27 April 2013

Roadmap Cinta

Roadmap Cinta
Cinta itu indah
(syair lagu)

Kira-kira 3500 tahun lalu, romansa paling dikenang dalam sejarah manusia terjadi di rumah seseorang bergelar Al-Azis, atau Fortipar namanya, di tanah Mesir. Ketika itu nyonya rumah bermain-main api di punggung suaminya, mengejar cinta seorang budak muda yang bekerja di rumahnya. Budak itu amat tampan, memiliki raga sempurna, yang sanggup membuat para perempuan mengiris jari mereka sendiri tanpa sadar hanya karena melihat pemuda itu lewat di depan mereka. Begitu besar amok asmara, membuat perempuan itu kehilangan akal sehat. Secara nista dia menjebak sang pemuda di dalam kamar terkunci. Dan ketika cintanya ditolak, nyonya itu meradang, mengadu pada suaminya dengan narasi yang dimanipulasi. Kita pun tahu akhir ceritanya, pemuda itu harus menghadapi peradilan karena sebagian penduduk tak menyukai ketampanannya yang menggiurkan para isteri. Dia dipenjara untuk waktu yang lama. Inilah kisah Yusuf AS (salam sejahtera untuknya), atau Joseph, yang dicatat dalam tiga kitab suci agama terbesar dunia, Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan setelah dibumbui oleh mitos-mitos di luar teks kitab suci, kisah ini lalu didongengkan kepada lebih dari separuh penduduk bumi.

Cinta memang aneh. Digilai, meskipun sering menyengsarakan seumur hidup. Konon hormon serotoninlah biang keladinya, membuat otak kita mencandu rasa sakit: kian menyakitkan, kian menghanyutkan. Perempuan itu contohnya -- kitab suci tak pernah menyebutkan siapa namanya. Dia rela mengorbankan kehormatan diri demi cinta seperti itu. Kahlil Gibran menulis,

Jika cinta mengajakmu, sertailah ia,
Sekalipun jalan yang ditempuh cadas terjal.
Berserahlah jika sayapnya merengkuhmu,
sekalipun belati yang tersamar dalam bulu-bulunya mungkin melukaimu...

Kita pernah merasakan yang seperti itu, saya yakin. Entah dulu atau kini masih. Kita seperti didesak-desak untuk segera mengakuisi sesuatu yang berasal dari orang yang kita cintai, entah apa bentuknya. Mungkin tubuh, pemujaan, perhatian, atau sekedar tatapan takjub. Kita rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengintipnya lewat di selasar masjid atau dibalkon kafe. Dan jika kehadiran kita diabaikan, kita akan terluka. Namun jika dia menyapa ala kadarnya -- ya, hanya ala kadarnya, kita tiba-tiba mengalami eforia seolah-olah sang pujaan itu baru saja menentukan takdir abadi -- menyerahkan dirinya untuk kita. Entah kenapa kita tiba-tiba merasa tak utuh tanpa kehadirannya,  tak lengkap, atau malah kosong. Dan ketika cinta itu berhasil direngkuh, kita merelakan diri menjadi abdi: menyenangkannya, merawatnya, sepanjang kita masih bisa merasa memiliki si dia. Lalu kita mati-matian mempertahankan kepemilikan itu. Kita merasa bahagia, sekaligus menderita, karena kebahagiaan akibat cinta ini adalah sebuah paradoks: ketika kita bahagia, kita tak mau kebahagiaan itu berakhir; dan ketika kita tak mau sesuatunya berakhir, maka kita jadi tak bahagia.

Hampir setiap kebudayaan memiliki kisah-kisah tersohor tentang cinta. Dalam rumpun Indo Eropa, kita tahu dongeng Eros-Psyche di Yunani, Rama-Sinta di India. Dan dalam rumpun Timur, kita mengenal Liang-Zhu (Sampek-Engtay). Budaya tradisional kita sendiri juga memiliki berjibun folklore, seperti kisah wayang, Lutung Kasarung, Jayaprana-layonsari, dan lainnya. Ringkasnya, cinta telah menjadi bagian penting dari setiap kebudayaan di seluruh belahan dunia. Tetapi tak ada drama yang lebih agung selain hidup kita sendiri. Bukan hal yang aneh jika anda tiba-tiba meraih sapu tangan mengusap air mata hanya karena menonton Ariel Noah menyuarakan cinta mendayu-dayu -- seolah dia bersenandung khusus untuk anda. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam The Social Science Journal tahun 2003, cinta memang mendominasi tema lagu pop dari masa ke masa -- hal yang mudah kita tebak. Bukan hanya lagu, rasanya hampir seluruh bagian dalam hidup kita memang didominasi oleh romansa seperti itu.

