula karir. Lalu kemakmuran. Dan kelak, lima belas atau dua puluh tahun lagi, jawaban saya mungkin "cucu". Itulah siluet! Siluet yang gegap gempita dan warna-warni di dinding gua yang saya saksikan sepanjang usia.

Tetapi, ketika satu dua teman seangkatan meninggal dunia beberapa waktu terakhir ini, saya terpana. Jawabannya ternyata bukan itu. Meninggalnya teman-teman saya memberikan pemaknaan baru, "Bagian paling penting dari hidup ini ternyata hidup itu sendiri -- tanpa embel-embel. Saya ternyata masih diberi kesempatan bernapas. Saya masih bisa menikmati secangkir kopi dan senja merah..." Ah, betapa sering saya melupakan itu, melupakan bahwa saya masih eksis. Mungkin sebab itulah kita disunahkan untuk sering-sering menghadiri upacara penguburan. Bukan sekedar untuk mengingat bahwa hidup ini ada akhirnya. Tetapi lebih dari itu, untuk menyadarkan bahwa kita ternyata masih diberi kesempatan hidup. Adagiumnya seharusnya adalah, "Saya hidup maka saya ada." Ya, hidup itulah yang seharusnya kita syukuri. Hidup itulah -- tanpa dibebani embel-embel lainnya -- yang harus kita rayakan. Betapa tidak? Bayangkan jika kita tiba-tiba mati saat ini. Bayangkan seandainya dulu kita tidak pernah diciptakan? Apakah kita bisa menikmati petualangan-petualangan luar biasa ini? Tidak. Tidak bisa! Karena kita tidak eksis. Ya, saya telah melupakannya. Saya begitu heboh memikirkan gemuruh buih-buih ombak, tapi saya melupakan airnya.

Kata pepatah, "Life begin at forty". Tetapi bisa juga, "Life decay at forty". Segala sesuatu memang memiliki umur. Misalnya pembuluh darah saya. Tiba-tiba dokter mengatakan bahwa saya mengidap darah tinggi karena pembuluh darah saya tak lagi lentur. Rambut saya pun satu dua mulai memutih, atau gigi saya mulai keropos. Mana mungkin? Sepuluh atau lima tahun lalu saya tak menduga hal ini. Bahkan setahun lalu saya masih meledek ibu saya yang tiap hari meminum obat-obatan penurun tensi. Tetapi... percayalah teman-teman. Sekalipun membuat syok, ternyata ini sebuah berkah. Sebab, degradasi faali itulah yang justru menyadarkan saya bahwa tangan dan tubuh saya masih terikat di dalam gua. Persis tamparan di pipi ketika kita sedang melamun. Pedih, tapi menyadarkan! Tiba-tiba saya bisa mengeliat. Bisa menoleh ke belakang, dan melihat realitas di luar gua. Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu tercekat oleh siluet-siluet di dinding. Lalu, saya pun mulai memahami -- sekalipun samar-samar -- bahwa siluet-siluet itu sesungguhnya adalah pantulan dari ego saya sendiri. Saya yang menciptakan siluet-siluet itu, dan saya juga yang memproyeksikannya untuk diri saya sendiri. Ya, Semacam egosentrisme.

Ketika usia empat puluh, saya harus merekonstruksi ego setidaknya tentang tiga hal: harapan, kenangan, dan kematian. Tentang harapan, saya teringat tentang almarhum bapak saya ketika membelikan baju lebaran sewaktu saya kecil. Ketika saya tanyakan kenapa beliau hanya membelikan baju untuk kami anak-anaknya, dan tidak untuk dirinya sendiri, bapak saya mengatakan, "Bapak sudah cukup dengan yang ada. Kamu masih muda, kamu yang memerlukan baju baru." Ya, pada usia empat puluh sudah semestinya kita mulai mengesampingkan keinginan-keinginan kita sendiri, dan mulai lebih banyak menyerap harapan orang-orang di sekeliling kita. Kita semestinya mulai lebih banyak membelikan "baju-baju baru" bagi "anak-anak sejarah" kita: yakni medan yang lebih luas bagi mereka untuk lebih berkembang; busur yang kokoh untuknya melesat ke masa depan.

Tentang kenangan, percayalah, itu pembunuh manusia nomer satu. Saya musti pandai-pandai mengaturnya. Saya cuplik saja kisah Kungfu Panda. Ketika Po mengalahkan Shen, pendekar merak itu bertanya, "Bagaimana kau bisa mencapai ketenangan diri sehingga bisa mengalahkanku? Bagaimana kau melupakan masa lalu yang telah kubuat sekelam mungkin?" Pendekar Naga itupun menyahut, "Saya tak hidup lagi di masa lalu. Saya telah melupakannya, agar saya bisa hidup di masa kini."

Tentang kematian, saya benar-benar harus merekonstruksikannya. Ini bagian yang paling menakutkan sekaligus mengintimidasi. Dulu saya begitu takut padanya. Sebab, awalnya kematian saya pahami sebagai akhir dari kesenangan. Tetapi kini kematian saya artikan sebagai tunainya sebuah tugas. Mungkin tidak sempurna, tetapi  --sepanjang yang saya tahu, saya telah mengerjakan dengan sebaik-baiknya... Ketakutan saya pada kematian memang tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya sekarang saya merasa sedikit lega.

Tulisan ini harusnya berupa sebuah buku. Tapi saya belum bisa membuatnya. Selamat ulang tahun buat semuanya yang kini berusia empat puluh. Anda harus merayakannya. Percayalah, karena saya telah melewatinya[]

FIle Presentasi Pongky:
Solusi Kemanan Putra-Putri di Sekolah
Silent Genset: Solusi Cerdas untuk Cadangan Listrik
Fleet Solution for Heavy Industries
Energy Saving etc
Simulasi Biaya Solar Home System