21 Mei 2013

Road To School: Mansur dan Kegigihan Bersekolah
(bag. 2)

"Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan"
UUD 45 Pasal 31 Ayat 1

 


Bocah itu bernama Mansur. Usianya baru 8 atau 9 tahun, kelas 3 SD. Setiap hari dia berjalan kaki -- sering tanpa sepatu -- sejauh 5 kilometer untuk bisa sampai di sekolah. Bukan melalui jalan rata apalagi beraspal, tetapi jalur rumpil setapak, mendaki dan menuruni bukit. Setiap kali menerabas semak-semak, embun pagi yang menggigilkan di lembah yang terkenal sangat dingin itu selalu membuat celana dan baju seragamnya basah. Sekalipun begitu, semangatnya tak pernah surut. Karena keteguhannya inilah maka para offroader mengabadikan namanya untuk sebuah tanjakan dan tikungan paling berhaya di desa itu, Tanjakan Mansur.



Di tengah-tengah rimba belantara, setelah mengalami perjalanan sulit di jalan rintisan berlumpur, anda akan menemukan perkampungan. Rumah-rumahnya nyaris tak ada yang permanen, kebanyakan terbuat dari kayu dan bambu. Jarak antar rumah juga jauh. Inilah Desa Cisaranten, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur. Tetapi sekalipun masuk administrasi Cianjur, lokasi ini justru lebih "mudah" dicapai melalui ujung tenggara Kabupaten Bandung, yakni Kecamatan Ciwidey, melewati Perkebunan Teh Rancabali dan Bukit Sumbul. Saya sebenarnya tidak pantas menyebut "mudah" untuk mencapai lokasi ini. Sebab, wilayah ini hanya bisa disambangi dengan kendaraan gardan dua dan harus dikendarai oleh seorang offroader berpengalaman. Untuk mencapainya, kami memerlukan 18 jam dari Bandung pulang pergi, padahal jaraknya hanya 60 kilometer dari pusat metropolitan Bandung (silakan baca tulisan saya sebelumnya http://www.goeska.com/2013/05/road-to-school-meretas-jalan-ke-sekolah.html ). Karena dilingkupi pegunungan, hutan, dan jeram, maka daerah ini menjadi sangat terpencil. Begitu anda keluar dari jalan beraspal yang menghubungkan Kec. Ciwidey (Kab. Bandung) dan Kec. Cidaun (Kab. Cianjur), lalu memasuki jalan tanah ke desa ini, anda seolah-olah sedang memasuki gerbang kesunyian. Seperti sebuah dunia lain. Tak ada angkutan, tak ada transportasi. Lengang.


Di tengah perkampungan, di sebuah tanah datar terdapat bangunan mirip sekali dengan kandang hewan. Luasnya kira-kira 60 m2. Cukup kokoh sebenarnya. Tiang-tiangnya dari kayu hutan. Dinding dalamnya dari kayu sisa penggergajian, dan dinding luarnya dari bambu. Tetapi dinding itu tidak menutupi seluruh bangunan. Bagian yang agak tinggi dibiarkan terbuka. Terus terang kami awalnya mengira bangunan itu kandang ayam atau sapi. Walaupun agak mengherankan, mengapa begitu besar? Nyatanya memang bukan. Bangunan itu bukan kandang, tetapi sebuah sekolah. Ya, sekolah! Inilah SDN Giriasih, tempat Mansur kecil menuntut ilmu sepanjang pagi.

SD ini sebenarnya hanyalah "cabang" dari sekolah lain, yakni SDN Girimekar, yang jaraknya 10 kilometer dari lokasi. Konon, awalnya warga desa merasa khawatir putra-putri mungilnya setiap hari harus mengukur jalan, merambah medan yang sulit dan jauh untuk bisa sekolah. Lalu mereka pun berswadaya membangun sekolah seadanya, memanfaatkan lahan desa yang kosong. Secara administratif SD ini masih menginduk pada SD yang lama. Diampu oleh 3 orang guru, SD ini kini memiliki 84 siswa. Kelas satu 33, kelas dua 17, kelas tiga 13, dan kelas empat 21 siswa. Hanya terdapat 3 ruang kelas. Ujung kanan, kiri, dan tengah. Kelas 4 bergantian dengan kelas dua.