Baiklah, tadi adalah cinta jenis tertentu. Tapi silakan simak juga kisah tentang ular kobra di pegunungan India yang mencengangkan. Ular kobra betina memerlukan waktu berhari-hari dan perjalanan berkilo-kilo sebelum menemukan tempat yang tepat untuk bertelur. Begitu seluruh telur dikeluarkan, induk kobra itu akan berpuasa selama beberapa minggu untuk mengeraminya, sekaligus menjaganya dari predator. Selama itu induk kobra tak pernah makan dan kelaparan. Anehnya, ketika tiba waktu telurnya menetas, induk kobra yang kelaparan itu serta-merta menjauhi sarangnya, meninggalkan calon anak-anaknya. Ya, begitulah, seperti ada yang menuntunnya. Mengapa induk kobra itu meninggalkan anaknya? Bukankah semestinya dia bergembira menyaksikan buah hatinya hadir ke dunia ramai, lalu merawat mereka seperti yang dilakukan hewan-hewan pada umumnya? Induk kobra melakukan itu karena alasan yang sungguh mengharukan: dalam kondisi lapar, dia takut memakan anaknya sendiri yang baru saja menetas. Instingnya memberi tahu bahwa dirinya bagaimanapun seekor binatang buas, lalu memilih pergi demi keselamatan anaknya. Dia mengorbankan kesenangannya demi keselamatan sesuatu yang lain. Sepertinya kobra itu menjalani suatu cinta jenis lain.

Para rasul adalah tauladan terbesar dalam kaitannya dengan cinta jenis lain itu. Dua ribu tahun lalu, Isa AS (salam sejahtera untuknya) mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan cinta kasih kepada seluruh manusia, seperti guru yang mengajari membaca kepada anak kecil yang belum bisa mengeja. Lalu enam abad kemudian di gurun tandus Mekah, Rasulullah Muhammad SAW (salam sejahtera untuknya), mengorbankan kemapanan hidupnya sebagai pengusaha terpandang dan membuang begitu saja previledge sebagai anggota keluarga suku penguasa, demi misi mulia mengangkat seluruh manusia dari kegelapan menuju cahaya nilai-nilai. Hidup mereka memang identik dengan pengorbanan. Bukan untuk waktu sekejab, tetapi sepanjang hayat. Bukan hanya pengorbanan atas harta milik, tetapi bahkan jiwa. Kebanyakan para rasul dalam memperjuangkan risalahnya memang sering harus berhadapan dengan penguasa politik. Yang berarti bahwa keselamatannya selalu terancam. Kehidupan mereka jauh dari rasa senang dalam pengertian yang umum. Mereka baru makan setelah semua orang kenyang. Mereka berada di garis depan dalam menanggung resiko. Kita menyebutnya berzuhud, menjauhi eksploitasi kesenangan yang berlebihan. Pun bahkan ketika perjuangannya sudah dianggap berhasil -- misalnya ketika beliau baru saja menjadi pemimpin suatu imperium baru, tetap saja beliau berzuhud. Tidur bukan di atas ranjang mewah ala para pemenang, tetapi memilih hanya beralaskan tikar daun kurma, meninggalkan bekas-bekas galur dipunggung. 

Mungkin cinta para rasul terlalu agung. Tetapi kita memiliki daftar yang tak kan habis tentang cinta semacam itu dalam berbagai ukuran. Sukarno, misalnya. Ketika dia lulus dari ITB -- suatu previledge langka, dia tak memilih jadi ambtenaar yang membuat hidupnya sangat nyaman. Dia justru memilih mencetak brosur berisi mimpi-mimpinya memiliki negara merdeka, yang mengantarkannya ke penjara. Bukan penjara "nyaman" seperti sekarang, tetapi penjara milik rezim penjajah yang bengis. Begitu pula Hatta, Agus Salim, Tan malaka, Cut Nya' Dien, Pattimura, dan lainnya. Mereka pada kadar tertentu bertindak sebagaimana para rasul, mendedikasikan hidupnya demi kepentingan yang lebih besar di luar dirinya. Termasuk dalam kelompok ini adalah para ibu yang tulus merawat anak-anaknya. Atau para kyai, para pejuang, teman-teman kita yang giat beramal atau memperjuangkan prinsip-prinsip tertentu. Dan masih banyak lagi.

Kalau begitu kita memiliki dua jenis cinta. Jenis pertama, sebagaimana perempuan Mesir menggadang Yusuf, adalah cinta yang bersyarat (conditional love). Cinta seperti ini baru lahir karena sang pecinta memiliki tuntutan tertentu. Saya menyebutnya obsesi kepemilikan, atau boleh juga disebut serotonin effect. Cinta ini lahir dari keinginan untuk mengakuisisi sebagian atau seluruhnya hal-hal milik orang yang kita cintai. Syair Ariel, Bruno Mars, Celine Dion, Roma Irama, Ikke Nurjanah, Beatles, Metalica, Didi Kempot, Shakespiere, Laila-Majdnun... melukiskan dengan gegap-gempita cinta bersyarat ini. Bahkan riset dalam The Social Science Journal itu mengabarkan bahwa syair-syair lagu pop kini semakin egois: cinta dalam syair-syair itu cenderung semakin menuntut dan kurang melayani.

Jenis cinta kedua adalah unconditional love, cinta tak bersyarat. Sang pecinta disini tidak menuntut imbal balik apapun dari obyek yang dicintai. Cinta dipahami dan dihayati bukan dalam perspektif kepentingan orang yang mencintai, tetapi demi kepentingan pihak yang dicintai. Inilah cinta yang tidak berpretensi apalagi terobsesi untuk mengakuisisi. Tetapi sebaliknya, pelakunya justru mengorbankan harta miliknya, bahkan hidupnya, demi yang dicintai. Cinta jenis ini bertujuan untuk mengembangkan atau memberi manfaat sebesar-besarnya kepada yang dicintai. Inilah cinta yang berperan besar dalam mengembangkan kehidupan menuju taraf yang lebih sempurna. oleh karenanya, seorang yang berhasil merengkuh cinta jenis ini akan terangkat derajadnya, dari manusia sekelas lumpur bertransformasi menjadi khalifah atau wakil Tuhan di bumi. Seperti kata Muhammad Iqbal, penyair Pakistan itu, "Allah menciptakan lempung, manusia membuatnya menjadi gerabah." Hebatnya, pelaku cinta kedua ini justru akan merasakan kebahagiaan yang lebih murni dan langgeng ketimbang pecinta jenis pertama. Sebab, pecinta kedua ini tak harus merasakan sindrom penyakit hati dan ketakutan kehilangan -- sumber paradoks kebahagiaan, seperti yang biasa dialami oleh pecinta jenis pertama. 

Sayangnya kita, manusia, tak mudah memiliki cinta jenis kedua karena suatu sebab, yang akan saya ceritakan di bawah ini.

ROADMAP CINTA

Sejak sepuluh tahun lalu saya mengenal seorang lelaki sepuh. Beliau penyair, pelukis, penghayat tasauf yang serius. Namanya Muhammad Zuhri, dan kami memanggil beliau Pak Muh. Beliau bercerita kepada kami tentang apa yang saya namakan roadmap cinta.

Syahdan, Allah -- Tuhan seru sekalian alam -- mencintai seluruh makhluknya tanpa pandang bulu, sesuai nama-Nya Ar-Rahman. Tetapi pada akhirnya, Allah memilih sebagian kecil makhluk-Nya untuk lebih dicintai, sesuai sebutannya Ar-Rahim. Mereka yang terpilih itu tidak ditentukan berdasarkan ukuran-ukuran profan, melainkan berdasarkan dedikasi mereka pada kehendak Allah, yang disebut taqwa. Ringkasnya, awalnya Allah mencintai semua makhluk secara merata, tetapi kemudian pada akhirnya Allah memilih hanya beberapa untuk lebih dikasihi. Tentu kita tidak bisa melabeli cinta Tuhan dengan conditional atau unconditional, karena Dia sama sekali tak bergantung pada ciptaan-Nya. Tetapi ilustrasi ini hanya untuk mengambarkan sebuah roadmap bahwa cinta Tuhan berawal dari inklusif menjadi lebih eksklusif.

Sementara kita, manusia, berbeda. Makhluk Tuhan paling mulia ini mengambil roadmap yang berkebalikan dengan cinta Tuhan. Awalnya, cinta manusia sangat ekslusif dan bersyarat (conditional). Manusia mengerahkan seluruh daya hidupnya hanya untuk mencintai beberapa pihak saja: diri sendiri, istri, anak, keluarga. Kita tak mudah membaginya kepada pihak lain, kecuali jika pihak lain itu memberikan imbal balik yang menyenangkan. Kita tak pernah benar-benar berkorban karena pengorbanan kita disertai pamrih. Kita memiliki sifat rakus (syetan) dan sombong (iblis), yang membuat kita tak mudah untuk berbagi.