Desa ini dihuni sekitar 135 KK. Umumnya mereka hidup sebagai peladang atau peternak. "Sulit hidup didesa ini jika tak punya tanah untuk bertani. Beberapa orang akhirnya merantau sebagai TKI," kata seorang warga desa. Ketika kami mengunjungi desa ini, beberapa rekan mengungkapkan keheranan yang mirip, "Mengapa penduduk mau tinggal di daerah sunyi seperti ini?" Jawabannya kami peroleh dari para offroader, "Alamnya sungguh indah. Masih perawan, tak terpapar polusi. Lihatlah ladang, sawah, sungai, dan hutan itu, suatu berkah surgawi." Mungkin begitu. Tetapi angka statistik berbicara lain. Dalam lingkup Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Cianjur memiliki angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) paling rendah. Dan Cianjur Selatan adalah "penyumbang" terbesar terhadap jebloknya angka statistik itu. Mereka tak punya kemewahan seperti kita, yang mudah protes jika menemukan aspal berlubang. Tetapi Mereka, bahkan jalan tanah yang layak pun tak punya. Buruknya transportasi ini, menurut saya, pangkal persoalannya. Tak ada distribusi komoditi masuk atau keluar. Tak ada angkutan, mobil niaga, atau truk yang bisa mengalirkan barang, kecuali sesaat di musim kemarau ketika jalan benar-benar kering. "Kami mendapatkan keperluan barang rumah tangga dari pedagang yang sesekali datang pakai sepeda motor, atau menitip ke warga desa yang sedang keluar kampung," ungkap seorang warga. Kami menyaksikan sendiri bagaimana para pengendara sepeda motor terbanting-banting meniti turunan, tanjakan, dan tikungan maut yang super licin. Diperlukan kepiawaian sekelas offroader untuk bisa melintasinya.

Hujan, Sepatu Basah, dan Kontra Pedagogi

Sekolah yang tidak layak tentu saja menyimpan beragam penderitaan. Salah satunya kenyamanan. Karena dindingnya tak rapat, kedua ruang kelas di ujung bangunan sering kehujanan. Parahnya, saat ini curah hujan justru sedang sangat tinggi. Yang relatif aman hanyalah ruang kelas bagian tengah. Jika hujan tiba, para murid akan dikumpulkan jadi satu di ruang kelas tengah itu, berhimpit-hicmpitan. Dan karena bangku dan mejanya dipaku mati dengan tanah, maka sebagian besar murid itu belajar sambil berdiri. Anda bisa membayangkan, betapa sumpek dan hingar-bingarnya ketika sekitar 60 anak dikumpulkan dalam satu ruangan berukuran 4x5 meter.

Kita tentu saja tak pantas menanyakan fasilitas belajar-mengajar dalam kondisi seperti ini. Anda sudah bisa menduga seperti apa keadaannya. Tak ada kantor guru. Tak ada lemari. Tak ada buku-buku pelajaran, apalagi perpustakaan. Pun tak tersedia fasilitas kesehatan. Lantai bangunan ini juga masih tanah. Bukan ubin atau keramik, dan tentu saja sering becek. Jika hujan, kelas akan semakin kotor dan lembab. Seperti sebutannya di awal, mirip kandang ayam.

Kepala Desa Cisaranten, Kamal, menuturkan harapannya, seperti dikutip oleh koran Pikiran Rakyat Online, "Keberadaan sekolah baru di Kampung Giriasih memang sudah selayaknya.  Dinas Pendidikan Kab. Cianjur diharapkan bisa segera merealisasikan pembangunan sekolah permanen karena jumlah muridnya sudah cukup banyak. Selama ini, 'kelas jauh' di SDN Giriasih tidak kondusif untuk proses belajar mengajar. Jika hujan, banyak anak ke sekolah tak bersepatu karena becek. Dalam berbagai rapat desa, guru-guru di Giriasih sudah mengeluhkan hal tersebut."

Disini toilet adalah kemewahan, karena sekolah ini tak memilikinya. Jika guru dan para siswa terpaksa buat hajat, yang tersedia hanyalah sebuah tempat yang agak tersembunyi di belakang sekolah, tersamar oleh semak-semak. Kakus itu bahkan tak berpenutup atau berdinding. Juga tak tersedia air untuk sanitasi. 

Rosa, salah satu keluarga offroader, bercerita, "Manyedihkan sekali anak-anak itu. Sebagian besar mereka ke sekolah memakai sandal jepit. Jika ada yang pakai sepatu, biasanya sudah rusak dan basah di perjalanan. Seragamnya kumal dan banyak yang sudah kekecilan. Mereka tak memiliki tas sekolah atau alat tulis yang memadai." Memang, pada taraf subsisten, mana mungkin mereka sempat memikirkan sepatu, seragam, atau tas. Semua yang selama ini kita anggap kebutuhan dasar, disini menjadi barang mewah. Bahkan bersedia sekolah pun itu sudah sebuah berkah.