Tetapi ternyata cinta ekslusif dan bersayarat itu sama sekali bukan tujuan. Ini sekedar wahana pembelajaran bagi kita untuk mengembangkan cinta yang lebih luas, inklusif, dan tanpa pamrih (unconditional). Pembelajaran ini perlu karena kita makhluk bodoh, pelupa, dan pengabai. Kita tidak serta merta tahu tujuan. Kita baru tahu tujuan setelah belajar lama dan sulit. Dengan demikian, mencintai istri, anak, keluarga, adalah sarana belajar bagi kita agar kita bisa mentransformasi cinta kita ke semesta yang lebih luas. Dan jika kita berhenti hanya sampai pada tahap belajar, berarti kita gagal mengambil peran dalam tujuan penciptaan. Ibarat sekolah, kita cuma belajar melulu, dan tak pernah mengamalkan apa yang kita pelajari.

Lalu, adakah indikator kita sudah musti bertransformasi? Rasa bosan. Ya benar, rasa bosan adalah indikator bahwa kita sudah saatnya mengembangkan cinta kita ke medan yang lebih besar. Rasa bosan adalah impuls-impuls spiritual agar kita mengepakkan sayap cinta lebih lebar. Ketika anda merasa bosan dengan istri atau suami, jangan cepat-cepat menyimpulkan untuk segera berpoligami atau menggugat cerai dan mencari suami baru. Rasa bosan itu peringatan bahwa kita sudah saatnya lebih peduli pada tetangga, kawan, anak yatim, atau negara.

Nah, akhirnya kini kita bisa memaknai syair Kahlil Gibran itu dengan perspektif baru. Selamat mencintai. Karena seperti kata syair lagu, cinta itu indah.[]

22 April 2013

Simulakra dan Tasripin

Sewaktu kecil saya pernah menipu kakek. Usia beliau tujuh puluh waktu itu, dan mewakili generasi yang minim sekali bersentuhan dengan ikon-ikon kemajuan. Kakek saya itu seorang petani dusun yang tinggal di ujung gunung, perbatasan Kabupaten Magelang dan Semarang, yang sepanjang hidupnya tak memiliki piranti elektronik apapun. Oh, kecuali senter kecil bertenaga baterai. Sebaliknya, saya generasi yang sedang antusias menyongsong jaman baru. Sekalipun kami sama-sama belum menikmati listrik, tetapi setidaknya di rumah bapak saya sudah tersedia radio dan tape recorder bertenaga aki kecil. Dengan tape recorder inilah saya menipu kakek.

Ketika menginap di rumah kami, kakek biasanya saya putarkan musik favorit keluarga, yakni gending Jawa. Atau istilah populernya uyon-uyon, entah itu dengan radio atau tape. Kakek tentu saja tahu tentang radio atau tape, atau lebih tepatnya tahu menikmatinya. Tetapi beliau tidak tahu mengoperasikannya. Dan yang sama sekali tak diketahuinya adalah bahwa tape recorder bisa digunakan untuk merekam suara kita sendiri. Entah bisikan apa tiba-tiba saya kepikiran untuk merekam suara saya, menirukan penyiar yang sering didengar oleh kakek dari radio. Lalu dalam rekaman itu saya menyampaikan salam hangat kepada kakek saya, lengkap dengan deskripsi detil yang mengindikasikan bahwa penyiar gadungan tersebut mengenal betul sosok kakek saya. Hasilnya sesuai harapan. Kakek terheran-heran dengan kejadian ini, dan mulai menceritakannya dengan penuh antusias kepada orang-orang terdekat, misalnya kepada bapak, ibu, dan paman saya. Ketika beberapa minggu kemudian saya berterus terang tentang penipuan ini, kakek marah besar.

Kenakalan saya itu sebenarnya suatu persoalan filosofis yang serius. Apa yang dimaksud dengan kenyataan? Benarkah yang kita anggap kenyataan itu sesungguhnya cuma "kesan-kesan" yang dihasilkan di dalam ruang interpretasi? Bisa jadi "kenyataan" itu hanyalah tiruan atau bahkan pemalsuan dari sesuatu yang lain? Peniruan atau pemalsuan dari sebuah model nyata? Atau ... bahkan bukan lagi tiruan, tetapi khayalan yang tidak lagi bersumber dari realitas manapun? Wow akhirnya kita sampai pada polemik pelik tentang representasi, yang telah mengharu-biru jagad intelektual sejak Parmenides, Plato, Hegel, hingga Umberto Uco atau Baudrillard. Seandainya saya tak berterus terang kepada kakek tentang penipuan itu, mungkin sampai akhir hayatnya kakek akan tetap percaya bahwa penyiar radio itu benar-benar mengenal beliau. Sementara bagi saya -- yang tahu persis kejadiannya, realitas yang diyakini kakek itu omong kosong belaka.

Terhadap peristiwa sederhana yang berlangsung di depan mata, kita akan dengan mudah mengatakan, "Saya tahu persis kejadiannya". Tetapi peristiwa model begini tidak memiliki peran signifikan dalam sistem kognisi kita. Ini seringkali hanyalah peristiwa remeh-temeh, misalnya gelas pecah atau kran macet. Sedangkan yang dominan dalam hidup kita adalah kejadian-kejadian yang sudah dimediasi. Atau dengan istilah lain, sudah dimanipulasi, baik dalam nosi baik atau buruk. Dan pernyataan 'saya tahu persis kejadiannya' menjadi diragukan.

Saya tak sendirian. Kenakalan saya bukan modus baru. Memanipulasi 'kenyataan' telah terjadi sejak ribuan tahun silam. Plato, filosof Yunani itu, pernah mendokumentasikan dialog njlimet tetapi serius antara kolega Socrates -- seorang anak muda bernama Theaetetus -- dan seorang asing dari Elea. Dialog itu pada dasarnya membahas tentang definisi Kaum Sophis, dan oleh karenanya dialog itu diberi judul "Sophist". Kaum Sophis adalah sekelompok intelektual yang menyebarkan atau mengajarkan pengetahuan dengan meminta imbalan -- tren aneh yang lagi booming jaman itu. Orang Asing dari Elea itu menganalogikan kaum Sophis sebagai pemburu bayaran (hired hunter), yang menukarkan hasil buruan dengan sejumlah uang. Sementara lawannya adalah pemburu sejati (faithfull hunter), yang menyedekahkan hasil buruannya secara cuma-cuma. Lalu dialog itu menyinggung tabiat para seniman kriya yang memahat patung tidak dalam proporsi yang benar sesuai tubuh manusia, tetapi sengaja didistori -- tubuh bagian atas lebih besar dibanding bagian bawah. Tujuannya agar patung-patung itu memiliki citra lebih gagah. Bahasa Latin memiliki istilah khusus tentang ini, yakni simulakra. Istilah ini baru masuk ke dalam kamus Bahasa Inggris kira-kira abad ke-16, yang arti harfiahnya adalah "kemiripan", "keserupaan", "similarity", atau "likeness". Menurut orang Elea itu, baik para Sophis atau para seniman memiliki nosi yang mirip, yakni berperan layaknya "pedagang". Barang dagangannya disebutnya "food of the soul", dibedakan dengan barang dagangan fisik pada umumnya, atau "food of the body". Isi dialog itu kira-kira begini (Maaf, ini cuma "Dialog Plato" palsu versi saya. Versi aslinya lebih bertele-tele :):

Orang Asing: "Apakah kita sepakat menggunakan istilah 'yang nyata (being)' dan yang 'tidak nyata (not being)'"?
Theaetetus: "Ya, sepakat."
Orang Asing: "Apakah menurut anda patung-patung -- yang berkesan gagah -- itu 'nyata'"?
Theaetetus: "Tidak, tetapi tiruan dari 'yang nyata'"?
Orang Asing: "Berarti 'tidak nyata'?"
Theaetetus: "Saya kira demikian."
Orang Asing: "Mengapa?"
Theaetetus: "Karena patung-patung itu tidak benar-benar persis sesuai aslinya, tetapi sengaja didesain untuk memunculkan kesan-kesan khusus."
Orang Asing: "Hmm... tapi bukankah kesan-kesan itu akhirnya mempengaruhi persepsi kita tentang kenyataan? Bahkan ... orang-orang justru akhirnya lebih percaya patung yang berkesan khusus itu ketimbang yang persis aslinya? Jadi, 'yang tidak nyata' itu mungkin saja menjadi 'nyata'?"
Theaetetus: "Hmm...bener juga sih."