Jika akhir-akhir ini pendidikan nasional kita sedang diharu-biru oleh isu-isu ujian nasional atau kurikulum 2013, di sekolah ini semua itu menjadi absurd. Di tempat ini kita tak pantas menanyakan tentang efektifitas proses belajar-mengajar. Jangankan berbicara tentang kualitas pengajaran, ketersediaan guru saja tak tercukupi. Guru mengajar rangkap. Bukan hanya rangkap kelas, tetapi juga rangkap mata pelajaran. Kondisi sekolah yang tak nyaman dan sempit juga tak memungkinkan tercapainya proses belajar-mengajar yang efektif.

Seperti halnya Mansur, semangat siswa desa terpencil ini patut diacungi jempol. Seperti lazimnya anak-anak, mereka senantiasa bersukacita -- seperti dapat anda saksikan dalam beberapa foto di bawah. Demikian juga para guru. Dedikasinya layak diapresiasi. Mereka seolah tak menghiraukan keterbatasan dan minimnya fasilitas. Motif apalagi yang mendasari keteguhan seperti ini selain kecintaan pada profesinya? Di tempat lain, seorang guru mungkin memiliki kendaraan bermotor, entah itu roda dua bahkan roda empat. Di tempat ini, sekalipun mereka punya, piranti itu tetap saja tak bisa digunakan. 

Penderitaan ini tak lama lagi akan semakin membuat miris. Bergantinya tahun ajaran baru berarti pula bertambahnya jumlah siswa. Mereka bukan hanya berasal dari desa setempat, konon sekolah ini juga menampung anak-anak dari desa sekitarnya. Bila kondisi ini tak segera ditanggulangi oleh Dinas Pendidikan dan pihak-pihak lainnya, niscaya sekolah ini akan lebih parah dari sekedar kandang ayam.

Master Plan

Adalah H. Ajat Sudrajat, pegawai Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, yang "menemukan" desa ini dalam sebuah perjalanan dinas. Karena Pak Ajat juga seorang ketua kelompok offroader yang menamakan diri MTC (Manglayang Tracker Community 4x4 Bandung), dia lalu mengajak bersafari kelompok offroadnya setiap akhir pekan ke daerah ini. Mereka bahu-membahu dengan kelompok offroader lain di sekitar Bandung, seperti AOF dan lainnya. Kelompok-kelompok offroader ini kemudian mengumpulkan sumbangan dari masyarakat untuk membantu masyarakat Desa Cisaranten dan sekolahnya, baik berupa uang, piranti sekolah, buku pelajaran, dan lainnya. Ini seperti bunyi pepatah, sekali mendayung tiga pulau terlampui. Mereka menemukan lahan asyik untuk menyalurkan hobinya menggaruk lumpur, sekaligus pada saat yang sama melakukan kegiatan amal.

Rupanya kelompok-kelompok offroad ini bergerak lebih jauh. Mereka juga menghubungi media, sehingga sekolah di daerah terpencil ini akhirnya terpublikasikan ke berbagai media nasiona. Koran dan tivi lalu memberitakannya secara maraton. Tetapi pemberitaan yang masif ini belum banyak berpengaruh pada keadaan sekolah. Tak ada upaya nyata dari Pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan sekolah yang lebih permanen.

MTC pun kemudian berinsisiatif membuat proposal kepada siapa saja untuk membantu pembangunan sekolah. Proposal ini juga dilengkapi dengan master plan pembangunan gedung sekolah seluas 160 m2 di atas tanah desa seluas 300 m2. Rancang bangun gedung ini cukup representatif dan indah, dan sudah dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti toilet, taman, dan lapangan olah raga.

Foto-foto dibawah ini rasanya lebih bisa berbicara banyak. Foto-foto ini saya ambil dari dokumentasi proposal milik MTC, dan khusus gedung sekolah saya ambil dari koleksi pribadi teman kami, Ratih Sawitrijati.

Bagi anda yang bermaksud menyumbang, baik dana, atau piranti sekolah, baru atau bekas -- seperti Sepatu, baju seragam, tas, atau buku-buku pelajaran dan bacaan, silakan menghubungi sekretariat MTC, JL. Tanjakan Sari, No. 76 Cileunyi, Bandung. PIC: H. Ajat Sudrajat/M. Lufti Oktaribi.

Tulisan ini adalah catatan ekspedisi kecil-kecilan dari Paguyuban ITB 89, bersama tim offroader AOF dan MTC.[]