Media Amerika ternyata paling getol menciptakan simulakra. Di Yalta, tahun 1945, ketika nestapa Perang Dunia Ke-2 baru saja usai, Silvester "Rocky" Stalone pernah mejeng bareng PM Inggris Tuan Churcill, Presiden AS Mister Roosevelt, dan Presiden Rusia Kamerad Stalin. Bayangkan, Stalone yang ototnya berbuku-buku itu cuma memakai singlet alias kaos oblong, sementara para pemimpin dunia itu berjas lengkap. Pada foto itu, Si Rocky seolah-olah habis menasehati para kampiun perang itu dengan logat Brooklyn nan medok, "Sok atuh Bos, bagi-bagi hasilnya yang rata. Jangan berebut, ya!" Scientific American lebih gila lagi. Majalah itu menayangkan potret Abaraham Lincoln memangku dan memeluk mesra bintang seronok, Merlyn Monroe. Dalam foto itu Nona Monroe tampak bahagia, sementara Lincoln terlihat bijaksana.

Kurang ajar memang. Tapi tenang saja. Foto-foto itu palsu, atau istilah teknisnya montase (montage). Dengan mudah kita bisa menyangkal kebenarannya: bagaimana mungkin mereka yang beda generasi bisa berpose dalam satu potret? Apalagi waktu itu sebagian sudah meninggal dan lainnya masih hidup. Mudah sekali mengetahui kepalsuannya, bukan? Benar, memang mudah. Tetapi itu karena kita masih bisa melihat -- walau sedikit -- jejak kenyataan, atau kepingan artifak. Bagaimana dengan anak cucu beberapa generasi mendatang yang tak tahu apa-apa? Atau bagaimana kita sendiri jika berada dalam kondisi buta -- tak memiliki informasi memadai? Pasti sulit. Sebab, foto-foto itu sulit sekali untuk dicap palsu. Sangat bagus, seperti asli. Anda tentu tak akan bisa menduga bahwa foto Menteri Sekretaris Negara AS James Baker dengan Presiden Irak Sadam Husein itu palsu. Padahal aslinya foto itu antara Tuan Baker dan Menlu Philipina, Raul Manglapus, sebelum akhirnya disisipi potongan tubuh Pak Saddam, musuh bebuyutan Amerika. Di foto aslinya mimik Baker tampak tegang, seolah merasa bersalah akibat borok sejarah para pendahulunya. Sementara dalam foto palsu itu Baker justru rileks -- lengannya  merangkul akrab pundak Saddam, disaksikan oleh Manglapus yang juga ceria. Lengan itu aslinya tidak melingkar di pundak siapapun, tetapi menjuntai di atas bantal sofa. Para seniman fotografi bahkan menilai foto palsu itu lebih baik dari aslinya.

Satu lagi tentang tipu-menipu. Kali ini digambarkan secara filmis dalam "Wag The Dog". Film ini digawangi oleh seabreg mega bintang seperti Robert De Niro, Dustin Hoffman, Kristen Dunst, Anne Heche, dan Dennis Leary, yang berkisah tentang penyelamatan presiden incumbent Amerika Serikat dari aib: berselingkuh dengan gadis panggilan di bawah umur. Parahnya dua minggu lagi musim kampanye. Untuk mengalihkan isu, tim publik presiden lalu membuat simulakrum yang tak kalah sinting, sebuah liputan dokumenter palsu tentang perang yang juga palsu di Albania, dimana para tentara Amerika terjebak dalam medan perang yang bengis. Situasi perang itu sendiri tidak digambarkan secara hingar-bingar ala "Saving Private Ryan", melainkan cuma latar reruntuhan gedung dan penampakan seorang gadis setempat yang panik dan memelas, sambil menggendong seekor pudel. Memang sesekali terdengar juga desingan metraliur dan dentuman artileri, tapi tak heboh amat. Ending-nya mudah ditebak, para "rambo" itu berhasil menyelamatkan sang gadis, dan dielu-elukan sebagai pahlawan. Alhasil, isupun teralihkan.

Serangkaian simulakra itu memang persis seperti yang diramalkan oleh orang asing dari Elea itu. Realistis, halus, detil, dan yang lebih penting: mengesankan. Tak menyisakan ruang keraguan bagi kita -- pemirsanya -- bahwa realitas itu sebenarnya sama sekali tidak nyata. Mark Slouka, budayawan Amerika, menyebut bangsanya sendiri -- dan saya kira juga sebagian besar penduduk bumi ini termasuk kita -- sudah menderita vertigo sejarah, semacam simtom kebingungan akut. Tak lagi bisa membedakan yang nyata dan tak nyata. Jungkir balik, begitulah.

Tak usah jauh-jauh ke Amerika. Foto dramatis tentang negeri kita pun ada. Foto ini sekalipun bertajuk China Begger (Pengemis Cina), tetapi judul itu ditulis terlalu kecil, nyaris tak kelihatan. Yang justru menonjol adalah potret seorang nenek pengemis berkebaya dan berkain batik, sedang bersandar pada dinding gedung yang lengang sembari menadahkan mangkuk alumunium ke orang-orang yang lewat. Nenek itu sangat memprihatinkan, memang. Tapi itu tak seberapa. Yang membuat foto itu begitu menggelegakkan emosi adalah gambar sekelompok gadis sekolah berseragam merah-putih, seragam SD kita, lewat di depan sang pengemis sambil menertawai kepapaannya. Dan bahkan salah satu dari gadis kecil itu mengacungkan jari tengah kepada si nenek, yang dalam budaya Barat diartikan sebagai simbol penghinaan yang keji. Tak ayal di dunia mayapun menggembung diskusi yang melibatkan ribuan netters, baik dari dalam dan luar negeri -- termasuk kawan-kawan kita sendiri, tentang betapa bobroknya moralitas anak-anak kita. Caci maki, kejengkelan, keprihatinan. Sahut-menyahut seolah kita sedang membahas tragedi pedih dan bayangan kelam masa depan. Padahal gambar itu seratus persen palsu. Anak-anak dan nenek pengemis itu berasal dari foto berbeda. Pun telunjuk tengah yang diacungkan itu juga bukan milik anak itu. Teknik montasenya buruk, cropingnya kasar, pencahayaannya tak konsisten. Lalu ketika saya dan beberapa orang lain di Internet bilang bahwa foto itu palsu, sebagian besar khalayak tetap saja meneruskan diskusinya, dengan tambahan kata-kata bersentimen moral, "Baiklah, mungkin benar gambar itu palsu. Tetapi bukankah kita tetap perlu waspada terhadap ancaman keruntuhan akhlak anak-anak kita?" Saya akhirnya bertanya-tanya sendiri, mengapa orang-orang itu seperti menikmati self-bullying, semacam sado-masochism, dimana dirinya sendiri dipermainkan oleh realitas palsu? Ataukah ini yang oleh Uco dan Baudrillard disebut hiperealitas?  (Anda mungkin ingat tentang betapa dahsyat religiusitas para penghuni cyberspace ketika tiba-tiba menemukan gambar palsu tentang malaikat yang turun di atas Ka'bah. Saya pernah berhasil membuat potret model begitu hanya dengan asap, kamera digital, dan cahaya blits).
 
Anda boleh setuju atau tidak, produsen simulakra terhebat adalah media massa, khususnya tivi. Sinetron, infotaintment, dan berita. Ya berita (news), benteng pembeda terakhir antara yang nyata dan tak nyata pun kini terindikasi korup. Korup bukan dalam pengertian umum, tetapi sebagaimana yang dimaksud dalam Dialog Plato, yakni menghadirkan representasi yang tak sesuai dengan aslinya, alias tak nyata. Atau dalam terminologi Mark Slouka, representasi yang semakin bersaing dengan kenyataan, yang pelan-pelan mengaburkan tabir antara yang nyata dan yang virtual. Tivi semakin sukses membuat pemirsanya lebih prihatin terhadap artis ayu mungil yang tergolek sayu di ranjang rumah sakit karena tifus, melebihi kepedulian mereka terhadap tetangga asli yang juga sedang opname karena demam berdarah. Atau tiba-tiba kita menjadi begitu takjub terhadap selebritis yang memanjakan anjing atau kucing piaraannya, sementara kita tak mendapat berita apapun seputar anggaran kemewahan si kucing yang melebihi gaji para pawangnya.  

Tetapi selalu ada dua sisi mata uang. Tak selamanya simulakrum ber-output buruk bagi pihak-pihak yang terlibat. Salah satunya tentang Tasripin. Adalah sebuah berkah ketika media "berhasil menemukan" anak Banyumas berusia dua belas tahun yang bernasib malang ini, yang selama beberapa pekan menghiasi media-media nasional, termasuk media dari daerah-daerah yang jauh. Anak ini diberitakan sebatangkara karena ibunya meninggal tertimpa longsoran batu di kali, sementara bapak dan kakak sulungnya merantau ke Kalimantan tanpa kabar. Keluarga dekat yang tinggal sekampung berkesan tak mau mengurus. Akibatnya, anak kecil yang seharusnya riang bermain ini terpaksa mensulihi peran sebagai kepala keluarga bagi ketiga adiknya. Lalu, tentu saja, berita mengharukan ini mengundang simpati orang banyak. Tak hanya dermawan biasa, tetapi juga Bupati dan bahkan Presiden SBY. Tasripin yang sempat putus sekolah itupun akhirnya kini bisa melanjutkan. Rumahnya diperbaiki oleh tentara dari Kodim. Bahkan akhirnya para dermawan berhasil membawa pulang sang ayah dan dipertemukan dengan anaknya. Ketika ditanya oleh tivi apakah dia akan meninggalkan lagi anaknya, ayah Tasripin menjawab tegas, "Tidak, Pak".

Eh, tunggu dulu. Rupanya kisah Tasripin tak persis seperti itu. Situs Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) wilayah Purwokerto (ajikotapurwokerto.or.id) memuat tulisan Shinta arDjahrie, seorang aktivis lembaga amal di Purwokerto, yang juga menyalurkan titipan bantuan kepada Tasripin. Menurut Shinta, anak malang itu tak benar-benar hidup sendiri. Dia diasuh oleh pamannya, Ali Katun, walapun tak tinggal serumah. Pamannya inilah yang menyediakan makanan pokok untuk Tasripin dan adik-adiknya. Situs Riau Pos (riaupos.co) juga memberitakan bahwa Kuswito, ayah Tasripin yang berpenghasilan hanya satu juta sebagai buruh di perkebunan sawit itu, juga selalu rutin mengirim uang 300-an ribu sebulan. Tapi uang itu tak mencukupi, hingga Tasripin kadang bekerja serabutan untuk menambah biaya sekolah adik-adiknya. Tapi mengapa anak-anak ini tak tinggal saja dengan pamannya? "Kuswito bersikeras supaya anak-anaknya tetap di rumah. Dia menolak tawaran saudara-saudaranya untuk mengasuh anak-anaknya. Kami pun merasa sedih," kata Ali. Lagian rumah Tasripin dan pamannya juga sangat dekat, hanya terpaut satu rumah.

Rupanya pemberitaan media yang tak sesuai itu melukai hati Ali Katun, sang paman. “Kami memang hidup kekurangan, Mbak. Tapi kami tidak pernah menelantarkan anggota keluarga kami sendiri,” kata Ali kepada Shinta. Yang menyinggung perasaan Ali dan keluarganya adalah berita bahwa Tasripin makan nasi hanya berlauk garam selama berhari-hari.

Pada titik ini, Shinta pun keheranan. Bagaimana mungkin pemberitaan bisa korup (meminjam nosi Plato) seperti ini? Mengapa Ali sang Paman, yang kebetulan juga ketua RW, yang rumahnya hanya berjarak 20 meter atau selisih satu rumah dengan tempat tinggal Tasripin, tak disertakan sebagai nara sumber? Juga orang-orang setempat, seperti guru ngaji dan kepala dusun? Bagi Shinta, pemberitaan Tasripin ini menyimpan teka-teki tersendiri. Dia menduga sang wartawan tak benar-benar datang ke lokasi. Reportase ini semata-mata berdasarkan informasi dari pihak ketiga, semacam "press release", entah dengan maksud apa.

Akhirnya, anda dan saya akan selalu gamang mensikapi realitas. Di masa depan kita akan semakin kesulitan membedakan antara 'yang nyata' dan 'yang tak nyata'. Tentang kegamangan ini Mark Slouka menasehati, "Cobalah mulai saat ini Anda belajar mencintai hal-hal yang benar-benar nyata. Pergilah ke taman, dan sentuh daun-daun yang berguguran. Rasakan juga anginnya yang mencicit-cicit. Juga ciumlah kening istri anda di taman itu, rasakan wanginya. Jangan biasakan mencium kening virtual di dunia maya."

Saya sendiri lagi mencoba menyelami makna hadist ini, "WAMA 'ARAR FA NAFSAHA WA KHAR 'ARA RABBAHU". Barangsiapa mengenal diri sendiri, sesungguhnya ia mengenal Tuhan. Bukankah Tuhan adalan Realitas Sejati? Tetapi ini juga membuat saya semakin gamang.[]